I : Yorkshire dan Berita Anak-anak yang Terbuang
Dave’s POV
Waktu itu bulan Januari ketika Yorkshire sudah diguyur hujan sejak pagi-pagi sekali. Ritme air hujan yang membentur atap York Railway Station terdengar samar beradu dengan desingan bogies kereta yang melaju di atas rel serta desas-desus orang di sekitarku.
Kebanyakan dari mereka tampak kuyup sementara itu, sisanya sedang kedinginan.
Aku mengedarkan pandangan untuk menemukan kumpulan orang asing di sekitarku. Mereka berdiri tidak jauh dari peron dan sebagian menyebar ke sisi selatan bangunan. Mereka asing dan negeri ini juga terasa asing. Terhitung sudah genap satu minggu aku berada di Yorkshire, sebuah region di bagian Inggris Utara.
Aku mengalihkan pandangan guna melirik perpetual calendar pada alroji, tinggal tersisa empat belas hari lagi dan tugasku sebagai dosen tamu akan selesai. Artinya, aku hanya perlu pergi ke Stasiun Yorkshire dan turun di Edinburgh Waverley sebanyak empat belas kali lagi sebelum pulang ke Indonesia, tempat di mana rumahku berada.
Sebagai dosen Ilmu Hukum, aku sudah beberapa kali melakukan perjalanan kerja seperti ini. Yorkshire tentu saja bukan negeri terjauh dan satu-satunya bagiku. Apabila hitunganku tidak keliru, maka California menjadi tempat paling jauh yang pernah aku kunjungi.
Sekitar dua puluh menit menunggu, kereta yang kutunggu akhirnya tiba. Orang-orang dengan cepat melangkah meninggalkan peron dan berebut masuk ke dalam badan London North Eastern Railway. Orang-orang bergerak dengan cepat dan sibuk, agaknya adegan ini mirip seperti rutinitas yang sering kulakukan di Bandung. Di mana orang-orang akan berusaha masuk secepat mungkin ke dalam badan Damri untuk kemudian sama-sama fokus pada perjalan mereka.
Tidak ada yang berbeda dari aktivitas yang dijalankan oleh orang dewasa, pikirku.
Setelah menemukan tempat dudukku, aku berniat untuk meletakkan shoulder bag di atas kabin jika saja sesuatu tidak mengganjal. Dengan sedikit penasaran, aku kembali menarik tas dan melirik isi kabin. Sesuatu yang mirip buku tampak rebah di dalam sana, ukurannya mungkin tidak lebih besar serta tidak lebih tebal daripada buku Hukum Acara Perdata.
Hanya saja, karena posisinya yang menjorok ke luar menyebabkan tasku kesulitan masuk.
Suara dari announcer yang mengatakan bahwa kereta akan segera melaju membuatku secara sontak menarik keluar buku tersebut dan mengisi ruang kosong kabin dengan tas.
Setelah duduk, baru kemudian lamat-lamat aku mulai mengamati buku di tanganku. Warnanya merah dengan satu gambar kupu-kupu origami berwarna kuning.
Tebalnya mungkin hanya sekitar 200 halaman atau bahkan kurang. Tertulis Kumpulan Cerita Pendek: Berita Anak-anak yang Terbuang pada sampul buku. Agak ke bawah aku menemukan nama Laksita Purnama yang dinyatakan sebagai penulis.
Sebuah kebetulan yang mungkin baik di mana aku menemukan kumpulan cerpen yang tampaknya ditulis oleh orang Indonesia dan dalam berbahasa Indonesia di negeri yang asing ini.
Karena aku merasa sisa perjalananku pagi itu masih lama, jadi kuputuskan untuk membuka lembar pertama buku tersebut. Dari yang mampu kulihat buku ini tampaknya sudah lama disimpan oleh seseorang. Hal tersebut tampak jelas dari kertasnya yang mulai menguning akibat proses oksidasi. Yang menarik perhatianku adalah aroma bibliosmia yang dihasilkan oleh kumpulan kertas tua ini.
Untuk satu alasan yang konyol, buku tanpa pemilik ini mengingatkanku pada kumpulan kenangan masa laluku. Waktu itu sastra dan buku masih menjadi bagian yang melekat pada diriku. Waktu itu, aroma buku tua seperti ini juga menjadi sesuatu yang kusuka.
2011, Jatinangor
Ditulis saat pintu utara penuh sesak oleh manusia dengan sepatu
Ibuku (Bukan) Seorang Pembohong, Ia Hanya Tak Punya Mata
Namanya Hercules. Dia bukan dewa, cuma manusia biasa. Kata Ibu, nama tersebut diberikan karena ibunya menyukai mitologi Yunani. Hercules tidak punya teman.
Ibu bilang dia juga tidak mau berteman dengan Hercules. Katanya, Hercules memiliki tampang yang tidak rupawan. Ibunya sendiri mengatakan itu. Jadi, Hercules yang kesepian selalu menciptakan teman khayalannya sendiri.
Dengan uang receh yang ia simpan di kantung celana, Hercules membeli sebungkus kertas origami. Kertas itu mungkin ada dua puluh atau mungkin tiga puluh. Hercules belum pandai menghitung waktu itu. Tapi, itu bukan masalah.
Dengan kertas-kertas tersebut, Hercules menciptakan dunianya sendiri. Ia membuat burung, kelinci, beruang, lebah, kepiting, dan kupu-kupu. Mereka semua terbuat dari kertas dan lebih banyak membisu.
Satu-satu Hercules beri mereka nama. Siapa tahu kalau diberi nama akan hidup sepertinya, begitu pikir Hercules. Tapi, setelah memberikan nama terakhir pada kupu-kupu kertas, tak satu pun dari keenam temannya yang bisa berbicara dan bergerak.
Jadi apa gunanya nama?
Aku mengerutkan kening begitu menuntaskan lembar pertama. Buku ini tampaknya memiliki alur yang berbeda dari dugaan awalku. Sebetulnya apa yang ingin disampaikan oleh penulis dari cerita yang mengawang ini? Aku mulai menebak.
Kenyataanya aku sudah sangat lama berhenti membanca karya fiksi seperti ini. Banyak hal yang sudah aku lupakan dari tulisan semacam ini.
“Ibu, apa gunanya nama itu?” Hercules bertanya pada ibunya yang menutup mata. Sang ibu sudah benar-benar muak melihat wajah anak laki-lakinya sendiri.
“Untuk diberi pada bayi yang baru lahir agar dia bisa jadi manusia.”
“Apakah semua bayi bisa jadi manusia?”
“Tentu.”
Hercules tahu Ibu tidak menyukainya sebagaimana Hercules yang juga tidak menyukai dirinya sendiri. Hanya saja, Hercules tahu kalau ibunya bukan sosok pembohong.
Oleh karena itu, ibunya mungkin tidak berbohong kali ini. Hercules mungkin harus menunggu.
Hanya saja, berapa lama? Sampai kapan kegiatan menunggu akan selesai? Tidak tahu, ia belum bisa menghitung waktu itu.
Akan tetapi, Hercules memilih untuk membuat janji pada dirinya agar tetap menunggu. Jadi, anak laki-laki yang tidak punya teman itu terus menunggu. Dirinya menunggu semua teman kertasnya dapat berbicara. Hercules menunggu di ambang pintu. Hampir setiap malam ia juga berdoa agar temannya cepat bicara, tak perlu semua. Cukup satu, pikirnya.
Mungkin pada malam keseribu, Hercules bertanya pada Ibunya yang sudah tidak memiliki bola mata lagi. Perempuan itu bilang sudah tidak sanggup menatap Hercules. Jadi dengan pisau dan sendok, perempuan itu mencukil matanya sendiri agar ia tidak menemukan Hercules dalam pandangannya.
“Apakah aku akan punya teman?”
Kala itu ibunya tidak langsung menjawab. Perempuan ini sedang berpikir, entah apa sebab Hercules tidak memiliki kemampuan untuk membaca pikiran ibunya.
“Kau ingin punya teman?”
“Ya,” jawab Hercules tanpa ragu.
“Untuk apa?”
“Agar aku tidak sendirian.”
“Apakah setiap hari kau selalu merasa sendirian paahal aku selalu berada di sisimu? Hanya karena aku enggan melihatmu, apakah artinya kau hidup sendirian?”
