6

1204 Kata
“Tapi maaf Bos, sepertinya ada yang salah dengan mereka.” Boy melihat sang bos yang terlihat serius memandang ke arah dua wanita itu. “Maksudnya?” sang pangeran menatap Boy tidak mengerti. “Kalau tidak salah mereka berdua orang yang di tugaskan untuk tugas bersih-bersih selepas acara. Jadi harusnya mereka tidak ada di sini, tapi ada di belakang bersama pekerja lainnya. Saya akan menegur mereka.” Boy hendak pergi menemui dua wanita tersebut. “Tidak usah, kamu pantau saja, bila selesai acara mereka malah pergi, baru kamu urus mereka.” Ucap sang pangeran sambil berdiri untuk menyapa kolega yang baru saja mendekati orang tuanya. “Baik, Bos.” Ucap Boy sambil dia pun ikut pergi di belakang Arga. Suasana kembali riuh tatkala seorang wanita yang terlihat anggun mendekati orang tua Arga, dengan membawa sebuah kado yang cukup besar. “Selamat ulang tahun pernikahan Tante, Om. Mudah-mudahan makin mesra.” Ucap si wanita dengan senyuman yang tidak kalah indah dengan baju yang dia gunakan juga wajah yang cantik karena polesan mekap. “Terima kasih sayang. Kamu makin cantik saja. Kapan kamu akan me__” “Mah!” Arga yang tahu apa yang akan mamahnya katakan langsung menyelanya dengan panggilan yang cukup dingin, sampai orang yang dekat dengan mereka tertegun. Pasalnya mereka baru tahu kalau sang pangeran suka bersikap dingin pada orang tuanya bila dia merasa terusik. “Gaas, apa yang kamu lakukan? Dia itu mamahmu. Hormati dia di depan rekan bisnismu. Doa ibu itu paling manjur loh, Ga.” Ucap sang papah dengan lembut karena dia tahu saat ini anaknya tengah kesal pada. Andai dia menambah kekesalan sang anak, di pastikan Anaknya akan pergi dari acara dan semu itu pasti akan berpengaruh pada perusahaan mereka. “Arga tidak akan melakukan itu, bila mamah tidak memancing. Arga sudah mengatakannya dengan jelas waktu itu.” Ucap Arga sambil pergi dari sana. “Nataly sayang, kamu selalu membuat anak kita jadi orang kejam.” Ucap Aditya sambil merangkul pinggang sang istri yang malah tersenyum ketika melihat Arga pergi dengan kesal. Mereka adalah Papah dan mamah Arga yang saat ini bukan hanya menjadi tuan pesta, tapi juga menjadi orang yang penting dalam pesta sebab pesta ini bertepatan dengan hari bahagia mereka ketika Aditya mengucapkan ijab-kabul dengan ayah mertua. Arga kembali duduk di tempat tadi. Awalnya dia ingin meredam hati yang tengah kesal karena sang mamah. Namun sayang, itu tidak berjalan lancar sebab dia malah semakin kesal ketika melihat wanita yang beberapa hari ini mengganggu pikiran dan otaknya tengah berbicara dengan seorang laki-laki dengan cukup akrab dan mengumbar senyum ramah. “Sial!” geram, tangan terkepal kuat. Dia benar-benar tidak suka melihat wanitanya bersama orang lain. Ya, Arga sudah menetapkan sendiri kalau Zanna sebagai wanitanya mulai dari kemarin ketika dia telah mencuri hatinya. Dan mulai detik ini, Arga tidak akan pernah membiarkan Zanna dekat dengan laki-laki lain, selain dirinya. Apakah Arga mencintainya? Itu belum tentu dan hanya waktu yang bisa menjawab. “Boy!” panggil Arga pada asisten yang setia berada di sampingnya, setip kesempatan, sampai yang baru melihat kebersamaan mereka pasti menganggap mereka pasangan yang cukup setia. “Ya, Bos?” Boy membungkuk mendekati Arga. “Suruh Zanna ke kamar saya.” Arga langsung pergi dengan membawa kekesalan. Moodnya langsung buruk ketika dua wanita yang dia cintai malah membuat hatinya kesal di saat yang sama. “Maaf, Bos. Ada apa Anda menyuruh ___” “Arga menyugar rambut, Belikan camilan dan bawa ke sana.” Akhirnya Boy mengangguk paham. Arga meninggalkan pesta yang tengah berlangsung, membuat orang tuanya hanya bisa menarik nafas panjang. Ini memang tidak baik, tapi itulah Arga. Bila dia sudah tidak suka, ya pergi tanpa melihat apa pun. Papah dan mamah pun sudah tidak asing lagi dengan sikap anak semata wayangnya. Bagi mereka itu tidak jadi masalah, asal dia bertanggung jawab bila akhirnya ada yang kekacauan akibat ulahnya. Arga menaiki lift untuk pergi ke kamar hotel yang berada di lantai atas. Malam ini mereka akan menginap di sini. Arga sudah menyiapkan seluruh kebutuhan orang tua dan juga tamu penting beserta pengikutnya. Semua sudah Arga fasilitasi yang pastinya dengan sanggatlah waw. Mungkin itu sebagai hadiah dari perusahaan yang tengah berulang tahun. Tok! Tok! Tok! Pintu kamar di ketuk, membuat Arga berdiri, melangkah bangun mendekat. Namun sebelum dia malah membuka tuxedo yang dia pakai dan menyisakan kemeja yang digulung sebatas sikut, tidak lupa dia pun membuka 2 kancing bagian atasnya yang membuat Arga semakin terlihat menggetarkan iman kaum hawa. Zanna perlahan akhirnya membuka pintu. “Ya Tuhaaan! Mimpi apa aku semalam!” Zanna hanya bisa diam dengan mulut mengaga. Dia tidak percaya dengan yang apa yang baru saja dilihat. Zanna membekap mulut yang terbuka buka lebar sambil membalikkan tubuh. Bagaimana itu tidak dia lakukan, bila setan yang ada dalam dirinya meronta dan berontak menyuruh untuk menerjang laki-laki di depannya yang tengah menatapnya. “Mengapa kamu berbalik badan? Apa kamu takut, saya melihat air liurmu menetes karena terpesona melihat penampilan saya?” Ucap Arga sambil duduk dan matanya tidak lepas dari memperhatikan Zanna di depannya. Zanna tersadar dan langsung merapatkan mulut dengan tangan terkepal karena kesal pada sang Bos Buk! “Ini semua camilan yang Bapak minta. Saya heran, orang sekaya Bapak biasanya di tengah pesta itu minta minuman beralkohol. Tapi Bapak, malah minta di belikan minuman berkafein. Sudah sembuh ya, Pak, dengan mabuknya?” Ucap Zanna sambil tersenyum dan menyimpan satu kantong camilan dan kopi instan. Zanna membalas kekesalan dengan perkataan culasnya, dia selalu membuat Arga naik darah dengan perkataannya yang kadang ada benarnya tapi Arga gengsi untuk mengakuinya. “Saya kembali__” Zanna tidak sampai menyelesaikan perkataannya ketika dengan kasar Arga menariknya sampai dia terjatuh di pangkuan, dengan cepat Arga pun memeluk Zanna erat tanpa bicara sepatah kata pun. Tubuh Zanna langsung menegang, ketika mendapat perlakuan yang tidak dia sangka dari sang Bos, padahal selama ini Bosnya itu terus memperlihatkan kebencian karena dia suka mengganggu di setiap kesempatan. “Pak, apa yang__” Zanna terdiam kembali, saat ini tubuhnya makin tegang ketika Arga menyusupkan kepala di ceruk lehernya dan menghirup harum tubuh Zanna. Arga semakin tidak bisa mengendalikan diri ketika Zanna hanya diam. Arga mulai berani memberikan kecupan-kecupan kecil dan sesekali menjilati leher jenjang Zanna yang saat ini terpampang indah di depannya. Apalagi Zanna mencepol rambutnya tanpa berpikir bagaimana penampilan. Itu di sebabkan karena Zanna di haruskan untuk cepat membeli camilan. “Ahhh, Pak.” Ucap Zanna sambil mendesah panjang sebab ini sesuatu yang baru dia rasakan dan hampir saja membuat dia merasa gila. Mendengar suara indah yang di keluarkan Zanna, Arga semakin berani. Dia menghisap leher Zanna sampai terlihat bekas kemerahan di lehernya. Melihat tanda kepemilikan itu, Arga tersenyum puas. Dia benar-benar sudah menyatakan dengan tanda itu kalau Zanna hanya miliknya seorang. Zanna yang awalnya terbuai, mulai sadar dengan apa yang tengah dia lakukan dengan Arga sang bos. Dengan cepat, Zanna menghempaskan tangan Arga, tapi sayang dia kalah cepat dengan rangkulan Arga yang makin kuat di pinggangnya sampai Zanna merasa susah untuk bergerak. “Ya ampun, Pak. Apa yang Bapak lakukan. Ini tidak benar, Bapak harus sadar. Ayo cepat lepaskan saya, Pak.” Zanna mulai merasa kesal dengan Arga yang malah semakin menjadi berani. “Mulai hari ini, kamu jangan pernah dekat-dekat dengan laki-laki lain selain saya!” Arga kembali memberikan ciuman kecil pada Zanna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN