5. Cemburu

1125 Kata
Ini adalah weekend, semua anak pasti sangat menunggunya dengan tidak sabar. Dihari ini, seluruh keluarganya berkumpul tak bekerja, saling bercengkrama satu sama lain. Hal yang wajar bagi keluarga Bramantyo untuk kumpul bersama. Pekerjaannya yang terlalu padat, mengurangi waktu bermain dengan anaknya. Saat weekend seperti ini, Bramantyo selalu menuruti keinginan anaknya. Kali ini, bocah manja itu menginginkan sebuah pesta barbeque dihalaman belakangnya sore ini. Awalnya Bram sempat menolah karena dia ada pertemuan dengan rekan bisnisnya. Tapi, karena Nadia menangis berguling kesana kemari, mau tak mau Bramantyo mengakalinya demi putrinya itu. Nadia yang dituruti jelas senang sekali, bahkan dia sudah siap dengan gaun cantiknya untuk sekedar pesta kecil - kecilan yang dilakukan keluarganya. Bocah itu menggeret tangan Sandra, untuk segera memulai pesta yang seperti dia inginkan. Sandra, sang Mamah hanya diam menuruti keinginan putrinya mulai menyiapkan bahan dan mengolah menjadi bumbu yang akan dia gunakan untuk pestanya. Nadia yang tidak sabar menunggu dikursi melihat Sandra yang lihat mengolah bahan - bahan yang dia tak tau namanya, menjadi bumbu - bumbu yang familiar sekali untuknya. "Mah, Nadia mau coba dong," pintanya. "Nadia udah cantik bajunya, nanti kotor lagi, sekarang kamu diam aja liat Mamah. Besok kalau udah besar, jadi Nadia tau apa yang dikerjakan Mamah akan dikerjakan Nadia kelak nanti." "Oki doki Mamah," katanya girang. Sandra terus meracik bumbu dapur dan memindahkannya disebuah tempat kecil yang berukuran sedang. Kemudian dia menuju taman belakang rumahnya, bersama dengan Nadia yang setia mengintilinya dari belakang. Wanita itu kemudian meletakan bumbu olahannya dimeja, kemudian kembali ke dapur lagi mempersiapkan daging untuk dia cuci. Bram yang baru saja turun dari kamar melihat Nadia dengan setia melihat istrinya didapur menghampiri dan menggendong putrinya dari belakang. Pria itu menggendong melempar - lemparkan ke udara membuat sang bocah menjadi terkikih. "Papah hahaha ampun hahaa." "Rasain kamu, siapa suruh nakal ngerusuhi Mamah masak." Bram terus melempar Nadia ke atas membuat Nadia semakin terkikih dan hampir menangis karena tertawa yang berlebihan. Kemudian Bram menurunkan anaknya kebawah. Nadia kembali naik ke kursi dan memperhatikan Sandra memasak. Kini yang memperhatikan bukan cuma Nadia saja, tetapi juga suaminya, Bramantyo. Sandra menoleh kesamping anak dan suaminya. Dia menghela nafas dan memicingkan matanya. "Mas, dari pada kamu sama Nadia nungguin aku bersihin daging ayam. Mending kalian siapin yang lainnya, ajak Nadia sana." Nadia mendengar ucapan Mamahnya, menarik - narik baju Bram. "Ayo Papah, dengerin kata Mamah itu.." Bram kemudian menganggukan kepala dan menggendong anaknya. "Yaudah, San aku siapin dibelakang keperluan lainnya." Bram menuju belakang taman, dan menggendong Nadia seperti pesawat terbang. "Cuss... Pesawat mendarat.. cusss.." Nadia hanya bisa tertawa senang melihat Papahnya sangat hangat seperti ini. Dia kemudian menurunkan Nadia dan memerintahkan putrinya untuk duduk dibangku menjauh dari pemanggangan, karena pria itu akan menyalakan apinya. Nadia duduk memainkan kakinya, sambil melihat Papahnya yang sedang menyalakan api pemanggangan. Papahnya sangat keren menurutnya, bahkan menurutnya Papah paling hebat dimuka bumi ini. Bram yang selesai menyalakan apinya, kemudian mengoleskan sedikit margarin dipemanggangan membuat bau harum dari arah Bram tercium dihidung Nadia. "Wah, harum sekali.." kata Nadia senang sekali. Kemudian, dari arah dapur, Sandra membawa beberapa daging mentah yang sudah dibumbui dari dalam mendekat ke arah Bram. "Mas.." Bram menoleh dan tersenyum mengambil daging dari tangan istrinya. "Terimakasih," katanya dengan lembut. Sandra mengangguk dan menemui Nadia. Dia duduk disebelah bocah itu dan merangkul bahu putrinya dan mengacak gemas rambutnya. "Ahh Mamah.. jangan berantakin rambut Nadia dong." Tangan mungil bocah itu menata kembali rambutnya, terutama poninya. "Anak Mamah udah suka dandan begitu. Udah punya pacar ya.." kata Sandra menyelidik. Nadia menggelengkan kepalanya mantap, "Pacar Nadia masih tetep Papah kok Mah.. Mamah kok tanya pacar - pacar." "Iya dong, Mamah perhatiin Nanad suka nyisir rambut terus. Siapa tau anak Mamah lagi suka - sukanya sama temen sekolah misalnya," kata Sandra menebak. "Nggak kok Mah.. belum suka - sukaan Nanadnya." "Bagus kalau begitu, kamu belajar aja biar pinter. Katanya mau jadi dokter seperti Onty Alea?" Nadia mengangguk semangat sekali, "Iya Mamah.. mau jadi dokter, tapi.. mau juga jadi chef. Nanad bingung lo Mah.." "Kamu nggak usah bingung, nanti kamu bakal bisa nemuin jati diri kamu kelak. Asal, kamu menjadi diri sendiri, jangan pernah mencoba menjadi orang lain. Bahkan untuk menyenangkan orang lain, itu akan sangat membebankan sekali, untuk kamu nanti, atau pun untuk orang - orang sekitar.." "Siap Mamah!" "Nadia, Sandra, kalian nggak mau ikut memanggang?" tanya Bram dengan sedikit teriak. "Ayo, ayo, bantuin Papah.." Sandra menggandeng tangan putri mendekat ke arah suaminya. Dia kemudian melihat daging sudah dibakar dengan api yang sedang oleh suaminya. "San, kamu tolong olesi diatas dagingnya ini," pinta Bram. Kemudian, Sandra mengoleskan bumbu kecap pedas diatas daging yang dipanggang dan menimbulkan asap besar yang sedap dipenciuman mereka semua. Mansion mereka seolah tergenang oleh asap dari pemanggangan yang menyegrak indra penciuman mereka. "Maaf Nyonya.. Tuan.." kata Tari yang sudah berada disamping Bram. Bram menoleh, "Ada apa Tari?" "Dibawah ada tamu untuk Pak Bram.. namanya, kalau nggak salah Koh Liong." "Koh Liong? Yasudah kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu Tari, saya yang akan temui." Tari mengangguk dan kembali masuk ke dalam. "San, tolong kamu panggang sebentar, tapi hati - hati jangan sampai melukai tanganmu.. aku akan menemui tamu sebentar." "Baik Mas.." Bram kemudian masuk dan menuju ruang tamu. Disana, pria berwajah cina dan sipit datang bersama anak laki - lakinya yang dia gandeng. "Koh," sapa Bram. Bram mengulurkan tangannya dan dijabat oleh pria didepannya ini. "Halo Pak Bram, lama tak bertemu.." "Ada apa nih, kok sampai Pak Liong repot - repot datang kemari?" tanya Bram pelan. "Saya rencananya ada sedikit urusan dengan istri saya. Dan, saya tidak mungkin membawa si kecil ini karena dia sendiri menolaknya. Jadi, saya ada rencana titip dengan keluarga Bapak.." "Oh, Bruce mau dititipkan kemari? Boleh boleh.. kebetulan kami juga sedang tidak terlalu sibuk." Mendengar ucapan Bram, Liong tersenyum senang, "Terimakasih sekali Pak Bram.. saya sangat berterimakasih." "Sama - sama, bukan masalah yang besar. Lagi pula, Bruce juga teman sekolah dari Nadia bukan? Mereka juga bisa bermain bersama setelah ini.." "Bruce, Papah tinggal kamu dengan Om Bram, jangan nakal disini. Patuh dengan perkataan Om Bram, mengerti?!" "Uum.." Kemudian Bram mengambil alih gandengan pada tangan Bruce. Dan mengantar pria itu sampai didepan pintu. Setelah pergi, dia mengajak Bruce untuk ke belakang bergabung dengan yang lainnya. "San.. Nad.. ini ada tamu lo." Nadia dan Sandra menoleh ke arah Bram. Sandra tersenyum menatap penasaran siapa yang suaminya bawa, sementara Nadia yang sudah mengenal bocah laki - laki itu terkejut, kenapa dia bisa berada disini. "Ini siapa Mas?" "Ini Bruce anak rekan bisnis aku, Pak Liong. Dia mau nitipin anaknya sebentar karena ada urusan." Sandra mendekat, dia mengelus surai lembut Bruce, "Halo, Bruce.. kamu sudah makan?" Bruce hanya menggelengkan kepala saja. Sandra yang gemas kemudian mengacak surai bocah itu. "Yasudah, ayo Tante akan berikan kamu makan... Mas, tolong dilanjutkan manggangnya ya.. aku mau ngasih Bruce makan dulu," kata Sandra tersenyum. Nadia yang melihatnya tidak suka, "Kenapa coba Mamah pake kasih makan ke anak sombong itu. Nggak like deh Nanad," kata Nadia dengan bersedekap menatap cemberut ke arah Sandra dan Bruce yang pergi berlalu ke dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN