03. Cewek Gila di Indekos

1656 Kata
Jangan lupa di tap love! & Komen . . . Selamat Membaca ? ? ? ?M E M O R I E S ? Benggala keluar dari kamar mandi dengan celana training dan kaos panjang polos warna putih. Rambutnya masih basah dan sebuah handuk menggantung di atas kepala. Cowok itu membuka kulkas mini yang terletak di sudut ruangan. Tangannya meraih sekaleng minuman berkarbonasi, lalu menegaknya dengan rakus. Sisa setengah, Ben kembali meletakkannya di atas kulkas. Ia mengabaikan Kunti seperti biasa. Ah, dan jangan lupakan seorang yang kini terlelap tanpa dosa di atas kasur kesayangan Ben. Cowok itu membuka rak yang terbuat dari kardus menampakkan tiga buah mie instan yang tersisa. Ia mengambil dua bungkus mie kuah rasa bakso, lalu mencolokkan rice cooker sebelum mengisi teflonnya dengan air. Yah, hidup kayak ini nggak lagi terasa berat atau mengejutkan buat Ben. Gas sudah habis sejak tiga hari yang lalu. Sementara gajian dari bengkel masih sekitar satu minggu lagi. Ia benar-benar bersyukur pada pencetus mie instan yang sejatinya sudah menyelamatkan banyak nyawa anak kos macam dirinya. Sambil menunggu air mendidih Ben merebahkan diri di atas karpet berwarna merah yang letaknya berdekatan dengan tempat tidur. Ia meregangkan tubuh, rasanya seluruh tulang dalam tubuh Ben seperti remuk redam, wajah yang babak belur itu juga masih menyisakan nyeri tak tertahan. Mungkin saja di dalam sana otot serta tulangnya sudah porak poranda nggak tertata. Sementara Kunti masih diam di pojokan memeluk kedua kaki, dengan rambut panjang hitam yang dibiarkan terurai menutup sebagian wajah. Ben mendesah pelan menatap cewek absurd itu duduk diam di sana. Masih jadi misteri kenapa Kunti sangat hobi menyelinap masuk ke kamar kosnya. "Udah malem, mending lo balik." Ben bangkit dari posisi rebahan untuk mengambil sebotol air putih dan sebuah cokelat batang pemberian junior di kampusnya itu dari kulkas lalu menyerahkannya pada Kunti. "Gue cuma punya ini, yang itu lo nggak boleh minum!" ujar Ben memperingati sambil menunjuk minuman kaleng miliknya. Kunti cuma mengangguk sambil menerima air putih dari Ben. Lantas pandangan Ben kembali terpecah pada cewek bertubuh mungil yang terlelap dengan syahdu. Ia benar-benar pasrah jika besok Bu Denok membunuhnya karena mengetahui ada dua cewek di dalam kamarnya saat ini. "Ngapain sih, ke sini? Lagian gimana caranya lo bisa masuk kamar gue?" tanya Ben sambil memasukkan mie ke dalam rice cooker. "Pakek ini," jawab Kunti menunjukkan jepitan rambut berwarna hitam. Ben dibuat geleng-geleng kepala. Kok bisa cewek macam Kunti begitu ahli membuka pintu dengan benda seperti itu. Ia masih nggak habis pikir, tetapi tangannya masih sibuk mengaduk mie dalam rice cooker. "Kalo ketauan Bu Denok gimana? Bisa dibunuh gue." "Dia siapa?" tanya Kunti sambil memainkan botol minuman matanya menatap kasur yang kini berpenghuni. Ah, biarpun terlihat polos begini, Kunti paling ahli mengalihkan pembicaraan. Hal itu membikin Ben menghela napas pendek. "Cewek gila." "Kok dibawa pulang?" "Gue nggak tau Rumahnya di mana. Jadi, gue bawa pulang," jawab Ben kembali menutup rice cooker lalu menyandarkan tubuh di dinding. "Udah mateng?" tanya Kunti begitu datar dan polos seperti biasa. "Belum." Lima huruf yang diucapkan Ben diangguki oleh Kunti. Baru saja cewek yang duduk di pojokan itu hendak membuka mulut untuk kembali bertanya, Ben sudah memperingati Kunti untuk diam. "Diem aja bisa, 'kan? Capek banget gue hari ini." Kalimat dari Ben dibalas anggukan patuh oleh Kunti. Cewek bernama lengkap Kunti Rahayu yang sejak dua minggu kemarin sering mendatangi kamar Ben secara tiba-tiba. Tanpa pemberitahuan dan tanpa izin, cewek itu sering duduk di depan pintu kamar Ben, atau bahkan dalam kamarnya. Pada awalnya Beni pikir Kunti adalah arwah gentayangan. Akan tetapi, fakta bahwa bukan hanya dirinya yang bisa melihat Kunti, dan lagi Kunti Rahayu ini tidak bisa terbang memetik buah mangga. Sejak saat itu Ben berubah pikiran bahwa Kunti adalah cewek nggak waras. Walaupun nyatanya penilaian Ben juga salah. Karena Kunti sebenarnya adalah cewek normal pada umumnya. Hanya saja, cara berpakaian dan penampilannya yang terlalu ekstrim. Bahkan suara dan nada bicaranya sangat mendukung untuk menjadi sosok hantu gentayangan. Lama terdiam merasakan wajah yang nyut-nyutan, Ben kembali memeriksa mie yang sedang dimasak. Sudah cukup matang dan perutnya juga sudah sangat kelaparan. Cowok itu menyajikan dua mangkok mie kuah. Satu untuknya dan satu untuk Kunti. Khusus untuk Kunti yang agak aneh, biasanya cewek tersebut selalu meminta tambahan air untuk kuahnya. "Jangan kebanyakan, nanti nggak ada rasanya," tegur Ben. Kunti mengangguk. Malam itu, selepas menikmati mie yang cukup untuk mengganjal perut kelaparan. "Abis ini lo pulang, no debat. Gue nggak mau ada masalah sama pemilik indekos, ya." Tangannya sibuk mengaduk mie yang masih mengepulkan asap. Benar-benar lambung gembel Ben nggak tertolong lagi saat aroma mie instan menyeruak masuk ke indra penciumannya. Perut Ben semakin keroncongan, tanpa banyak bacot lagi cowok itu segera menyuapkan mie ke dalam mulut. "Nikmat mana yang kau dustakan, Ben?" gumam cowok itu bermonolog seperti biasa. Ben terlelap di karet setelah menghabiskan semangkuk mie. Tepat di pojokan kamar bersama Kunti yang duduk melipat lutut. Sengaja Ben memindahkan letak karpet. Takut jika cewek bertubuh mungil di kasurnya mungkin saja mengigau dan kembali bertingkah anarkis seperti yang baru saja dilakukan di halte dan menyerang Ben secara brutal. Ya, hadiah ulang Tahun yang nggak pernah Ben bayangkan dan harapkan. ?M E M O R I E S ? Sekali lagi Ben mengucek kedua matanya. Mengerjapkan berkali-kali lalu menampar pipinya lagi. "Anjir! Demi apa gue nggak lagi mimpi? " Mendadak senyuman merekah di kedua sudut bibir. Di meja minimalis berbentuk bulat yang berdampingan dengan sofa mini, kini sudah penuh dengan makanan. Tempe mendoan, bala-bala, tahu bakso, dua bungkusan nasi uduk, beberapa camilan, dan ... lima kotak yogurt (?) Oh, nggak?! Luki paling anti sama yang namanya s**u. Namun, masa bodoh, toh ia bisa memberikan yogurt tersebut untuk Kunti yang sudah menghilang entah ke mana, atau Bu Denok. Hitung-hitung merayu pemilik kos agar memberinya sedikit kelonggaran waktu untuk membayar tagihan bulanan. Ben buru-buru bangkit dari karpet dan mencomot satu tempe goreng yang masih hangat. Ah, jiwa miskin Ben berteriak penuh syukur pada Tuhan pagi itu. Setelah penganiayaan dan pertemuannya dengan cewek gila kemarin. Di pagi yang kelaparan Ben sudah disuguhi berbagai menu makanan yang masuk ke dalam kategori mewah untuk Ben. Tuhan, emang paling baik! Ben nggak berhenti membatin. Setelah mendorong tempe mendoan dan bala-bala dengan sebotol kopi kemasan yang sering tersedia di kulkas. Cowok itu meraih handuk untuk segera mandi dan pergi ke bengkel. Namun, Ben justru terkejut bukan main. Cowok itu bahkan sampai terjengkang ke belakang melihat siapa yang baru saja keluar dari kamar mandinya, dengan rambut basah. Dan ... Kemeja putih semata wayangnya! Kontan sepasang mata Ben melotot galak. "Ng-Ngapain lo di sini?" ucap Ben shock. "Kenalin, gue Dara. SANDARA!" tekan cewek itu tersenyum lebar sembari mengulurkan tangannya pada Ben yang masih dalam posisi duduk di lantai sambil mendongak menatapnya. "Udah inget siapa gue, Selat Benggala?" sambungnya tanpa mengenyahkan senyum manis yang terlihat menawan di mata Ben. Eh, maksudnya menyebalkan! Ucapan cewek itu tentu saja membuat Ben ingin memuntahkan tempe mendoan dan bala-bala yang terlanjur ia telan. Tuhan, ini pasti mimpi, 'kan? Ben berdiri dari posisinya tanpa mengalihkan pandangan dari cewek yang baru saja memperkenalkan diri tersebut. Belum sempat hilang keterkejutan Ben, cewek yang mengaku bernama Dara itu menarik handuk yang tersampir di bahu Ben dengan santai. "Pasti buat gue, 'kan?" Ia tersenyum senang. "Thanks!" Tawa Ben benar-benar pecah pagi itu. Ia menggelengkan kepala heran. Kok, ada spesies cewek kayak gitu. Yah, nggak tahu malu, nggak tahu diri, bahkan nggak punya rasa bersalah sedikit, pun! Kok ada, Ya Tuhan? Ben memasang tampang prihatin seraya menjambak rambutnya heran, sesekali meringis merasakan nyeri pada lebam di wajah. "Lo ... ha-ha!" Ben speechless, sampai nggak ngerti lagi harus bicara apa di depan cewek yang sejak semalam membuatnya menderita. Sedangkan Dara cuma menatapnya datar sambil menyedot yogurt dengan santai. Benar-benar seperti orang yang sudah lama saling mengenal, padahal mereka baru saja bertemu semalam. Itu pun karena sebuah tragedi yang mengenakan bagi Ben. "Lo pergi dari sini, sekarang!" Ben mengusir Dara tanpa basa-basi. Akan tetapi, Dara masih menikmati yogurt-nya dengan santai, cewek itu lantas berdiri mendekati Ben yang membuatnya harus mendongak untuk sekedar bertatap muka dengan cowok berkaki panjang tersebut. "Maksud lo apaan ngusir gue gitu aja? Misi kita baru aja, akan dimulai, Ben," bisik Dara santai. Cewek itu mengalungkan kembali handuk yang barusan ia pakai untuk mengeringkan rambut di pundak Ben dengan sedikit berjinjit. "Wah! Ha-ha! Bener-bener nih, cewek gila!" gumam Ben menatap tembok di dekatnya. Sedetik kemudian ia kembali memutar tubuh ke arah Dara. Menatap cewek bogel tersebut dengan pandangan geli. "Sorry, ya! Gue nggak kenal siapa lo, jadi mending sekarang lo buru-buru lepasin kemeja gue dan pergi dari sini, sebelum ada yang dateng!" Bukannya segera mengikuti instruksi Ben, Dara justru tersenyum menatap Ben dengan wajah memerah. Tangannya bergerak melepaskan kancing kemeja paling atas, membuat Ben melotot heran. "Heh! M-mau ng-ngapain, lo?!" sentak Ben dengan cepat memutar tubuh menghadap ke tembok. Ia bahkan terbata-bata karena melihat kelakuan cewek nggak waras yang entah sedang memikirkan apa. Ben benar-benar nggak bisa menebak cewek di depannya itu. "Kalau ngomong nggak usah nge-gas bisa? Gue nggak keberatan, kok," ucap Dara semakin mendekat pada Ben. Merasakan tangan cewek itu menyentuh punggungnya, dengan gerakan cepat Ben memutar tubuh Dara dan mendorong cewek tersebut jauh-jauh darinya. Buru-buru Ben masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu sebelum terjadi hal yang enggak-enggak. "Cewek gila! Minggat lo dari sini!" Sebuah senyum sinus tercetak jelas di bibir Dara. Ia kembali mengancingkan kemeja dan duduk di sofa mini. "Nama gue Dara, bukan cewek gila." Dara menyahut dari luar sambil tersenyum. "Gue nggak peduli, siapa nama lo! Kalau sampai gue kelar mandi dan lo belum pergi. Lihat aja apa yang bakal gue lakuin!" Sialnya, Dara hampir saja tertawa ngakak mendengar ucapan Ben barusan. Ia melanjutkan aktifitas minum yogurt juga memakan beberapa gorengan yang sengaja ia beli sambil melipat kaki. "Oke, Aluki. Let's see!" gumamnya tersenyum miring. B e r s a m b u n g! Jangan lupa tap love dan komen gaes :) Biar semangat ngetik, yes!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN