Ketika Arga tengah marah, Boy datang dengan membawa apa yang dia pesan tadi.
“Boy, kamu bicara pada OG yang tadi. Katakan padanya jangan berpikiran macam-macam tentang saya.” Ucap Arga.
Tangannya meraih botol minum yang Boy bawa dan meneguknya sampai tandas tidak tersisa.
Boy mengerutkan keningnya, pasalnya dia belum paham apa yang Bosnya katakan.
Arga melempar botol kosong ke tempat sampah dengan kasar. “Dia menganggap saya suka sama kamu karena saya melarangnya untuk berdekatan denganmu!” Arga kembali meremas rambut karena masih kesal dengan pikiran Zanna yang salah mengartikan apa yang Arga ucapkan.
Boy langsung tersenyum ketika mendengar apa yang di jelaskan sang Bos.
“Baik, Pak. Saya akan bicara padanya.” Ucap Boy sambil menahan mulut dengan tangannya supaya tidak tertawa.
“Kamu boleh tertawa, mendengar itu, Boy. Jangan malah membuat saya kesal karena kamu menertawakan saya di belakang.” Ucap Arga dengan kesal.
Mendengar itu Boy langsung sadar, dan bersikap normal kembali.
Rasa ingin tertawanya hilang seketika ketika mendengar apa yang di ucapkan Bosnya. “Maaf, Bos. Saya memang lancang.” Ucap Boy sambil menunduk.
“Jangan terlalu formal dengan saya, Boy. Ketika kita hanya berdua.” Arga menepuk pundak Boy sambil tersenyum.
“Maaf, Bos. Tapi saya takut ada orang yang datang dan berpikiran kalau Bos memang seorang__”
Bug! Satu pukulan di perut Boy terima, sampai dia mengaduh panjang.
“Lemah banget sih kamu! Harusnya kamu itu kuat. Lihat, kamu ini lembek. Dengan lemak di__”
“Oh, maaf. Saya mengganggu.” Ucap seorang wanita yang baru saja masuk.
Dia Riska temannya Zanna.
Riska yang baru saja masuk langsung gugup ketika melihat sang CEO dengan asistennya tengah saling berpegangan tangan dengan posisi yang cukup dekat.
Boy yang tahu siapa wanita itu langsung melotot. Pasalnya dia wanita yang tengah Boy incar dan dekati melalui perantara Zanna.
Dengan segera dia menjauh dari sang Bos dan menatap si wanita.
“Kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu!” ucap Arga yang sama-sama langsung menjauh dari Boy.
Riska yang datang tiba-tiba menunduk. “Maaf, Pak. Tadi saya sudah mengetuk pintu.” Ucapnya sambil menggigit bibir karena takut.
“Lalu, kenapa kamu dengan cepat masuk. Bukannya menunggu di depan pintu.” Kali ini Boylah yang bicara.
Dia sudah tidak tahan melihat Riska yang terus saja menggigit bibirnya.
“Ma-maaf. Saya sudah lancang. Tapi iniii,” Riska semakin mengeratkan pegangan pada berkas yang dia bawa.
“Saya di suruh untuk cepat memberikan ini pada Pak Arga.” Ucap Riska sambil memberikan berkas yang di simpan di dalam map.
Arga menerimanya dan ternyata itu isinya tentang persiapan acara ulang tahun perusahaan yang akan di gelar dua hari lagi.
“Kenapa tidak perwakilannya langsung yang memberikan ini!” ucap Arga sedikit kesal karena ada karyawannya yang kurang bertanggung jawab.
“Boy, kamu periksa ini dan cek ke lokasi. Saya tidak ingin ada kesalahan sedikit pun karena ini bertepatan dengan ulang tahun pernikahan Tuan besar.” Ucap Arga sambil menatap Boy dan memberikan map yang tadi Riska bawa.
“Kamu.” Arga menatap Riska.
“Temani Boy melihat ke lokasi!” ucap Arga dengan tegas sambil berpaling menatap Boy.
Arga tahu, kalau asistennya ini tengah jatuh cinta pada wanita yang tengah berdiri si depannya.
“Baik, Bos. Saya akan melakukan seperti apa yang Bos inginkan.” Boy menerimanya dengan tersenyum.
Akhirnyaaa, dia bisa lebih lama bersama Riska sebab wanita ini cukup susah untuk di dekati Boy.
“Wanita itu tidak buruk. Kamu harus mendapatkannya.” Ucap Arga sambil berbisik dan menepuk pundak Boy yang hendak pergi.
Boy yang mendapatkan dukungan dari sang Bos langsung merasa senang. Dengan pasti dia mengangguk dan tersenyum.
“Semoga Bos pun segera mendapatkan orangnya.” Ucap Boy sambil memberi semangat pada sang Bos.
Sepeninggal Boy, Arga kembali pada pekerjaan yang belum sempat dia periksa sedari tadi.
***
Tidak terasa dua hari telah berlalu, dan hari inilah, hari di mana perusahaan yang Arga pegang berulang tahu.
Semua orang terlihat bahagia, begitu juga dengan kedua orang tua Arga, karena ini bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan.
Walaupun mereka yang tengah merayakan ulang tahun, tapi bukan mereka yang jadi sorotan semua orang.
Sorotan mata mereka malah tertuju pada seorang laki-laki yang tengah berdiri angkuh di sebelah orang tuanya.
Dia adalah Arga Aditya seorang CEO di perusahaan “NETLY” itulah nama perusahaan yang berjalan di sektor barang konsumsi.
Mulai dari s**u, biskuit, minuman kalengan dan masih banyak lagi.
Malahan perusahaannya akan melebarkan sayap untuk membidik pasar dunia dan sepertinya semua itu akan terbukti tidak lama lagi karena kegigihan sang CEO yang saat ini menjadi perhatian seluruh pengunjung hotel.
Sedikit demi sedikit semua yang direncanakan sang papah dari awal, dalam waktu singkat ini sudah terlihat hasilnya.
Malahan perusahaan “NETLY” sudah mulai dikenal di beberapa negara tetangga.
“Aduuuh, aku ingin sekali melihat Pak Arga tersenyum.” Ucap seorang wanita yang terus saja menatap sang pangeran yang tengah duduk di meja khusus petinggi perusahaan.
Siapa lagi kalau bukan OG yang saat ini tengah makan dengan cukup rakus sebab makanan yang dia lihat benar-benar membuat perutnya semakin lapar. Zanna.
Peletak!
Satu pukulan sendok kue, bersarang di kepalanya.
“Kalau bicara bercermin dulu, kita itu siapa. Tidak mungkin ECO kita mau tersenyum sama kita yang hanya seorang__”
“Iyaaa, hanya tukang bersih-bersih di perusahaan alias OG. Itu kan yang mau kamu katakan” ucap Zanna sang OG sambil cengengesan.
“Lah itu, kamu sadar juga akhirnya.” Ucap sang teman, Riska sambil ikut tersenyum dan mengacungkan jempol tangannya.
Tanpa mereka sadari, orang yang tengah mereka bicarakan pun tengah menatap tanpa berkedip. Pasalnya dari sekian banyak tamu, hanya mereka berdualah yang terlihat biasa saja dari segi penampilan.
“Boy.” Ucap sang pangeran tampan alias Arga menatap asistennya yang setia duduk di belakang dengan terus mengedarkan pandangan ke segala arah, takut ada orang yang tidak di duga menyerang sang Bos.
“Apa kamu tahu siapa dua wanita di depan sana?” Arga tidak melepaskan pandangan dari sana, apa lagi pada wanita yang berambut sebahu dengan pakaian yang cukup tertutup.
Dia cukup berbeda dari penampilan temannya yang memakai pakaian yang bisa di bilang cukup terbuka.
Boy menatap ke tempat yang bosnya tunjuk. Dia mengernyitkan kening, “Kalau tidak salah lihat, itu Zanna dan Riska, Bos. Tapi kenapa mereka ada di sini, seharusnya-kan ada di belakang untuk mengurus pekerjaan bersih-bersih.”
“Apakah itu benar?” Arga kembali bertanya.
Namun tidak mendapatkan jawaban. “Apa kamu tidak mengenal mereka Boy!” Arga yang merasa kesal pada Boy yang malah terdiam.
“Mereka itu OG perusahaan dan yang satunya OG yang pernah membuatkan Bos kopi.” Ucap Boy sambil menatap Zanna dan Riska yang tengah makan.
“Benarkah! Saya baru tahu kalau wajahnya seperti itu.” Ucap Arga sambil menatap Zanna lekat.
Boy hanya bisa menggaruk tengkuknya karena dia tidak heran dengan perkataan sang Bos.
Dulu pun dia harus menghabiskan waktu 2 bulan supaya Arga mengenalinya dengan saksama.
Mengapa sampai seperti itu, sebab Arga sang CEO tidak pernah mau repot-repot memandang orang yang menurutnya tidak cukup penting. Karena baginya, dia sudah bisa hafal hanya dengan mendengar suara dan namanya dalam satu kali pertemuan saja, itu sudah cukup.