#14 - Party Is Over

1875 Kata
Sesaat Adam kebingungan. Dia celingukan mencari-cari seseorang yang seharusnya menemaninya sepanjang malam. Sayangnya, terlalu penuh orang di sini. Wajah-wajah yang nyaris tak dia kenali. Mungkin beberapa pernah dia ajak mengobrol, tapi hanya sekadar itu tanpa mengingat nama dengan benar. Dia seperti tenggelam dalam keasingan sambil berharap menemukan teman wanitanya. Padahal sudah terbiasa menghadiri pesta-pesta semacam ini sendirian. Namun malam ini, berkat kehadiran Angelica dan malam-malam menajubkan mereka, Adam benci kesedirian. Bergegas dia menuju area toilet yang berada di sudut terjauh ballroom. Adam berhenti sejenak sambil mengawasi ruangan itu dari kejauhan. Bolak-balik ditemukan wanita memasukinya, tapi Angelica bukan salah satu di antaranya. Hingga matanya menangkap sesuatu yang menarik di sisi lain tempatnya berdiri. Sebuah balkon yang memiliki akses taman terbuka. Tampak lebih sepi daripada di sekitarannya. Firasatnya mengatakan bahwa sekretarisnya itu berada di sana. Mungkin mengambil udara segar atau mugkin itu hanya alasannya untuk mencari oksigen. Kembali dia berjalan, kali ini dengan mantap menuju ke bagian paling sepi di sekitar sini. Sebuah pemandangan sepasang kekasih tengah berpelukan erat. Tanpa sadar matanya menyipit untuk mencari tahu siapa mereka, sayangnya, jarak yang terlalu jauh menyulitkannya pandangannya. Melihat adegan di sebrang sana, keinginannya untuk memeluk Angelica semakin besar. Terlebih menuntaskan apa yang mereka terpaksa lewati dalam ruang ganti beberapa saat lalu. “Adam Valentini!” panggilan seseorang berhasil menghentikan langkahnya. Refleks, dia berbalik. Bibir Adam langsung terkantup rapat saat menemukan Philip Xander, salah seorang kolega kerjanya. Keduanya lebih sering terhubung melalui video konferensi untuk membahas seputar bisnis. Dan inilah ketiga kalinya dia bertemu dengan Philip secara langsung, setelah terakhir mereka berjumpa di Seattle bersama Angelica beberapa hari yang lalu. Malam ini, rekannya ini tampak biasa saja di matanya. Pria itu selalu terlihat menajubkan dalam setiap konferensi, mengingat itu kesan yang ingin ditunjukan Philip pada semua orang. Sayangnya, di sini ada orang-orang yang lebih hebat daripada pria itu dan membuat mereka sepadan. Sama-sama pengusaha sukses yang saling bekerja sama dan berpapasan dalam gala. Dan sejujurnya, Adam tak terlalu menyukai pertemuan ini. “Philip Xander,” balas Adam seraya mengulurkan tangan. Meskipun begitu, dia tak mungkin menunjukan kemalasannya beramah tamah pada Philip. Hubungan bisnis mereka harus berjalan langgeng sampai tujuannya tercapai. Tak lama, pria angkuh itu pun membalas jabat tangannya. “Sendirian saja?” tanyanya berbasa-basi. “Tentu tidak, bagaimana mungkin?” cemooh Philip seraya mengibas tangan. Disesapnya singkat Margarita di tangannya sebelum akhirnya kembali berbicara. “Aku bersama kekasihku dan dia sedang ke toilet.” Kata toilet berhasil mengembalikan tujuan Adam untuk menemukan Angelica. Sepertinya basa-basi bodoh ini harus berakhir. Hanya saja saat dia hendak mengundurkan diri, tiba-tiba Philip memecahkan keheningan mereka. “Itu kekasihku dan lihatlah siapa yang mengikutinya? Bukankah itu sekretarismu, Valentini? Tak punya kekasih hingga menyeret bawahanmu untuk menemanimu?” Adam menahan diri untuk tidak membalas ucapan Philip. Belum, karena dia menunggu Angelica bersamanya. Dia memutar badan. Matanya langsung mengunci mata amber milik sekretarisnya itu. Dan sebuah senyum tipis tersungging. Kecantikan wanita itu selalu berhasil menyihirnya. “Angelica.” “Adam,” balasnya sembari tersenyum sopan. Perhatiannya langsung teralih pada Philip. “Mr Xander.” Sebelum Philip mencoba berbicara, Adam langsung mendahului. Dengan segera dia melingkarkan tangan pada pinggul Angelica. Menatap bergantian pasangan di sebrangnya. “Angelica bukan hanya sekadar sekretarisku, Philip.” Adam menoleh untuk menatap pasangannya. “Dia kekasihku juga.” “Oh, aku tak mengetahuinya. Pantas saja kalian terlihat… dekat.” Philip berbisik pada wanita di sebelahnya lalu memberi anggukan singkat. “Selamat bersenang-senang Valentini, kami harus kembali ke kursi.” Sama halnya dengan rekan bisnisnya, Adam bergegas menggiring Angelica menuju ke meja mereka. Keduanya duduk bersisian dalam barisan ketiga di dekat panggung. Acara akan di mulai sepuluh menit lagi dan hampir setiap kursi yang tersedia penuh oleh para undangan. Sambil membunuh waktu, dia meraih tangan Angelica untuk dia bawa ke bibirnya. Mencium lama punggung tangannya. “Adam,” bisik Angelica. Sedikit kencang dia menarik diri, terlihat enggan. “Banyak orang di sini. Nanti akan ada gosip buruk mengenai seorang bos yang mencium tangan sekretarisnya dengan mesra. Tidak baik untuk reputasimu, Mr Valentini.” Kening Adam langsung mengernyit ketika mendengar alasan tersebut. Masalahnya saat dia hendak bertanya ada yang salah pada Angelica, pembawa acara telah naik ke panggung. Acara gala ini sudah di mulai. Menyulitkannya untuk mencari tahu kebenaran. Dan ketika menemukan Angelica semakin gusar di kursinya, Adam semakin frustrasi dan penasaran. Dia heran, kenapa sang sekretaris jauh lebih banyak menyimpan rahasia daripada dirinya. w*************a itu menjelma menjadi wanita misterius sekarang. Hebat sekali! *** Dentingan lift yang berkumandang berhasil menyentak Angelica. Tak lama kemudian, pintu di depannya terbuka lebar. Sebuah penthouse besar gaya khas bujangan itu langsung menjadi pemandangan utama. Tempat ini terasa seperti rumah, sayangnya tidak bisa dia disebut seperti itu. Sepanjang malam ini, kenyataan seperti mengingatkannya akan posisinya dalam hidup Adam. Hanya sekretaris. Dan itu berhasil menghancurkan suasana hatinya. Bahkan pertemuannya dengan kakaknya seolah gagal mengembalikan mood-nya. “Angelica.” Perlahan Angelica mendongak. Adam tengah menatapnya lekat dengan sorot mata bertanya. Pria itu sejak tadi berdiri di sudut lift, mencoba menghindari sentuhan mereka. Bahkan, bosnya itu juga mendadak bungkam dan membiarkan keheningan menyelimuti bermenit-menit menyebalkan yang mereka lalui. Tiba-tiba saja Adam meraih tangannya kemudian ditarik keras hingga Angelica keluar kotak alumunium itu. Begitu pintu lift kembali tertutup di belakangnya, Adam langsung mendorongnya lembut ke salah satu sisi dinding terdekat. Angelica yang tidak siap sontak terkesiap. Terkejut bukan main. “Adam!” pekiknya. Bosnya itu segera meraih dagunya. Mengangkat kepalanya agar kedua mata mereka dapat beradu di udara. “Sesuatu menganggumu sejak tadi, Angelica. Benarkan?” Angelica mendesah panjang. Mereka memang sudah mengenal sebagai atasan dan bawahan dua bulan. Tapi baru berhubungan badan selama dua minggu terakhir. Namun, rasanya Adam seperti mengenalnya sangat lama. Pria itu mampu membaca pikirannya. Meskipun tak secara harfiah, bosnya hanya memahami kegundahan yang dia rasakan. Andai saja hubungan mereka lebih baik daripada ini, mungkin Angelica akan menggoda pria ini habis-habisan. Mengatakan bahwa Adam jatuh cinta padanya sampai menyadari keanehan dari dirinya. Sayangnya, gagasan itu tidak mungkin terjadi. “Hanya kelelahan, Adam,” dustanya. Padahal kantuk belum juga menghinggapinya. Matanya sangat terang. “Biasanya aku melamun jika lelah.” “Benarkah?” Mendengar perubahan intonasi Adam, Angelica seperti mendapatkan sinyal. Saat nada suara pria itu berubah rendah kemudian sorot matanya menatapnya sangat lekat seperti ini, mereka tahu apa yang bosnya inginkan darinya. “Benarkah kau lelah?” “Tidak juga.” Kali ini Angelica sangat jujur. Sekalipun hubungan mereka palsu, tapi hasrat keduanya adalah kebenaran yang sulit ditutupi. “Mendadak aku sangat bersemangat saat menemukan bosku menginginkanku.” Adam tergelak singkat. Tangannya merambat dari bahu telanjangnya lalu naik ke atas hingga berhenti di sekitaran pipinya. Senyum keduanya tersungging. Segera saja bosnya itu membungkam bibir mereka. Sisa-sisa rasa sampanye yang tadi Adam minum terasa dari mulutnya. Dia bertanya-tanya,  mana yang paling memabukan alkohol ini atau sang bos. Sialnya, suara dering ponsel serta getaran dari badan Adam terpaksa menghentikan kegiatan mereka sejenak. Dengan anggukan kepala, Angelica menyuruh bosnya itu mengangkat telepon. Ini sudah tengah malam di New York, jadi bisa dipastikan panggilan ini sangat penting. Sambil merogok saku celananya, Adam berjalan beberapa meter jauhnya. Pria itu masih mengawasi Angelica dengan mata setajam elangnya. Seperti ini saja bara dalam diri wanita itu menggelora dan sangat siap untuk dilepaskan. Untungnya panggilan cepat berakhir, tapi ekspresi kaku yang Adam tunjukan terlihat seperti mimpi buruk lain akan menghampirinya. “Ada apa?” tanya Angelica seraya mengikis jarak. “Papà memintaku kembali ke Roma.” Dia menghela napas panjang. Bencana benar-benar datang, maki Angelica. Sekarang ekspresinya juga ikut dingin seperti sang bos. Dia bingung bagaimana harus bersikap dan suasana hatinya yang mulai naik langsung merosot jauh ke tebing dalam. “Sayang,” panggilan Adam berhasil membuatnya kembali mendongak. Pria itu menyunggingkan senyum lembut yang sekarang Angelica ketahui menjadi salah satu alasan mengapa dia jatuh cinta pada bosnya. “Ya?” “Aku bisa pulang besok pagi. Malam ini, aku lebih suka menghabiskannya bersamamu daripada sendirian dalam jet pribadiku.” Adam mencondongkan kembali wajahnya kemudian berhenti beberapa senti di depan bibir Angelica. “Kau menginginkanku juga kan, Angelica?” Langsung saja Angelica melingkarkan tangannya pada leher Adam. Tanpa suara, dia membungkam mulut bosnya itu dengan bibirnya. Seperti itulah cara dia mengatakan bahwa dia sangat b*******h akan atasannya ini dan entah sampai kapan rasa ini akan berakhir. Angelica hanya bisa berdoa bahwa semua keindahan ini berlangsung selamanya. *** Tepat saat matahari terbenam, mobil yang Adam kendarai baru saja memasuki area mansion keluarga Valentini. Dari pagar depan, rumah ini terlihat seperti kastil megah dengan warna putih kecokelatan. Mamma-nya yang sangat menyukai tanaman selalu mengupayahkan kebun rumah mereka yang berpuluh-puluh meter persegini ini terisi oleh bunga-bunga kesukaannya. Musim ini matahari. Pilihan bagus, Mamma, puji Adam. Perlahan mobil jemputannya melambat kemudian berhenti tepat di bawah tangga mansion. Diliriknya jam tangan sekilas dan menghitung waktu tempuh antara New York dan juga Roma. Tanpa sadar dia mendesah panjang, 10 jam penerbangan. Pantas saja dia merasa sangat lelah. Dia harus bergegas bertemu Papà-nya lalu menyelesaikan permasalahan yang pria enam puluhan itu miliki. Baru juga dia tinggal sebentar, bayangan Angelica mengisi kepalanya. Mengerang dengan suara seksi meminta pulang. Lama-lama Adam bisa sinting bermain bersama sekretaris penggodannya itu. Begitu pintu mobil terbuka, Adam menuruninya. Sedikit berlari dia menaiki tangga. Pintu langsung terbuka. Seorang kepala pelayan yang mengabdi di keluarga Valentini dari generasi ke generani menyambutnya. Ada senyum penuh kebapakan yang sangat hangat dalam sorot mata tua itu. “Adam,” sapanya. Refleks, Adam memeluk Carlos erat. Pria ini sudah merawatnya sejak kecil. Kadang-kadang dia lebih menganggap kepala pelayannya ini sebagai Ayah daripada Papà-nya sendiri, mengingat betapa sibuknya Papà-nya dulu. “Carlos. Kau tampak sehat.” “Tentu saja, Adam. Papà anda sudah menunggu di ruang kerjanya.” Adam mengangguk patuh. Tak ada lagi basa-basi karena setelahnya dia langsung bergerak menaiki tangga menuju lantai dua. Kemudian berbelok ke kiri menuju ruangan paling ujung. Tempat di mana ada jendela besar yang menghadap langsung ke area taman buatan Mamma. Satu-satunya hal yang membuat Adam yakin bahwa Papà-nya mencintai Mamma-nya, di balik kesibukan dan keotoriteran pria itu adalah Papà-nya selalu memperhatikan istrinya itu dari kantornya. Apalagi saat mulai musim menanam ataupun musim panen. Mata tua itu seolah terus mengikuti gerak-gerik istrinya yang ikut menua bersamanya. Kakinya berhenti di depan pintu jati bercat hitam. Diketuknya singkat sebelum akhirnya dibuka. Papà-nya terlihat memandangi hamparan luas di depannya. Ada senyum yang tercetak di sana. “Mamma-mu tau benar membuat bunga matahari itu tumbuh dengan indahnya.” Kemudian, pria itu memutar kursi menghadapnya. Kerutan semakin jelas di sekitar bawah matanya. Tampak jauh lebih tua dari yang terakhir dia temui. “Harusnya bulan ini mawar, tapi Mamma-mu bersikeras bahwa musim panas cocok untuk matahari dan wanita itu selalu benar.” “Mamma punya insting bagus,” jawab Adam lambat-lambat. Tiba-tiba saja Papà-nya menarik laci di bawah mejanya. Mengambil sesuatu seperti fail dari sana kemudian melemparnya ke depan Adam. “Apa ini, Papà?” “Di sana sudah ada data-data lengkap mengenai calon tunanganmu, Adam. Setelah perjodohan Dante tahun lalu, maka tahun ini adalah giliranmu.” Gerakan Adam seketika terhenti saat hendak meraih fail di meja. Hatinya mencelus mendengar penuturan sang Papà. Perjodohannya sudah tiba, dia tidak menyangka akan secepat ini. Itu artinya, hubungannya dengan Angelica harus berakhir detik ini juga. Anehnya, Adam merasa kesulitan memikirkan malam tanpa sekretarisnya. Bagaimana caranya melepaskan seseorang di saat dia masih sangat menginginkan wanita itu di sisinya? ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN