Raditnya benar benar pergi, hanya menyisakan sebuah ruangan kosong di hati Mega. Dia pergi ke Amerika, menjalani pengobatan dengan Pak Aldi yang menemani untuk melaporkan jika sesuatu terjadi. Mega tidak bisa meninggalkan negara ini, dia tidak bisa egois dan menelantarkan Ara yang masih membutuhkan figure dirinya. Dia tetap bertahan, bahkan kembali ke apartemen yang sudah terasa sangat dingin itu. Dia ingin menghidupkan suasana yang pernah ada di sana, kenangan bersama sang suami dan anaknya. “Mama, Papa pasti pulang ‘kan?” “Iya, Sayang. Kan kemarin Ara juga lihat kalau Papa sedang diobati oleh dokter di sana.” Ara mengangguk-anggukan kepalanya, dengan tangan yang masih menuntun sang mama. Takut mamanya jatuh, begitu alibinya yang tidak ingin berjauhan dengan Mega bahkan sebentar saja

