DUA PULUH ENAM

2667 Kata
“Kenapa kamu kembali datang kesini?” ujar seorang pria dengan setelan hitam dan sebatang rokok di tangan nya.             Putih duduk di atas sofa ruang tamu yang di hiasi banyak sekali barang barang antik seperti pajangan kepala hewan buruan, pedang, lukisan, kris dan patung patung yang mengiasi rumah ini.             Sejak dari awal dia menginjak kan kaki nya di rumah ini Putih dapat merasakan sesuatu yang sangat besar dan menyeram kan memperhati kan diri nya dari sudut ruangan.             Lelaki yang di depan nya itu adalah ayah nya sendiri, nama nya adalah Abdi, ketua yayasan dari sekolah tempat Saleh bekerja dan seorang dengan kemampuan sakti akibat mengabdi kepada setan.             Abdi adalah Raja dari sebuah sekte yang di kenal dengan sebutan The Lux. Tidak ada seorang pun yang berani menganggu Abdi jika tau identitas asli nya, namun Abdi bukan lah orang yang gila akan kehormatan, ia lebih senang jika ia memiliki banyak teman dan harta. Ia tidak perlu kekuasaan, hanya dengan menjadi ketua yayasan saja sudah cukup bagi nya.             Tapi bukan berarti Abdi adalah orang yang baik, bahkan menurut Putih, ayah nya ini adalah orang yang paling buruk di dunia. Selain diri nya adalah seorang pembunuh, Putih juga tau kalau Abdi adalah seorang p*******a, dan dia adalah hasil dari salah satu dosa nya itu.             “Melihat mu membuat ku kembali mengingat ibu mu,”             “Putih datang ke sini untuk berbicara dengan Ayah,”             “Apa yang kau ingin kan? Uang? Bukan nya suami suci mu itu adalah orang kaya?”             “Putih tidak ingin membawa bawa Saleh dalam pembicaraan kita,”             “Kenapa?”             “Putih tidak ingin ayah mengusik keluarga Putih lagi, biar kan kami hidup dengan tenang ayah,”             “Tenang? Kamu saja sudah memanggil Kajiman kembali ke dalam hidup mu,”             “Itu semua karena Roni, Putih tidak mau Roni mati, Kajiman adalah satu satu nya harapan Putih agar Roni dapat hidup kembali,”             “Sebagai ganti nya, Putih harus memberikan seorang perempuan perawan yang baik baik kepada Kajiman,”             “Jadi kau datang ke ayah karena ingin ayah mencari kan tumbal untuk Kajiman?” tanya Abdi. Putih pun mengangguk kan kepala nya.             “Putih tau perbuatan ini salah, tapi Putih tidak mau kehilangan Roni ayah,”             “Sudah lah Putih, biar kan Roni pergi,”             “TIDAK MAU!!” Putih berteriak penuh emosi, ia sudah sejauh ini sampai harus kembali ke rumah terkutuk yang sebelum nya sudah tidak ingin lagi ia pijak. Semua ini demi anak nya, dan Abdi dengan begitu santai nya mengata kan kalau Putih harus mengikhlas kan nyawa Roni untuk pergi dari dunia ini.             “Biar bagaimana pun Roni itu cucu ayah juga,”             “Kalau pun Roni harus hidup lagi di dunia ini, dia tidak akan sama seperti dulu Putih,”             “Putih tidak peduli! Mau dia berubah atau pun lupa ingatan, Putih akan tetap melaku kan apapun untuk mengembali kan Roni ke hidup Putih,”             “Kau sangat mirip dengan ku, aku dulu juga pernah seperti diri mu saat kehilagan putra kesayangan ku satu satu nya. Aku berusaha sebisa ku untuk mengidup kan nya kembali, namun liat sekarang, apakah dia masih ada disini? Tidak, dia sudah mati bahkan belum genap setahun dari saat ia kembali ke dunia ini,”             “Putih tidak peduli ayah,” ujar Putih sambil menetes kan air mata nya. Ia benar benar merasa frustasi. Ia tidak ingin kehilangan putra semata wayang milik nya. Putih juga tidak tau apa yang harus di kata kan Putih pada Saleh kalau ia tidak berhasil menyelamat kan Roni.             “Ibu,” ujar Rena yang ikut masuk ke dalam rumah itu untuk mencari ibu nya. Sebelum nya Putih sudah menyuruh Rena untuk tetap diam di dalam mobil sampai Putih selesai berbicara dengan Abdi. Namun rasa bosan membuat Rena keluar dari mobil dan menyusul ibu nya masuk ke dalam rumah mewah bagai kan istana tersebut.             “Adek ngapain kesini?!” sahut Putih terkejut saat melihat anak nya masuk ke dalam rumah.             “Jadi ini cucu ku?” tanya Abdi pada Putih sambil menatap ke arah Rena, anak kecil itu terlihat sama persis seperti foto Putih sewaktu diri nya kecil, selama ini Abdi selalu penasaran dengan rupa Putih sewaktu kecil selain dari foto, baru lah sekarang dia bisa menatap mata bulat yang begitu menggemas kan itu secara langsung.             “Jangan mendekati nya,” ujar Putih menghenti kan langkah Abdi yang hendak menggendong putri kecil nya tersebut.             “Kenapa? Dia kan cucu ku,” ujar Abdi.             “Putih tidak mau tangan kotor mu itu menyentuh anak Putih,”             “Bukan nya diri mu sama seperti ku Putih? Apa kau masih ingat alasan mu datang ke mari?” tanya Abdi.             Putih terdiam seketika, memang benar, alasan nya datang ke Abdi adalah untuk meminta tumbal buat Kajiman agar nyawa Roni dapat di selamat kan. Tapi bukan berarti Putih tega melaku kan hal itu sendirian, ia butuh Abdi yang memang tidak memiliki rasa empati untuk memberi kan apa yang dia butuh kan.             “Bagaimana jika begini saja? Kau biar kan Rena tinggal disini sebentar, dan aku sendiri yang akan menjamin Roni akan kembali pada mu,”             “Jadi maksud mu aku harus menukar kan anak perempuan ku demi anak laki laki ku? jangan harap hal itu akan terjadi Ayah,”             “Aku tidak akan menyakiti nya Putih! Dia cucu ku, apa selama kau disini aku pernah menyakiti mu?”             “Tapi kau menyakiti ibu ku,”             “Kau masih menganggap diri mu adalah sebuah kesalahan?”             “Ya! Aku memang sebuah kesalahan yang seharus nya tidak ada di dunia ini,”             “Ibu,” lirih Rena ketakutan, baru kali ini Rena melihat ibu nya berbicara se keras ini.             Selama ini Rena mengenal Putih sebagai pribadi yang lembut, dan siapa lelaki tua di depan nya ini? Kenapa ibu nya terlihat sangat membenci dia? Dan tempat apa yang sedang di datangi Rena saat ini, dekorasi di rumah ini sangat menyeram kan dan berbau aneh.             “Kalau kau setuju dengan permintaan ku, aku akan membantu mu, kalau tidak, ya kau bisa kehilangan anak laki laki mu itu, aku tidak peduli dengan nya,”             Putih menghembus kan nafas nya kasar, ia tidak ingin Abdi melaku kan apa pun pada Rena, tapi dia juga tidak ingin kehilangan Roni.             “Baik lah, Rena akan tinggal disini selama tiga hari, kalau lewat dari situ Roni masih belum baik baik saja, Putih akan mengambil Rena kembali dan Ayah tidak akan bisa bertemu dengan Rena sampai kapan pun juga,”             “Ya aku tau aku memang seorang b******n, tapi aku tidak akan pernah melanggar janji ku, pergi lah, aku akan memberikan Kajiman seorang tumbal malam ini,” *** Tangan Soraya menarik Fitri menuju kelas tepat setelah bel masuk pelajaran pertama berbunyi, mata nya menatap Fitri dengan tajam, ia tidak suka melihat Fitri menyalah kan diri nya sendiri karena permasalahan yang mereka lakukan beberapa waktu yang lalu.             Semua itu murni karena mereka hanya ingin bersenang senang sambil memuas kan rasa penasaran di dalam diri mereka masing masing, tidak ada niatan untuk melukai satu dengan yang lain nya seperti sekarang.             Bahkan Soraya sendiri pun tidak tau hal buruk apa yang sedang di alami nya saat ini, yang ia sadari sekarang adalah perubahan sikap Ucok yang cenderung lebih tegas dan keras pada Soraya, padahal selama ini Ucok tidak pernah berlaku seperti itu terhadap Soraya,             “Kamu gak boleh nyalahin diri kamu sendiri, ini semua bukan salah kamu, lagi pula aku juga tidak kenapa kenapa kok, Ucok nya aja yang heboh tiba tiba jadi protektif begitu,”             Fitri mengangguk kan kepala nya sebentar lalu tersenyum bahagia, perasaan bersalah yang semula nya menyesak kan hati Fitri kini lenyap seketika, akhir nya Fitri bisa memaaf kan dirinya sendiri terhadap segala permasalahan yang terjadi.             “Makasih ya Ray, Cok. Gue seneng banget bisa punya temen se baik kalian,”             “Ya, ya, ya, jangan banyak kali drama kau, ayo masuk itu bu Dewi dah di ujung lorong,” ujar Ucok dengan wajah datar.             Ucok memang belum mencerita kan tentang apapun yang terjadi pada mereka sejak hari itu kepada Soraya. Ia tidak ingin perempuan itu merasa takut atau pun tidak nyaman. Tapi Ucok sendiri pun tidak tau apa yang harus di lakukan nya demi menyelamat kan jiwa Soraya. Pemuda itu tentu tidak akan mungkin membunuh kedua orang tua nya hanya demi membalas kan dendam Annelise.             