Jujur, ini memang membuat Zanna senang, juga membuat dia takut pasalnya Arga hanya bilang seperti itu tanpa mengatakan status mereka itu sebagai apa.
“Ya ampun, Pak. Itu hak saya, karena saya karyawan perusahaan Bapak. Jadi hak saya juga harus saya dapatkan. Selain gaji, atau fasilitas lainnya. Juga hak saya untuk bebas memilih dengan siapa saya dekat.” Ucap Zanna sambil terus mencoba lepas dari pelukan Arga.
“Saya tidak suka di bantah. Pokonya, mulai sekarang jauhi laku-laki lain selain saya!” Arga kembali menghisap leher Zanna untuk membuat tanda kepemilikan kembali.
Setelah beberapa kali meronta dan berbuat kasar akhirnya dia pun bisa keluar dari kamar Arga dengan terus mengumpat, pasalnya barusan dia mendapatkan hal yang tidak senonoh dari sang Bos.
Andai saja Zanna tidak memberikan perlawanan dengan menjatuhkan Arga, mungkin saat ini kesuciannya akan raib di tangan sang Bos.
“Dasar bos. Gila! Sampai tega melakukannya.” Zanna 3 saja menggerutu sambil merapikan rambut yang sedikit acak-acakan akibat menjatuhkan Arga.
“Aku cukup puas dengan yang barusan.” Ada sedikit senyum menghiasi bibir indah Zanna.
Dia yakin, pasti dia bisa membuat Arga tidak berkutik di bawahnya. “Rasakan saja, Bos. Aku jamin, besok pagi kamu pasti akan merasa tersiksa. Huh ... Untun3g saja ayah mengajarkan aku pertahanan diri.” Gumam Zanna sambil pergi, menemui orang lain.
“Kamu ke mana saja, dari tadi aku ...” Riska menatap Zanna dan menutup mulut.
Dengan kasar dia menarik Zanna ke kamar mandi sambil membawa peralatan make up yang dipinjam dari teman yang lain. Karena kebetulan dia tidak membawa yang seperti itu.
Bukannya Riska tidak punya, tapi dia berpikir untuk apa membawa itu pada waktu dia bekerja. Tapi untuk saat ini dia merasa kesal tidak membawa peralatan make up-nya.
“Kenapa kamu ba__” perkataan Zanna tidak terselesaikan ketika Riska memperlihatkan tanda kemerahan lebih dari dua di leher.
Zanna melotot melihat itu, pasalnya dia bukan orang bodoh dengan tanda itu.
“Ar__” mulutnya di bekap Riska.
"Kamu benar-benar akan memaki bos di sini?” ucap Riska yang langsung tahu siapa yang melakukan itu pada temannya.
Tangan Zanna terkepal karena kesal, “AAAH, DASAR BERENGSEK!” teriak Zanna dengan melengking.
Sedangkan di kamar yang tadi Zanna tinggalkan, Arga terkapar tidak berdaya dengan tangan dan kaki yang terikat.
Sungguh, dia sungguh tidak menyangka kalau Zanna wanita yang cukup mahir dalam bela diri. Sampai dia bisa membuat Arga terkapar dilantai dengan tangan dan kaki terikat dasi sendiri.
Beberapa menit yang lalu, Arga masih terus memberikan cumbuan pada Zanna yang sudah terlihat kesal dengan apa yang dia lakukan.
“Pak, bisa diam tidak. Cepat lepaskan, teman saya pasti sedang menunggu karena hari ini__”
Arga memotong perkataan Zanna dan mengatakan kalau dia sudah di bebas tugaskan dari pekerjaan karena tengah menemani Arga sang bos.
Arga terus memberikan kecupan di leher Zanna dan tangannya pun mulai tidak diam. Zanna yang sudah kesal, memegang tangan Arga dan,
Brak!
Arga terkapar di lantai dengan tidak bisa berkutik sebab Zanna menguncinya. Dengan cepat, Zanna meraih dasi yang untungnya tersampir di kursi dekat dengan wajahnya.
“Apa yang kamu lakukan, apa kamu ingin__,”
Plak!
Satu tamparan bersarang di pipi Arga.
Zanna yang sudah terlihat kesal dengan apa yang Arga sang Bos lakukan.
“Kamu berani menampar saya!” Arga memberikan wajah sinis pada Zanna.
“Saya memang tidak berani, tapi bapak sudah melakukan hal yang tidak baik, jadi, yaaaa, terpaksa saya melakukan ini.” Zanna duduk di sopa sambil melipat kaki menatap sang Bos.
"Kamu tidak suka saya lakukan itu? Saya akan memberikan kamu uang yang cukup untuk membayar.” Arga mendengus dan tersenyum merendahkan.
Dia tahu apa tujuan bicara seperti, apalagi kalau bukan karena uang. Dia sama seperti wanita yang bernama Tika yang tidak pernah luput mengganggunya di mana pun.
Dia pun mendekati Arga hanya karena ingin mengincar hartanya. Walaupun dia sudah terlahir dari orang tua kaya. Apalagi ini, hanya wanita biasa yang pekerjaannya sebagai OG, pastinya uanglah yang dia inginkan.
Zanna mengerutkan kening sedikit mencerna apa maksud dari perkataan Arga barusan.
Namun, sayang otaknya entah kenapa tidak bisa di ajak untuk berpikir jernih, alhasil dia masih belum mengerti apa yang di maksud Arga.
Melihat Zanna yang termenung, Arga kembali mendengus, dengan pikiran yang sudah memandang Zanna rendah, Arga menatap Zanna.
“Saya tahu, apa yang kamu inginkan ketika mendekati dan merecoki saya setiap saat.” Arga mencibir dan kembali menatap merendahkan.
“Uang, kamu menginginkan uang dari saya-kan. Jadi, kamu bisa dapat uang saya, dan saya dapat memegang setiap inci tu__”
Plak! Plak!
Dua tamparan langsung mendarat cukup keras kembali bersarang di pipi Arga.
“Saya memang suka mendekati Bapak, tapi tidak sepicik itu.” Zanna benar-benar kesal dengan sang Bos yang selalu memandang dan berpikir kalau semua wanita itu mata duwitan.
Zanna menarik nafas cukup panjang, untuk tidak memaki sang bos, karena dia masih mengaguminya walau hatinya cukup sedih.
“Saya minta maaf karena saya menampar Bapak barusan.” Zanna berdiri dan membungkuk.
“Bapak harus tahu, semua itu hanya untuk mempertahankan kehormatan saya sebagai wanita, Pak. Ingat, jangan sama-kan saya dengan jalang yang selalu Bapak pesan.” Zanna sambil pergi.
Gila, ya! Zanna memang gila karena ternyata dia berani juga menampar Arga yang telah dia ikat kuat.
Setelah Zanna keluar, Boy masuk, dia kaget dan langsung menolong Arga yang tengah terikat.
“Bos, apa yang OG itu lakukan?” Boy benar-benar sok melihat keadaan Arga yang kacau setelah tadi dia sempat melihat Zanna keluar dari kamar Bosnya.
Arga mengusap tangannya yang terasa sakit, hatinya sangat kesal dengan apa yang di lakukan OG barusan.
“Dasar wanita munafik! Lihat saja, aku akan membuka kedokmu lain waktu!” Arga menerima uluran es batu dari Boy untuk menghilangkan bekas ikatan di tangan yang terlihat mengerikan.
Merah. Ya, warna bekas ikatan itu terlihat merah. Dia harus segera mengobatinya bila tidak ingin besok terjadi keributan dan tersebar berita besar karena semua orang melihat ada luka di kedua tangannya.
"Boy, kirimkan baju dari perancang ternama pada wanita tadi! Dan bilang padanya, itu hadiah dariku dan buatkan dia kartu ATM tanpa limit untuknya atas namaku.” Ucap Arga dengan menatap tajam pada pergelangan tangannya.
Boy yang mendengar itu langsing terkejut, pasalnya baru kali ini dia mendapat perintah untuk mengirimkan baju dan kartu ATM pada seorang wanita, dia merasa ada yang aneh dengan Bosnya saat ini.
“Aku ingin membuka kedoknya Boy. Aku yakin, sebenarnya dia mendekatiku selama ini hanya karena harta yang aku punya. Jadi, berikan apa yang aku katakan tadi, supaya kita bisa membuka kedoknya besok malam.” Arga menjelaskan apa yang terjadi padanya.
“Tapi, Bos, yang saya tahu Zanna itu bukan wanita seperti itu. Karena__”
Arga langsung mengangkat tangan supaya Boy diam. Dia tidak ingin mendengar apa pun dari Boy, sebab dia tahu wanita yang mendekatinya seperti apa.
“Tidak usah membelanya di depan saya Boy, karena saya tahu seperti apa mereka. Lakukan saja apa yang saya perintahkan.” Arga langsung pergi ke kamar mandi untuk menenangkan hati ketika mendengar apa yang Boy katakan dan apa yang tadi Zanna katakan padanya.