7. Rumah Bruce

1078 Kata
Benar saja, pulang dari sekolah. Nadia ikut pulang bersama dengan Bruce dengan jemputan pribadi bocah laki - laki itu, menuju rumahnya. Didalam mobil, Nadia sangat excited sekali melihat ke kanan dan ke kiri, melihat jalanan. Dia juga terkadang bertanya terus dengan Bruce atau jika bocah laki - laki itu tidak bisa menjawabnya, dengan berani Nadia bertanya kepada supir pribadi Bruce, yang dia tau namanya Pak Burhan. "Pak Han Pak Han, rumah Bruce udah deket nggak?" tanya Nadia dengan polosnya. "Belum Neng, Neng Nadia sama Den Bruce anteng dibelakang aja ya. Nanti kalau udah sampai, Pak Han beri tahu." Nadia mengangguk semangat, dan tersenyum melebarkan bibirnya. Bruce ikut tertawa berada disatu atmosfer dengan Nadia, membuat bocah itu ikut merasakan kebahagiaan dari aura Nadia. Akhirnya, mobil yang mereka tumpangi sampai disebuah rumah yang cukup besar dan bisa disebut sebagai mansion tak jauh besar dari mansion milik Papahnya. Pak Burhan pun turun dan membukakan pintu mobil disisi kanan. Bruce terlebih dahulu turun, dan disusul oleh Nadia setelahnya. "Wah, rumah kamu seperti punya Papah ya. Besar sekali." "Ayo masuk," Bruce menggandeng tangan Nadia dan masuk ke dalam. Didalam, mereka disambut asisten rumah tangga yang bekerja dirumah Bruce. "Den Iyus, bawa siapa itu Den? Kok cantik sekali." "Tante.. Iyus itu siapa?" tanya Nadia heran. Wanita berpakaian maid pun tertawa melihat wajah Nadia yang sangat menggemaskan. "Maksud kami, adalah Den Bruce. Nona manis temannya Den Bruce?" Nadia mengangguk, dia kemudian menatap Bruce, "Bruce, jadi mereka semua memanggil kamu dengan Iyus?" Bruce yang dipanggil Nadia dengan nama kecilnya tersipu. Dia menatap tajam para asisten yang bekerja dengan keluarganya tajam. "Bibi Nora, jangan memanggilku seperti itu. Aku sudah besar, tidak ingin menjadi anak kecil lagi." Nadia langsung menepuk pundak Bruce. Bocah laki - laki itu menoleh kearahnya. "Bukannya kita masih kecil? Kenapa kamu bilang sudah besar? Jangan membohongi orang yang lebih besar Bruce.." "Aku hanya tidak suka dipanggil seperti itu Nadia, aku bukan anak kecil lagi. Sudah tidak mengompol dan juga bisa memakan dan mandi sendiri." Para asisten rumah tangga, atau lebih disebut dengan maid. Menganggukan kepala sambil tertawa, "Baiklah Den, silahkan Den Bruce bermain dengan Non Nona manis ini, tapi.. lebih dahulu berganti pakaian. Karena Nyonya akan memarahi saya nantinya." "Iya Bibi, tidak usah membuat telingaku panas." Kemudian, Bruce mengajak Nadia naik ke kamarnya. Dan menyuruh dia duduk disofa menunggu dia berganti pakaian. "Nad," panggilnya. "Sudah berganti? Ayo, aku sudah tidak sabar melihat ikan - ikan yang berwarna - warni itu Bruce.." "Baiklah, ayo ikuti aku." Bruce membuka sebuah pintu berwarna hijau yang ada disamping tempat tidurnya. Dan Nadia mengikutinya masuk menuju ke sebuah ruangan. Kesan pertama yang Nadia tangkap adalah indah. Ruangan itu lebih tepat seperti sebuah tanki raksasa yang diisi oleh beragam ikan dan dihiasi lampu warna - warni. "Bagaimana, apa kamu suka?" Nadia mengangguk, menatap berbinar tanki raksasa yang penuh dengan ikan. Dia menunjuk tanki tersebut. "Oh, itu dia dolly!" teriaknya. "Ayo mendekat," perintah Bruce. Mereka pun mendekat dan memegang tanki yang terbuat dari kaca tebal. Nadia menunjuk ikan - ikan yang berenang bebas disana. Dia sangat berbinar menatapnya, bahkan dia hanya melihatnya hanya dirumah Bruce saja. "Kamu sangat keren.." gumamnya. "Papah yang membuatkan untukku, karena agar aku tidak mengambil ikan - ikan dikali." "Kamu tidak membelinya dipasar atau meminta dibelikan?" tanya Nadia. Bruce menggelengkan kepala, "Aku tidak pernah keluar rumah, bahkan tak tau seperti apa bentuk pasar yang kamu sebutkan. Aku, tidak tau jika ikan - ikan dijual. Aku hanya melihat sebuah tayangan TV dan mereka mengambilnya dikali depan rumah." "Aish.. Kenapa kau sangat bodoh sekali ternyata." "Entah Nad.. makanya Papah membuatkanku tanki ini agar aku tidak kotor bermain dikali. Dia malu karena aku." Bruce menekuk wajahnya. Nadia jadi ikut sedih dan memeluk Bruce. "Teman, oh teman.. Jangan bersedih.. Nanti akan dimakan oleh buaya jika bersedih.." Bruce dalam pelukan bocah perempuan itu menggeleng kepala, "Aku tidak akan sedih, nanti digigit buaya," kata Bruce dengan polosnya. Nadia tersenyum melepaskan pelukan persahabatan antar kedua bocah itu. "Bagus, ayo kita melihat ikan lagi!" seru Nadia. "Ayo!" teriak Bruce juga. ***** Bram panik mendengar supirnya tidak bisa menemukan Nadia. Pikirannya menjadi negatif dan langsung menghubungi algojo untuk mencari putrinya. Dia juga tak tinggal diam ikut mencari putrinya. Bayangan penculikan Nadia dimasa bayi, terngiang dan membuat Bram menjadi protect kepada Nadia. Dia khawatir sekali jadinya. "Cari Nadia hingga ketemu!!" teriak Bram dengan bawahannya. Sementara pria itu berkeliling dan mencari keberadaan putrinya. Tetapi, saat dia sedang mencari, dia mendapat telpon dari Pak Liong. Bram kemudian mengangkatnya. "Halo, ada apa Pak Liong?" "Begini Pak Bram.. ternyata Nadia tertidur dirumah saya setelah lelah bermain dengan putra saya," kata Pak Liong ditelpon. "Nadia berada disana?" "Benar, mungkin saya akan memulangkan anak Pak Bram nanti. Jadi Pak Bram tidak usah panik." "Syukur jika Pak Liong memberitahu saya, saya sempat panik bocah itu menghilang." "Saya yang minta maaf membuat Pak Bram menjadi repot mencarinya dan belum mengabarinya. Saya tutup telponnya dulu." "Baik, terimakasih sudah menjaga putri saya." "Sama - sama Pak Bram.." Lalu, telpon ditutup oleh Pak Liong terlebih dahulu. Bram menghubungi bawahannya untuk kembali, karena Nadia sudah ditemukan. Pria itu kembali ke kantor, dan kembali mengerjakan pekerjaannya. Saat dia pulang kemansion, pria itu sudah melihat putrinya yang dengan santai bermain ayunan dibelakang mansionnya. Pria itu mendekat, dan beralih yang mendorong putrinya. "Ayo Mah, dorong terus!" seru Nadia. Bram tersenyum melihat putrinya, dan terus mendorong mengayunkan ayunan yang dinaiki oleh Nadia. Beberapa kali ayunan, Bram menghentikannya. Nadia, yang merasakan berhenti pada ayunannya menatap aneh. "Mah, kenapa berhenti?" Dia berbalik kebelakang, dan menemukan Bram dengan bersedekap. Bocah perempuan itu menyengir memperlihatkan gigi susunya. "Papah.." "Hm, dari mana saja kamu? Pergi tidak pamit dengan Mang Abin ya, main pergi liat ikan sampai ketiduran?" Nadia turun dari ayunan dan menatap sendu kearah bawah, "Maaf Papah, Nanad salah.. Nanad nggak izin langsung liat ikan dirumah Bruce.." "Gimana kalau kamu diculik? Kamu mau dijual dan mengemis dilampu merah dan meminta uang begitu?" Nadia menggelengkan kepalanya, dan mulai terisak. Padahal, suara Bram pelan sekali. Tak ada nada tinggi dalam memarahi putrinya. Tapi, mungkin karena rasa bersalah, Nadia menjadi menangis. Bram tidak tega melihat putrinya menangis. Dia mendatanginya dan memeluk Nadia. "Jangan menangis.. Papah memarahi kamu karena Papah sayang. Papah hanya ingin kamu izin saat hendak pergi kemana pun. Jangan diulangi lagi mengerti?" "Hiks.. iya Papah. Hiks.. Maafin Nanad.." "Iya, Papah maafkan kali ini. Sekarang jangan menangis. Naik kembali ke ayunan, akan Papah dorong hingga kamu tertawa kencang," canda Bram. Nadia mengusap air mata dan menaiki ayunannya kembali. Mereka tertawa bersama. Sementara Sandra, melihat interaksi keduanya tersenyum tipis. "Terimakasih Tuhan.. semua kebahagiaan selalu terlimpahkan untuk kami semua. Terimakasih," gumam Sandra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN