Jangan lupa tap love!
Komen
.
.
.
Selamat Membaca ???
Setelah acara siraman nggak terduga, membersihkan sisa-sisa tepung pula, sepatu yang beraroma busuk juga penampilannya yang luar biasa karena dua manusia terlaknat, Ben pikir hal terburuk adalah pulang dengan perut kelaparan. Akan tetapi, Ben salah besar. Riki dan Hanif memang luar biadab berengseknya. Seharusnya ia pulang dengan naik motor, tetapi karena dua cecunguk itu melepaskan kenalpot serta mengempeskan ban motornya.
Lagi-lagi dengan terpaksa Ben harus pulang naik bus sebanyak dua kali. Setidaknya ia harus keluar ongkos sepuluh puluh ribu untuk dua kali naik bus. Namun, yang tersisa di dompet hanya selembar uang sepuluh ribuan dan selembar lima ribuan. Ben pasrah untuk berjalan tanpa alas kaki dan celana yang layak agar sampai di halte.
Hari ini ia terlalu banyak mengumpat. Bahkan Ben kehabisan kata-kata untuk mengumpati Riki juga Hanif. Ia nggak tau lagi, kata seperti apa yang patut diutarakan untuk dua orang yang amat luar biasa kebiadabannya tersebut. Sesampainya di kos nanti, sudah pasti Ben harus melakukan sholat taubat untuk menebus segala dosanya hari ini.
Langkah kaki panjang Ben sedikit terburu-buru. Ia sudah nggak peduli lagi dengan ucapan orang-orang yang melihatnya seperti orang gila lepas dari kandang. Cowok itu cukup lelah dan kelaparan. Sebagai anak kos di tanggal tua dengan sisa uang sedemikian rupa, nasib Ben sepenuhnya berada di tangan mie instan.
Tanpa sepatu, cowok itu duduk di sebuah halte menanti bus hampir lima menit lamanya. Kakinya terasa dingin saat angin malam menerpa tanpa celana panjang. Ben yang tadinya mencoba nggak peduli dengan tatapan beberapa orang yang melihatnya aneh, nyatanya tetap saja ia merasa risih. Untungnya di halte hanya ada dirinya dan seorang cewek yang duduk tertunduk diam tepat di sebelah kanannya.
Jaraknya hanya sekitar satu meter. Rambut panjang sepundak berwarna cokelat gelap menutupi seluruh wajahnya. Dilihat dari stylenya yang memakai kemeja fanel tunik berwarna putih kotak-kotak, celana jins dan sepatu convers berwarna putih sepertinya cewek itu juga seorang mahasiswa yang sebaya dengannya. Apa lagi posisi duduknya yang sudah terlihat seperti orang putus asa. Ben tau betul.
Hanya berselang sedetik kemudian cowok itu tersadar. Kenapa juga ia harus menganalisa cewek di sebelahnya. Dan kenapa juga Ben masih saja menatapnya. Cowok itu lantas mengarahkan pandangan ke depan sambil menyilangkan tangan menunggu bus datang. Cukup lama sampai beberapa orang mengisi halte, membuat Ben sedikit risih karena sejak tadi seorang bapak-bapak bertubuh besar mengamatinya dengan seksama.
"Selat Benggala."
Sontak Ben menoleh begitu nama lengkapnya disebutkan dengan gamblang. Cewek berrambut cokelat tua itu menatap Ben dalam-dalam. Matanya sendu, membuat Ben nggak mengerti sebenarnya cewek tersebut tahu namanya dari mana?
"Tau nama gue dari mana?" tanya Ben tanpa basa-basi.
"Masih nggak inget, siapa gue?" balasnya.
Ben tampak berpikir sebentar. Kemudian menelengkan kepala ke samping.
"Kita saling kenal?" tanyanya masih bingung.
Cewek tersebut tertawa kecil. Seperti menertawakan sesuatu yang menyakitkan. Ia mulai mengangkat kepalanya menatap lurus ke depan.
"Ternyata lo masih nggak inget sama gue. It's fine. Gue masih kuat nungguin lo sampai kapan pun, b******k!" helaan napas kasar itu terdengar jelas sampai ke telinga Ben.
Cowok itu memiringkan kepala ke kanan bersamaan dengan cewek tak dikenal tersebut menoleh padanya. Ia masih berusaha mengingat siapa gerangan cewek di sebelahnya, tetapi Ben sangat yakin bahwa ia nggak mengenali siapa cewek tersebut. Mungkin saja hanya seseorang yang tahu nama Ben karena satu kampus atau hanya seorang pengagum. Ya, soalnya Ben terbilang cowok yang punya banyak penggemar di kampusnya. Terlebih para junior yang beberapa kali pernah memberi cokelat atau kue pada Ben. Nggak bisa dipungkiri bahwa Ben itu ganteng.
Rahangnya berusaha mengatup kuat agar tidak menguap. Matanya berair menahan kantuk, tetapi bus yang dinanti belum juga datang. Sementara perutnya kelaparan mulai berbunyi, Ben memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket dan mengelus perutnya dengan gerakan nggak ketara.
"Astagfir!" ucap Ben spontan karena kaget saat merasakan kepalanya terbentur sesuatu yang menyakitkan.
"Gusti nu Agung! Allah huakbar! Sakit Hoi!"
Cowok itu menoleh ke kanan, mendapati cewek yang tadi menyebutkan nama lengkapnya telah berdiri tepat di sebelahnya. Tangannya memegangi tas selempang berwarna hitam yang Ben yakini baru saja mendarat di kepalanya.
"Lo itu suami gue."
"He?"
Masih shock dengan apa yang baru saja terjadi, sebuah kalimat itu membuat kening Ben berkerut. Tiba-tiba saja si cewek berambut cokelat itu kembali menyerang Ben. Bahkan kali ini lebih brutal. Ia memukuli Ben dengan tas juga tangannya secara membabi buta. Tak ayal membuat cowok yang tadinya duduk di kursi kini beringsut ke bawah sambil melindungi kepala dengan tangannya.
"Gila ya, lo!" teriak Ben berusaha menghindar.
Dan, ia berhasil lolos, berdiri di dekat tiang dengan napas terenggah sambil menatap cewek nggak waras yang kini terduduk di lantai halte.
"Lo gila apa gimana, sih? Main pukul orang seenaknya. Setres lo!" maki Ben kesal setengah mampus. Ia menggosok-gosok kepalanya yang terasa pening.
Tapi, hal tak terduga lainnya kembali terjadi. Cewek yang baru saja memukuli Ben mendadak menangis terisak. Yang tentu saja membuat Ben semakin nggak ngerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Kok jadi elo yang nangis, sih? Harusnya lo, itu minta maaf. Atau lo mau gue lapor ke kantor polisi atas kasus penyerangan?" ancam Ben masih menggosok kepalanya yang sakit.
Karena emosi ia nggak sadar sekarang berpasang-pasang mata sibuk mengamatinya dengan cewek yang masih menangis tersebut. Ben hanya ingin pulang cepat dan segera tidur karena lelah. Namun, apa yang terjadi barusan membuatnya merasa nggak sanggup lagi menahan malu disertai marah.
"Cowok b******k!"
Ben melotot nggak habis pikir. Bukannya minta maaf tapi, dengan ajaibnya cewek tadi malah mengumpat padanya.
"Barusan lo bilang apa?" tanyanya mendekat.
"Cowok b******k! Lo itu nggak punya hati. Dasar bego, nggak punya otak!"
Sepasang mata Ben lagi-lagi membola sempurna mendengar cacian yang diutarakan dengan gamblang padanya. Cowok itu menatap sekeliling barangkali menemukan keresek hitam untuk menutupi wajahnya. Ia bahkan sudah nggak berani menerka pikiran orang-orang yang sedang menghujani tatapan tajam seperti sedang menguliti Ben saat itu juga.
"Lo bilang dulu nggak akan pernah ninggalin gue, lo nggak akan lupain gue, lo nggak bisa hidup tanpa gue. Tapi, mana buktinya? Setelah semuanya gue kasih, lo malah ninggalin gue. Bahkan lo nggak inget siapa gue! Lo itu beneran nggak punya hati, tau nggak?" makinya dengan air mata berurai tepat di hadapan Ben. "Manusia apa bukan, sih? Jahat lo."
Ben mematung di tempat dengan mulut setengah terbuka. Ia mengerti sekarang tepat setelah cewek barusan mengeluarkan ocehan tepat di hadapannya. Ada aroma alkohol yang tertangkap indra penciumnya. Yang memungkinkan bahwa cewek di depannya itu mabuk.
Ia mundur selangkah dan memutuskan untuk pergi sebelum semuanya tambah rumit. Persetan sudah dengan bus yang dinanti nggak kunjung datang, ia akan berjalan kaki sampai di indekos. Akan tetapi, baru saja cowok itu berniat pergi ia merasakan seseorang menarik jaketnya tanpa tedeng aling-aling dan nggak ayal membuat Ben terjengkang ke belakang.
"Mau ke mana lo?" tanya seorang bapak-bapak berwajah seram.
Tubuhnya besar dan kulitnya gelap, ditambah lagi kepalanya botak membuat kesan horor semakin tercipta di halte malam itu.
"Ini apa lagi sih, Pak? Main tarik-tarik segala?" Ben protes sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor.
Benar-benar bokongnya baru saja merasakan kerasnya lantai halte.
"Gue tanya lo mau ke mana?"
"Mau pulang, lah! Bapak mau ikut?" balasnya gemas.
"Enak aja main pulang-pulang. Anak orang udah lo bikin nangis mau lo tinggalin gitu aja? Lo cowok apa banci, hah? Tanggung jawab nggak?!" Kerah jaket Ben ditarik paksa, bahkan cowok itu bisa merasakan betapa mengerikan kepalan tangan yang kini hanya berjarak sepuluh senti dari wajahnya.
Namun, cowok itu masih berusaha melepaskan cengkeraman tangan besar yang membuatnya nggak nyaman.
"Tanggung jawab apaan? Kenal aja enggak."
Tepat setelah Ben berhasil melepaskan tangan bapak-bapak dari kerah jaketnya, suara tangisan itu tiba-tiba semakin terdengar lantang. Yang kontan saja membuat seluruh mata tertuju pada cewek berambut cokelat, yang masih duduk tertunduk di lantai halte.
"Setelah gue kasih semuanya demi lo. Tega-teganya lo ninggalin gue gitu aja. Katanya lo cinta sama gue, tapi mana buktinya. " cerocos cewek tersebut sambil tertunduk.
Hal itu tak ayal membuat semua mata tertuju pada Ben yang masih nggak ngerti ada apa dengan cewek sinting tersebut. Sementara itu bapak-bapak yang tadinya melepaskan kerah jaket Ben kini secepat kilat kembali menyambar jaket cowok berbadan tinggi tersebut diiringi sebuah bogem yang mendarat tepat di pipi kirinya.
Ben terjembab ke tanah memegangi rahangnya yang terasa nyeri.
"Astagfirullah, ya Allah, Bapak apaan sih main pukul-pukul? Saya beneran nggak kenal sama itu cewek," rintih Ben masih memegangi pipi dan mengusap bibirnya yang nyeri.
"Astaga, darah?" ucap Ben melihat darah yang baru saja ia seka dari sudut bibirnya.
Lagi dan lagi cewek nggak di kenal itu menangis kencang. Bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Tentu saja membuat Ben yang sedang menyeka sudut bibirnya mengeluarkan darah, cowok itu makin meringis gemetar menatap bapak-bapak sangar berkepala botak.
"Masih nggak mau ngaku juga?!" ucap bapak-bapak botak tersebut.
Tangan kekarnya kembali meraih kerah jaket Ben secara sadis. Diikuti dengan beberapa orang lelaki di halte yang menatapnya dengan nista mulai mendekat. Ben nggak hanya diam. Ia berusaha melepaskan diri, namun apa daya kehendak Tuhan memang nggak bisa dilawan. Ben mendapatkan hadiah ulang tahunnya yang kedua di halte bus.
