Kesadaran Angelica perlahan merasuki dirinya. Sontak dia meraup ujung selimut banyak-banyak untuk menutupi bagian d**a yang nyaris terekspos. Kemudian, dengan amarah dia meneriaki Armour yang mematung di ambang pintu. “KELUAR SEKARANG, ARMOUR! KELUAR!” “Kita harus berbicara, Angelica,” ucap Armour kukuh. Sambil mendelik, Angelica bersuara, “Apa kau gila? Aku tidak akan berbicara denganmu dalam keadaan telanjang. PERGI!” Dengan gerutuan panjang Armour segera berbalik. Pria itu tampak kesal hingga membanting pintu kamar sekeras mungkin. Menjadikan kusen di sekitaran pintu ikut bergetar. Angelica mendesah panjang. Frustrasi dan malu berat. Bagaimana bisa Armour muncul di sini? Apalagi kakaknya itu telah menyuruhnya ke sini seorang diri. Armour bukan pria yang tahu-tahu datang hanya untuk

