Sejak dokter Neil berkunjung hingga beberapa jam setelahnya, Armour mendadak diam seribu bahasa. Sang kakak hanya menatapnya lekat tanpa melontarkan argumen. Seperti menunggu waktu yang tempat sampai bom yang pria itu tanam siap untuk dilempar tepat ke muka Angelica. Menunggu antrian dari dalam ruang inap, akhirnya pukul empat sore jadwal kunjungan tiba. Sambil berjalan lambat dengan pakaian rumah sakit, Angelica melintasi lorong-lorong panjang nan sunyi. Dari area kamar menuju tempat praktek terlihat sekali perbedaan yang kentara. Jam besuk yang belum dibuka hingga pukul enam nanti menjadikan daerah penginapan kelas satu itu sepi. Bahkan, hanya ada Angelica dengan Armour yang mengekori sepanjang jalan. Begitu mereka berbelok menuju sisi yang berbeda, orang-orang mulai memenuhi kursi tu

