Nadia menatap tidak suka interaksi Papah dan Mamahnya yang dekat dengan bocah laki - laki yang ternyata adalah teman sekelasnya. Bocah itu sombong dan jarang sekali berbicara dengannya. Bahkan ketika Nadia dengan ramahnya mencoba untuk berbicara dengannya, bocah laki - laki itu dengan judesnya memarahi Nadia.
Dan kini, saat keluarganya pergi dan dia dititipkan disini, itu membuatnya tidak suka.
Sandra melihat putrinya menekuk wajahnya menghampirinya. Wanita itu memeluk lengan putrinya dan duduk disebelah.
"Nadia, kenapa nggak ikut kesana? Bukannya Bruce temen kamu? Mamah tau dari Papah kalau kalian satu kelas."
Nadia menyembulkan pipinya menatap Sandra, "Nanad nggak suka, Mamah Papah terlalu dekat sama Bruce. Nggak like Nanad.."
Sandra bingung dengan ucapan anaknya, apa anaknya kini sedang merajuk karena dia lebih memperhatikan temannya yang berstatus sebagai tamu keluarganya?
Sandra paham sikap kecemburuan dari putrinya, dia sangat paham. Jadi dia akan memberitahu anaknya untuk tidak merasakan hal tersebut, "Nad.. Mamah sama Papah bersikap baik dengan teman kamu, bukan karena kita lebih menyayangi Bruce dibandingkan kamu. Tetapi, kita bersikap baik karena Bruce adalah seorang tamu dikeluarga kita."
Nadia memajukan bibirnya, "Dia bukan teman aku Mamah.."
Sandra mengelus surai putrinya, "Jangan berbicara seperti sayang.. dia teman sekelas kamu, Mamah tidak suka anak Mamah menjadi anak yang nakal."
Nadia akhirnya mengangguk kepala menatap mata Sandra sendu, "Maaf Mamah.. Nanad salah, Nanad tidak akan menjadi nakal lagi," sesalnya.
Sandra kemudian mengecup pipi putrinya yang chubby, "Anak pintar, sekarang temui Bruce dan ajak bermain bersama menikmati pesta kamu.."
Nadia mengangguk dan berlari ke arah Bruce. Dia menarik tangan bocah laki - laki itu dan tersenyum lebar.
"Ayo Bruce!"
Nadia hendak menarik tangan bocah itu, tetapi, Bruce menahannya dengan wajah yang datar.
"Jangan menarikku seperti itu, aku tidak mau," tolaknya.
Nadia menghela nafasnya, dan menatap sebal ke arah Bruce.
"Ayo, sudah ikut aku saja.. kata Mamah, Nanad harus berbuat baik dengan kamu, jadi ayo ikut saja.."
Bocah perempuan itu menarik tangan bocah laki - laki yang mengenakan kemeja biru laut. Tanpa sadar, Bruce, mengikuti kemauan Nadia menuju sebuah kolam ikan yang terletak tak jauh dari posisi mereka semua.
Nadia memamerkan deratan gigi putihnya dan menunju kolam - kolam yang penuh dengan ikan hias warna - warni.
"Lihatlah, indahkan? Banyak sekali ikan yang Nanad pelihara dirumah.."
Bruce berbinar menatap ikan - ikan milik Nadia yang menurutnya bagus sekali. Dia berjongkok untuk melihat lebih dekat dengan kolam dan ikuti dengan bocah perempuan disebelahnya berjongkok.
"Kamu beli dimana?" tanya Bruce akhirnya.
"Beli? Nanad tidak membeli semuanya.."
Bruce menatap Nadia heran, "Lalu bagaimana cara ikan - ikan ini berkumpul disini? Apakah ini kolam ajaib?"
Nadia menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin ini kolam ajaib, atau Nanad yang tidak sadar jika ini benar - benar kolam ajaib? Nanti akan Nanad tanya Papah saja," katanya sambil diakhiri sebuah senyuman yang membuat pipi lesungnya terlihat.
"Kamu tidak tau? Padahal aku ingin membelinya," kata Bruce sendu.
"Kamu mau ikan ini?" tanya Nadia memastikan.
"Iya, aku sangat suka."
Nadia berfikir sejenak, kemudian bocah itu berdiri, "Kamu tunggu sebentar disini, aku mau mengambil sesuatu."
Nadia langsung berlari menuju dalam rumahnya. Bruce hanya diam mengikuti apa kata Nadia.
Tak lama setelah itu, Nadia datang dengan sebuah plastik dan juga jaring penangkap ikan. Nadia jongkok bersebelahan dengan Bruce dan tangannya meraih kolam untuk menjaring ikan - ikan miliknya.
Nadia masih berusaha, sementara Bruce diam mengamati tingkah bocah perempuan itu. Karena belum mendapatkan ikan, Nadia menoleh kepada Bruce dan menyerahkan plastiknya kepada Bruce.