Pasti akan ada cara lain agar Soraya dapat terlepas dari Annelise tanpa Ucok harus membunuh Ibu dan Ayah nya. Walaupun sejak hari dimana Ucok tau Geri adalah seseorang yang mengabdikan diri nya dalam sebuah sekte sesat untuk menyembah entah siapa pun itu, Ucok masih sangat menyayangi Elisa dan Geri, biar bagaimana pun ia terlahir dan dapat bertumbuh hingga sekarang karena pengorbanan dan kasih sayang yang mereka berikan pada Ucok selama ini.             “Ya udah ayo masuk,” ujar Soraya sambil tersenyum kepada Fitri.             Mata Ucok kembali melihat ke arah tangan Soraya, melihat ke arah gelang yang menggantung di tangan perempuan itu. Selagi gelang tersebut masih ada di tangan nya, Ucok dapat tenang membiar kan Soraya berada jauh di dekat nya.             Soraya menghabis kan waktu nya selama di dalam kelas dengan mencatat tulisan yang terdapat di papan tulis yang ada di depan.             “Udah siap?” tanya Ucok dari kursi belakang Soraya.             “Belum, jangan ganggu,”             “Rajin kali sih kau, gak mau nulis catatan ku sekalian?”             “Gak mau, enak aja kau,”             “Udah lah gak usah nanti ngerepotin kau jadi nya.”             “Terus kenapa minta tadi?”             “Gak bisa lagi?”             “Ngeganggu tau Cok,”             “Gak bisa lagi?”             “Udah lah Ucok!” geram Soraya kesal             Ucok tertawa pelan melihat Soraya yang marah dengan diri nya, rasa nya sudah lama ia tidak mengganggu Soraya seperti ini.             “Kok aku tiba tiba pusing banget ya Cok?”             “Kenapa gitu?”             “Aku juga gak tau, kepala ku juga berat banget,”             “Sini ku urut,” ucap Ucok lalu mulai menekan leher dan pundak Soraya perlahan,             “Ah! Sakit Cok!”             “Aku pelan aja loh,”             “Panas!” ujar Soraya lalu pergi meninggal kan meja nya.             “Mau kemana Ray!”             “Kamar mandi bentar,” jawab Soraya.             “Jangan lepas gelang mu ya!”             Soraya hanya berdeham kencang untuk menjawab perkataan Ucok. Sambil menahan rasa sakit di leher nya, benak nya terus bertanya tanya kenapa Ucok tidak mengizin kan diri nya untuk melepas gelang ini terus menerus.             “Emang nya kenapa kalau ku lepas gelang ini?” gumam Soraya kesal, tangan nya dengan kasar memutus gelang kain tersebut lalu menatap ke arah cermin kamar mandi yang ada di depan nya.             Betapa terkejut nya Soraya saat melihat seragam nya berubah menjadi sebuah gaun putih dengan beberapa noda abu di bagian lengan nya.             Langkah kaki Soraya mundur ke belakang saat melihat pantulan wajah nya tersenyum sendiri pada nya, spontan bayangan itu pun ikut melangkah mundur seperti Soraya. Mata nya menatap ke arah seragam yang masih terpakai rapi membalut tubuh nya.             Matanya kembali menatap ke arah cermin, sudah tidak ada lagi sosok yang mirip seperti nya dengan baju gaun putih tadi.             “Apa itu?” gumam Soraya dengan tubuh yang bergetar ketakutan.             “Soraya,” panggil sesuatu yang tidak kasat mata di belakang nya.             “Cok,” gumam Soraya tidak sadar, perempuan itu memang selalu memanggil nama Ucok ketika diri nya sedang ketakutan seperti saat ini.             “SORAYA!!!”             Tiba tiba saja sesosok perempuan dengan rupa yang menyeram kan muncul tepat di depan wajah Soraya, tubuh Soraya membatu seketika lalu terjatuh ke lantai dan tiba tiba semuanya gelap.              Tanpa Soraya sadari tubuh nya sudah di kuasai lagi oleh Annelise, perempuan itu berjalan menuju sebuah tempat yang memanggil diri nya sedari tadi.             Baru saja tangan nya hendak membuka pintu gudang tersebut Ucok langsung menarik tangan Soraya agar menjauh dari tempat terkutuk itu.             “Mau ngapain kau?” ujar Ucok dengan tatapan tajam, ia sudah tau betul kalau saat ini yang menguasai tubuh Soraya bukan lah diri nya sendiri melain kan Annelise.             “Apa lagi yang kau mau?”             Annelise hanya menatap Ucok sambil tersenyum.             “Aku ingin bertemu dengan seorang perempuan di dalam ruangan ini, apa boleh?”             “Aku tidak mau Soraya kenapa kenapa, kau sudah berjanji untuk tidak melukai Soraya sebelum aku berhasil membunuh kedua orang tua ku,”             “Aku tidak akan melukai nya,”             “Aku tidak peduli, kau harus menepati janji mu Annelise,”             Soraya menghembus kan nafas nya pasrah, dan merelakan jiwa Soraya untuk dapat kembali menguasai diri nya.             “Ray? Bangun Ray,” ujar Ucok spontan menopang tubuh Soraya yang hampir terjatuh.             Melihat tubuh Soraya yang tidak merespon, Ucok pun dengan sigap langsung membawa tubuh Soraya untuk di baring kan ke UKS, mata nya menatap ke arah pergelangan tangan Soraya, sudah tidak ada lagi gelang tersebut disana.             Kenapa sih kau bandal kali sih Ray?             “Kenapa dia?” tanya mang Saleh yang tiba tiba berada di depan pintu UKS, Ucok menatap mang Saleh dengan tatapan penuh harap.             Sejak awal satu satu nya orang yang bisa membantu Ucok adalah mang Saleh, mungkin jika dia meminta tolong pada mang Saleh ia akan bisa menemu kan cara lain untuk menolong Soraya. ***             “Mang, bisa bicara sebentar?” tanya Ucok pada Mang Saleh yang berdiri di depan pintu UKS.             Pria paruh baya itu mengangguk kan kepala nya lalu berjalan keluar dari UKS, Ucok pun mengikuti langkah pria itu keluar dari rumah dan duduk bersama dengan nya di kursi taman.             “Mau bicara apa?”             “Sebenar nya gelang yang kemarin Mamang kasih ke saya itu gelang apa?”             “Ah itu, gelang itu semacam jimat yang bisa menghalangi energi energi buruk yang bisa mengancam Soraya,” jawab Mang Saleh.             “Sebenar nya apa yang ingin kamu kata kan? Kita langsung saja ke inti nya,”             “Sebenar nya beberapa hari yang lalu saya, Fitri, dan Soraya melakukan jurit malam di sebuah gedung angker yang ada di perumahan Cemara Asri—“             “Kenapa kalian bisa sampai ke sana?” potong Mang Saleh begitu terkejut, ia mengusap wajah nya kasar seperti menahan amarah.             “Ada apa mang?”             “Seharusnya kalian tidak pernah menginjak kan kaki di rumah itu. Tempat itu memiliki energi yang sangat buruk bagi kalian. Terutama bagi Soraya,” ujar mang Saleh sambil memijat pelipis mata nya.             “Memang nya apa beda nya saya dan Fitri dengan Soraya?”             “Soraya anak yang spesial, dia memiliki sebuah ruang kosong di dalam tubuh nya yang bisa menjadi media bagi makhluk makhluk seperti Annelise untuk tinggal di dalam nya,”             “Annelise? Mamang tau Annelise dari mana?”             “Saya tau gedung itu, dulu, gedung itu di pakai untuk tempat pemujaan setan, semua orang yang ada di sana memiliki dan mewaris kan kutukan kutukan bagi anak anak nya, istri saya adalah keturunan dari pemimpin sekte tersebut,”             “Saya masih tidak mengerti,”             “Dulu, nenek moyang istri saya membunuh anak semata wayang Annelise, setelah mengetahui fakta yang sebenar nya, Annelise mengamuk dan membunuh hampir semua pengikut aliran sesat yang ada di dalam gedung tersebut dengan membakar mereka semua hidup hidup di dalam gedung itu.             “Sampai sekarang Annelise tidak bisa menahan dendam nya jika salah satu keluarga pemimpin sekte tersebut tidak mati,”             “Lalu kenapa Annelise meminta—“ ucapan Ucok terhenti saat diri nya menyadari sesuatu.             “Apakah boleh saya datang ke rumah bapak nanti setelah pulang sekolah?”             “Tentu, ini alamat rumah saya,” Mang Saleh beranjak untuk mengambil pena dan kertas yang ada di atas sebuah meja di dekat mereka, lalu menulis kan alamat lengkap nya. Tak butuh waktu lama untuk mang Saleh selesai menulis kan alamat tersebut, tangan nya terulur perlahan lalu memberi kan secarik kertas tersebut kepada Ucok.             Ucok mengangguk sejenak lalu mengambil kertas yang berisi alamat mang Saleh tersebut.             “Terima kasih mang, saya lanjut jagain Soraya ya mang,”             “Iya, saya juga mau lanjut kerjain kerjaan saya, nanti kita bicara kan soal ini di rumah saya saja ya?.”             “Iya mang, sepulang sekolah saya akan langsung ke rumah mamang,”             “Oke di tunggu,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN