Delapan

1171 Kata
"Are You Seriously?" tanya Rendi tak percaya menatap sahabatnya dengan gelengan kepalanya. "Aaahh!! lo jangan gila, Ka..." berteriak sembari mengacak-acak rambutnya kesal "lo mau nikahin, Rachel?" dia menghentak tubuh Arka kesamping, hingga dapat berhadapan langsung dengannya. "Terpaksa,-" "Bukan karena terpaksa, gue tau lo kayak gimana. Dan gue mohon lo pikirin lagi" "Buat apa? percuma. Gue tetap akan nikahin anak sialan itu!" "Nggak bisa!!" bentak Rendi dengan mata yang menyorot tajam. "Kenapa?" tanya Arka acuh "Lo nggak boleh nikahin Rachel. Lo, SAKIT!!" Bentak Rendi, di akhir kalimatnya dengan sangat kuat, menampilkan urat-urat pada lehernya terlihat jelas. "Kalau gue, SAKIT!! lo mau apa. Hah?" Tantang Arka tak kalah meradang dari, Rendi. Nada suaranya mulai meninggi naik satu oktaf dari lelaki itu. Arka menarik kerah baju sahabatnya itu dengan mata yang memerah menahan amarahnya. "Minimal lo harus sembuh, lo harus rajin terapi. Gue mau lo sembuh dan bisa hidup bahagia bersama, Rachel." kata Rendi dalam pejaman matanya. Nada suaranya terdengar rendah, dia tak berani menatap, Arka. Saat tangan lelaki itu menggantung di udara bersiap untuk memukulnya. "Omong kosong!" Arka melepas tangannya sedikit mendorong tubuh Rendi. "Pokok nya, lo gak boleh nikahin, Rachel. Sebelum lo dinyatakan sembuh,-" "b*****t!! kenapa bukan lo aja yang nikah sama perempuan murahan itu!" tunjuk Arka wajah Rendi. "Sialan!! jaga ucapan lo!" Rendi langsung memukul rahang tegas milik Arka, hingga lelaki itu jatuh terhuyung ke lantai. "Gue tau, ini ulah lo kan? Dasar g****k!" tebak Arka menyeka sudut bibir nya yang mengeluarkan darah segar. "Jangan asal ngomong lo,-" Arka meneringai, memberi tatapan mengintimidasi. "Bahkan gue lebih pintar dari lo. Cih!" ledeknya yang sama sekali tidak terdengar seperti mengejek. "b*****t! seharusnya lo nolak!!" Rendi beringsut menghampiri Arka, menarik kerah kemeja Arka. "Gue gak akan bisa nolak permintaan keluarga gue. Lo tau itu! dan tololnya... sahabat gue ini mau aja di ajak kerjasama untuk ngejebak gue." Arka menepuk pipi Rendi berulang-ulang, menepis lengan sahabatnya kasar. "Gue juga terpaksa, sialan!!" "Gue akan buat dia menderita!!" "b*****t!!" pukul Rendi wajah Arka. Mereka kini tengah adu jotos, sudah tak perdulikan lagi dengan statusnya di perusahaan. "Abang!!!" panggil Rachel terkesiap berdiri mematung, saat dirinya baru saja masuk ke dalam ruangan, Arka. Rachel melihat bagaimana seorang Rendi yang selama ini lembut dan sopan terhadapnya kini tengah membabi buta memukuli wajah Arka. Walaupun wajah Rendi juga tak kalah kacau nya dengan wajah Arka. Dia mendorong tubuh Rendi yang berada diatas tubuh Arka dengan sekuat tenaga. Hingga tubuh Rendi terhempas jatuh ke lantai. "Kalian ini kenapa? Hah. Kayak anak kecil, apa nggak bisa dibicarakan baik-baik." Rachel membantu, Arka. Memapahnya untuk duduk di sofa. "Cih" terdengar dengusan kasar dari bibir Rendi. Dengan masih menatap tubuh Arka yang tengah di dudukan di atas sofa. dia meneka bibirnya yang mengeluarkan darah menggunakan buku jarinya. "Kak,-" "Nggak perlu. Gue baik-baik aja" tolak Rendi menatap Rachel di depannya, yang nampak khawatir akan keadaan Arka. Terdengar helaan napas dari mulut Rachel. Dia bergegas mencari kotak P3K, luka lebam pada wajah Arka belum juga hilang atas pukulan, Richard. Tapi kini, sudah ditambah lagi dengan pukulan dari, Rendi. Dia memberikan usapan pada kapas yang sudah ku teteskan dengan Alkohol, mengelus sudut bibir lelaki di hadapannya. Lalu memberikan cairan obat berwarna merah, hingga pandangan mereka saling bertemu dan bersitatap. Rachel bisa melihat dari tatapan mata itu ada cinta dan luka. Rendi terus memperhatikan Rachel, bagaimana gadis itu sangat mencintai, Arka. Membayangkan Rachel akan menjadi istri dari Arka, rasanya dia belum sanggup melihatnya. Dia beranjak berdiri berlalu pergi dari ruang kerja Arka meninggalkan dua orang di dalam nya. Saat ini pikirannya sedang kacau. Rendi tidak tahu apa keinginan dari Richard ayah angkat dari sahabatnya itu. Rendi hanya diperintahkan untuk membawa Arka ke dalam kamar hotel yang sudah disiapkan oleh, Richard. "Sssshh!!" desis Arka saat rasa perih mengenai bibir nya yang sedikit robek. "Maaf," sesal Rachel. Arka membawa tubuh Rachel dalam pelukan, merasakan kenyamanan itu, tapi dia takut jika nanti akan menyakitinya."Biarkan seperti ini dulu." Rachel tak menyahut, membiarkan Arka terus memeluknya dengan erat. Dia hanya bisa menghirup dalam-dalam wangi tubuh lelaki yang sangat dia sayangi itu, sesekali mengelus bahu lebar milik, Arka. Arka mengurai pelukannya. Manangkup pipi Rachel dengan kedua tangannya, menatapnya dengan lekat bola mata milik Rachel. Seketika itu juga Rachel merasa gugup. Kedua matanya mengerjap kaku, dan tenggorokannya terasa tercekat. Jangan lupakan debaran jantungnya yang kini terpompa cepat. Kala Arka mempersempit jarak dengan saling bersitatap. "Bang.." "Hemm..." Arka mendekatkan wajahnya, memejamkan mata, kini bibir mereka saling bertemu. Arka mencium bibir Rachel dengan dalam, lalu melumatnya dengan penuh perasaan. Sekuat apapun dia menolak perasaan itu, namun hati tak dapat dibohongi dan dia kendalikan. "Aku mencintaimu," kata Arka sangat pelan mungkin hanya dia saja yang bisa mendengarnya. Sebelum akhirnya lelaki itu tumbang dipelukan Rachel. "Bang, bangun. Jangan buat aku takut!" Rachel mengguncang tubuh Arka, meletakkannya di sofa, berlalu keluar dari ruangan. "Lucy, tolong aku!!" teriaknya menyembul dari balik pintu, memanggil nama sekertaris Arka. Lucy datang tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan. Dia terkesiap berdiri mematung melihat ruangan bosnya seperti habis terkena bom nuklir. Berantakan, beberapa berkas dan kertas juga barang yang lain berserakan di mana-mana. "Lucy, kenapa bengong. Cepat panggilkan, Dokter!" "Hah, oh iya bu. Baik!" Lucy menepuk keningnya, kenapa dia jadi bodoh hanya diam saja. Lucy bergegas menghubungi Dokter pribadi keluarganya, Richardo. "Ayo bantu aku, bawa abang ke kamar," titah Rachel gemas kerena melihat lucy hanya diam mematung. "Hah. Ah iya, Bu!" sahut Lucy, menghampiri dan membantu Rachel memapah Arka masuk ke dalam kamar pribadinya yang masih menyatu dengan ruang kerjanya. "Lucy, tolong ambilkan aku air hangat dalam wadah. Dan tolong buatkan juga segelas teh hangat dengan sedikit gula," pinta Rachel kepada Lucy, yang langsung ditanggapi oleh Lucy dengan anggukan kepala. Rachel membuka kemeja yang dikenakan Arka, dia juga mengendurkan ikat pinggangnya, kemudian beralih membuka sepatu juga kaos kaki, Arka. Tok... tok... tok... Lucy mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam kamar pribadi bos nya itu. Meletakkan apa yang minta tadi oleh Rachel tadi. "Dokter sedang dalam perjalanan, Nona." "Ya sudah, terima kasih Lucy. Nanti aku panggil kamu, kalau aku perlukan." Jawab Rachel sembari mengambil wadah berisikan air hangat. Dia memeras handuk kecil, kemudian membersihkan beberapa luka pada wajah dan perut, Arka. Air mataku menetes, saat aku memperhatikan beberapa bekas luka lama disekujur tubuhnya dan aku baru menyadari itu. "Pasti ini sakit sekali" tangis Rachel tak terbendung saat melihat bekas luka robek, namun tertutup dengan tinta berwarna hitam pada bahu lelaki itu. "Cel!" panggil Arka menggeleng pelan. "Aku hanya mengompresnya, apa ini sakit?" tanya Rachel, yang di respon dengan gelengan. "Maaf, sudah membuat luka di sekitar wajahmu," ucap Rachel mencium luka lebam di pipi Arka. Entah dapat keberanian dari mana dia sampai bereni mencium pipi, Arka. Dengan jarak sangat dekat. "Apa yang kamu lakukan?" bentak Arka, mendorong Rachel dengan kuat menggunakan satu tangan. Hingga tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang, beruntung gadis itu masih bisa menahannya. Jika tidak, mungkin saja dia sudah jatuh ke lantai. "Menjauh Cel. Aku mohon..." dia diam menghela napas nya pelan, sebelum melanjutkan lagi ucapannya. "Aku sakit, aku berbahaya. Untuk itu, aku minta kamu jangan mendekat. berkali-kali aku menolak tapi kamu tetap memaksaku!!" "Apa maksudmu bang?" "Aku, SAKIT!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN