15. Kalimat Puitis

424 Kata
Satu tahun yang lalu, pasca kecelakaan Ben. 'Buku catatan Dara. Cewek periang yang lebih senang menyembunyikan luka-lukanya.' Hai, apa kabar kamu? Sudah sekian lama bergelut dengan kesendirian, apakah sudah ada dia yang baru sebagai penggantiku? Apa kabar hatimu? Masih ada ruang buatku untuk bertamu? Nanti, kubawakan kopi sedang favoritmu. Tidak begitu manis, pun tidak terlalu pahit, begitu katamu. Tidak lupa juga sederet puisi singkat untuk menggambarkan perasaan rindu untuk bertamu saat hujan sedang turun membawa rintik kenangan. Dalam tiga hal yang kamu suka itu, bolehkah namaku hadir kembali mengisi hari-hari kosong yang lalu? Setelah kita pergi tanpa pamit. Setelah kita mengakhiri tanpa pernah memulai. Meski terlambat, kini aku paham bahwa kekeliruan itu sepenuhnya milikku. Saat melepas hati yang sejatinya tak pernah ingkar janji. Saat itu juga kulepas semua kenyamanan yang sekian lama telah terpatri. Hei, kamu masih diam saja? Atau memang enggan membalas semua ucapanku? Tidak apa, kupahami keputusanmu untuk mengabaikan seorang aku. Sebab tidak banyak yang ingin kusampaikan selain maaf dan terima kasih atas sesuatu yang tak pasti. Setidaknya kemarin dan hari ini, kamu masih sama. Tersenyum dengan netra berlinang air mata Lebih dari cukup bagiku untuk mengerti bahwa luka atas kehilangan diriku, belum pernah kamu obati. Bentala - Sandara ~M e m o r i e s~ Pada masa masa sulit itu Dara juga nggak tau harus membagi keresahannya dengan siapa lagi. Meskipun mama nggak pernah menolak untuk mendengar ceritanya, tapi Dara nggak bodoh. Dia tau kalau mama diam diam menangisi nasibnya, Dara juga selalu tau kalau mama hanya berpura-pura baik baik saja di depannya. Padahal ia tau, wanita itu bisa jadi lebih rapuh darinya. Dan Dara jelas nggak suka hal itu. Karena itu juga, semenjak Ben menghapus dirinya dari ingatan. Yang bisa ia lakukan hanya menatap Ben dari kejauhan sambil menulis semua keluh kesah hatinya. Sebab Dara tau, begitu ia mendekat Dara nggak bisa menahan diri untuk menanyai Ben tentang hubungan mereka, memaksa cowok itu untuk mengingatnya. Dan jika semua itu sudah terjadi, Ben akan berakhir kembali di rumah sakit setelah mengerang hebat karena sakit kepala. Lagi-lagi Dara nggak suka melihat orang yang ia sayangi terluka seperti itu. Sebab itu ia memilih diam selama ini meski dirinya sendiri sudah tak terselamatkan oleh rindu yang perlahan menenggelamkan. "Gue percaya kok, kalau Tuhan itu baik banget. Buktinya lo masih ada di depan gue, meski nggak bisa gue sentuh sepenuhnya. Seenggaknya gue masih bisa lihat elo Ben." Dara tersenyum manis, disusul setetes air mata yang jatuh membasahi buku yang sudah penuh dengan coretannya tersebut. -B E R S A M B U N G-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN