8. Perjalanan Bisnis

1081 Kata
Ditengah malam, Sandra, wanita itu terbangun karena merasakan mual diperutnya. Dia pergi menuju kamar mandi memuntahkan seluruh isi perutnya dicloset. Setelah memuntahkan isi perutnya, dia mengusap mulutnya dengan air diwastafel. Sandra merasa sedikit lega, kemudian dia kembali ke kamarnya dan kembali memasukan tubuhnya ke dalam selimut. Dia menaikan selimut sampai batas d**a. Matanya belum terpejam, dia masih menatap dinding - dinding kamarnya dan berfikir. Lalu, wanita itu menggelengkan kepalanya menghela nafasnya. "Aku hanya masuk angin biasa, karena aku mungkin kelelahan mengurus Nadia. Iya, itu hal yang wajar untuk seorang manusia." Bram yang terbangun, kemudian melirik ke arah istrinya yang masih terjaga ditengah malam seperti ini. Dia kemudian mengubah posisinya dari yang terlentang, menjadi menghadap istrinya. Dia meletakan tangannya diatas perut istrinya, mendekatkan wajahnya diceruk leher istrinya. "Kamu kenapa masih saja terjaga dijam seperti ini? Apa yang membuatmu hingga terjaga seperti ini," gumam Bram dengan mata yang terpejam. Sandra, wanita itu menghela nafas dan melirik suaminya. Dia menggelengkan kepalanya sebagai tanda jawaban. "Tidak ada apa - apa. Aku hanya belum bisa tertidur saja Mas.. Kamu juga kenapa bangun di jam segini?" tanya Sandra. Bram malah semakin mengeratkan pelukannya mendekat ke tubuh istrinya. "Aku terbangun sebentar dan melihatmu masih terjaga. Aku menjadi khawatir." Sandra membalikan tubuhnya menghadap ke arah suaminya dan memeluk tubuh Bram. Kepala wanita itu masuk menuju d**a bidang suaminya. "Tidak perluh khawatir.. Aku baik - baik saja, tidurlah. Besok kamu harus pergi keluar kota bukan? Jangan sampai kepalamu menjadi pusing karena tidur yang kurang cukup." "Baiklah, ayo kita sekarang tertidur. Besok kamu juga mengantarku ke bandara." **** Pagi harinya, Sandra menyiapkan pakaian untuk suaminya. Wanita itu mengecek kembali koper yang akan dibawa suaminya untuk perjalanan bisnisnya. Dia membuka dan mengeceknya satu persatu isi koper. Dia tak ingin suaminya tertinggal sesuatu. Setelah merasa semua lengkap, dia turun dan menyiapkan makanan untuk suaminya. Bram, dari arah dalam menuju meja makan. Dia melihat istrinya yang sedang menyiapkan makanan dan menemuinya. "Dimana Nadia?" tanya Bram sambil duduk dimeja makan. Sandra tersenyum, "Nadia masih tidur Mas. Dia terlihat pulas sekali. Tidak tega untuk membangunkannya." "Baiklah, biarkan saja. Sekarang siapkan aku makan, aku akan merindukan masakanmu seminggu mendatang, karena tidak bisa memakan masakanmu." Lalu Sandra menuangkan nasi kedalam piring suaminya. Dan ikut duduk menemani suaminya untuk makan. Setelah mereka sudah selesai, waktu menunjukan pukul delapan pagi. Setengah jam lagi, penerbangan Bramantyo. Karena Sandra tak ingin suaminya terlambat, dia menyuruh Bram segera berangkat ke bandara. Akhirnya, Bram dan Sandra menggunakan mobil pribadinya menuju bandara. Didalam mobil, tangan mereka saling bertautan. Jujur, ada perasaan aneh yang menginginkan suaminya untuk tidak boleh pergi. Tapi, dia juga tidak tau perasaan apa yang dia rasakan. Sandra, hanya memejamkan matanya dan kemudian menyandarkan kepalanya dibahu suaminya. Bram, pria itu mengelus surai istrinya sesekali mengecup puncak kepalanya. "Aku hanya pergi selama seminggu, jangan khawatir. Aku akan menjaga makan dan kesehatanku disana." Sandra menganggukan kepalanya, "Akh pasti akan merindukanmu Mas." Mobil yang mereka tumpangi sampai disebuah bandara. Lalu, mereka turun dengan masih tangan yang saling bertautan berjalan menuju dalam bandara. Satu tangan Bram menautkan pada Sandra, sementara tangan lainnya dia gunakan untuk menggeret kopernya. Bram dan Sandra memberhentikan langkah mereka. Lalu, Sandra melepaskan tautan tangannya digantikan dengan menyerahkan sebuah buku yang ternyata berisi pasport suaminya. "Jaga dirimu baik - baik Mas.." Bram