"Satu....dua....tiga"
Cekrek
Bella berlari melihat hasil fotonya.
"Kerja bagus" puji Bella membuat telinga pengawal itu memerah malu.
"Sayang" panggil Alaric, dia tidak suka jika Bella berinteraksi dengan laki-laki.
"Iya sebentar"
"Fotokan lagi sebanyak mungkin" ucap Bella, lalu dia berlari kembali kesinggasana Raja dan Ratu yang dijadikan tempat foto.
Beberapa menit kemudian pengawal itu telah mengambil foto sesuai permintaan Bella, mulai dari sekeluarga, Raja dan Ratu saja, Bella dan Alaric saja dan banyak lagi. Hingga foto yang terakhir Bella mengarahkan sang Raja untuk mengangkat dua jarinya membentuk peace dan Ratu menyilangkan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk little love. Bella terkekeh geli, lalu dia berpose elegan disamping sang Ratu.
Cekrek
Foto terakhir pun keluar dan acara sesi foto selesai. Kini mereka sedang berada diruang makan, untuk makan siang.
"Aku membawa sesuatu untuk kalian" ucap Bella lalu dia memanggil pelayan untuk membawakan keranjang rotan berisi makanan.
"Tak perlu repot repot Bella" ucap ibu Ratu.
"Tak apa ibu Ratu, hanya bingkisan kecil" balas Bella.
"Silahkan dicicipi" ucap Bella setelah pelayan menatanya dengan rapi.
Raja dan Ratu bingung dengan makanan yang dihidangkan Bella, pasalnya semua makanan itu belum pernah ia temui sebelumnya. Sang Ratu dengan ragu ragu mengambil ayam tepung lalu memakannya.
"Wah sangat enak, bagaimana kau memasaknya dan apakah ayam ini tidak memiliki tulang?" tanya Ratu antusias.
"Iya, aku menggunakan teknik fillet untuk memisahkan daging dengan tulangnya" Bella puas karena hasil masakannya mendapat pujian dari sang Ratu.
"Aku baru pertama kali mendengarnya" ucap sang Raja sambil memakan kentang tornado.
"Memang, disini hanya aku yang menggunakan teknik itu"
Sombong dikit boleh kali ya bos Batin Bella.
"Kau hebat sekali bisa membuat makanan makanan baru ini, apalagi alat yang kau pakai tadi? aku tidak bisa tidak kagum dengan hal hal baru yang kau tunjukan. Kau seperti seorang ilmuan" ucap Raja.
"Anda bisa saja ayah" Bella tersenyum manis.
"Ayah tidak tau saja bahwa kau itu bodoh" gumam Alaric.
"Kau mengataiku bodoh?" bisik Bella dikuping Alaric.
"Tidak, aku berkata kita itu jodoh" elak Alaric.
Bella menatap sinis Alaric, suaminya ini kenapa tidak suka sekali bila ia dipuji orang. Harusnya dia bangga mempunyai istri yang cantik dan jenius sepertinya.
"Aku dari tadi tertarik dengan baju yang kau pakai, kau beli dipenjahit mana?" pertanyaan Ratu membuat Bella mengalihkan pandangannya pada sang Ratu.
"Ah ini aku tidak beli, aku membuatnya sendiri. Apakah ibu Ratu menginginkannya? Biar ku buatkan nanti"
"Oh iya ibu, aku membuatkan ini. Ini bisa anda simpan beberapa hari, jika ingin dimakan anda tinggal menggorengnya saja" lanjut Bella memberikan sekotak sosis dan corndog yang belum digoreng.
"Huh aku tidak bisa berkata kata lagi Bella" Raja dan Ratu dibuat speechless dengan semua yang Bella tunjukan.
Bella hanya membalas perkataan itu dengan senyuman. Mereka kembali melanjutkan acara makan siangnya dengan sesekali tertawa karena perdebatan Alaric dan sang Raja, keluarga ini memang tidak terlalu ketat dengan tata krama saat berada dimeja makan.
Selesai makan, Bella mengajak Ratu untuk mengeteh diruang santai sambil menikmati hujan, meninggalkan kedua laki laki berbeda generasi itu diruang keluarga.
"Sepertinya istrimu telah berubah banyak" ucap Raja memulai percakapan.
"Iya" jawab Alaric.
"Apakah sekarang kau sudah mecintainya?"
"Iya"
"Yah sayang sekali, padahal ayah berniat menikahkan Bella dengan Aron jika kau belum juga mencintainya" goda Raja, lelaki paruh baya itu memang sangat suka melihat anaknya kesal.
Aron adalah adik laki-laki Alaric, kini Aron sedang bertugas menjadi pemimpin dibagian utara, sehingga dia tidak bisa hadir hari ini. Aron sangat suka peperangan, berbeda sekali dengan Alaric yang lebih suka perdamaian tapi jangan ragukan kemampuan Alaric bila berada dimedang perang, pria itu akan berubah menjadi sangat menyeramkan melebihi adiknya.
"Ku bakar istana ini" ucap Alaric kesal, kenapa sih ayahnya ini mengajak ribut terus.
"Bakar saja dan kau akan kehilangan kesempatanmu menjadi Raja"
"Tidak butuh"
Raja tersenyum dengan balasan Alaric, anaknya ini memang tidak tertarik dengan posisi Raja tapi mau tak mau, suka tak suka, Alaric harus menggantikannya sebagai Raja.
Raja melihat jendela besar yang menampilkan hujan yang sangat lebat, bahkan pohon yang ada disamping jendela itu bergoyang kencang.
"Sepertinya kalian harus menginap disini" ucap Raja.
Alaric hanya berdehem, kemudian dia memejamkan matanya menikmati suara hujan yang terdengar merdu ditelinganya.
----------
Sudah 3 hari berlalu setelah mereka berkunjung ke istana, dan hari ini adalah hari dimana Alaric akan pergi ke kerajaan Nuvoleon serta pertemuan pertama antara Alaric dan Merry. Bella hanya bisa berdoa semoga yang dia lakukan selama ini bisa merubah alur cerita, dia sudah sangat mencintai Alaric, rasanya tak rela jika pada akhirnya Alaric akan tetap bersama Merry.
Bella berjalan mendekati Alaric yang sedang memakai pakaiannya, kemudian memeluknya, dia memeluk Alaric sangat erat, membuat Alaric bingung dengan tingkah Bella yang tiba tiba ini.
"Kenapa?" tanya Alaric mengelus rambut Bella.
"Aku mencintaimu"
Alaric menangkup wajah Bella, menatap mata Bella yang menyiratkan kekhawatiran yang besar.
"Kenapa kau tiba tiba aneh seperti ini? Aku hanya pergi 3 hari saja, tak perlu khawatir"
"Aku mencintaimu" ucap Bella lagi.
"Aku lebih mencintaimu" ucap Alaric lalu mengecup bibir Bella sekilas.
"Apa kau takut merindukanku?" tanya Alaric.
Bella mengangguk cepat dengan mata belonya, membuat Alaric tersenyum gemas. Pria itu melepaskan pelukkan mereka lalu beralih ke lemari untuk mengambil sesuatu, kemudian dia memasangkannya keleher Bella, membuat Bella terkejut dan refleks memegang lehernya.
Bella melihat kebawah, ternyata Alaric memasangkan sebuah kalung berliontin daun pohon ek.
"Kau menyukainya?" tanya Alaric setelah memakaikannya.
Bella tersenyum lebar menatap Alaric.
"Tentu, apa artinya?"
"Tidak ada"
"Uhhh sungguh tidak romantis" ucap Bella sinis.
"Memang harus?"
"Tidak" balas Bella dengan malas.
"Ayo cepat, nanti kau terlambat" lanjut Bella memasangkan dasi dan jas pada Alaric.
Cup
"Nanti biar ku pikirkan artinya"
"Oke. Ayo aku antar kedepan, Demian pasti sudah menunggu" ucap Bella sambil menepuk dua kali d**a Alaric.
Alaric meraih tangan kiri Bella untuk ia genggam, mereka berjalan kearah pintu utama dan diruang tamu sudah ada seonggok manusia sedang duduk disofa.
"Demian" panggil Bella.
Demian yang merasa dirinya dipanggil, segera bangkit dan melihat orang yang memanggilnya.
"Pagi Bell" sapa Demian.
"Pagi, kau tak bersama Aurora?" tanya Bella.
"Tidak, tadi pagi aku harus cepat cepat kesini untuk menyiapkan keberangkatan suami es mu itu" jawab Demian melirik Alaric yang sedang memang wajah datar.
"Hahaha, baiklah. Cepat segera berangkat, perjalanan kalian akan sangat memakan banyak waktu" ucap Bella.
Alaric menangkup wajah Bella kemudian menciumnya mulai dari dahi hingga yang terakhir bibir.
"Aku akan merindukanmu" ucap Alaric yang dibalas senyum oleh Bella.
Demian yang menyaksikan keuwuan itu hanya membuang wajah masamnya, andai Aurora ada disini.
"Aku pergi" ucap Alaric.
"Aku juga, dah Bell" sambar Demian melambaikan tangan, berjalan mengikuti Alaric.
Bella hanya mengangguk.
Ku harap alur cerita benar benar akan berubah Batin Bella, kemudian dia kembali kekamar.