"Untuk ikannya hidup nanti, kamu ambil air ya.. buat berenang ikannya nanti.."
Bruce mengangguk patuh dan mengisi plastiknya dengan air kolam. Sementara Nadia, dia menjaring ikannya berusaha menangkapnya.
Dia berhasil menangkap ikan hias kecil berwarna kuning, dan memasukannya dikantong plastik yang Bruce bawa.
"Sudah cukup atau mau lagi? Lagi ya? Yaudah aku ambil lagi hehe.."
Nadia berusaha menjaring ikan - ikannya untuk dia berikan pada Bruce. Tapi saat dia menjaring ikan, bocah itu terpeleset dan jatuh ke kolam dengan posisi terduduk.
Bruce membelakan mata melihat Nadia terjatuh, dan sementara Nadia yang terjatuh malah tertawa terbahak - bahak.
"Hahahaa, astaga aku menduduki ikan - ikanku sendiri.." kata Nadia dengan tertawa.
Bruce mengulurkan tangannya kepada Nadia, "Cepat bangun, nanti kamu digigit ikan - ikan."
Nadia menyambut tangan mungil Bruce dan bangkit keluar dari kolam. Dia tertawa melihat bajunya yang basah karena terjebur dikolam.
"Yah.. basah deh," kata Nadia.
"Maaf," cicit Bruce.
Nadia mengerjapkan matanya melihat Bruce yang menatap dirinya sendu. Dia kemudian tertawa melihat wajah Bruce yang sangat lucu menurutnya.
"Tidak masalah, ini juga sangat seru sekali. Lagi pula kita juga teman bukan?"
Dahi bocah laki - laki itu mengerut, "Teman?" tanyanya.
Nadia mengangguk, "Iya, kata Mamah karena kita sekelas jadi harus berteman. Kita teman," kata Nadia sambil tersenyum.
Bruce tersenyum tipis, "Iya, kita teman.."
"Hore... Kita teman!!"
Nadia loncat - loncat girang dan diikuti oleh Bruce yang ikut loncat girang. Mereka tertawa bersama, sementara di kejauhan Sandra dan Bram tersenyum melihat putrinya.
Setelah mengganti pakaian Nadia, Sandra membawa putrinya turun untuk bergabung makan malam bersama dengan yang lainnya.
Bukan hanya mereka saja, tetapi bersama dengan keluarga dari Bruce yang mengikuti makan malam.
"Itu dia Nadia!" seru Bram.
Nadia duduk didepan Bruce, dan mulai membuka piringnya.
"Wah, ternyata Nadia sangat cantik," kata seorang wanita dengan senyum tipisnya.
"Terimakasih Tante.." jawab Nadia.
"Bruce, mulai besok kamu harus tidak boleh nakal dengan Nadia.. dia anak yang manis bukan?"
Bruce diam mengangguk, "Iya, kita sudah berteman."
Nadia senang, dan tersenyum lebar, "Iya Tante teman.."
"Wah bagus sekali, kalian anak yang sangat manis.." seru seorang pria yang diketahui Liong, Papah dari Bruce.
Kemudian, mereka makan malam dengan tenang. Meski kadang tertawa dengan tingkah Nadia yang lucu.
****
Esok harinya, Nadia diantar Bram ke sekolahan. Dia kemudian masuk kelas dan duduk dibangkunya. Saat dia berangkat, ternyata Bruce sudah lebih dahulu duduk disebelahnya.
Nadia meletakan tas dan menatap Bruce yang diam, "Bagaimana dengan koki?" tanyanya.
"Koki?" tanya Bruce bingung.
"Iya! Anak - anak ikan semalam yang kamu bawa adalah koki namanya. Apa dia sudah mempunyai tempat baru dirumahmu?" tanya Nadia.
"Namanya bukan koki, tapi dolli, dia sudah mempunyai tempat yang besar karena Papah langsung membelikannya semalam. Dia sangat senang, karena tempatnya penuh dengan lampu warna - warni sekali."
Mata Nadia membelak, "Lampu warna - warni? Wah.. aku jadi ingin melihat rumah baru koki-eh, dolli.."
Bruce tersenyum, "Apa kamu ingin melihatnya?"
Nadia mengangguk excited, "Iya! Aku sangat.. sangat.. ingin melihatnya!"
Tapi sedetik kemudian Nadia cemberut, "Tapi.. bagaimana? Aku tidak tau rumahmu Bruce."
"Tenang saja, nanti kamu bisa ikut denganku naik mobil Papah saat pulang."
"Sungguh?"
Bruce menganggukan kepala, "Iya."
"Yeay!! Aku tidak sabar... Terimakasih Bruce, kamu teman yang baik. Seperti kata Mamah," kata Nadia dengan lesung pipi yang tercetak jelas.
"Sama - sama teman.."