Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi keanehan yang aku rasa saat ini, jujur saja ada rasa tak suka ketika melihat istriku bersenda gurau dengan laki-laki lain. Tunggu istri? Sejak kapan aku menyebut istri? aku tak pernah mengakuinya? Atau kah aku sudah mulai bisa menerimanya? Entah lah ... yang pasti sekarang ini aku merasa sangat kesal melihat wanita yang berstatus istriku sedang duduk di kantin sembari bersenda gurau dengan laki laki lain. "Cihhh dasar! Istri keterlaluan, bisa-bisanya dia beresendau gurau bersama laki laki lain," desisku kesal. "Apa dia tidak sadar jika dia itu seorang istri?" gerutuku sembari berlalu pergi. Berkali-kali aku mencoba membuang rasa kesalku pada Renata dan sedikit mengingat tentang perjanjian yang kami batalkan namun rasa kesal itu semakin membuncah