-M E M O R I E S-
Menyusuri jembatan yang di bawahnya mengalir sungai ciliwung, cowok bertubuh tinggi itu tertawa kecil menatap kaki telanjangnya. Sejak tadi ia nggak ada bedanya dengan orang gila. Nggak ada yang lucu memang, Ben hanya sedang menertawakan nasib sial yang menimpanya malam itu. Mulai dari kelakuan Riki dan Hanif yang menyebalkan. Sampai tragedi di halte yang sangat mengenaskan. Tas ransel yang menggembung karena baju basah yang masuk ke sana ia bawa di depan badan. Di belakangnya seorang cewek nggak dikenal terlelap dengan nyaman tanpa rasa berdosa. Tangan kanan Ben yang menopang tubuh mungil cewek yang tidak diketahui namanya itu menenteng kresek hitam berisi sepatu busuk. Sedangkan kini wajahnya sudah penuh dengan lebam yang semakin lama terasa nyut-nyutan.
"Ya Allah sebenernya cobaan macam apa ini?"
Ia bergumam sendirian.
"Kampret! anjir! Cewek sialan! Bangs ... Aaargh!" teriaknya kencang. "Bangkai, ya Allah. Bangkai! Kenapa kalinya bau bangkai, sih?!"
Napas Ben naik turun. Ia berhenti melangkah sejenak lalu membetulkan posisi cewek sialan yang nggak sadar berada dalam gendongannya. Wajah babak belur itu terlihat semakin melas ketika hampir saja ia tersungkur ke aspal.
"Lo sebenernya siapa, sih? KTP nggak ada, kartu nama nggak ada. Gue harus gimana?" tanya Ben nggak mendapatkan jawaban.
"Gue buang, aja, lo ke kali Ciliwung gimana? Biar sekalian lo di makan sama buaya."
Ingin rasanya Ben melemparkan cewek mungil tersebut ke kali ciliwung atau bahkan meninggalkannya di depan emperan toko cina, tetapi sayangnya Ben juga manusia biasa yang masih punya rasa iba. Panjang perjalanan kaki panjang Ben berujung tepat di depan rumah berpagar putih tinggi bertuliskan Sewa Kamar Kos Pria.
Ia menelan ludah kembali. Bimbang apakah keputusannya membawa cewek tersebut ke indekos adalah pilihan yang benar? Akan tetapi, Ben bisa saja di bunuh Bu Denok kalau sampai ketahuan membawa cewek ke kamarnya.
Hingga beberapa menit kemudian ia berpikir, Ben mulai melangkah masuk melewati gerbang dengan mendendap-endap. Sesekali ia membetulkan cewek yang melorot dalam gendongannya.
"Asli lo keberatan dosa bogel!" bisik Ben mengatupkan rahangnya.
Ucapan Ben barusan di susul tawa kecil oleh cewek yang sedang di gendong tersebut. Membuat Ben geram dan menampar betis cewek tersebut dengan kencang.
"Sakiiit!" eluhnya menampari punggung Ben lalu kembali terlelap lagi.
Ben memejamkan matanya beberapa detik. Kemudian pelan, tetapi pasti langkahnya melewati pagar yang nggak digembok. Dan melintasi jejeran kamar dengan hati-hati. Setelah melewati banyak kesulitan, sampai juga Ben tepat di depan kamarnya.
Ia buru-buru membuka pintu dan masuk sebelum ketahuan Bu Denok yang terkadang masih berkeliaran di malam hari untuk patroli. Barangkali ada anak-anak yang melanggar tata tertib, maka keesokan paginya akan dikenakan hukuman dan denda. Tanpa menyalakan lampu keadaan kamar yang gelap membuat Ben buru-buru hingga ia lemparkan begitu saja cewek yang sudah memperburuk harinya itu ke kasur mini miliknya.
"Aduh!"
Ben tersentak mendengar suara erangan tersebut. Lantas buru-buru mengunci pintu dan menyalakan lampu kamar. Begitu semuanya terlihat jelas, Ben melotot melihat siapa yang duduk di atas kasurnya.
Yah, Tuhan memang terlalu baik sama gue. Terimakasih untuk hari ini Tuhan!
Batinnya mulai gila.
Cewek berambut panjang berbaju putih itu menggosok punggungnya.
"Kunti kampret, lo ngapain di kosan gue?!"
B E R S A M B U N G!
Jangan lupa tap love dan komen gaes :)