EMPAT

1202 Kata
Arga pagi-pagi sudah berada di kantor dengan tatapan lapar karyawan wanita yang sudah pada datang. Biasanya mereka datang sedikit siang, tapi karena ingin melihat wajah tampan sang bos, mereka langsung berkorban untuk datang lebih awal dan mengesampingkan rasa bosan menunggu nantinya. “Pagi, Pak. Segar banget hari ini. Apa saya perlu membuatkan kopi untuk bapak?” seorang OG mendekati Arga yang tengah berdiri menunggu pintu lift terbuka. Siapa lagi kalau bukan Zanna sang OG yang menurut Arga sok akrab. “Jangan sekali-kali mengajak saya bicara!” “Ya ampun, Paaak. Kok galak banget! Kalau cinta saya tidak tanggung jawab loh.” Arga mendengus, “Jangan mimpi, kamu!” ucap Arga sambil masuk lif. Zanna sang OG hanya tersenyum. Dia sudah putuskan setiap hari akan menyapa Arga yang baru saja datang atau hendak keluar makan siang dan bisa juga saat dia pulang kerja. Karena itu Zanna si OG akan menunggu sang CEO sampai pulang dan tidak terlihat bayangan mobilnya sekalipun. Arga menghembuskan nafas kasar. Dia selalu merasa terganggu dengan sapaan yang menurutnya hanya basa-basi dari seluruh karyawan. Makanya dia tidak pernah sekalipun menjawab sapaan merekam. Kejam, sombong, itulah Arga. Saking merasa kesalnya, dia sampai pernah suatu hari berkata yang cukup tajam pada orang yang hanya baik di depannya. Tapi tidak tahu kenapa, ketika Zanna yang melakukannya dia malah tidak merasa kesal dan terganggu. Padahal Zanna melakukannya hampir di tiap waktu. Ting! Suara pintu lift terbuka. Arga keluar dengan cepat karena entah kenapa hatinya mulai tidak karuan ketik tadi matanya malah melihat bibir Zanna yang mengikat. “Kamu,” Arga menatap Zanna tajam. “Kenapa, kenapa kamu mengikuti saya!” Arga bicara sedikit gugup sambil melihat Zanna yang ternyata sudah ada di dekatnya kembali. Hatinya kembali tidak karuan ketika matanya kembali tertuju pada bibir Zanna yang penuh karena lolipop. Ya ampun, ini sungguh membuat Arga merasa tersiksa. Hati dan pikirannya mulai macam-macam. Berkeliaran bukan pada tempatnya. Zanna menatap Arga, mengeluarkan lolipop dari mulut dan tersenyum. “Saya di suruh membereskan meja pak Boy. Sekalian memberikan ini.” Zanna memperlihatkan kantong yang dia bawa. “Kenapa kamu membersihkan meja Boy!” Arga merasa hatinya tidak senang ketika Zanna begitu perhatian pada Boy. Zanna mengerutkan kening, “Mengapa Bapak tidak senang, bapak tidak sedang ....” Zanna memutarkan telunjuk di depan pelipis. “APA MAKSUDMU!” Arga membentak Zanna, sampai sang OG mundur beberapa langkah karena takut. “Bukan apa-apa, hanya bingung saja. Bapak kan tahu, kalau saya seorang OG, jadi, wajarkan kalau pak Boy menyuruh saya untuk bersih-bersih.” Zanna tertunduk. Dia benar-benar takut dengan bentakan sang CEO. Melihat Zanna yang ketakutan, Arga cukup terkejut. Dia merasa kasihan dan bersalah telah membentak Zanna, padahal dia tahu kalau sang OG hanya melakukan tugasnya. Hati Arga mendesak untuk meminta maaf dengan segera. Namun, sayang dia itu Arga, orang yang tidak mau langsung mengakui kesalahan karena dia merasa tahu apa tujuan Zanna berbuat baik padanya. Pastinya Zanna hanya ingin mendapatkan rasa simpati dan akhirnya memeras Arga. Seperti wanita lainnya. Itulah yang Arga pikirkan untuk setiap wanita yang mendekatinya. Setelah Arga sampai di depan pintu ruangannya, dia langsung masuk saja tanpa susah-susah bicara seperti yang hatinya inginkan. Begitu pun dengan Zanna, dia langsung mendekati Boy yang sudah menunggunya dari tadi. Boy mengambil kantong yang dia bawa Zanna setelah membungkuk hormat pada Arga. “Mengapa kamu bisa sama Bos?” tanya Boy pelan. Namun sayang, Arga masih mendengarnya sampai matanya melotot dan berdeham tidak senang. “Bapak tadi menyuruh saya buru-buru. Jadi mau tidak mau saya harus menggunakan lift khusus petinggi.” Ucap Zanna sambil tersenyum. “Pak, Mau ini tidak?” Arga membulatkan mata ketika mendengar dan melihat Zanna menawarkan lolipop yang tengah dia kemut pada Boy. Jujur hatinya merasa terbakar dan kesal, sehingga dia kembali keluar dengan bertolak pinggang dan menatap dua orang yang tengah berbicara. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat. “Hey, OG kecil! Buatkan saya kopi, dan kamu Boy!” Arga menatap Boy yang langsung menghadap sambil berduri tegap. “Tolong belikan saya minuman.” Arga kembali masuk ke ruangannya. “Pak Boy, pak Arga kenapa, bukankah kopi juga minuman?” Zanna bertanya pelan. “Tidak tahu, mungkin__” “BOY!” teriak Arga yang kembali nongol, membuat Zanna merinding dan berlari terbirit-b***t untuk membuat kopi seperti yang di inginkan Arga sang Bos. Arga kembali masuk, menghembuskan nafas, mengusap wajah. Dia tidak mengerti dengan hatinya. Hatinya itu terasa kesal dan marah melihat kedekatan mereka. Sambil menghembuskan nafas, dia membanting tubuhnya di atas sofa. Kepala mendongak, menyender di kepala kursi. Tangannya terulur memijat pelipis sambil menutup mata. Arga mencoba menenangkan hatinya yang tidak tahu kenapa kembali tidak senang, tidak tenang dan gelisah ketika teringat Zanna dan Boy berdekatan. “AaaH!” teriaknya sambil tetap menutup mata. “Apa yang terjadi padamu, Arga!” kembali Arga berteriak pada dirinya sendiri. Tok! Tok! Tok! Zanna masuk dengan nampan berisi secangkir kopi yang tadi dipesan Arga. Sebenarnya Zanna merasa trauma mengantar kopi ke ruangan Arga. Dia takut seperti waktu pertama kali. Sampai dia diusir dari sana. Namun tidak tahu angin dari mana dan ada angin apa, Zanna pun tidak tahu, hari ini sang CEO meminta langsung dibuatkan kopi. “Seberapa dekat kamu dengan Boy?” ucap Arga sambil mengambil kopi yang di bawa Zanna dan menatapnya dengan ujung mata. “Kami cukup dekat, Pak. Sampai kadang saya di minta untuk membantu membeli camilan Bapak.” Ucap Zanna dengan tenang karena memang dia tidak merasa ada yang salah dengan semua kedekatan dirinya dengan Boy. Arga melotot karena dia tahu, Boy tidak akan memberikan pekerjaan yang Arga berikan kepada orang lain kecuali dia orang yang di percaya dan cukup dekat dengan Boy. Arga menyimpan kopi, dia bangun dan mendekati Zanna yang tengah berdiri sambil memegang nampan. Tangannya terulur, memegang pundak Zanna sambil perlahan-lahan mendekatkan kepala. Zanna yang menerima perlakuan seperti itu langsung memundurkan kepala dan menatap Arga dengan mata melotot, sebab Arga semakin mendekatkan kepalanya seperti ingin menciumnya. Dengan cepat mata Zanna tertutup ketakutan. “Kamu harus menjaga jarak dengan Boy. Karena saya tidak suka melihat Boy dekat dengan wanita.” Ucap Arga sambil menekan tangannya di pundak Zanna. “Kamu harus ingat itu.” Arga kembali bicara di depan telinga Zanna. Seketika Zanna membuka mata dan terbelalak, ternyata CEO yang selama ini dia kagumi itu seorang yang menyukai sesama jenis? Pantas saja dia tidak pernah melihat sang CEO dekat dengan wanita yang ada di kantor. Ternyata seperti itu. Zanna menelan saliva serat, “Ba-baik, Pak! Saya akan menjaga jarak dengan pak Boy dan juga merahasiakan apa yang saya dengar saat ini.” Ucap Zanna dengan sungguh-sungguh. Sekarang Argalah yang terlihat kaget. Dia menatap sang OG yang tengah serius bicara. “Apa maksud dari__” “Bapak tenang saja, saya akan menganggap Bapak tidak bicara apa-apa. Semangat, Pak. Saya akan mendukung Bapak dengan Pak Boy.” Ucap Zanna sambil mengepalkan telapak tangannya, seperti tengah memberi semangat. “Saya pergi dulu, Pak.” Zanna dengan segera pamit dan pergi meninggalkan Arga sendiri. “Kamu, HEY, AaaH!” Arga marah-marah sambil menatap kepergian Zanna. “Apa yang barusan dia katakan!” Arga menyugar rambut ke belakang dan meremasnya. “Apa dia berpikiran kalau aku ... AaaH!” Arga kembali berteriak, merutuki apa yang dia ucapkan sampai OG itu mempunyai pemikiran sampai ke sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN