Malam ini, mereka akan menghadiri sebuah pesta gala yang diadakan salah seorang kolega Adam. Acara ini bertujuan untuk menarik banyak orang-orang berpengaruh di penjuru New York dan beberapa negara bagian di Amerika untuk melakukan donasi besar-besaran. Semua uang yang terkumpul akan disalurkan pada kepentingan anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus seperti telantar, panti asuhan miskin, ataupun para penderita cacat fisik maupun mental. Tujuannya bagus, tapi ada sesuatu yang terselubung juga di baliknya. Selain memamerkan pakaian-pakaian terbaik dari para undangan karena nantinya acara ini akan disiarkan oleh media-media besar. Ini juga menjadi ajang para pengusaha ataupun industri hiburan untuk mencari ladang terbuka dan memperluas jaringan pekerjaan mereka.
Itulah mengapa Angelica berusaha keras untuk membuat malam ini sempurna. Para tamu yang datang menyukai sesuatu yang memukau dan tentunya menarik perhatian mata dengan kemahalan yang terlihat dari pakaian mereka. Dia sudah memesankan setelan tuksedo khusus untuk Bosnya, salah seorang perancang busana terkenal di seantero Amerika. Menghabiskan dana ribuan dollar untuk sebuah atasan, dan harga ribuan dollar lainnya untuk celana dan bagian-bagian detail lainnya. Untuk dirinya sendiri, sebagai teman tambahan sang bos, dia juga telah membeli sebuah gaun rancangan khusus dari sebuah butik ternama dari Perancis. Dipesan sangat kilat, tidak sampai dua minggu, dan gaun itu sudah siap dia kenakan di ruang gantinya.
Bukan hanya itu saja, demi menunjang penampilannya agar Adam tak malu mengikut sertakannya, Angelica telah memesan seorang penata rias artis bernama Ian. Pria itu super sibuk. Sulit untuknya memboyongnya ke New York, mengingat domisilnya di Los Angeles. Namun, uang selalu dapat menyelesaikan kasus-kasus seperti ini dengan mudah. Buktinya, kini Ian tengah berdiri di sampingnya. Mendadaninya sesuai dengan tema malam ini, glamor. Adam akan menerima tagihan besar untuk pesta ini, tapi itu semua sepadan dengan konseksi baru sekaligus lahan segar untuk perusahaannya.
“Kau sangat amat sempurna, Angelica. Cantik selayaknya bidadari, seperti namamu,” puji Ian sambil membenarkan blush on di pipi-nya. Sesekali penata riasnya itu meliriknya di cermin, tapi lebih sering perhatiannya tertuju pada wajahnya yang tengah dia permak habis-habisan. “Mata kucing milikmu ini sangat indah. Sungguh, aku tidak akan berani berbohong. Aku jadi lebih mudah memakaikan eyeliner. Bulu matamu juga lentik dan tebal, aku cukup kesulitan mencari bulu mata tambahan yang tipis demi mempertegas penampilanmu. Oh, jangan tanya mengenai bibirmu, Sayang, aku pastikan pria-pria akan menelan ludah mereka karena ini menciummu habis-habisan,” pujinya yang berhasil mengundah tawa Angelica. Meskipun tahu bahwa segala pujian yang Ian berikan hanyalah omong kosong, karena dia merasa biasa saja, tapi dia tetap senang dengan kata-kata yang pria gemulai ini utarakan.
“Trims, tapi aku hanya butuh satu pria yang ingin menciumku habis-habisan, Ian,” aku Angelica. Hanya ada satu pria yang ingin dia taklukan, bukan hanya raganya, tapi juga hatinya, dan itu adalah Adam.
“Ah, Mr Valentini pasti akan tergila-gila padamu. Kau yakin akan menggerai rambutmu?” tanya Ian memastikan sembari membelai lembut rambutnya.
“Ya, Adam menyukai rambutku yang seperti ini.” Angelica tersenyum. “Kalau kita sudah selesai, aku akan ke ruang ganti dan mengenakan gaunku.”
“Baiklah. Tapi aku harus memastikan sekali lagi riasanamu.” Ian segera berdiri menghalangi cermin di depan Angelica. Mata pria itu menatapnya dengan cermat. Hingga senyum puas dia pamerkan, maka itu tandanya tugasnya selesai. “Sempurna. Segeralah bersiap-siap.”
Angelica bergegas beranjak dari ruang rias menuju ke ruang ganti miliknya. Beberapa deret gaun baru berdampingan dengan pakaian-pakaian kerja Adam. Mereka terlihat seperti pasangan normal lainnya, berbagi tempat untuk segala hal termasuk lemari baju. Sayangnya, ini baru terjadi pasca kepulangan mereka dari Seattle beberapa hari lalu. Aku merindukan Seattle, desah Angelica saat memori manis di kota itu berpuar kembali di kepalanya.
Buru-buru dia mengenyahkan pikiran tersebut. Bergegas dilepaskannya jubah satinnya lalu berjalan telanjang menuju ke penyimpanan pakaian dalam miliknya. Celana dalam mini berbahan satin berenda dengan aneka warna tertata apik di sana. Kebanyakan warna gelap karena dia tak suka tampil mencolok. Namun saat ini, dia memilih warna merah menyala, menyesuaikan dengan gaun yang dia kenakan. Tak ada bra. Kemudian, dia beralih pada gaunnya yang sama merahnya dengan dalamanannya. Belahan dadanya cukup rendah, tapi membungkus payudaranya dengan indah. Sementara bagian belakang, dia sengaja memamerkan punggung telanjang mulus yang selalu disukai oleh Adam.
Baru saja dia mengenakan gaun-nya, tiba-tiba seseorang menyergapnya dari belakang. Aroma parfum yang sangat Angelica kenal berhasil menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Sambil berbalik menghadap bosnya, dia mendongak. “Adam.”
“Butuh bantuan?” tanyanya. Suaranya terdengar serak. Melihat sorot mata Adam, Angelica tahu bahwa pria ini sangat b*******h terhadapnya.
“Tentu,” jawab Angelica sambil terkekeh pelan. “Tapi untuk menarik reseletingku ke atas. Memastikan pakaian ini menempel di tubuhku, bukan sebaliknya.”
“Oh, sial, aku sedang berpikir hal sebaliknya.” Adam tergelak. Meskipun begitu, dia tetap meraih belahan pantatnya. Merabanya dengan s*****l untuk mencari reseleting di sana. Kemudian menarik benda itu hingga terpasang dengan baik. “Selesai.”
Sesaat Angelica menatap lekat Adam. Memindai setiap detail bosnya malam ini. Penampilan Adam tanpa celah. Rambutnya digel rapi, tapi tidak seklimis saat bekerja. Tuksedo tiga lapis berwarna merah yang persis dengan miliknya. Kemeja hitam dengan sebuah dasi warna hitam bermotif abstrak. Parfum wood yang Angelica sukai menguar dari tubuh pria itu, menjadikannya dia semakin tergila-gila dengan bosnya ini.
“Tampan,” bisik Angelica seraya membenarkan letak dasi Adam yang sedikit miring.
“Kau juga sangat amat cantik Angelica,” balas Adam dengan pujian juga.
Tiba-tiba mereka kembali terdiam. Menatap lekat satu sama lain. Tiba-tiba Angelica mendesah panjang saat menyadari malam ini akan sangat sulit memiliki Adam untuk dirinya sendiri, kecuali setelah pesta ini berakhir. “Aku merindukan kita di Seattle,” aku Angelica pada akhirnya. “Kau merindukannya?”
“Ya.” Adam mengangguk lambat-lambat. “Di sana tak banyak tanggung jawab yang kubawa. Kau juga terlihat sangat polos, bukan wanita menggoda seperti ini.”
“Kau tak menyukai penampilanku?” Angelica langsung berubah muram. Riasan berjam-jam ini akan sia-sia jika Adam membencinya.
“Aku sangat amat menyukai penampilanmu, Sayang.” Adam menenggelamkan jemarinya ke dalam rambut-rambut Angelica. “Penampilanmu di Seattle sangat sederhana. Aku merasa ingin menggandengmu sambil menciummu sepanjang jalan yang kita lalui. Sedangkan saat ini, melihatmu semenajubkan ini, aku hanya ingin mendorongmu ke ranjang dan membatalkan pesta kita. Sayangnya, kita harus pergi. Aku tak boleh melewatkan kesempatan emasku untuk keberlangsungan perusahaanku.”
Angelica mengangguk mengerti. Sejak mengetahui persaingan abadi yang Adam miliki dengan sang Kakak, Angelica memahami kenapa bosnya itu sangat terobsesi mengenai pekerjaannya dan memperluas jangkauan Valentini Group.
“Tapi, satu ciuman sebelum kita berangkat bukan dosa kan, Sayang?”
“Cium aku kalau begitu. Sekarang!”
Keduanya lagi-lagi tergelak sesaat. Sebelum akhirnya Adam membungkan tawanya dengan ciuman panas pria itu. Kedua lututnya sampai lemas dengan cara pria itu membuainya. Hingga Adam memaksa diri untuk melepaskan tautan mereka. Dengan suara serak, dia mengembalikan mereka ke dunia nyata. Keduanya harus berangkat sekarang sebelum terlambat.
***
Semakin malam, rasa muak menguasainya. Acara gala belum juga dimulai, masih ada sekitar setengah jam lagi, tapi Angelica ingin pulang saja. Kemudian, menghabiskan malam dengan tidur lelap untuk mengembalikan suasana hatinya yang memburuk.
Angelica tak mempermasalahkan bosnya itu menggiringnya ke satu kelompok ke kelompok lain dan membahas mengenai pekerjaan. Menyombongkan kemampuan satu sama lain dalam hal bisnis. Itu bagus, Adam juga mampu menang dalam hal arogansi karena pria itu memang pantas congkak dengan segala pencapaiannya. Angelica hanya merasa sangat marah karena Adam memperkenalkannya sebaga sekretaris cantik yang memiliki waktu luang malam ini, jadi dapat menemani sang bos ke pesta ini. Oh, karena kebetulan sekali CEO Valentini Group sedang tak memiliki kekasih. Sialan seluruh pekerjaan sekretaris ini dan terkutuklah Adam! Maki Angelica dalam hati. Sekarang dia merasa tak terlalu cantik, apalagi pantas untuk menjadi kekasih seorang Adam Valentini.
Pelayan yang membawa minuman campuran Gin dan Tonik lewat di depannya. Refleks, Angelica mengambil salah satu gelas. Menghirupnya dalam satu tenggak. Dan hal itu berhasil menarik perhatian Adam. Karena pria itu tiba-tiba berhenti berbicara kepada tamu lain untuk berbisik di telinganya. “Kau baik-baik saja, Angelica?”
“Oh, ya, sekretarismu hanya sedang kehausan,” jawabnya sarkastik. Matanya segera jelalatan di sekitaran ballroom untuk mencari toilet wanita. Lebih baik dia menyingkir sejenak sebelum mulai meledak dan mengharapkan lebih dari sekadar sekretaris yang merangkap menjadi wanita simpanan bosnya. “Aku harus ke kamar mandi.”
Tanpa menunggu respons Adam, Angelica bergegas melepaskan diri dari bosnya itu. Langkahnya sedikit goyah saat berjalan menuju ke toilet wanita di kejauahan. Sekali lagi dia memindai seluruh ruangan, sampai akhirnya sebuah balkon menarik minatnya. Tempat itu jauh lebih sepi dan sedikit suasana luar ruangan akan sangat cocok untuknya mengambil banyak napas untuk menenangkan diri. Setengah jam cukup baginya menetralisir perasaan kacau yang Adam buat malam ini.
Segera saja Angelica berbelok ke arah yang berbeda. Berjalan terburu ke ujung ruangan. Saat mendapati hamparan taman luas dengan pepohonan tinggi di depannya, dia merasa mampu menghirup oksigen dengan benar. Di dalam terlalu sesak dengan manusia dan sikap Adam menjengkelkan. Jika dia memiliki mesin waktu, Angelica ingin kembali ke tiga hari terbaik di Seattle. Bosnya lebih memiliki pembawaan yang menyenangkan daripada Adam versi pesta ini.
“Angelica?”
Seketika tubuh Angelica menegang mendengar panggilan tersebut. Suara itu sangat familier di telinganya, tapi bukan Adam. Langkah kaki yang mendekat dan aroma yang sangat akrab di hidungnya ini langsung membentuk satu sosok di kepalanya. Seseorang yang mati-matian dia hindari seminggu terakhir.
Belum sempat Angelica bereaksi, lengannya sudah ditarik keras. Memaksanya untuk memutar badan dan menghadapi sosok yang dia takuti. “Kau di sini, Angelica?” tanyanya seraya melepaskan cekalannya.
“Ya.” Angelica menelan ludah banyak-banyak. Ini sangat membuatnya panik. “Kau juga di sini.”
Pria itu tergelak sesaat. Sambil memasukan kedua tangannya di saku celana biru tuanya, dia menatap lekat Angelica. “Tentu aku di sini, Sayang. Aku diundang, jadi sepatutnya aku hadir. Hanya saja aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.”
“Oh, tidak.” Angelica meringis. Merasa sudah tertangkap dalam jebakan yang tidak dia sadari. “Bagaimana bisa kau diundang ke sini? Demi Tuhan! Ini jauh dari Los Angeles. Lima jam perjalanan dengan pesawat pribadimu!”
“Ya, sangat amat jauh.” Pria itu mendesah panjang. Tiba-tiba salah satu tangannya keluar dari saku kemudian kembali menyentuh lengan Angelica. “Membuatku benci karena membiarkanmu berkeliaran di tempat ini, seorang diri.”
“Armour, tolonglah,” suara Angelica mulai terdengar putus asa. Mati-matian dia mencoba melarikan diri dari sang kakak, tapi dengan mudahnya dia ditemukan. Undangan ke pesta ini bisa dibeli dengan harga ribuan dollar dan Armour sanggup membayarnya. Namun, bukan berarti kakaknya itu berhak memasuki area pribadinya. “Ini belum setahun, sesuai janjimu. Aku belum ingin pulang. Ayolah, Armour, jangan bertindak nekat hingga membeli undangan ke tempat ini.”
“Kau bercanda kan adik kecil?” omel Armour. Meski begitu, kakaknya itu tidak bisa menutupi sorot geli di matanya. “Kau pikir aku berbohong saat berkata bahwa aku diundang? Aku tidak membeli undangan acara ini, tidak, Sayangku. Aku mendapatkannya karena aku orang penting dan kurasa kau tau alasannya.”
Sejenak Angelica melirik para hadirin di balik punggung lebar sang kakak. Banyak undangan yang wajahnya sangat dia kenal berkeliaran. Bukan sosok yang pernah dia temui secara pribadi, hanya orang-orang asing yang dia pernah lihat dalam layar lebar film atau layar kaca di televisi. Sontak, dia meruntuki kebodohannya sendiri.
“Aku tidak menyadarinya,” aku Angelica.
“Banyak hal yang tidak kau sadari dalam hidup termasuk keputusan bodohmu ini,” ucap Armour. Ekspresinya mulai kaku. “Angelica, aku ingin kau pulang. Secepatnya. Tapi, mengingat sifat keras kepala yang kita miliki, kau pasti akan bersikeras untuk tinggal. Jadi, aku tak akan membawamu kabur, kecuali kau punya alasan pulang sebelum tenggat waktu.”
“Sayangnya kakakku, saat ini aku tak ada alasan untuk pulang sebelum satu tahun,” balas Angelica bebal. Hubungannya dengan Adam semakin harmonis setelah kepulang keduanya dari Seattle. Meskipun malam ini pria itu bersikap sangat b******k sekali, tapi setelah kembali ke penthouse, dia dan Adam akan kembali saling membutuhkan satu sama lain. Dan selama hubungan ini masih berjalan dengan sangat baik, dia akan mempertahankannya hingga akhir.
“Kota ini jahat, Angelica. Hari ini kau mungkin merasa sangat berbahagia, tapi besok, kau bisa saja tak memiliki alasan untuk kembali tersenyum,” peringatan Armour berhasil membuatnya memelototi sang kakak. “Aku tidak mendoakan sesuatu hal buruk menimpamu, Sayang, aku hanya berkata yang sejujurnya. Dan jika apa yang kukatakan menjadi kenyataan, kau tau siapa yang wajib kau telepon, AKU! Karena aku, kakak yang sangat menyayangimu, dan tak akan pernah menyakitimu secara sengaja, Angelica.”
Angelica mendesah panjang. Sangat membenarkan kata-kata Armour bahwa di balik sikap protektif berlebihan pria itu, dia adalah kakak terbaik. “Aku tau bahwa kau akan selalu mengusahakan kebahagiaanku, Kak.”
“Satu hal juga yang harus kau ketahui, Angelica. Ketika aku mendatangi apartemenmu pagi itu atau memaksamu masuk ke mobil di pinggir jalan selepas makan siang, aku tak ada niat untuk menculikmu pulang, bukan.” Tiba-tiba suara Armour berubah serak. Tangannya merentang lebar lalu merengkuh tubuh mungil Angelica ke dalam badan besar dan berotot milik kakaknya ini. “Aku hanya merindukan adik kecilku, Angelica. Aku merindukanmu, Sayang.”
Dengan sendirinya, Angelica membalas pelukan Armour penuh sayang. “Aku juga merindukanmu, Kak. Sangat.”
Sayangnya, pelukan itu terpaksa harus dihentikan. Segera. Karena tiba-tiba saja matanya menangkap sosok Adam yang tengah berjalan mendekati area balkon dengan langkah tegasnya. Hingga mata keduanya beradu pandang di udara. Kepanikan langsung menyelubunginya. Sial, Angelica ketahuan!
***