1.Dokter Baru
Matahari menyingsing menerobos jendela kamar wanita cantik yang sedang terlelap. Samar-samar mendengar seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Faye, bangun nak!" Suara lembut memanggil namanya.
Perlahan, Faye membuka matanya dan merenggangkan tubuhnya. Terdengar pintu kamarnya yang kembali di ketuk.
"Fay!"
"Iya, Ma."
"Ya, sudah, Mama buatkan sarapan dulu ya."
"Iya." Faye menggeliat, lalu beranjak dari kasurnya.
Faye Marcella. Wanita cantik bermata amber, berkulit putih, dan berambut panjang berwarna light brown itu pun berjalan membuka tirai jendela.
Faye merupakan perawat di sebuah rumah sakit besar swasta di Jakarta. Faye telah bekerja di sana selama dua tahun dan saat ini berumur 24 tahun.
Kemudian Faye melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan segera membersihkan dirinya.
Setelah selesai menyelesaikan mandinya dan berdandan. Faye segera keluar menuruni anak tangga menuju ruang makan.
"Sudah mandi anak Mama," sapa Kinasih yang melihat anak semata wayangnya sudah berdandan cantik. Kinasih merupakan Ibu kandung Faye.
Ayah Faye bernama Panji telah meninggal sejak Faye berumur 10 tahun. Panji yang bekerja menjadi sopir taxi saat itu mengalami kecelakaan tunggal dan meninggal saat ditangani di rumah sakit. Faye yang merupakan anak tunggal hanya tinggal bersama Ibunya. Faye tinggal di rumah yang tidak terlalu mewah. Kinasih bekerja menjadi guru di sekolah dasar. Dari penghasilan guru itu lah Kinasih memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Faye termasuk siswa yang cerdas, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Dan sesuai cita-citanya, Faye menjadi perawat karena ingin membantu orang lain.
"Sudah dong Ma."
"Sarapan dulu."
"Wah nasi goreng, enak nih," puji Faye.
Nasi goreng adalah menu favorite Faye. Kinasih selalu membuatkan sarapan untuk Faye sebelum berangkat bekerja.
Kinasih tersenyum lembut. "Ayo dimakan! Nanti keburu dingin."
"Ma, nanti aku lembur."
"Lembur lagi?"
Faye menganggukkan kepalanya.
"Kamu jangan capek-capek, harus tetap jaga kesehatan!"
"Pasti Ma, Mama tenang aja," ucap Faye di sela-sela kunyahannya.
Kinasih sampai geleng-geleng kepala melihat anak semata wayangnya itu. Tak sampai sepuluh menit Faye menghabiskan sarapannya, kemudian ia pamit dengan Kinasih.
"Faye berangkat dulu ya Ma," pamit Faye.
"Iya, hati-hati!"
Faye menjabat tangan Kinasih, kemudian keluar dan segera menyetop taxi.
***
Faye bergegas masuk ke rumah sakit setelah turun dari taxi. Rumah sakit Renjana Kasih adalah tempatnya bekerja.
Faye berjalan santai sambil membawa tasnya, ia pun segera masuk ke loker.
"Fay, tumben pagi," sapa Sherly.
"Di bangunin Mama tadi."
"Ehh, udah denger berita hot belum?" bisik Sherly.
"Apaan?"
"Ck, kau itu selalu telat informasi," kesal Sherly.
"Emangnya ada apa sih Sher?"
Sherly Andini. Merupakan teman dekat Faye yang sesama perawat. Sherly dan Faye telah berteman sejak kecil. Mereka berdua selalu satu sekolah mulai dari sekolah menengah pertama sampai di bangku kuliah dengan jurusan yang sama. Saat ini Sherly berumur 24 tahun.
"Ada dokter baru."
Faye menghela nafas kesal. "Gila ya! Aku kira apaan."
"Yeee, di kasih tahu juga," cibir Sherly.
"Dokter apa emangnya?"
"Dokter spesialis bedah, namanya dokter Andre."
"Bagus sih, rumah sakit ini kan emang kekurangan dokter."
Setelah mengganti pakaiannya dengan cepat, Faye dan Sherly pun bergegas menuju ke ruang IGD.
Terlihat beberapa mobil ambulance datang bersama sekelompok orang yang kecelakaan.
"Apa yang terjadi?" tanya Faye.
"Diduga sopir bus mengantuk kemudian kehilangan keseimbangan hingga akhirnya bus berbalik dan menabrak truk yang melaju dari arah berlawanan," jelas Xena.
"Jumlah korban ada berapa?" tanya Faye.
"Korban berjumlah empat puluh orang."
"Suster Faye, tolong periksa pasien kecelakaan yang baru saja datang!" perintah Xena.
"Baik suster Xena."
Pemandangan mengerikan pun terjadi, Faye segera membantu suster yang lainnya untuk menangani pasien. Faye segera melakukan pertolongan pertama. Ia dengan cekatan memeriksa pasien.
Tiba-tiba dokter Liam datang, dengan cepat dokter Liam pun menangani pasien korban kecelakaan. Dokter Liam merupakan dokter umum IGD.
"Periksa semuanya dengan menyeluruh!" perintah dokter Liam.
Setelah semua pasien berhasil ditangani, walaupun ada beberapa yang tidak selamat. Faye kemudian memilih beristirahat di ruangan khusus suster.
"Ngelamun mulu," celetuk Sherly.
"Nih minum!" Sherly menyodorkan air mineral.
"Terima kasih."
"Aduh capek banget," keluh Sherly.
"Untung aja tadi dokter Liam cepat datang," ucap Faye.
Ketika Faye dan Sherly sedang duduk santai, mereka mendengar bahwa suster yang ada di ruang istirahat untuk segera menuju aula begitu juga dengan dokter dan staf administrasi.
Faye dan Sherly lalu bergegas menuju aula tempat pertemuan berlangsung. Faye memilih duduk di sebelah Sherly.
Direktur rumah sakit beserta para petinggi yang lain mengambil posisi duduk di depan. Mario sebagai direktur rumah sakit maju ke podium dan memberikan penjelasan tentang beberapa bantuan peralatan medis, dan juga ingin menambah ruang operasi.
Tak lupa, Mario juga memperkenalkan dokter baru yang akan bekerja di rumah sakit Renjana Kasih ini.
"Baiklah, seperti yang kita ketahui kalau rumah sakit ini kekurangan dokter dan ruang operasi. Maka dari itu dengan adanya bantuan tenaga dan peralatan medis adalah salah satu alasan kita menambah ruang operasi agar bisa menyembuhkan pasien lebih banyak lagi," jelas Mario.
"Tak lupa, hari ini juga saya ingin memperkenalkan dokter baru. Dia adalah dokter bedah. Mari kita sambut dokter baru kita. Dokter Andre Gevariel!"
Seorang dokter berwajah tampan, bertubuh atletis ini melangkahkan kakinya naik ke atas podium. Mata hitam pekatnya menatap datar ke depan.
Tentu saja para suster, dokter, maupun staf administrasi mulai berbisik-bisik membicarakan dokter tersebut. Banyak yang mengatakan jika dokter tersebut tampan, namun sayangnya dingin.
"Perkenalkan, nama saya Andre Gevariel. Saya akan bekerja sebagai dokter bedah di rumah sakit ini."
Faye tidak munafik, ia juga tertarik dengan dokter tampan yang saat ini berdiri di atas podium.
"Ngapain senyam-senyum?" Suara Sherly membuyarkan lamunan Faye. Faye tertangkap basah senyum-senyum sendiri oleh Sherly.
"Nggak, siapa juga yang senyum," elak Faye.
"Katanya sih beliau sudah punya kekasih," bisik Sherly.
Faye mengernyitkan dahinya. "Siapa?"
"Dokter Andre."
"Pasti playboy."
"Sembarangan! Aku dengar cerita dari suster yang lain. Dokter Andre itu kekasihnya dokter Lettysia."
Faye membelalakkan matanya. "Dokter Lettysia? Dokter spesialis radiologi?"
Sherly menganggukkan kepalanya. "Mereka juga sudah menjalin hubungan sejak lama."
Faye celingukan seperti mencari sesuatu.
"Cari siapa?" tanya Sherly.
"Dokter Lettysia kemana?"
"Dokter Lettysia sedang dinas ke luar kota."
Andre mengedarkan pandangannya, dan sesaat kemudian matanya bertatapan dengan mata amber milik Faye. Andre segera membuang pandangannya ke arah lain.
"Saya mohon kerjasamanya untuk para tenaga medis dan karyawan di rumah sakit ini!" ucap Andre.
Setelah perkenalan singkat Andre, para suster, dokter, dan staf administrasi yang lain pun kembali bekerja. Faye dan Sherly lalu kembali ke ruang istirahat.
"Ahh sial! Aku terpesona," celetuk Sherly.
"Mulai deh!"
Sherly terkekeh. "Aku yakin kau juga tertarik dengan dokter Andre."
"Memangnya aku itu kamu yang dikit-dikit tertarik dengan wajah lelaki tampan!" sindir Faye.
"Dihhh." Sherly mencebikkan bibirnya.
"Bisa-bisanya kalian bersantai disini?" Suara cempreng tersebut menginterupsi Faye dan Sherly. Seorang suster berambut sebahu dan berwarna caramel mendekati Faye dan Sherly.
"Saya bersantai karena pekerjaan saya telah selesai," ucap Sherly.
"Saya sedang bicara dengan Faye!" ucapnya sambil berkacak pinggang.
Suster berambut caramel tersebut menyuruh Sherly keluar dari ruangan istirahat. Sherly pun melangkahkan kakinya keluar.
"Hari ini kau lembur! Jadi jangan coba-coba bersantai!"
Suster tersebut menatap sinis Faye. Faye sebenarnya bingung, ada apa dengan dirinya kenapa banyak suster yang sinis dengannya. Apalagi suster berambut caramel yang ada di depannya sekarang. Padahal, Faye tak pernah mencari masalah dengan para suster.
"Ada dokter baru dan kau jangan coba-coba merayunya!" ucap Nora.
Suster tersebut bernama Nora. Ia termasuk suster senior di rumah sakit ini.
"Maaf, saya tidak pernah ada niatan merayu siapapun disini!"
"Jangan munafik, kau yang selalu mendekati perawat sekaligus dokter di rumah sakit ini!"
"Jangan asal menuduh! Mereka murni mendekatiku, dan aku juga tidak pernah meresponnya," ucap Faye lalu pergi meninggalkan Nora.
Faye termasuk suster muda dan cantik. Tak heran, banyak sekali suster yang iri dengannya karena kecantikannya. Apalagi bola mata ambernya menambah daya tariknya. Beberapa karyawan, perawat, bahkan ada dokter muda yang terang-terangan mendekati Faye. Namun, Faye tidak pernah meresponnya.
Dengan wajah dongkolnya Faye melangkahkan kakinya menuju ke toilet. Sampai kemudian tiba-tiba ia menabrak seseorang karena ngomel-ngomel tidak jelas dan tidak fokus berjalan.
"Aduhh," eluh Faye sambil mengusap-usap dahinya.
Faye mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya karena seseorang yang ia tabrak adalah dokter Andre. Dokter baru spesialis bedah di rumah sakit ini.
"Mm … maaf dokter, saya tidak sengaja," ucap Faye gugup.
Andre hanya menganggukkan kepala kemudian berlalu meninggalkan Faye.
Faye menganga tak percaya dengan perlakuan Andre. Benar kata suster lain disini jika dokter Andre adalah dokter yang dingin. Terbukti tidak banyak bicara dan tersenyum.