Dhifa menjadi canggung sendiri saat harus berdiam di dalam kamar, sementara Hanif malah tidur dengan suara dengkuran halusnya. Bayangan roti sobekdi perut suaminya masih tercetak jelas di kepalanya. Dhifa menghela nafas panjang. Sebenarnya ia mengantuk, namun mau ikut tidur tak ada tempat karena sofanya yang pendek. Tak mungkin ia bergabung dengan suaminya, kasur nomor 3 nya terlalu sempit untuk mereka tempati berdua kecuali berdempetan. Lagipula jika ia bergabung bisa-bisa hilang sudah keperawanannya. Ini bukan situasi yang aman. Pergi ke luar kamar fan bergabung bersama neneknya Hanif pun bukan piliha tepat sebab sejak pertemuan pertamanya, nenek tua itu tak sedikit pun berusaha menerima Dhifa dengan hangat. Ia tak seoerti Oma Ratih yang senang berbasa basi. Perasaan Dhifa jadi gelis

