Part 10

1645 Kata
Setelah berdiam diri dikamar karena memikirkan nasibnya yang sepertinya tidak akan lama lagi didunia novel ini, Bella memilih melanjutkan pekerjaannya yang beberapa hari kemarin tertunda. Dia mulai mengerjakan pekerjaannya sebagai teknisi, jika sudah fokus seperti ini Bella sudah tidak memikirkan apa apa lagi, bahkan untuk mengisi perut pun dia sering kali lupa. Berjam jam sudah dilewati, peluhnya sudah membanjiri dahi, pakaian dan wajahnya pun sudah kotor terkena oli, tapi Bella masih asik dengan kegiatan menyambung nyambungkan tembaga tipis dan sesekali dia mengumpat karena gagal dengan percobaannya. "Aish, bodoh banget lu Rai" umpatnya menyadari ada bagian yang kurang. Bella berjalan keluar untuk menemui asistennya yang tadi dia lihat sedang bersama Eren diruang jahit. "Aurora" panggil Bella. Aurora dan Eren menoleh melihat sumber suara, Eren menunduk hormat lalu kembali melanjutkan pekerjaannya lagi. "Kau butuh apa?" tanya Aurora menghampiri Bella. "Bisa antar aku ke pengrajin besi lagi?" tanya Bella. "Tentu, aku kan asistenmu" "Ayo" ajak Bella. Aurora menyeringitkan dahi menatap Bella dari atas hingga bawah. "Kau mau pergi dengan penampilan gelandangan seperti ini?" tanya Autora sambil menunjuk. Bella menghadap ke kanan untuk melihat dirinya dicermin, baju kotor, rambut berantakan, wajah penuh oli. Benar kata Aurora, penampilan Bella saat ini seperti gelandangan. "Hehehe, baiklah aku akan mandi terlebih dahulu" Bella berlalu dari hadapan Aurora. Tak perlu lama lama untuk dirinya kembali cantik, kini Bella sudah siap dengan baju santainya. Bella turun dan mendapati Aurora sedang diruang tamu. "Kau sudah siap Bell?" tanya Aurora. "Iya, ayo" Bella berjalan keluar diikuti Aurora. "Diperjalanan mampir dahulu ketoko yang menjual kaca" ucap Bella setelah didalam kereta kuda. "Baik Putri" ucap sang kusir . Kereta tersebut melaju meninggalkan mansion. "Kata Demian, tadi pagi kalian tak sempat bertemu, benar?" tanya Bella. "Iya, tapi kemarin malam kami sudah bertemu" jawab Aurora. Bella mendekatkan wajahnya kepada Aurora secara tiba tiba, membuat gadis itu terkejut dan refleks memundurkan wajahnya dengan mata melotot. "Kalian sudah menjadi kekasih ya?" tanya Bella penuh selidik. Aurora panik berusaha menatap kearah lain. "Jujur pada ku" paksa Bella. "I-iya" ucap Aurora gugup. Bella memundurkan wajahnya kembali seperti semula, bibirnya melengkungkan senyum menggoda pada Aurora yang tengah tersipu. "Kau tidak mau meneraktirku?" "Teraktir?" "Dasar kuno" gumam Bella pelan, bahkan Aurora saja tak mendengarnya. "Terkatir itu emmm apa ya? Aah, membelikan aku makanan dengan uangmu" jelas Bella. "Ohh, kau mau makan dimana memang?" tanya Aurora. "Toko roti" "Aku tau toko roti yang enak dimana, pulang nanti kita mampir dulu saja kesana" "Sip" "Kau tau tidak? Masa....." Mereka mengisi perjalanan yang kosong dengan mengobrol dan Aurora sebagai informan. ------------ "Wow enak sekali" ucap Bella setelah mencoba sepotong cake. Setelah menyelesaikan urusannya dengan pengrajin besi, seperti janji Aurora, mereka pergi ketoko kue yang Aurora pilih. "Benar kan? Hem Aurora sicantik berkelas" ucap Aurora menyombongkan dirinya. Bella mendelik sinis melihat Aurora yang sangat percaya diri, Bella melanjutkan makannya sambil melihat sekitar, dan ternyata semua orang yang ada didalam toko itu tengah memperhatikannya. "Kenapa semua orang memperhatikan kita?" tanya Bella pada Aurora. "Karen pakaianmu mungkin" "Kenapa pakaianku?" "Pakaian mu sangat aneh bodoh" "Kau ini semakin hari semakin melunjak saja" ucap Bella menoyor kepala Aurora. "Dan kau juga kenapa tidak memakai pakaian yang ku berikan?" lanjut Bella. "Sedang tidak ingin" "Ck, besok besok jika kau tidak memakai pakaian itu, akan ku penggal kepalamu" ucap Bella kesal. "Iya iya besok ku pakai" ucap Aurora cepat, dia masih ingin hidup. "Besok suruh para pekerja untuk membongkar kamarku" ucap Bella. "Kenapa harus dibongkar?" "Tak usah banyak tanya, aku mau besok selesai dalam sehari" "Kenapa buru buru?" "Suka suka ku" "Kau sangguh menyebalkan" ucap Aurora dengan penuh penekanan. "Ayo pulang, tapi tolong pesankan dulu cake yang ku makan tadi untuk dibawa pulang. Cepat" Bella bangkit dari kursi lalu melenggang pergi, meninggalkan Aurora yang terus menggerutu. "Pangeran Alaric cepatlah kembali, istrimu menjadi sangat menyebalkan" gumam Aurora kesal. Setelah perjalanan yang melelahkan Bella merebahkan tubuhnya pada ranjang empuk milik Alaric, lama kelamaan Bella tertidur tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu akibat kelelahan. ----------- Tak tak Dug dug Prang Bunyi bunyi gaduh itu membangunkan Bella yang sedang berada dialam mimpi, suaranya terasa sangat dekat. Bella mendudukkan tubuhnya dengan mata yang masih tertutup, mencoba mengumpulkan nyawanya sebentar lalu membuka mata melihat sekitar, matanya terbelalak kaget ketika melihat kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. "Bella kau sudah bangun?" tanya Aurora yang tiba tiba berdiri dihadapan Bella. "Astaga, sia! Kaget urang goblog!" umpat Bella kaget, memukul lengan Aurora, membuat gadis manis itu mengaduh. "Sakit Bell" ringis Aurora mengelus lengannya. "Sia? Goblog? Apa sih?" tanya Aurora. Bella memutar bola matanya malas. "Kau yang membuat semua kekacauan ini?" tanya Bella dengan kekesalan yang masih ketara, ya siapa yang tidak kesal saat bangun tidur tiba tiba kamar kalian penuh orang dan berantakan dengan dinding yang sudah bolong. Untung saja dia tidak sedang memakai baju kurang bahan. "Katanya kau ingin membongkar kamarmu" ucap Aurora santai. Bella menghela nafas lalu berujar "Ya ga gini juga atuh Ra, cape gue cape" "Gue?" tanya Aurora Bella sedang malas meladeni Aurora yang banyak tanya, dia meninggalkan Aurora dan malah menghampiri seseorang yang terlihat seperti ketua dari orang orang yang sedang membongkar kamarnya itu. "Permisi" ucap Bella sopan. Orang yang terlihat seperti ketua itu berbalik. "Pagi Putri, maafkan saya mengganggu tidur anda" ucap orang itu dengan kepala tertunduk. "Tidak apa apa, aku hanya ingin memberitahu mu akan dijadikan apa kamar yang kau bongkar itu" "Mohon maaf Putri, memang anda ingin menjadikannya seperti apa?" "Ruang ganti dan kamar mandi" ucap Bella membuat orang tersebut bingung. "Nanti akan ku jelaskan. Aku akan mandi dahulu, kau tunggu saja diruanganku, jika kau tidak tahu tanyakan pada asistenku" ucap Bella melihat kerutan didahi pria paruh baya itu. . "Baik Putri" orang itu menunduk hormat, Bella hanya mengangguk dan pergi mandi. Sebenarnya Bella sangat ingin berendam tapi apa daya jadwalnya sangat padat melebihi artis papan penggilesan. Saat Bella akan membuka bajunya tiba tiba seorang pelayan menghampirinya. "Biar saya bantu, Putri" ucap pelayan tersebut. "Sudah ku bilang bahwa aku tidak suka dibantu saat mandi. Pergi! Aku tidak mau ada seorangpun dikamar mandi ini" ucap Bella marah. Bella sangat benci bila ada yang memegang dan melihat tubuhnya walaupun itu seorang wanita, kecuali suaminya, Alaric. Sebaliknya, Bella sangat suka menjahili Alaric dengan tubuhnya, ahh memikirkan Alaric membuatnya merindukan pria manja itu. Sipelayan yang ketakutan berjalan cepat keluar, dia tidak ingin membuat kesayangan pangeran marah karena akibatnya nyawanya yang akan melayang. Setelah pelayan itu pergi, Bella melaksanakan ritual mandinya. Dan setelah 15 menit berlalu dia sudah rapih dengan pakaian biasa, yaitu baju kaos oblong, celana pendek, sneakers dan topi sebagai pelengkap. Bella berjalan keruangannya untuk menemui ketua geng alias mandor bangunan itu. Melihat Bella memasuki ruangan, pria itu berdiri dan menunduk sopan. Bella duduk, lalu mengambil kertas besar dari dalam laci mejanya. "Jadi aku ingin membuat sebuah kamar mandi dan ruang ganti yang nyambung dengan kamar yang kupakai tidur tadi. Aku sudah menggambarnya dengan rinci, kau hanya tinggal mengikutinya saja, dan aku mau satu hari harus sudah selesai, terserah kau mau mengerahkan sebanyak apa anak buahmu atau bahkan bila kau ingin memakai bantuan jin juga tidak apa apa" ucap Bella memberikan kertas yang ada ditangannya pada pria paruh baya itu. "Baik Putri" "Jika ada yang tidak kau mengerti, datang saja kesini" "Baik Putri, saya pamit kembali bekerja" "Iya silahkan" Pria tersebut pergi. Bella berjalan ke meja yang penuh dengan kabel kabel dan besi besi, dia akan melanjutkan perkerjaannya yang belum selesai, tapi sebelum itu dia membutuhkan barang yang kemarin dia pesan. "AURORA!!" teriak Bella. Brak Tak tak Dug "Aw" ringis Aurora karena nyungseb mencium lantai. Bella yang melihat itu memasang wajah meringis tanpa ada niatan untuk menolong. "Kau tidak apa apa?" tanya Bella tanpa beranjak dari posisinya. Aurora bangun, lalu menghampiri Bella. "Aku baik baik saja, lagi pula kamu kenapa sih teriak teriak seperti itu? Membuatku khawatir saja" ucap Aurora dongkol. "Barang barang yang kupesan kemarin mana?" "Sudah sampai dari semalam, ku ambilkan dulu" Aurora pergi tanpa pamit. Dilain tempat Alaric, Demian dan beberapa prajurit yang menemaninya telah sampai dikerajaan Nuvoleon, mereka disambut dengan meriah oleh Raja dan Ratu kerajaan tersebut. Kini Alaric dan sang Raja sedang berada diruang rapat untuk membicarakan kelompok penyihir Valcke, padahal Alaric baru saja sampai setelah perjalanan sehari semalamnya. "Aku tidak tau apa lagi yang harus kulakukan untuk menyelamatkan kerajaan kerajaan yang masih berdiri saat ini" ucap Raja Nuvoleon putus asa. Semua sudah dia lakukan tapi itu semua sia sia karena sihir yang dimiliki Valcke. "Bagaimana dengan memperketat penjagaan dan membangun benteng yang sangat tinggi" usul Alaric. "Percuma, sihir itu tidak bisa dilawan dengan fisik, satu satunya yang bisa kita lakukan adalah menemukan buku itu, hanya buku dari para tetuamu yang dapat menyelamatan kita" "Tapi aku tidak tau buku itu dimana, aku tidak pernah melihatnya. Sepertinya aku harus berbicara dengan ayahku, mungkin saja dia tau" "Tapi sebentar lagi para penyihir itu akan sampai disini atau mungkin kekerajaan mu pangeran, kita tak punya banyak waktu" "Kau kirim beberapa prajuritmu untuk menahannya sementara waktu, perketat penjagaan disetiap sisi. Kemungkinan mereka akan lewat bagian utara kerajaamu, karena dia habis dari kerajaan Nowera, perbanyak prajuritmu dibagian utara agar memepersulit mereka memasuki pemukiman warga. Suruh semua wargamu untuk berkumpul disatu tempat dan bersembunyi dibawah tanah, agar tidak ada yang terluka" jelas Alaric yang dibalas anggukan oleh sang Raja. "Aku akan mencoba mengumpulkan penyihir yang bisa bersekutu dengan kita, walau mungkin akan ditentang oleh warga tapi kita sangat membutuhkan mereka saat ini. Semua itu mungkin tidak bisa mengalahkan Valcke tapi bisa menahannya sampai buku The Sworn Book of Honorius ketemu" lanjut Alaric. "Aku setuju dengan rencana mu, mungkin aku juga akan ikut dengan mu kembali kekerajaanmu, aku ingin berbicara dengan ayahmu soal buku itu" "Tidak perlu, aku akan bertanya pada ayah dan mencarinya, kau jaga saja kerajaanmu" "Baiklah" "Sebaiknya kau menginap dulu disini, besok pagi baru kau pulang. Aku yakin kau belum istirahat bukan?" lanjut Raja Nuvoleon yang dibalas Alaric dengan senyum sopan. "Pelayan itu akan menunjukkan kamarmu" ucap Raja Nuvoleon menujuk salah satu pelayan perempuan. "Terimakasih" ucap Alaric langsung melenggang pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN