Perginya istriku 14 "Kamu enggak apa-apa?" Lelaki itu dengan sejuta kasih sayangnya mengayunkan tangan ke atas pundak sang adik. "Aku masih kesal, Mas. Dia enggak berubah sama sekali. Mudah tergoda dengan yang baru." Indri menatap jauh di tengah gedung pencakar langit. Menahan luapan yang hampir saja tumpah membasahi pipi. "Sudah jangan dipikirkan! Besok adalah persidangan kamu dengan dia. Kamu harus siapkan mental dan jangan terpengaruh." Sekilas, wanita muda itu menoleh pada Ali yang memastikan keadaan sekitar. Ia mengangguk setelahnya. Rutinitas kantor membuat mereka kelelahan. Saat Indri hendak memasuki mobil Ali, seorang lelaki menekan klakson dan menghentikan kendaraan besinya di dekat mereka. "Indri biar pulang sama saya," kata Dave seraya membuka kaca mobil mewahnya. Biasanya

