PERGINYA ISTRIKU 13 "Tunggu!" Semua orang menoleh pada sumber suara keras di ujung pintu. Wanita tua yang menenteng banyak barang berbungkus paper bag itu mendekat dengan segera. Ia tampak kebingungan. "Ada apa ini? Kenapa rumah saya ramai sekali?" tanya wanita tua tadi. Kini, dadanya bergemuruh tak tenang. Fabian kembali menghela napas berat. Sesungguhnya ia malu menjelaskan ulang apalagi ada Pak RT dan tetangga. Seperti mencoret arang berulangkali pada kening sendiri. Meskipun bukan dia yang melakukan hal tak senonoh tadi. "Ma, ceritanya nanti dulu, ya?! Sini duduk!" Fabian menarik tangan Alma dengan pelan. Mengajaknya duduk berdampingan di sofa. "Bisa kita mulai?" tanya penghulu lagi. "Bisa, Pak," jawab Fabian. Lalu, diikuti Rasya mengangguk. Rasya mulai mendengarkan setiap uc

