Beberapa bulan kemudian… Angelica menerawang jauh ke cakrawala. Semburat warna jingga mulai menampakan diri. Tidak terasa dia sudah duduk di tempat ini selama satu jam terakhir. Desahan panjang keluar dari mulutnya. Tangan-tangan memeluk tubuhnya sendiri. Waktu berlalu begitu cepat. Hari-hari lambat itu kini telah menjadi bulan-bulan tanpa kesan. Setiap pagi Angelica seperti dipaksa bangun. Menjalankan aktivitas biasanya hingga akhirnya kembali terlelap. Satu-satunya memori terbaik hanyalah kehamilan serta kelahiran sang buah hati dua bulan lalu. Aku merindukanmu, Adam, batinnya setiap kali bayangan Adam muncul dalam lamunan panjangnya. Bahkan, semakin hari berganti, dia semakin merindukan pria itu. Cinta itu juga ikut tumbuh seiring dengan perkembangan anak mereka dalam kandungan. Ange

