9. Risa

1101 Kata
Sandra merasa aneh dengan suaminya, dia sering menelpon tetapi ponselnya sama sekali tidak aktif. Dia mencoba untuk menelpon dijam kemudian, tapi.. tetap saja tidak aktif. Sudah lebih dari dua minggu, Bram belum saja pulang kembali dari perjalanan bisnisnya. Sandra memutuskan untuk menghubungi asisten Bram, dia hanya mendapat info bahwa agak mundur pulang dikarenakan beberapa urusan. Tepat sebulan, Bram belum juga pulang. Sandra merasa sedih, dia tidak tau apa yang terjadi pada suaminya. "Mas Bram kemana.. Kenapa aku menjadi mengkhawatirkannya?" tanya Sandra. Ting tung! Sandra membuka pintu, dan melihat siapa yang berkunjung. Ternyata suaminya yang pulang. Sandra sangat senang sekali, melihat akhirnya suami yang dia rindukan akhirnya pulang. Dengan perasaan yang haru, dia memeluk Bram menubrukan dirinya ditubuh pria itu. "Mas, hikss.. Kenapa kamu belum juga pulang hikss.. hikss.." Bram hanya diam, juga tak membalas pelukan dari wanita itu. Pria itu memejamkan matanya, merasakan sesuatu yang bergelayar dihatinya. Karena tak mendapat pelukan balasan, akhirnya Sandra melepaskan pelukannya. Dia menatap Bram aneh. Tangan mungil wanita itu, menelus rahang Bram, suaminya. "Mas, kamu kenapa?" tatap Sandra sendu. Bram menghela nafas, "Ada yang harus aku bicarakan dengan kamu." "Kita bisa bicara, ayo kita masuk terlebih dahulu." Sandra menarik tangan Bram untuk masuk ke dalam, tapi.. tangannya ditahan oleh pria itu. Sandra spontan menatap suaminya aneh. Lalu, dari arah belakang, muncul seorang wanita yang mendekat ke arah mereka dengan menunduk. Dia memegang kemeja Bram seolah takut menatap Sandra. Sandra menjadi bingung, ada apa ini? Kenapa suaminya pulang bersama dengan seorang wanita.. dan perutnya membesar? "Mas.." Bram mengepalkan tangannya dan memalingkan wajahnya, "Dia Risa, dan dia sedang mengandung anakku," lirih Bram dengan nada yang tercekat. Genggaman dari tangan Bram, oleh tangan Sandra mengendur. Sandra rasanya terbanting oleh sebuah fakta yang memilukan hatinya. Semua seolah terjadi kembali, dimana hatinya yang sudah dia tata, kembali sakit karena ulah sang suami. Sandra tidak habis pikir, bagaimana bisa suaminya begitu tega dengannya? "Bagaimana bisa.." lirih Sandra yang sangat pelan. "Aku mabuk, dan menghamili Risa saat kita bertemu di Hongkong. Maafkan aku, semua terjadi diluar keinginanku Sandra.." Sandra membalikan badannya tak ingin menatap suaminya. Dia berjalan ke dalam mansion, dengan hati yang tersakiti. Bram yang melihat sorot kecewa dari istrinya, merasakan sakit. Dia kemudian membawa Risa masuk terlebih dahulu. Risa merasakan malu, dia duduk dengan merunduk, karena dia hadir sebagai noda untuk pernikahan orang lain. Jika seandainya, waktu itu dia tidak berpapasan dengan Bram.. semua tidak akan terjadi. Flashback Risa merasakan pusing dengan mata kuliahnya yang tidak lulus. Dia tidak bisa lulus sebagai sarjana terbaik jika begini. Diumurnya yang masih belum menginjak dewasa, belum genap dua puluh tahun, Risa menghabiskan waktu untuk belajar seumur hidupnya. Tapi, kali ini dia Jenuh. Dia kemudian menuju clab untuk merefreshingkan pikirannya. Ini pertama kali baginya masuk clab dengan suara musik yang memekakan telinga. Risa merasa haus, dia menuju sebuah pria yang menyediakan minuman untuk dia beli. Dia duduk, dan meminum secara acak. Rasa minuman yang dia minum memanglah pahit, namun menjadi candu. Lalu, dia meminum terus hingga tiga gelas kandas. Setelah meminum minuman, kepalanya merasakan pusing. Dia berjalan dengan sempoyongan ke arah orang - orang yang berjoget. Dia merasa urat malunya putus, ikut meliukan tubuhnya disana bersama lainnya. Dia merasakan panas dan melepaa outernya. Kini dia hanya mengenakan tank top dan celana panjang jeansnya. Dia berjoget hingga merasa bosan. Lalu, dia pergi ke arah kamar mandi. Tapi, dia malah menabrak seorang pria tampan yang membuatnya menjadi tidak waras seketika. "Hey kau!" teriak Risa. Sang pria juga sedang tak sadar karena efek minuman yang terlalu banyak dia terima. "Hey, jangan teriak! Anak kecil sepertimu tidak boleh menggertak orang dewasa," gumamnya tak jelas. Tapi, Risa mendengarnya. Dia tak terima dibilang anak kecil oleh pria itu. Risa kemudian mencium pria itu tanpa sadar, dan membuat gairah pria itu naik. Lalu, mereka berpindah ke ruang privat yang ada diclab ini. Mereka menyalurkan biologis mereka satu sama lain, tanpa menggunakan pengaman. Karena perbuatan mereka di clab, Risa hamil. Dia meminta Bram untuk tanggung jawab. Tapi, ternyata Bram sudah memiliki istri dan juga anak. "Lalu bagaimana dengan kehamilanku ini.." Bram memegang kepalanya pusing, dia kemudian menghela nafasnya. "Aku akan tetap bertanggung jawab, kamu tenang saja." Flashback off Risa mengangkat wajahnya dan menatap wanita yang Risa tau, dia sedang menangis saat ini. Bahu wanita itu bergetar menahan isakan tangisnya. "Ya Tuhan, aku menyakiti wanita lain dengan kehamilanku.." batin Risa merasa sedih. Dia kembali menundukan kepala, dan menangis karena dia merasa tidak pantas untuk hidup saat ini. Dia merusak kebahagiaan wanita lain. "Siapa namamu?" seorang wanita dengan lembut bertanya. Risa menatap sendu, itu adalah wanita yang dia lihat tadi. Wanita yang merupakan istri dari orang yang menghamilinya. "Risa Aprilia," lirihnya. Sandra, wanita itu duduk dan menatap Risa lekat. Jujur, didalam hatinya dia merasakan sakit, melihat wanita yang sedang mengandung benih suaminya saat ini.. "Aku melihat kamu sangat muda sekali, berapa usiamu saat ini?" "De-delapan belas tahun Mbak.." Sandra memejamkan matanya, dan mengepalkan tangan. Kemudian, dia pergi bangkit begitu saja. **** Bram merasakan sakit, melihat Sandra yang menatap raut kecewa kearahnya. Pintu kamarnya terbuka, dia menoleh, ternyata itu adalah Sandra istrinya. Dia, berjalan mendekat ke arahnya. "Mas.." Bram menghadap istrinya, dia menatap sendu Sandra yang juga menatapnya sendu. "Jujur, didalam hatiku merasa sakit. Aku merindukanmu berhari - hari lamanya, untuk kamu segera pulang agar aku bisa meluapkan rinduku. Tapi, aku malah mendapat kabar jika suamiku menghamili wanita lain, bahkan wanita muda." "Maafkan aku.." Sandra menggelengkan kepala, dan menghapus air matanya, "Tidak ada yang perluh dimaafkan disini, semua bukan karena keinginan kamu atau pun aku Mas.." Bram menatap sendu istrinya, yang mulai menitihkan air mata. Hatinya berdenyut, merasakan sakit yang luar biasa menancap diulu hatinya. "Kamu mencintaiku bukan Mas?" tanya Sandra. Bram mendengarnya mendekat, dia memegang tangan wanita itu yang tak ada penolakan sama sekali. "San, demi Allah.. aku hanya mencintai kamu. Aku bahkan tidak pernah terfikir untuk berselingkuh ataupun menghamili wanita itu, semua diluar kendaliku Sandra.." Sandra menganggukan kepala dan melihat mata suaminya, "Aku tau.. aku merasa kamu berbicara dengan begitu jujur.. aku bisa tau itu semua Mas.." Sandra menggenggam tangan Bram dan menatapnya dalam, "Cintai aku sebisa yang kamu lakukan Mas.." "Sekarang, ataupun nanti.. Aku selalu mencintaimu Sandra.." Sandra menangis, dia menitihkan air matanya dengan tersenyum, "Aku juga akan selalu mencintaimu, karena kamu adalah tulang rusukku. Tapi, ada sebuah kewajiban lain yang harus kamu lakukan.." Bram menatap istrinya lekat, "Apa maksud kamu Sandra?" tanyanya. "Nikahi Risa Mas.. Jadikan dia menjadi bagian hidupmu, dan halalkan dia," kata Sandra dengan terisak. "Tapi, aku tidak mencintai dia Sandra.." kata Bram sendu. "Aku hanya mencintai kamu," lanjutnya lagi. "Jika kamu mencintai aku, menikah dengan Risa. Berikan cinta untuk anak yang dia kandung, sebagaimana kamu memberikan cinta untuk Nadia, anak kita.."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN