Arga kembali menarik tengkuk Zanna, “jangan bicara soal laki-laki lain di delan saya, dan jangan. Pernah coba-coba untuk membiarkan laki-laki lain mencoba ini! Karena ini hanya saya yang boleh merasakannya. “Heleh! Enak saja. Ini itu mulut saya, jadi terserah saya mau melakukan apa. Tidak ada yang bisa menahan itu, karena ini punya saya, dan ini ada di wajah saya.” Tuk! Arka mengetuk hidung Zanna sambil tersenyum, “iyaaa, saya tahu. Ini mulut kamu, tapi ingat, hanya daya yang bisa mencicipinya.” Ucap Arga sambil berdiri tegak dan merapikan tatanan rambut Zanna. “Ingat, ya, tidak ada yang namanya bareng dengan laki-laki lain. Kalau itu sampai terjadi, saya paksa kamu kawin saat itu juga! Cepat pulang, dan jangan ke mana-mana.” “Adeeeh! Sebenarnya saya itu sebagai apa ya? Sudah manis-m