tersenyum dan merentangkan tangannya melebar kesamping tubuhnya. Sandra, wanita itu langsung menghamburkan ke pelukan suaminya. Bram mengusap rambut istrinya dan menghirupnya dalam - dalam. Dia mengecup sekali puncak sang istri dan melerai pelukan mereka. "Kamu jaga kesehatan juga. Aku juga tidak ingin kamu lelah dan akhirnya menjadi sakit," kata Bram penuh perhatian. "Aku akan menjaganya, pastikan istirahatmu cukup Mas.. Jangan terlalu bekerja, karena nanti kamu bisa menjadi sakit." Bram melihat jam ditangannya, lalu menatap kembali istrinya, "Sepuluh menit lagi pesawat ku landing. Aku harus segera masuk." Sandra menganggukan kepalanya dan menarik bibirnya tipis keatas. "Selamat tinggal." Bram mendekat dan mengecup bibir Sandra singkat. Cup "Selamat tinggal, aku akan kembali secepatnya," kata Bram tersenyum. Lalu, pria itu menarik kopernya dan berjalan memunggungi istrinya menuju kedalam pesawat. Sandra terus menatap punggung suaminya yang masuk kedalam pesawat. Dia merasa hatinya berdebar dan seolah merasakan sesuatu yang tidak bisa dia jabarkan. "Semoga Mas Bram selamat sampai tujuan. Dan kembali dengan keadaan yang sama," kata Sandra berdoa sambil memegang dadanya yang bergemuruh. Sandra kembali ke mansion dan menjalani rutinitas biasanya tanpa ada suaminya. Wanita itu menuju kamar anaknya dan membangunkannya. "Nad, bangun.. sudah siang," kata Sandra lembut. Nadia yang mendengar suara Sandra mengerjapkan matanya dan membuka. Dia dengan masih aura yang bangun tidur, bangun dengan malasnya. "Cepat mandi, jangan menjadi pemalas. Karena, Mamah akan meminta tolong kamu untuk membantu menyiapkan untuk arisan." Nadia hanya menganggukkan kepala dengan mata yang masih terpejam. Sandra tertawa, lalu meninggalkan kamar anaknya. Dia menyiapkan makanan didapur, untuk keperluhan arisan ibu - ibu kompleknya. Dia menghitung makanan agar tidak merasa kekurangan. Saat Sandra sibuk menghitung, Nadia turun dengan sudah rapi walau hanya mengenakan kaos seadanya, tanpa berdandan. "Mamah, Nadia bisa bantu apa nih?" tanyanya. "Kamu tolong masukin makanan yang udah Mamah bungkus ke dalam box ya.. Mamah mau hitung makanan yang lainnya." "Siap Mamah." Nadia langsung memasukan satu persatu makanan yang disuruh oleh sang Mamah. Sandra tersenyum melihat putrinya yang rajin dan patuh. "Mamah, Nadia boleh cobain jajanan nya nggak? Baunya enak hehe," kata Nadia sambil meringis. "Iya, ambil aja. Tapi nanti bantuin Mamah hitung ulang, supaya nggak ada yang kurang." "Makasih Mamah.." seru Nadia girang. Nadia kemudian membuka makanan yang sudah dibungkus oleh Sandra dan memasukan ke dalam mulutnya. "Ewnhak hekali." "Makannya pelan - pelan saja Nad, nanti kamu tersedak," peringatan Sandra kepada anaknya. "Engghwak Mah, uhuk uhuk!" Nadia memukul dadanya karena tersedak. Sandra mendengarnya tersenyum tipis. "Minum sana, udah Mamah ingatin agar tidak tersedak, malah kamu habis itu tersedak," kata Sandra sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak kok Mah, ini udah nggak kesedak. Piss," kata Nadia sambil mengacungkan kedua jarinya yaitu ibu jari dan jari tengah disamping wajahnya. "Huft, kebiasaan banget kamu." "Mah, Papah kemana?" tanya Nadia. "Papah lagi ada kerjaan keluar negri, kenapa?" "Kok nggak pamitan sama aku Mah?" "Gimana mau pamitan, orang kamu tidur kayak kebo. Papah harus pergi pagi, kamu juga belum tidur. Lagian cuma seminggu aja, nanti juga pulang." "Nanti chat Papah suruh beliin oleh - oleh ya Mah.." rengek Nadia. "Kamu mau minta apa? Paling nggak lupa yang satu ini." "Boneka besar!" seru Nadia. "Udah besar lo, minta boneka terus." "Ya biarin dong Mah, yayayaa.." rengek Nadia. "Iya, nanti Mamah sampaikan Papah kamu." "Yeay, makasih Mamah.." kata Nadia senang sambil semangat memasukan ke dalam kotak. Sandra tersenyum, dia menggelengkan kepala melihat putrinya yang sangat membuatnya selalu tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN