Tujuh

1169 Kata
"Ken. Jangan kayak gini..." Arka melepaskan tangan Niken yang melingkar di lehernya, saat gadis itu tengah memeluknya dari arah belakang tubuhnya. "Gue mau ini cepat selesai. Mending lo urus si Jeff, gue minta lo siang ini berangkat ke sana!" Saat ini dia tengah duduk fokus di depan laptop. Ingin segera membereskan semua pekerjaannya, sebelum dia menjemput Rachel. "Gue kangen sama lo. Udah beberapa hari ini, lo selalu menghindar dari gue..." Jawab Niken mengecupi leher Arka. "Lo tenang aja, urusan Jeff biar gue yang selesaikan,-" "Gue gak butuh kata-kata dan janji manis lo..." Dengus Arka kesal memotong ucapan Niken. "Buat apa kalau akhirnya dia seenaknya ngancurin bisnis gue yang udah susah payah gue bangun selama ini. Dia juga udah ngebangun Image yang buruk tentang gue di mana-mana," lanjutnya sembari menjauhkan kepalanya, saat Niken terus saja mengecupi cuping telinganya. "Dan lo... jangan coba-coba bermain curang," ditatapnya mata Niken dengan dingin dan sorot mata yang tajam tanpa berkedip. "Lo tau gue seperti apa? gue bisa matiin siapa aja yang udah jelas-jelas berkhianat! sekalipun, lo orang nya!!" lanjutnya dengan horor sembari beranjak berdiri. Arka berjalan sedikit menjauh dari Niken. Dia masukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana, sembari menatap gedung-gedung pada jendela Apartment milik, Niken. Niken menelan selavina saat tatapan Arka menyorot dengan sangat tajam dan dingin. "Nggak lah, mana mungkin gue khianatin lo!" jawabnya dengan tangan yang sudah bergerilya kemana-mana pada tubuh Arka. Dia memeluk lelaki di depannya dari arah belakang, merebahkan kepala pada bahu lebar milik, Arka. Sembari tangannya terus mengelus titik sensitif dan kelemahan pada tubuh, Arka. Dia menyeringai saat leleki didepannya itu telah masuk ke dalam permainannya. Arka menengadahkan kepalanya. Dalam pejaman matanya dia dapat menikmati sensasi yang diberikan oleh, NIken. Dia membalikkan tubuhnya, kemudian dengan kasar dia mencekik leher gadis dihadapannya itu, melumat bibir seksi milik NIken dengan sangat kasar dan brutal. "Cuma gue yang tau apa yang lo inginkan, dan cuma gue yang bisa puasin lo." Kata Niken dengan seringai liciknya. Dia tidak akan menghalangi apapun keputusan, Arka. Sekalipun, lelaki itu akan menikahi adik angkatnya. Karena dia tahu, Arka berbeda dengan lelaki manapun. Dia sangat yakin, bahwa Arka akan terus bergantung kepadanya dan terus membutuhkannya. Kini keduanya masuk ke dalam kamar khusus mereka, di mana di sana terdapat perlengkapan Sexs yang memang sengaja Niken sediakan untuk kebutuhan Arka saat berbuhungan dengannya. Arka akan merasakan kepuasan saat berhubungan dengan Niken, karena gadis itu bisa menekan hasratnya hingga melambung tinggi. Arka kini melupakan janjinya untuk menjemput Rachel saat sudah berhadapan dengan Niken di atas ranjangnya. Ditempat lain. "Lo masih mau tunggu, Arka. Cel?" tanya Vika menyesap minuman terakhirnya, saat dia telah selesai bermain golf bersama Rachel. Rachel hanya menyahut dengan anggukan. Mengusap pipinya kasar, menghapus air mata yang menetes. Sudah tiga jam lamanya dia duduk di Coffee Shop menunggu untuk di jemput oleh, Arka. Namun, lelaki itu tak kunjung datang. Vika yang merasa khawatir tetap menemaninya. Walau pun, berkal-kali Rachel menyuruhnya untuk segera pulang. Tapi, tetap saja dia menemani sahabatnya itu. Tak tega rasanya meninggalkan Rachel sendirian di sana. "Hai!!" Kedua gadis yang tengah menikmati segelas minuman segar itu sontak mendongakkan kepala saat mendengar sapaan seseorang, menatap lekat lelaki yang baru saja datang. "Dani!" kata Rachel terkejut yang di respon oleh senyuman dari lelaki itu "Buset, ini lo beneran, Dani?" tanya Vika heboh, melihat siapa yang baru saja dia lihat setelah sekian tahun tak berjumpa. "Iya lah, siapa lagi orang ganteng selain Dani permana!" "Cih," dengus Vika memutar kedua bola mata jengah "sombongnya masih tetap mencerminkan ciri khas lo, yang gak akan pernah hilang," gerutunya. "Gue lihat lo dari sana," tunjuk