16. Tokoh Baru

1358 Kata
Hampir genap empat puluh lima menit perjalanan dari rumah Dara ke kampus, akhirnya motor matic Ben telah sampai pada halaman parkir khusus sepeda motor. Cowok itu menurunkan standar motor kemudian melepaskan kaitan helm yang ia kenakan. Sedangkan Dara nggak segera turun, ia masih menyadarkan kepala di punggung Ben untuk beberapa saat. Tepat saat Ben hendak membuka mulut memberikan titah pada Dara untuk melepaskan dirinya, cewek itu sudah lebih dulu melepaskan pelukannya dan turun dari motor tersebut. Ia melepaskan pengait helm dengan mudah dan memberikan benda tersebut kepada Ben. "Lo selesai kelas jam berapa?" tanya Dara menatap belum beranjak dari atas motor. Ben melirik sekilas ke arah jam yang melingkar pada pergelangan tangan. Kemudian ia mengacak rambut hitamnya yang mulai memanjang. Tindakan itu sempat membuat Dara terkesiap beberapa saat, sampai cewek itu mengalami gejala sesak napas melihat ketampanan Ben yang berkali-kali lipat dengan jarak sedekat ini. Hng ... okey, ini terlalu berlebihan bagi kalian. Tapi, bagaimana Dara 'kan, sayang banget sama manusia jangkung satu ini. "Heeh!" Dara secara spontan tersadar, ia dengan aktif menyentak lengan Ben, sampai cowok itu menurunkan tangannya dan menatap Dara dengan pandangan tanya sekaligus heran. "Apa sih, Ra?" kini giliran Ben yang hampir saja nge-gas di depan cewek itu. Mengabaikan Dara yang cemberut padanya tanpa hal yang jelas, cowok itu turun dari motor dengan menyandang tas pada sebelah pundak. Ia bergegas melangkah menuju ke salah satu bangku panjang yang letaknya tak jauh dari lokasi parkir. Tentu saja dengan Dara yang masih mengekori cowok tersebut karena Ben juga belum menjawab pertanyaannya. "Nggak tau, Dobing gue suka molornya kebangetan." Jawaban itu dilontarkan Ben kepada Dara yang masih mengekor. Namun, meski sudah mendapatkan jawaban dari cowok tinggi di depannya itu Dara masih belum berhenti mengikuti Ben. Ia masih setia berjalan di belakang Benggala, membalas tatapan dedek gemes alias mahasiswi baru yang dua minggu lalu baru saja mengikuti ospek sebagai mahasiswa didik baru. Pasalnya sejak dari parkiran tadi saat Ben turun dari motor, Dara sudah mendapati dua orang mahasiswi yang masih mengenakan kemeja putih dan rok hitam selutut itu saling berisik dan tersenyum ke arah Ben. Yang sudah pasti dan nggak bisa dibantah bahwa mereka pasti sedang membicarakan Ben, atau bahkan berencana mendekati Ben-nya. Nggak! Dara nggak akan terima itu semua. "Aws!" eluh cewek itu saat mendadak wajahnya menubruk punggung Ben, sehingga ia hampir saja jatuh terjengkang ke belakang kalau-kalau Ben nggak menahan salah satu lengan Dara dan menariknya dengan gerakan cepat. Dan lagi hal itu menjadi sorotan para mahasiswa yang sedang melintas di sekitar lorong kampus menuju kelas mereka masing-masing. "Sengaja, ya?" protes Dara. Ia melayangkan tamparan ringan ke lengan Ben. "Ya, elo ngapain masih ngintilin gue. Balik sana ke kelas lo." Ben melepaskan tangannya dari lengan Dara. Bukan apa-apa, mengingat kejadian kemarin Ben masih bergidik. Bagaimana mungkin Dara bisa masuk ke kelasnya sebagai penyusup tanpa ketahuan. Berhasil mencoreng muka Ben di depan dosbing dan semua teman sekelasnya tersebut. Ben masih nggak habis pikir mengingat semua perbuatan yang sangat mulia dari Dara. Cowok itu kemudian memasukkan kedua tangannya pada saku jaket. Tepat sebelum ia berbalik, Dara lagi-lagi menahan lengan Ben dan mengulum bibir menatap cowok itu untuk beberapa saat. "Apa lagi boncel?" "Lo jangan berani-berani nganu lagi." Ucapan Dara sontak sukses membuat otak Ben bekerja lebih aktif lagi. Nganu? Dahi Ben berkerut menjadi berlipat-lipat mendengarnya. Apa sih? "Ha?" Akhirnya hanya sepotong kata itu yang keluar dari bibir Ben. Namun, kemudian ia menyentak tangan Dara dari lengannya. Menyibakkan rambut yang maju ke depan mengenai mata. Sontak Dara kelojotan sendiri, ia bahkan meloncat berusaha menghalangi Ben melakukan hal itu. "Apa sih? Jangan, ngada-ngada lagi, Ra." "Nggak boleh." "Apaan?" Keduanya saling tatap sebentar, sebelum kemudian Dara mengatakan apa maksudnya, "nggak usah senyum, nggak usah nyisir rambut, nggak usah sok ramah ngerti!" Mendengar semua larangan yang diucapkan Dara, Ben semakin nggak ngerti dengan maksud cewek berkaki pendek tersebut. "Nggak ngerti gue," balas Ben pendek. "Intinya lo jelek kalau senyum. Jadi nggak usah senyum karena itu ngeganggu. Ngerti." Dara bergegas pergi setelah mengatakan hal itu. Mengabaikan Ben yang membeo di tempatnya masih nggak paham dengan arah pikiran Dara yang memang sangat absurd. ~M e m o r i e s~ Dari kejauhan Riki dan Hanif secara bersamaan menyedot cokelat seribuan yang mereka beli di dekat fotokopian yang tak jauh dari pujasera. Bukan beli sih, lebih tepatnya kembalikan dua ribu yang nggak ada, kemudian bapak-bapak jutek penjaga foto kopian tersebut memberikan dua cokelat stik seribuan tersebut kepada kedua cowok tersebut. Mereka berdua menatap Dara dan Ben yang berpisah di koridor kampus menuju kelas. Ben masih mematung di sana. Sedangkan Dara sudah melenggang pergi. Cewek bogel yang masih konsisten membuntuti Ben itu, Riki dan Hanif sudah sepakat untuk mempercayai bahwa kedua insan berbeda postur itu memiliki hubungan spesial. "Fiks mereka pacaran," ucap Hanif. Riki yang masih bersedekap dadaaaa mendengar itu sambil manggut-manggut. "Kayaknya sih, iya." Riki kini menimpali. Hanif menghela napas panjang kemudian mendesahhh mendengar kalimat Riki yang sangat monoton. Sebelum pergi dari sana, Hanif sempat menempeleng kepala Riki dengan pelan. "Anjeeeng!" "Kebiasaan bego," gumam Hanif dari kejauhan melambaikan tangannya. "Makin berani sama gue ya, lo!" teriak Riki kesal. Disambut dengan jari tengah Hanif yang melambai dari kejauhan. Sehingga lagi-lagi ia hanya bisa mendesis dari tempatnya berdiri. Melihat kelakuan Hanif yang semakin hari makin berani padanya, Riki berdecak. Ia menatap punggung cowok pendek yang menjadi teman sekamarnya itu. Yang semalam pula mendadak mengajak Riki untuk ke indekos Ben dan menginap di sana tanpa alasan yang jelas. Belakangan ini, Hanif memang lebih aneh daripada biasanya. Padahal jika terjadi sesuatu, biasanya cowok itu selalu menceritakannya kepada Riki. Meskipun soal masalah keluarganya, Hanif hampir nggak pernah buka mulut. Tapi, Riki nggak menuntut hal itu karena itu juga bukan urusan Riki. Lagipula dia sendiri sudah pening dengan nasihat kakak kakaknya untuk segera lulus kuliah. Mereka pikir gampang? Ha? "Aish, sialan! Kunci motor gue sama dia lagi." Riki melangkah pergi menuju ke kelasnya sambil berdecak kesal. Setelah kelas selesai nanti otomatis ia harus menunggu Hanif selesai lebih dulu. Dan sudah pasti kelas Hanif berakhir lebih sore daripada kelasnya. ~M e m o r i e s~ Payung Teduh - Akad Betapa bahagianya hatiku Saat kududuk berdua denganmu Berjalan bersamamu Menarilah denganku Namun bila hari ini Adalah yang terakhir Namun ku tetap bahagia Selalu kusyukuri Begitulah adanya Namun bila kau ingin sendiri Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku Agar ku tak berharap Dan buat kau bersedih Bila nanti saatnya telah tiba Kuingin kau menjadi istriku Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan Berlarian ke sana kemari dan tertawa Namun bila saat berpisah telah tiba Izinkan ku menjaga dirimu Berdua menikmati pelukan di ujung waktu Sudilah kau temani diriku Namun bila kau ingin sendiri Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku Agar ku tak berharap Dan buat kau bersedih Bila nanti saatnya telah tiba Kuingin kau menjadi istriku Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan Berlarian ke sana kemari dan tertawa Namun bila saat berpisah telah tiba Izinkan ku menjaga dirimu Berdua menikmati pelukan di ujung waktu Sudilah kau temani diriku Sudilah kau menjadi temanku Sudilah kau menjadi istriku Dalam kafe bernuansa klasik itu musik dari band indie mengalun seantero kafe. Dara menghela napas menatap asap yang berasal dari cangkir teh chamomile yang ia pesan. Dara memainkan sendok kecil di sebelahnya setelah menambahkan sedikit gula ke dalam teh. Cewek itu menopang dagu kemudian membuang pandangan ke luar jendela kaca persegi panjang yang seolah membingkai dirinya dari luar. Menatap kendaraan yang berlalu-lalang tanpa henti. "Ngelamun aja." sebuah suara itu datang bersama chese cake yang nggak pernah dipesan oleh Dara. Sontak Dara menoleh ke arah sumber datangnya suara. Menatap cowok yang duduk di sana menyuguhkan senyum padanya, ia seperti biasa mengenakan topi baret hitam dan celemek cokelat sebatas pinggang. Tiga kancing terbatas kemeja biru muda itu sengaja dibuka menampakkan dalaman kaus putih polos. Sedangkan lengannya digulung sebatas siku. Cowok itu menopang sebelah sikunya pada meja sambil mengamati Dara. "Kebiasaan." Cowok itu malah tertawa renyah, ia menyodorkan chese cake itu di dekat Dara. Agar cewek itu menikmatinya. "Biar elo nggak sedih lagi," balasnya. "Emang gue keliatan lagi sedih?" Ia mengendikkan bahu sambil mengangkat kedua alis, membuat Dara ikut terkekeh. "Gimana hari ini? Dia udah inget sama lo?" tanya cowok bernama Singgalang tersebut. -B e r s a m b u n g-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN