“Emmh … tidak, itu tidak usah. Karena kita teman. Jadi tidak usah di pikirkan. Sekarang saya pulang dahulu, kamu cepat istirahat, jangan ke mana-mana. Karena kamu masih sakit.” Zana mengangguk, mengantarkan Boy pulang sampai mobilnya tidak terlihat. Dia masuk kamar, merebahkan tubuh yang sakit, akibat berkelahi dengan Tika. Dia ingat sebab apa dirinya berkelahi dengan Tika yang ternyata wanita yang cukup arogan dan mengesalkan. Semua orang saling menatap ketika melihat Tika yang marah-marah pada seorang OB yang tengah mengepel, padahal dia sendiri yang tidak hati-hati ketika hampir saja terjatuh. Ingat, ini hampir terjatuh, dan bukan benar-benar jatuh. Tapi Tika malah berlaku cukup kasar, dia sampai menunjuk-nunjuk muka sang OB dan sedikit memakinya, dan perkataan itu membuat seluruh