Dani arah di mana dia duduk tadi. "Gue pikir salah lihat, ternyata benar, pujaan hati gue yang lama hilang ada di depan mata gue" lanjutnya duduk di hadapan Rachel tanpa permisi, yang direspon oleh Rachel dengan gelengan kepala. "Apa kabar, Cel?" sambungnya kemudian. "Baik, kamu kapan datang ke Jakarta?" "Seminggu yang lalu, aku bertugas di sini sekarang." "Nggak ada yang tanya tentang kerjaan lo," celetuk Vika dengan pelan "Ck" decak Dani malas "gue gak ngomong sama lo juga kelees!" "Sudah, ih! kalian itu setiap ketemu bertengkar terus. Nanti kalian lama-lama bisa berjodoh,-" "Heh, semprul, sembarangan aja lo kalau ngomong. Amit-amit," kata Vika mengetuk meja di hadapannya, kemudian dia beralih mengetuk kepalanya, yang direspon oleh Rachel dengan tertawa lebar. Mereka akhirnya mengobrol dan bercanda, sesekali menimpali celetukan Vika yang berdebat dengan Dani. Tanpa mereka sadari, di ujung sana terlihat Arka yang baru saja memasuki Cafe untuk menjumput Rachel urung dia lakukan. Lelaki itu memutar kembali tubuhnya, memakai kacamata hitamnya berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Setelah beberapa saat lalu memperhatikan ketiga orang saling tertawa melemparkan senyum bahagianya. Arka masuk ke dalam mobilnya. Menghela napas pelan kemudian melepas kaca mata dan melemparnya ke atas Dasboard dengan asal. Menyandarkan kepala pada sandaran jok mobilnya. Pikirannya berputar kala mengingat perkataan Niken, yang menjelaskan tentang siapa dan bagaimana dia. Akan kah Rachel bisa menerima kekurangannya? sesak di d**a kian menghimpit dirinya. Dalam pejaman mata wajah Rachel menari tengah tertawa bahagia. Lalu, bagaimana nanti saat gadis itu tahu akan penyakitnya. Arka membenturkan keningnya pada stir mobil dengan keras secara berulang-ulang untuk meluapkan kekesalannya. Berteriak dengan sekencangnya mengeluarkan rasa benci pada isi hatinya. Dia mencengkram kuat stir mobil tersebut, menundukkan kepala hingga tetesan air mata mengenai sepatu di bawah sana yang dia gunakan. Setelah beberapa saat kemudian, Arka menegakkan tubuhnya. Menghela napas dengan kasar, lalu mengusap wajahnya berkali-kali. Dirasa dirinya sudah sedikit lebih tenang, dia menghidupkan kendaraannya kemudian berlalu pergi dari pelataran Cafe tempat dia berjanji menjemput Rachel. "Pulang aja yuk, Cel? Abang lo gak akan jemput. Mungkin dia sibuk, ini aja kan Weekend, tapi dia masih kerja. Artinya memang dia sibuk!" kata Vika sedikit menenangkan kegundahan hati sahabatnya itu. "Ayo gue antar sampai rumah." "Nah, tuh, Dani mau antar lo. Sorry nih, Cel. Gue gak bisa antar lo balik, gue udah terlanjur janji sama adek gue mau antar dia ke toko buku. Semalam lo bilang, kalau lo dijemput Arka. Jadi gue janji sama ade gue temani dia." Terang Vika yang tak di respon sama sekali. Sahabatnya itu tengah melamun diam seribu bahasa. "Cel!" panggilnya, kali ini dia menyenggol lengan Rachel. "Eh, iya kenapa?" "Ck," terdengar dengusan dari bibir Dani. Setiap menyangkut Arka, gadis di hadapannya itu selalu saja murung. Dia menarik lengan Rachel, hingga gadis itu beranjak berdiri. "Kalau tunggu jawaban dia, lama. Keburu sore. Ayo pulang! gue yang antar" sambungnya masih terus setengah menarik jemari yang digenggam oleh Dani. Dani benar-benar mengantar Rachel pulang kerumah. Walaupun Rachel menolak untuk mengajak lelaki itu mampir masuk ke dalam rumah. Namun, Dani tetap memaksa singgah hanya sekedar untuk minum. Kini, mereka tengah melanjutkan obrolan tadi di cafe yang sempat tertunda. Tanpa mereka sadari, Arka pulang melewati mereka. Masuk ke dalam rumah tanpa menyapa keduanya. "Abang! tadi kenapa nggak jemput?" "Ngapain jemput? kamu aja sudah sampai dengan selamat" ketus Arka melanjutkan langkahnya. "Tapi aku tadi tungguin, Abang." Rachel menyentak tubuh Arka agar berhenti melangkah kini mereka saling menatap. "Besok-besok, minta jemput cowok lo. Dan nggak usah tunggu gue. Gue sibuk, Ngerti!!" sentak Arka melengos pergi meninggalkan Rachel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN