Sesuai dengan yang di janjikannya, Fani menemui orang yang belakangan ini sering mengiriminya pesan. Ia hanya pergi sendiri tanpa kedua sahabatnya, karena menurutnya ini urusan pribadi dan hanya dirinya yang bisa mengatasinya. Fani mengembuskan napasnya kasar ketika mobilnya telah tiba di kafe. Membuka pintu mobil kemudi kemudian turun, ia lalu berjalan masuk ke dalam kafe. Di sana ia telah melihatnya, wanita yang selama enam tahun ini tak di temuinya. Jujur saja ia merindukan wanita itu, wanita yang mirip dengannya, wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. "Fani." sapa wanita paru baya ketika melihat anak semata wayangnya itu mau menemuinya. Fani hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu duduk di hadapannya. "Bagaimana kabarmu sayang?" tanya wanita itu lagi. "Baik." balas Fani

