"Aku akan menikah dengan Rachel," kata Arka yang baru saja masuk ke dalam kamar milik kedua orang tuanya. "Aku yakin, keputusan papi yang terbaik untuk, Rachel." lanjutnya ambigu.
Resti mengernyitkan alisnya akan penuturan anak lelakinya itu. Lalu menghampiri dan menatap manik mata abu-abu milik Arka."Kamu serius?" tanyanya, yang direspon oleh Arka dengan anggukan kepala. "Terima kasih, Bang!" peluk Resti tubuh Arka yang tingginya kini sudah melebihi Richard. "Walaupun kalian belum mencintai. Bunda yakin, suatu saat nanti kalian akan saling mencintai seiring berjalannya waktu. Bunda hanya minta sama abang, tolong jangan pernah sakiti Rachel" lanjutnya.
Dalam pelukan Resti. Arka terus memandang Rachel dengan lekat. Dia mengelus bahu Resti yang tengah memeluknya erat. Dia mengurai pelukan, menatap pada bundanya. "Ya, Bun. Aku berjanji.... sudah, bunda jangan menangis lagi." Setelah itu dia berlalu meninggalkan Resti dan Rachel di sana.
Rachel terus memperhatikan Arka sampai lelaki itu menghilang di balik pintu, berlalu keluar dari dalam kamar ke dua orang tuanya. Dia mengernyitkan kening sembari terus berpikir. Bukan kah tadi Arka mati-matian menentang keputusang Richard untuk menikah dengannya. Lalu, kenapa kini lelaki itu berubah pikiran menyetujui keputan papi nya. Dia beranjak berdiri menyusul Arka masuk ke dalam kamar lelaki itu..
"Eh, maaf." Kata Rachel membalikkan tubuhnya saat melihat arka baru saja melepas baju yang dikenakannnya, hingga menampilkan tubuh nya yang Atletis.
Arka melempar asal bajunya tepat mendarat sempurna di atas kepala, Rachel. "Kebiasaan. Kalau masuk itu biasakan ketuk pintu," omelnya sembari berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Rachel mencebikkan bibirnya, melempar kesal baju yang mengenai kepalanya tadi ke atas lantai. Tapi dia mengambil kembali baju tersebut, kemudian menghirupnya meresapi aroma tubuh Arka yang menempel pada baju itu. Sesaat dia tersadar, lalu dia menghempaskan baju tersebut ke lantai. "Dasar nggak sopan," rutuknya
Rachel duduk menunggu Arka yang tengah mandi di atas kasur milik lelaki itu. Mengelus nya sembari memejamkan mata mengingat bagaimana dulu dia sering menghabiskan waktu bersama dengan Arka sepanjang waktu. Seiring berjalannya waktu, dia menyadari jika perasaan yang tumbuh di hatinya bukan sebatas perasaan antara adik dan kakak, melainkan perasaaan sesama lawan jenis.
Perasaaan itu tumbuh semakin kuat di dalam hatinya. Hingga beberapa tahun sebelum lelaki itu memutuskan kembali ke Prancis untuk bersekolah di sana. Rachel memutuskan untuk mengutarakan perasaannya. Akan tetapi, Arka menolaknya. Karena, lelaki itu mencintai orang lain. Perasaannya dengan Rachel hanya sebatas perasaan kakak beradik tidak lebih dari itu.
Di dalam kamar mandi, Arka mengguyur seluruh tubuhnya dengan air Shower. Dia meninju dinding kamar mandi dengan kepalan tangan yang sedikit lebih kuat. Ditempelkannya kening dia pada kepalan tangan itu, yang menempel pada permukaan dinding kamar mandi tersebut. Menundukkan kepala menatap lantai keramik, mengguyar rambutnya kebelakang kemudian mengacak-acaknya. Mengingat bagaimana keputusan yang dia ambil sesaat yang lalu, bahwa dia menyetujui menikahi Rachel tanpa berpikir terlebih dahulu.
Setelah kegiatan bersih-bersihnya di rasa sudah selesai. Arka keluar dari dalam kamar mandi. Dia terkejut saat mandapati Rachel yang masih duduk di atas kasur menunggunya. "Ck" dengusnya pelan, mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, "Ngapain masih di sini?" tanyanya kemudian.
"Aku mau bicara!"
"Hemm. Bicara lah, aku mendengarkan"
"Abang nggak boleh ambil keputusan secara mendadak, abang juga nggak harus menuruti semua keputusan papi,-'
"Kalau kamu bisa menolaknya, silahkan! aku nggak masalah!" potong arka, dia masih menggosokkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil. Kemudian dia membuang handuk tersebut ke atas kasur kesembaran asal, Arka sedikit menunduk mendekatkan bibir nya pada telinga Rachel. "Apa kamu bisa menentang papi?" bisiknya dengan jarak sedekat mungkin.
"Abang harus pikirkan perasaan, Kak Niken." Rachel terus saja mengoceh, tanpa sadar kini jaraknya yang sudah sangat dekat. Di mana Rachel tengah duduk di atas kasur, dan Arka berdiri di sisinya dengan sedikit menunduk. Bahkan hembusan napas lelaki itu yang beraroma Papermint bisa tercium olehnya. "Abang nggak usah pikirkan aku. Aku baik-baik saja dan tidak masalah selama abang bahagia. Tapi pikirkan dulu keputusan apa yang akan abang pilih. Urusan papi. Tenang saja, aku yang akan menjelaskan,-"
"Sudah, abang pilih kamu. Cup!" kecup bibir Rachel yang tengah mengoceh, saat gadis itu menoleh ke samping tepat menghadap Arka. Dengan santai nya dia menghempaskan tubuhnya pada kasur di sisi Rachel.
Rachel diam membeku, tangan Rachel terulur mengelus bibirya atas kecupan, Arka. "Abang!!" teriaknya memukul d**a bidang arka yang masih bertelanjang d**a. Lengan ditarik dengan gerakan pelan, namun mampu mambuat tubuhnya berpindah tempat berada di atas lelaki itu.
Arka mengecupi seluruh wajah imut milik Rachel. Keduanya bercanda saling menggelitiki satu sama lain, hingga tertawa lebar sembari terus berguling-guling di atas kasur.
Di depan pintu kamar Arka, kini ada Resti menatap kedua anaknya dengan bola mata yang berkaca-kaca kini. Dia yakin apa yang menjadi keputusan suaminya adalah benar. Dan dia yakin bahwa kedua anaknya saling mencintai layaknya pasangan pada umumnya.
****
"Kenapa ini anak gadis bunda senyum-senyum?" goda Resti menoel hidung kecil yang lancip milik Rachel.
"Ih, bunda!" sahut Rachel malu-malu.
"Cup!" kecup pipi Resti oleh Richard, yang baru saja masuk ke dalam rumah bersama Arka yang masih tertinggal beberapa jarak dibelakangnya, setelah keduanya joging sekitar komplek perumahannya. Dia membuka mulut ingin disuapi istrinya. Satu gigitan Sandwich mendarat dalam mulutnya, mengunyahnya lalu beralih mengecup pucuk kepala mama Elsa. Yang direspon elusan pada lengan anak lelaki satu-satunya itu.
"Bersih-bersih dulu, setelahnya sarapan. Jangan lama-lama, Mas." Titah Resti mendorong tubuh suaminya "Mama mau sarapan apa?" tanyanya kemudian beralih ke mamah Elsa.
"Mama lagi kepingin Oat Milk. Sayang, boleh?" sahut mama Elsa, dengan menampilkan senyum manisnya tengah merayu menantu nya,
"Boleh dong, sesekali tak apa."
"Hemm!" Richard mencebikkan bibirnya, meledek sang mama yang tengah merayu Resti. Kemudian dia berlalu naik ke lantai atas rumahnya.
"Loh, Pih. Abang mana?" Kata Rachel setengah berteriak sembari mengedarkan pandangannya karena tak menemukan, Arka. Yang di respon oleh Richard dengan gelengan kepala, tanpa berbalik badan menghadap anak gadisnya sembari berlalu pergi.
"Aku di sini!" sahut Arka masuk bersama Niken. "Kenapa?" tanyanya sembari memberi kecupan pada pipi sang bunda. Lalu beralih mengecupi pipi Oma nya.
"Ada Niken! sini sayang. Kita sarapan bersama." Ajak Resti pada gadis cantik bermata sipit itu.
"Iya Tante, Oma. Hai Cel, pagi semuanya!" Sapa Niken santun menyalami tangan Resti dan mama Elsa.
"Sini duduk," menepuk kursi kosong di hadapan Rachel.
Rachel tak menyahuti sapaan Niken. Dia hanya memperhatikan gerak gerik gadis di hadapannya itu, kemudian beralih menatap Arka. "Bang, jangan lupa nanti jemput aku,-"
"Nggak bisa, aku mau pergi dengan Niken. Nanti kamu dijemput Rendi saja."
"Loh memang kamu nggak bawa mobil?"
"Nggak, Bun. Aku malas, ini aja Vika aku paksa untuk jemput" jawab Rachel pertanyaan sang bunda, dia beralih menoleh pada Arka "tapi kan semalam abang udah janji sama aku."
"Tapi ini penting, dadakan pula! ini saja aku sudah di jemput, Niken." Sahut Arka santai duduk di bangku bersebelahan dengan, Niken. Tangan lelaki itu terulur ingin menyentuh Sandwich. Belum sempat sampai pada makanan tersebut, lengannya keburu di tepis pelan oleh Resti.
"Itu tangan nggak Higienis, kotor, kamu habis dari luar." Kata Resti mengingatkan, yang direspon dengan senyum yang menanpilkan gigi geliginya. "Sana mandi dulu" usirnya.
Rachel tak menyahut dia diam menunduk sembari mengaduk-aduk sepiring nasi goreng buatan sang bunda. Selera makannya hilang menguar entah kemana. Lagi-lagi dia kalah dan tersingkirkan oleh Niken yang selalu menjadi prioritas leleki itu.
Arka berlalu naik ke lantai atas kamarnya, dia ingin segera bergegas pergi bersama Niken. Karena ada beberapa bisnisnya yang mengalami masalah. Dia kaget kenapa bisa bisnis Club malam nya berada di luar, bisa di ambil alih oleh seseorang yang dia sama sekali tidka mnegetahuinya.
"Pagi, semuanya!!" Sapa Vika setengah berteriak masuk ke dalam rumah milik keluarga Rachel. "Waah! nasi goreng buatan bunda!" serunya antusias dengan binar kebahagiaan, sudah lama dia tak pernah datang sepagi itu, menikmati sepiring nasi goreng kesukaan dia buatan Resti. "Kebetulan belum sarapan!" lanjutnya dengan kekehan.
"Kebetulan bunda masak banyak, ayo sini kita sarapan" ajak Resti
"Pagi banget, tumben?"
"Iya dong. Ini kuping ada yang panggilin gue. Katanya, ayo cepetan datang nasi goreng udah di meja makan. Nah makanya gue meluncur ke sini, dan benar saja. Nih!" sahut Vika menunjukkan sepiring nasi goreng yang telah dia taruh di atas piring nya.
"Modus! bilang aja sekalian numpang makan,"
"Itu salah satunya!" celetuk Vika dengan senyum semanis madu.
"Pagi semua. Wah tumben pagi ini ramai," kata Richard yang baru turun dari atas "pada mau kemana sudah pada rapih, cantik-cantik lagi" puji anak gadisnya dan sahabatnya, sembari menerima sodoran piring berisikin nasi goreng buatan sang istri. "Terima kasih sayang"
"Pagi Daddy ganteng yang gantengnya melebihi, Kim Seon Ho!" seru Vika yang ditanggapi oleh Richard dengan gelengan kepala.
Richard dan Vika terus saja bercanda layaknya anak dan ayah. Namun berbeda dengan Niken. Dia sama sekali di acuhkan oleh Richard. Dan itu sempat mendapat lirikan dari Resti. Dia menatap Niken kemudian beralih menatap suaminya, mengernyitkan bingung dengan sikap suaminya.
"Dimakan sayang!" kata Resti mengelus lengan Niken.
Arka turun dari lantai atas rumahnya, menghampiri Resti mengecup sekilas pipinya, kemudian mengambil satu potong Sandwich "aku pergi." Pamit nya mengecup pipi Resti lalu beralih memeluk mama Elsa.
"Mau kemana? bukannya libur?"
"Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan" jawab Arka yang ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Richard.
Saat Arka mengecup pucuk kepala Rachel. Tiba-tiba tangannya dicekal oleh gadis itu. "Pokokmya aku nggak mau dijemput Rendi. Aku akan tunggu abang, sampai abang datang menjemputku." Bisiknya mengecup pipi Arka sembari melirik orang-orang yang ada di meja makan, yang tak memperhatikannya.
"Ck" dengusnya pelan
"Apa?"
"Iya bawel" kata Arka mngacak-acak rambut Rachel
Rachel mengerucutkan bibirnya saat Arka mengacak rambutnya. Kesal, tapi setelahya dia memberikan senyum termanis saat Arka menuruti permintaannya.