"Jadi, Ra. Menurut lo pacaran itu penting?" tanya Ben mengulai untuk yang kedua kali.
Cowok itu menatap Dara lekat, pada sepasang mata Dara yang enggan menatapnya. Ben hanya butuh jawaban dari Dara, bukan lagi menurut orang lain. Karena ia nggak peduli soal itu, lagipula bagi Ben. Pacaran itu cuma buang-buang waktu untuk kebahagiaan sesaat yang nggak pasti ujungnya seperti apa? Seperti status yang mengingat dua orang yang saling mencintai untuk berada dalam ikatan yang sangat membingungkan.
Kenapa?
Jelas, hanya karena sebuah status pacaran yang nggak ada sah-sahnya secara hukum ataupun agama, tapi kita sudah terikat dengan satu orang dengan segala macam tuntutan. Ben nggak suka itu, ia lebih suka sesuatu yang spesifik dan jelas arahnya ke mana. Karena itu bagi Ben jawaban dari Dara adalah hal yang penting.
"I-iiya." Dara tergugu beberapa saat. Sampai-sampai ia hampir tak yakin dengan jawabannya itu.
Tapi, bagaimana lagi, meskipun ia tau Ben paling anti dengan orang pacaran, cewek itu juga nggak memungkiri bahwa ia jelas ingin mengikat seseorang yang ia cintai untuk tetap di sampingnya dan nggak berpaling pada wanita lain.
Orang itu jelas Ben! Soalnya, Dara nggak punya keberanian untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan, bagaimana jika nanti tak ada perasaan berbalas yang justru membuat hubungannya dengan Ben semakin renggang?
Auh, Dara menggelengkan kepala ngeri hanya untuk sekedar membayangkan hal itu.
"Kenapa? Kenapa menurut lo pacaran itu penting?" tanya Ben.
Mendengar itu Dara meletakkan es krim di tangannya di antara jarak mereka duduk. Ia menatap Ben dengan protes yang menghujani lewat pandangan mata.
"Lo kenapa deh? Lagi bikin soal ujian sama gue? Ngeselin banget, sih." Dara mendesis kesal.
Sudah hilang kini moodnya untuk menghabiskan cup es krim yang tersisa setengah kosong. Pikirannya melayang ke negeri utopia, tempat di mana ia menyelami angannya yang kalut cuma karena satu cowok jangkung di sebelahnya.
"Karena gue suka sama lo, makannya gue tanya." Suara Ben yang terdengar sangat santai dan gamblang itu membuat Dara spontan menelan ludahnya kasar.
Cewek itu bahkan tersedak sampai terbatuk-batuk untuk beberapa saat. Dara menepuki dadanya sendiri sambil menatap Ben nggak percaya.
"Lo bilang apa?" Sontak Ben menatap Dara, tangannya juga terulur menepuki punggung Dara pelan.
"Gue suka sama lo, Ra." ucapnya datar.
Namun, ekspresi bodoh yang baru saja diciptakan pada wajah rupawan Ben itu membuat Dara hampir saja tertawa jika ia tak mengenal pribadi Ben lebih dalam. Cowok yang karakternya nggak beda jauh dengan Dara ini, nggak akan pernah berbicara setenang ini jika tidak berada dalam mode serius. Sehingga Dara tau, bahwa sama sekali nggak ada kebohongan dalam ucapan Ben barusan. Cowok itu, hanya nggak berani menatap matanya, karena gugup.
"Lo?"
Belum sempat Dara mengucapkan kalimatnya, Ben merogoh sesuatu dari saku kemeja flanel yang ia kenakan. Sebuah cincin putih sederhana itu ditunjukkan tepat di depan wajah Dara. Membuat kedua manusia berbeda gender itu saling pandang untuk beberapa saat dalam keheningan.
"Gue suka sama lo, tapi gue nggak mau pacaran dengan ujung yang nggak jelas," ucap Ben. Tangannya terulur membungkam bibir Dara yang sudah terbuka siap untuk bicara. "Gue mau nikah sama lo, Sandara."