Hercules diam. Ia bukannya tidak memiliki jawaban. Hercules bahkan bisa mengatakan jawabannya secara lantang saat itu juga. Hanya saja, Hercules merasa bingung. Selama ini, Hercules berpikir kalau ibunya bukanlah seorang pembohong.
Namun, untuk pertama kalinya Hercules menemukan ibu yang berbohong.
Apakah ibunya seorang pembohong? Hercules tidak tahu. Bisa saja jawabannya ya, atau mungkin tidak, sebab bukan kejujuran yang tidak ibu miliki, melainkan sepasang bola mata.
Ibunya mungkin bukan seorang pembohong, ia hanya buta dan tidak tahu.
Begitu membalik kertas pada halaman berikutnya, aku menemukan cerita baru. Artinya, cerita Hercules yang tidak punya teman telah selesai tepat setelah penulis membubuhkan titik pada kata terakhir.
Karya sastra macam apa ini? Aku menutup buku dan membaliknya, di sana terdapat blurb yang kira-kira isinya begini:
Kumpulan Cerita Pendek: Berita Anak-anak yang Terbuang merupakan kumpulan coretan yang disunting oleh Penerbit Dua Pagi sebagai wujud dari perasaan berduka atas kisah anak-anak yang terbuang, dibuang, dan sengaja dihapus oleh ingatan para orangtua.
Jaket buku tersebut tidak bersifat informatif. Kumpulan cerpen seperti ini mungkin bukan tipikal karya fiksi yang dapat diterima atau diterjemahkan oleh otakku dalam sekali duduk.
Aku pikir, sosok Laksita Purnama bermaksud untuk menyampaikan sebuah kehilangan atau juga rasa marah melalui karakter Hercules.
Hercules yang terbuang ya. Aku mulai berpikir, satu hal yang bagus karena aku menemukan buku ini di tengah perjalanan panjang yang terasa dingin. Setidaknya aku bisa menghabiskan waktuku di atas kereta dengan melakukan sesuatu yang cukup menyenangkan. Namun, juga kabar buruknya, aku menginterpretasikan kisah Hercules sebagai sesuatu yang buruk.
Aku berpikir bahwa anak ini hidup seorang diri selama ini. Sosok ibu tanpa mata sebenarnya tidak pernah ada. Bisa saja itu adalah imajinasinya karena terlalu lama sendirian, ia bahkan tidak bisa menghitung. Artinya, ia tidak memiliki seseorang yang mengajarinya hal tersebut.
Ibunya Hercules mungkin saja bukan seorang pembohong, melainkan Hercules sendiri yang membohongi dirinya. Sosok Ibu yang digambarkan tidak mau menatap wajah Hercules karena anak laki-laki itu punya wajah yang tidak rupawan sebetulnya merujuk pada Hercules yang dibuang sejak dini, karena ibunya enggan melihat Hercules sejak awal untuk kemudian membuangnya pada satu tempat yang jauh.
Aku pikir akan sangat bagus jika aku bisa bertemu sosok Laksita Purnama secara langsung dan bertanya padanya mengenai pemahamanku soal Hercules dan bagaimana sesungguhnya ia menggambarkan kisah Hercules
Aku ingin tahu.
+++
Stasiun Edinburgh Waverley merupakan satu tempat padat lainnya yang aku lewati. Suasana di dalam sana ramai dan agak berisik oleh aktivitas orang-orang di sekitar. Aku melangkah secara perlahan meninggalkan peron dan berbelok menuju pintu keluar. Aku hanya perlu berjalan kaki selama enam menit sebelum sampai di kampus tempatku mengajar.
Bangunan itu memiliki arsitekstur klasik yang menawan sekaligus kokoh. Tempat ini juga memuat orang-orang hebat seperti Profesor Peter. Pria itu tua, namun ia sangat amat cerdas dan ramah.
Sebuah kehormatan karena aku bisa menjadi bagian dari aktivitas civitas kampus ini, meskipun hanya bersifat sementara.
“Good morning, Dav. Do you want some cofffee?” Sekitar lima detik setelah aku duduk pada kursiku, Professor Petter menyusul masuk.
Pria itu tampak rapi dengan balutan kemeja berwarna cokelat muda dan rambut yang disisir ke belakang.
Tampaknya pria itu juga memiliki jadwal mengajar pagi sepertiku.
Peter sendiri merupakan dosen tetap di sini. Ia sudah mengajar setidaknya dua dekade di jurusan Hukum. Ia juga merupakan teman pertamaku di sini, sosoknya sedikitnya mengingatkan aku pada sosok Papa di Indonesia sana. Keduanya sama-sama memiliki karakter hangat yang menyenangkan.
“That would be great, Professor," jawabku antusias. Seperti ritual, kami akan minum kopi bersama—jika jadwal mengajar kami berbarengan sebelum sama-sama meninggalkan cangkir yang tinggal tersisa ampas—dengan Petter yang lebih sering membuat kopi.
Peter dengan rambutnya yang berwarna keperakan itu meletakkan tasnya di samping meja kerjaku dan melangkah menuju pantry di bagian utara ruangan dosen. Tempat itu sederhana dan kecil dengan teko listrik dan satu kompor.
Apabila kalian menarik laci di bawah kabin, benda itu akan menyuguhkan beragam kaffein instan serta teh kantung.
Aroma bubuk kopi yang diseduh tidak lama tercium disusul dengan kehadiran Peter. Aku segera bangkit dan menerima segelas kopi di tangan kirinya. Rasa hangat langsung menjalar di sepanjang telapak tanganku yang kedinginan.
“Thank you, Professor. Do you have class today?”
Pria itu duduk di kursinya dan menyesap perlahan cairan kopi. “Yes. One syncronic and three asyncronic.. What a busy life.”
Aku tertawa kala menemukan mimik wajahnya yang dibuat-buat. “Good luck, then.”
“Thank you. Any way, what is that? I’ve never seen that book before. Is that yours?” Peter yang terlihat penasaran bangkit dari duduknya, hanya sebentar kemudian ia kembali duduk.
Setelah meletakkan cangkir di atas meja, aku menarik buku yang Peter maksud. Ini adalah buku yang ditulis oleh Laksita Purnama. Sebuah kumpulan cerpen yang memuat kisah Hercules yang terbuang.
“This is not mine. I found this book on the train this morning and suprisingly this book caught my atenttion since the first page.”
“Why?”
Aku membalik buku guna menemukan sederet kalimat yang digunakan sebagai blurb. “I don’t know, maybe because this is my first fictional book that I’ve read since forever? And If I’m not wrong, the writers is from Indonesia. Can you imagine how far I am from my country and here I found a book that made by one of Indonesia citizen? Kinda crazy.”
“Who is the writers?”
“Laksita Purnama,” jawabku tepat setelah Peter mengajukan pertanyaan kesekian.
“Tell me the premise then. It must be the great one.”
Aku menimang sebentar permintaan Professor Peter sebelum kemudian mengangguk dan menjelaskan semampuku, “This book has a stories about kids who being forgotten by their parents. The most interesting thing about this book is the writer made this darkest stories as … I don’t know maybe surrealism fiction?”
Kalimatku selanjutnya lebih terdengar seperti pertanyaan alih-alih penjelasan. Hanya saja, Peter terlihat memahami hal tersebut. Dengan satu tangannya ia mengusap dagunya sendiri, membuat gestur berpikir yang serius.
“Do you like that kind of book?”
“Yeah … I mean why not?”
“When the last time you read fictional book?"
Oh, itu sudah sangat amat lama. Hanya saja, aku dapat mengingat waktunya dengan jelas. Waktu itu aku baru lulus Sekolah Menengah Pertama. Aku ingat, hasil ujianku termasuk paling baik di antara siswa lainnya. Aku bahkan mendapat pujian dari wali kelasku.
Itu sepatutnya jadi hari yang menyenangkan apabila Mama tidak menyingkirkan perpustakaan kecilku. Katanya, aku harus berhenti membaca buku fiksi dan mulai memikirkan masa depan agar aku tidak menjadi orang-orang yang menyesal.
Selama belasan tahun, aku selalu berpikir, apakah sekarang aku tidak menyesal?
“Fifteen years ago. Why?”
“Then it’s destiny. To me it’s hard to understand surrealism thing such as art or fictional book and here you are, fallen love to a book that has dark story and made by Indonesia citizen and the major fact is this is the first book that you read after fifteen years old. What a magic, Dave.”
Aku tersenyum sopan sebagai respon atas kalimat yang meluncur dari mulut Peter. “Sounds so cheesy, Prof.”
Pria tua itu hanya mengendikan bahu tak acuh sebelum bangkit dari kursinya dan berkata, “Who knows, Dave?”
Kala itu kopi di dalam cangkirnya masih tersisa setengah saat ia membawa tasnya dan berjalan menjauh dariku. Tubuhnya yang tinggi untuk sesaat terdiam di ambang pintu ruang dosen dan dengan suara yang masih sama ia berkata, “Destiny could be so cheesy sometimes.”
Setelahnya ia benar-benar pergi mengajar.
Aku menunduk guna menemukan ampas di dasar cangkir. Kalimat Peter sepatutnya tidak menjadi sesuatu yang berarti. Pria itu bisa saja bicara seenaknya. Sayangnya, hari itu aku justru memikirkan kalimat Peter lebih banyak daripada pertanyaan salah satu mahasiswaku terkait pluralisme hukum.
Kelas pagi itu terasa lebih panjang.
+++
Pada minggu keduaku di Yorkshire, aku menyelesaikan tulisan Laksita Purnama. Di bab terakhir, ia menulis sesuatu yang masih terasa pahit, namun disampaikan dengan memberi sedikit harapan pada pembaca. Kira-kira isinya begini.
2011
Ditulis ketika bangunan utara sunyi dan sedikit lebih gelap
Layangan yang Kehilangan Benang, namun Masih Punya Awan
Pada satu musim kemarau yang terik, Ayah memberiku sebuah layangan. Warnanya merah dan kertasnya tipis. Layangan itu bisa saja sobek apabila tersangkut pada sebuah ranting kayu. Jadi, aku berjanji pada Ayah untuk menjaga layangan merah tersebut dengan hati-hati. Kubilang, layangan ini akan awet sampai musim kemarau berikutnya.
“Tapi layangan ini tidak punya benang.” Aku mengadu pada Ayah waktu itu.
Yang kutahu Ayah sangat miskin. Kami bahkan bergantian makan setiap harinya agar pasokan beras tidak cepat habis. Aku tidak masalah sih, yang penting ‘kan kami masih hidup.
Ayahku yang miskin itu merogoh saku celananya yang berlubang. Seandainya Ayah menyimpan rahasia di dalam kantung itu, sudah pasti mereka akan berserakan mengingat betapa besarnya lubang kantung yang Ayahku miliki.
“Nanti Ayah belikan benangnya ya?”
“Kapan?”
Ayahku yang miskin terlihat berpkir. Mungkin sedang memperhitungkan berapa lama lagi sampai akhirnya kami punya uang untuk beli benang layangan yang tidak seberapa itu.
“Besok bagaimana?”
“Besok lusa atau besok ketika musim hujan?”
Ayahku jarang membuat janji dan aku juga tidak terlalu percaya pada janji sih. Jadi, dapat kupastikan kalau Ayahku tidak akan membual hanya agar aku senang dan berhenti merengek seperti bayi.
“Besok.”
Hari itu Ayah tidak menjanjikan apapun.
Hanya saja, aku menunggu sepanjang waktu. Layanganku bahkan masih utuh sampai musim kemarau berikutnya. Meskipun begitu, aku tidak pernah bertanya kapan sekiranya benang layanganku akan tiba. Aku tau besok. Besok aku punya benang. Dan, kapan itu besok?
“Kenapa tidak diterbangkan saja layangannya?”
Ayahku bertanya setelah ia makan. Waktu itu aku hanya duduk di pojok ruangan.
“Belum ada benangnya.”
“Terbangkan saja ‘kan masih ada awan.”
Aku menurut. Dengan perasaan ragu-ragu aku menerbangkan layangan tanpa benang itu. Warnanya yang merah tampak mencolok di antara gumpalan awan warna putih.
Ayahku tidak pernah berjanji, tapi hari ini ia berbohong. Benangku tidak pernah sampai bahkan sampai layangan merah itu dilahap oleh awan.
Jadi, kapan sebetulnya besok itu?
Waktu itu, aku belum memiliki keinginan untuk mengartikan tulisan terakhrnya berdasarkan kacamataku sendiri. Aku mungkin akan memikirkannya nanti sembari membaca ulang beberapa bab atau apa pun itu. Hanya saja tidak sekarang, tidak ketika aku tidak tahu apakah interpretasiku salah atau justru betul.
Aku merasa butuh teman untuk melakukan diskusi.
Saat aku hendak menutup buku, aku menemukan satu deret angka tidak berurut pada halaman paling belakang. Aku memfokuskan penglihatanku sebelum kemudian mulai menebak angka-angka tersebut.
Setelah kuhitung jumlahnya ada sekitar tiga belas dengan tiga digit angka pertama yang memuat kode nomor telepon negaraku, yakni +628. Perkiraanku ini adalah nomor telepon dari sosok yang memiliki buku ini. Aku bisa saja salah, akan tetapi tidak ada salahnya mencoba.
Setidaknya aku bisa memutuskan apa yang akan aku lakukan selanjutnya dengan buku ini.
Dengan sedikit ragu, aku memutuskan untuk merogoh ponsel dan mengetik deretan angka tersebut. Pada detik berikutnya, ibu jariku sudah menekan fitur panggil dan seperti naluri, aku langsung mendekatkan ponsel pada telinga.
Tidak lama dari itu terdengar suara nada panggil yang panjang. Anehnya, aku merasa gugup sekaligus antusias. Rasanya seperti aku akan mendapatkan satu teman baru yang memiliki ketertarikan yang sama denganku apabila pemilik nomor telepon ini adalah orang yang tepat.
“Halo?” Pada dering kesekian aku dapat mendengar suara seorang perempuan di seberang sana. Sekilas latar suara di sekitarnya terdengar tidak asing bagiku.
“Ya, halo.”
“Iya. Ini siapa ya?” tanya suara di seberang sana menyadarkanku bahwa aku tidak secara langsung memperkenalkan diri serta tujuanku meneleponnya.
Karena suara di seberang sana berbicara dalam bahasa Indonesia, maka aku memilih untuk menjawab menggunakan bahasa yang sama.
“Sekitar seminggu yang lalu saya menemukan buku Kumpulan Cerita Pendek: Berita Anak-anak yang Terbuang di kabin LNER tujuan dari Stasiun Yorkshire ke Edinburgh Waverley.”
Untuk satu alasan yang belum aku ketahui sosok di seberang sana terdengar lega ketika menimpali kalimatku, "Untungnya ada. Ini kalau boleh tau, posisi Bapak sekarang ada di mana ya?”
Bapak, katanya.
Aku rasa usia kami tidak berbeda jauh, hal tersebut terdengar dari suaranya yang khas seperti Zelin—suara seorang perempuan dewasa.
“Saat ini saya sedang dalam perjalan di kabin LNER tujuan dari Stasiun Yorkshire ke Edinburgh Waverley. Mungkn kita bisa bertemu kalau posisi Anda tidak jauh, atau saya juga bisa kirim lewat pos.”
“Hah? Serius? Gerbong mana ya, Pak?”
Salah satu alisku naik, jangan bilang kalau dia juga ada di sini? Kemungkinan tersebut bisa saja terjadi mengingat aku juga menemukan bukunya di dalam kereta yang sama.
Setelah menyebut gerbongku, kami memutuskan untuk mengakhiri telepon. Katanya, sosok itu juga berada di dalam gerbong yang sama. Oleh karena itu, ia hendak menghampiriku sebagai wujud kesopanan dan rasa terima kasih.
Sekitar lima menit menunggu, seseorang menepuk pundakku dari arah samping. Ketka menengadah, aku menemukan rupa seorang perempuan dewasa dengan rambut blonde. Ia tersenyum ke arahku.
“Bapak yang barusan nelepon saya bukan ya?” Ia bertanya duluan. Suaranya mirip dengan suara yang sebelumnya aku dengar dari balik speaker ponsel.
Aku segera mengangguk. “Iya.”
Lantas meraih buku yang kusimpan di atas pangkuanku.
Perempuan itu menerimanya dengan ekspresi senang. “Makasih banget ya! Saya bener-bener sedih kemarin karena buku ini hilang. Sudah tanya sama petugas kereta juga mereka nggak lihat, katanya. Awalnya saya kira buku ini jatuh dan hilang di tempat lain. Intinya terima kasih karena sudah disimpan.”
Aksennya terdengar seperti kebanyakan orang Indonesia pada umumnya. Tidak hanya itu, apabila kuperhatikan rupa wajahnya juga mirip seperti kebanyakan perempuan Indonesia dengan sepasang iris berwarna cokelat gelap dan kulit kuning langsat. Ia terlihat cukup tinggi dalam balutan long coat serta celana jeans. Yang membuatnya agak berbeda hanyalah warna rambutnya yang terang.
“Sama-sama. Saya kebetulan juga mau minta maaf karena baru mengabari hari ini dan maaf karena baca buku kamu juga.”
Dengan satu tangannya, ia membuat gerakan mengibas sebagai jawaban bahwa ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. “Nggak apa-apa kok, Pak. Buku saya kembali aja saya udah seneng. Oh ya, katanya Bapak baca ya? Sudah baca sampai mana?”
Tanpa diduga ia bertanya. Pada awalnya kukira percakapan kami akan selesai sampai di sana. Sayangnya tidak. Tepat sebelum aku menjawab, seorang penumpang di samping kursiku menyatakan bahwa dirinya merasa terganggu akibat percakapan kami di mana perempuan itu berdiri di samping kursiku sementara aku duduk pada single seat. Sebuah pemandangan yang agaknya memang tidak boleh terjadi.
“Tujuan Bapak di Edinburgh Waverley ‘kan? Kalau Bapak nggak keberatan, kita bisa ngobrol di seat saya. Saya pesan dua seat dan satunya kosong.”
Waktu itu anehnya aku tidak menolak. Aku segera menerima tawarannya dan meraih tasku di atas kabin kereta. Dengan perlahan aku mengikuti langkahnya. Ia berjalan agak ke depan dari tempatku semula sebelum berhenti pada dua kursi kosong.
“Di sini,” katanya seolah-olah aku tidak dapat menebak alasannya berhenti berjalan.
Perempuan itu segera meraih tas yang diletakkan pada kursi bagian kiri untuk kemudian duduk pada kursi kanan—tepat di samping jendela—dengan memangku tas tadi.
“Kenapa kursinya kosong?”
Perempuan itu menatapku ketika menjawab, “Sebetulnya saya datang kemari karena urusan pekerjaan terus temen yang seharusnya pergi sama saya justru enggak bisa berangkat, padahal akomodasi dan segalanya sudah disiapkan.”
Ia memiliki jawaban yang panjang.
“Nah, jadi Bapak sudah baca buku saya sampai mana?”
Itu adalah perjalanan yang terasa singkat ketika untuk pertama kalinya aku mendiskusikan interpretasi dari buku yang k****a.
“Sebelumnya, apakah kamu bisa panggil saya dengan nama saja?”
Perempuan itu terlihat baru menyadari sesuatu. “Ah, iya. Maaf ya. Saya sering gugup setiap kali bertemu dan mengobrol dengan orang baru. Tapi, karena sudah dapet izin, boleh saya tahu nama kamu dan saya harus memanggil kamu seperti apa?"
Ia menyodorkan tangan kanannya—meminta jabat tangan sebagai wujud perkenalan diri secara formal—dan aku menjabatnya dengan hati-hati.
“Dave Kasitho. Panggil saja Dave."
Ia tersenyum dengan kepala mengangguk dua kali. Bibirnya terlihat seperti sedang merapalkan namaku satu kali. "Dave Kasitho ya."
Tidak lama dari itu ia menyebut namanya sendiri, “Laksita Purnama. Panggil aja Sita.”
Hari itu, perjalanan selama hampir seratus enam belas menit terasa bukanlah apa-apa. Aku pada hari itu juga tanpa mampu dicegah membuka kenangan lamaku soal sastra, bersama Laksita yang hidup dengan sastra.
Aku mulai menebak, sampai kapan kami akan berbincang seperti ini?
Atau, apakah ini takdir seperti yang dimaksud oleh Peter?
[]