Jangan lupa di tap love!
&
Komen
.
.
.
Selamat Membaca ???
Dua insan yang jauh berbeda itu sedang meringkuk di balik semak-semak taman kota. Sambil sesekali mengintip dari celah dedaunan hijau. Yah, jauh berbeda, yang satu tingginya over yang satu bogelnya super. Matanya menelusuri setiap sudut taman, lalu berhenti pada satu objek yang membuatnya kembali tersulut kekesalan. Cowok itu membanting botol plastik kosong begitu melihat Ben masih berdiri di balik semak-semak sambil berjinjit untuk mengamati seseorang. Padahal baru lima detik yang lalu ia menyeret Dara untuk duduk bersebelahan. Nggak tau sejak kapan, Dara sudah kembali berdiri di sana seperti orang kurang kerjaan.
"Dia itu fanatik apa gimana, sih?" gumam Ben bicara sendiri.
Ia berjalan mendekati Dara , menowel pundak cewek itu pelan membuat Dara berbalik menatap Ben dengan galak. "Apaan, sih?"
Cewek itu terlihat sibuk sendiri. Sedangkan Ben terkejut untuk sejenak, bisa-bisa sekali Dara membentaknya setelah menyeret Ben ke taman hari ini. Sedetik kemudian cowok itu tersadar bahwa, cewek di depannya memang agak nggak sehat. Makannya ia harus ekstra sabar menghadapi ujian ini. Ben hanya memasang tampang malas melihat Dara yang masih asik bermain mata-mata.
"Gue cabut. Kerjaan gue masih banyak." Cowok itu memutar tubuh dan melangkah pergi menjauhi Dara.
"Enak aja! Belum selesai," sahut Dara. Ia menarik kaos Ben dengan cepat. "Gue capek jinjit, gendong!"
Dengan tanpa rasa bersalah dan rasa sungkan, cewek itu kembali melontarkan kalimat yang sangat ajaib. Di susul dengan senyum manis yang membuat Ben ingin muntah saat itu juga.
Ben menoleh sebentar, mencoba mencari objek lain untuk meredam emosinya. Ia berkacak pinggang, sebelum kemudian tangannya meremas rambut hitam yang mulai memanjang sambil mengeram tertahan.
Hanya beberapa detik berlalu, Ben kembali menegakkan tubuh dan memangkas jarak antara dirinya dan Dara.
"NGGAK SUDI!" ucap Ben penuh penekanan sambil sedikit membungkuk. Tepat di depan wajah Dara
Ia buru-buru beranjak pergi dari sana. Tanpa peduli dengan Dara yang masih sibuk dengan hal nggak penting, yang bahkan nggak bisa masuk dalam akal sehat Ben. Atau bahkan orang lain pun nggak akan paham dengan jalan pikiran cewek aneh tersebut. Ben yakin seratus persen. Bisa-bisanya cewek bogel itu memintanya untuk membantu menggagalkan acara pernikahan seseorang.
Ben benar-benar nggak habis pikir. Padahal Ben sudah menegaskan bahwa ia nggak akan mau membantu misi nggak jelas yang di utarakan Dara. Akan tetapi, sialnya kejadian di indekos itu sukses membuat Ben mau nggak mau harus menuruti keinginan cewek sinting tersebut.
"Eh! Bogel! Buka pintunya cepetan!"
Sementara di luar kamar mandi, Dara menyandarkan tubuh sambil mengamati kuteks yang mulai memudar. Ia seolah nggak peduli dengan teriakan Ben yang sudah menggedor pintu kamar mandi seperti deept collectors.
"Gue tau lo masih di situ! Buka pintunya nggak?!" teriak Ben lagi.
Dara tersenyum miring. Meniup ujung kuku-kukunya lalu bersedekap d**a. "Jawab dulu!" balas Dara.
Ben pasrah, sudah hampir satu jam ia berdiam diri di kamar mandi karena Dara mengunci pintunya dari luar.
"O-oke. Sekarang apa mau lo?"
Baru saja tangannya hendak menusuk kotak yoghurt dengan sedotan, Dara buru-buru kembali mendekati pintu kamar mandi tanpa menanggalkan yogurt rasa strawberry tersebut.
"Temenin gue ke taman hari ini. Deal?" tawar Dara.
"Gue nggak tau kalau lo emang beneran gila. Tapi, lo nggak berlebihan nggak beneran 'kan, sama omongan lo tadi?" Ben hampir nggak percaya dengan apa yang ingin Dara perbuat.
"Jadi lo nolak? Oke, nggak masalah."
"Iya, oke! Terserah lo!" sambung Ben dengan cepat.
Saat itu juga pintu kamar mandi terbuka. Dan Dara adalah orang pertama yang Ben lihat setelah sekian lama terkurung di kamar mandi. Dengan wajah tanpa dosa cewek itu menikmati yoghurt sambil menatap Ben seperti anak kucing.
Cowok itu kembali melontarkan umpatan-umpatan yang membuat dosanya semakin menumpuk.
"Sekali ini, aja. Setelah itu jangan pernah ganggu hidup gue. Ngerti?" Ben meraih jaketnya.
Dan kini di belakangnya, Dara membuntuti dengan wajah gembira. Yah, ia nggak akan pernah mundur untuk mendapatkan cinta pertamanya.
"Heh! Mau ke mana sih, lo? Gue 'kan, belum selesai!" protes Dara mengikuti langkah lebar Ben.
Cowok itu bungkam nggak menjawab. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan manusia bogel yang mengikutinya sambil berlari.
"Ben, berhenti nggak? Atau lo bakalan nyesel?" Dara mulai mengancam membuat Ben kembali tertawa kecil. Kemudian berhenti dan berbalik sebentar untuk menatap Dara.
"Jangan pernah lagi muncul di depan gue!"
Peringatan itu membuat Dara terdiam. Ben semakin menjauh, tetapi cuma berselang beberapa detik kemudian Dara tertawa kecil. Ia berlari kencang di belakang Ben. Saat jarak keduanya tinggal satu meter, Dara melompat menendang bagian belakang lutut Ben sampai cowok tersebut tersungkur ke rerumputan.
"Sorry!"
Dara mengibaskan rambut cokelat gelapnya ke belakang, sambil menepuk-kedua telapak tangannya bergantian.
"Lo bilang nggak boleh muncul di depan, kan?" Dara tersenyum senang.
Ben yang masih terkapar di tanah menatap Dara nggak percaya. Sementara beberapa orang yang ada di taman sibuk memperhatikan keduanya dengan pandangan curiga. Seolah-olah Ben adalah cowok m***m yang sedang di hajar oleh seorang cewek karena melakukan tindak pelecehan. Ben buru-buru berdiri membersihkan kaos juga celananya yang kotor.
"Yuk! Keburu mereka berdua pergi lagi!" ucap Dara menggaet lengan Ben secara paksa.
Kali ini nggak ada perlawanan dari Ben. Sejak semalam, bahkan sampai pagi itu adalah hari paling melelahkan dan memalukan dalam sejarah hidupnya. Hanya karena seorang cewek gila bernama Sandara.
Oh, s**t!
?M E M O R I E S ?
Berkali-kali Ben mengabaikan Riki yang sejak tadi menowel bahunya. Cowok tinggi itu memilih untuk menuangkan seluruh perhatiannya pada mesin mobil yang sedang ia garap. Akan tetapi, yang namanya k*****t Riki, nggak akan berhenti mengganggu Ben jika belum mendapatkan apa yang diinginkan.
"Itu cewek, siapa?" tanyanya sambil mengendikkan dagu ke arah Dara yang duduk di salah satu kursi khusus untuk pelanggan yang menunggu kendaraannya digarap.
Cewek berambut cokelat gelap itu terlihat semakin kecil saat kakinya menggantung di atas kursi sedangkan wajahnya disembunyikan di balik kedua lipatan tangan yang ada di atas meja. Ben hanya melengos menanggapi pertanyaan Riki barusan.
"Nggak usah kepo! Urus aja, kerjaan lo."
Riki mendengus kesal. Ia menyempatkan diri untuk menowel pipi Ben dengan tangan yang penuh noda hitam dengan sengaja sebelum berbalik pergi. Andai saja, siang tadi Ben nggak dimaki oleh bosnya karena terlambat datang. Mungkin ia sudah membalas perbuatan mulia yang dilakukan oleh Riki.
Setelah satu jam berlalu, ia selesai berkutat dengan mesin mobil. Ben yang masih lengkap menggunakan setelan jumpsuit bengkel berwarna navy itu menghampiri Dara. Cewek bogel itu ternyata bukan hanya menyebalkan, tetapi juga sangat keras kepala. Ia letakkan sebotol air dingin di depan Dara yang masih tertunduk sepulang dari taman.
"Sampai kapan lo mau kayak gitu di sini? Balik sana," ucap Ben menyadarkan tubuh pada sandaran kursi plastik.
Akhirnya Netta mendongak juga, tatapannya tertuju pada sepasang netra Ben. Matanya merah dan basah. Sama seperti malam itu di halte. Saat mereka pertama kali bertemu.
"Lo tuh, jahat banget, sih jadi cowok! Nggak lihat, cewek lagi kacau kayak gitu malah lo usir," seloroh Riki yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.
Ben menoleh sejenak. "Gue nggak ngusir, cuma nyuruh dia pulang."
"Mending lo balik, gue anter lo pulang. Kayak gitu 'kan, bisa, Ben. Duh, ogeb banget jadi cowok," balas Riki nggak mau kalah.
"Gue anter pulang, gimana?" cowok yang tubuhnya mirip orang kurang gizi itu menawarkan bantuan pada Dara dengan senyum lebar.
Dara tak merespon. Tangan cewek itu meraih air mineral dan segera meneguknya hingga setengah kosong. Kemudian ia menatap Ben dengan iba. "Lo aja yang anterin gue balik, gue nggak mau sama dia."
"Dia yang mau nganterin. Gue sih, ogah," balas Ben buang muka.
"Tapi, dia jelek. Gue nggak mau balik sama orang jelek.
Riki terpana setelah mendengar jawaban mutiara dari Dara. Niatnya yang mulia justru dihadiahi ucapan yang sangat-amat muliw oleh cewek yang nggak dia kenal sama sekali.
Untung cantik!
"Kalo gitu, oke!" balas Ben cepat.
Ia tersenyum menang melirik Riki yang mendadak diam membatu. Setidaknya ucapan Dara barusan, sudah membalas kekesalan terpendam Ben kepada Riki.
?M E M O R I E S ?
Di sebuah rumah berlantai dua, Ben menghentikan motor vespa di depan gerbang bercat hitam yang tingginya kira-kira hanya satu meter. Dara turun dari motor, kemudian menyerahkan helm yang ia kenakan pada Ben. Cewek itu lagi-lagi terlihat murung, tetapi kayak gini memang lebih baik. Dari pada Dara yang banyak bicara dan membuat Ben pusing sendiri.
"Masuk sana!" ucap Ben.
Dara melirik Ben dengan kesal. "Kenapa sih? Elo tuh hobi banget ngusir gue? Segitu bencinya ya, lo sama gue?" balasnya tak kalah galak.
Hal itu cukup membuat Ben kembali terkesima di atas motor, tangan yang masih memegangi helm itu menggantung di udara. Bisa-bisanya Dara berucap demikian pada cowok yang baru ia temui semalam, menginap di kos-kosannya, bahkan melakukan penganiayaan padanya.
Haruskah Ben menjelaskan semua pada Dara?
"Serius mesti gue sebutin alesannya, ya?"
Dara berkedip tiga kali, kemudian berkata, "itu nggak penting. Yang penting mulai dari sekarang, lo harus selalu inget siapa gue, atau seenggaknya inget nama gue, ngerti?"
Kedua pasang alis Ben bertaut heran. Disambung dengan kerutan di dahi. "Lo itu...."
"Nggak usah bacot lagi. Inget, aja omongan gue barusan. Lo itu udah cukup nyakitin gue. Makannya lo harus bantuin gue dalam hal apa pun," tekannya.
"Ta—"
"Gue masuk, kalau lo mau besok lo boleh jemput gue. Hati-hati di jalan, Ben!" sambung Dara nggak memberikan kesempatan pada Ben untuk menjawab.
Matanya menatap Dara yang berlari kecil melewati gerbang. Sedangkan Ben masih diam menepuk-nepuk helm yang barusan di pakai Dara. Sambil menggaruk dagu yang mendadak gatal.
"Gue yang bego, apa dia yang bener-bener ajaib, sih?" gumam Ben.
B e r s a m b u n g!
Jangan lupa tekan love dan komen gais :)