~M e m o r i e s~
Dara masih tercengang di depan pagar melihat siapa yang kini datang menyodorkan helm kepadanya. Semalam baru saja ia mengenang bagaimana Ben melamarnya dengan cara yang biasa, bahkan sangat nggak romantis. Tapi, semua itu tetap tersimpan rapi dalam hati Dara sebagai kenangan paling indah yang nggak akan pernah bisa ia lupakan.
Yah, meskipun sesi lamaran hanya terjadi sekali dalam hidupnya, dengan hal yang nggak berkesan tapi sangat anti mainstream itu, Dara sungguh bersyukur karena memiliki Ben dalam hidupnya. Sebelum skenario Tuhan merubah semua kisah manis itu menjadi tragedi yang begitu ironi buat Dara.
Cewek bertubuh mungil yang hari ini mengenakan celana panjang putih dan kaos putih yang dibalut dengan kardigan pink itu mendorong pintu pagarnya agar terbuka. Ia melangkah lebih dekat mengamati Ben yang masih menyodorkan helm tanpa menatapnya sedikitpun.
Lantas sebuah tawa kecil menyebur dari Dara.
"Lo? Wah ... gue masih nggak percaya lo beneran jemput gue hari ini setelah sekian lama?" kekeh Dara tertawa puas.
Cewek itu meraih helm dari tangan Ben sebelum cowok itu berubah pikiran. Ia mengenakannya, namun dengan sengaja meminta bantuan Ben untuk memasangkan pengait helm, sehingga Dara memajukan wajahnya di dekat Ben.
"Nggak usah macem-macem, ya. Masih mending gue mau jemput elo." Ben menolak tegas untuk melakukan hal yang, eum ... menggelikan tersebut.
Dara mencebik kesal, ia menoleh ke arah pintu di mana mamanya berdiri di sana menatap keduanya dengan sehari senyum keibuan. Dengan isyarat bibir, Dara mengatakan pada Ben bahwa mamanya ada di sana. Sehingga ia siap mengadukan bahwa Ben enggan membantunya kali ini kepada mama.
"Kalau bukan karena nyokap lo." Ben menghela napas panjang.
"Apa?"
"Gue buang lo ke ciliwung," imbuh Ben kesal.
Pada akhirnya ia menuruti permintaan Dara untuk sekedar memasangkan pengait helm.
Sebelum kemudian Dara naik ke jok kemudi, cewek itu melambaikan tangannya ke arah mama. Dan, menepuki pundak Ben sebanyak tiga kali seperti tukang ojek.
"Let's go!"
Motor matic Ben berjalan dengan kecepatan sedang menuju ke kampus pagi itu. Karena memang kebetulan jam kampus keduanya bersamaan, maka dari itu Dara meminta Ben menjemputnya. Sekaligus bentuk usaha Dara untuk lebih mendekatkan diri dengan Ben.
Mengabaikan protes dari Selat Benggala, Dara melingkarkan kedua lengannya pada perut Ben. Cewek itu tersenyum lebar di belakang punggung lebar Ben. Ia tau meski saat ini Ben datang dengan terpaksa, suatu saat Ben pasti ingat dan mendatanginya dengan perasaan cinta. Sebesar rasa sayangnya pada cowok itu meski selama satu tahun mereka hidup terpisah seperti dua orang asing yang nggak saling mengenal.
Karena Dara selalu meyakini kalimat, sesuatu yang datang dari hati, pasti sampai ke hati pula. Begitupun dengan cinta yang kerap kali buta. Cinta yang selalu mendorong kita untuk melakukan hal yang luar biasa. Cinta yang selalu membuat kita lebih berani melakukan hal yang nggak pernah dilakukan sebelumnya.
Seperti itu bagi Dara perjuangannya selama ini. Mencintai Ben tanpa tapi, menunggunya dengan rindu yang tak akan pernah padam seperti nyala api.
"Gue yakin, suatu saat lo pasti bakalan inget siapa gue. Siapa kita, dan kisah kita yang dulu-dulu Selat Benggala," batin Dara.
~M e m o r i e s~
-B e r s a m b u n g-