"Kaget ya?" Hanif menatap istrinya yang masih serius memandangi potret lama keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Mereka adalah Mama Heni, Tasya kecil usia balita dan Ayah Hilman. Potret jadul itu masih tersimpan dengan rapi dan terawat dengan baik. "Pastinya kaget banget, Bang. Lagian kenapa di simpan di kamar Abang. Memangnya abang ga masalah?"Sebelumnya Dhifa tak pernah melihatnya. Mungkin kakaknya, Tasya memilikinya. "Sebagai seorang anak aku kecewa karena ayah lebih mencintai wanita lain dibanding ibuku. Dia beneran menjadi pria yang gagal move on dari istri pertamanya." Hanif mengeluarkan isi hatinya. Perasaan yang dulu sempat membuatnya meragukan ketulusan ayahnya. Tanpa sadar Hanif meng "aku" kan dirinya kepada Tasya bukan lagi saya, tak seformal biasanya. "Tapi

