Sembilan

1483 Kata
Akhirnya, Arka di bawa pulang ke rumah atas permintaan Resti. Perempuan paruh baya itu merasa khawatir saat anak lelakinya tengah sakit. Arka diperiksa oleh Dokter pribadi keluarga, Richardo. Yang mana, Dokter tersebut adalah sahabatnya Resti. Yang tak lain adalah istri dari mantan tunangannya terdahulu yaitu, Dokter Adrian. "Gimana, Tan. Kondisi abang?" tanya Rachel mendekat ke arah Adinda. Setelah selesai memeriksa, Arka. "Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Luka nya tidak terlalu serius, hanya ada sedikit lebam. Tante buatkan resep obat untuk pereda nyeri ya, Bang." Jelas Adinda sembari membetulkan letak kaca matanya, "kalau bagian yang lebam, kamu bisa sering-sering kompres pakai air hangat dan bisa pakai salepnya. Ini sih luka kecil, besok juga sembuh" lanjutnya, menekan sedikit pelipis Arka yang sedikit robek diujungnya "Ssshh!!" Arka berdesis nyeri, saat luka tersebut ditekan oleh Adinda dengan sengaja. "Sakit?" tanya Adinda pura-pura, "masa sih sakit?" tanyanya lagi dengan kekehan meledek anak sahabatnya itu. "Abang sih, biasa, kalau luka kayak gini. Yang tante khawatirkan itu lambung kamu,-" "Kenapa dengan lambung abang, Tan?" potong Rachel ucapan Adinda yang terdengar khawatir. "Cie... khawatir ya?" ledek Adinda menjawil hidup lancip Rachel "Ih, Tante!" Sahut Rachel malu-malu. "Tolong makan nya di jaga ya, Bang. Usahakan sesibuk apapun itu sempatkan makan walaupun sedikit saja," jelasnya yang diangguki oleh Arka. "Ini nantinya akan menjadi tugas kamu, Cel. Pastikan abang makan dengan teratur. Kalau gitu, Tante pamit pulang. Diminum obatnya, dan jangan lupa istirahat yang cukup." Arka dan Rachel hanya manggut -manggut saja, saat mendengar penjelasan dari sahabat bundanya. Ceklek!. "Loh, sudah selesai diperiksanya?" Tanya Resti yang baru saja datang bersama suaminya, masuk ke dalam kamar Arka. dia ingin mengetahui bagaimana kondisi anak lelakinya. Dia menghampiri, Adinda. "Gimana anakku, Din?" Richard menyilangkan tangan di d**a. Dengan mata yang terus menyorot tajam ke arah Arka. Saat itu, anak lelakinya tengah bersandar pada sandaran tempat tidurnya sembari memejamkan matanya. Beberapa luka lebam disekitar wajahnya masih nampak jelas terlihat. Richard sedikit meringis saat melihat lebam di wajah Arka. Sepertinya, Rendi benar menghajar Arka dengan kekuatan super. Lihat saja wajah tampan anaknya menghilang, berganti dengan si buruk rupa. Dia hanya bisa menggelangkan kepala, diselingi dengan kekehan saat melihat wajah tampan anaknya yang tak berbentuk. "Pih. Cih!" panggil Arka mendengus kasar. "Kenapa?" "Iiissshhh!!" kesal Arka saat melihat tatapan Richard seperti tengah meledeknya. "Aku sudah selesai, nggak ada luka yang serius menurutku. Cukup dengan istirahat beberapa hari ke depan, aku rasa sudah sembuh. Aku pamit ya, nggak bisa lama." Adinda membereskan beberapa perlengkapan medisnya. Kemudian memasukkannya ke dalam tas kerjanya, bersiap untuk kembali pulang kerumah. Karena hari ini jadwal praktek di kliniknya tengah libur. "Kenapa buru-buru, kamu libut kan? Padahal aku kepingin ngobrol, loh! Kita sudah lama juga nggak pernah ketemu, kamu sibuk terus dengan kerjaanmu" "Bang Adrian baru aja sampai rumah saat aku mau berangkat ke sini. Dia itu baru pulang tugas dari luar kota. Mana bisa aku lama-lama di luar kalau dia sudah pulang," kata Adinda setengah berbisik "Mas aku permisi" pamit Adinda pada Richard yang tengah duduk. "Heemm. Terima kasih, Din." "Sama-sama. Semoga lekas sembuh ya, Sayang." "Terima kasih, Tan." Sahut Arka yang direspon oleh Adinda dengan anggukan. Sambil merangkul bahu Resti. Adinda keluar dari dalam kamar Arka. "Suamimu kenapa? nyeremin." Bisik Adinda ditelinga Resti. "Kamu kayak nggak tau sifat dia saja, biasa lah. Ada sedikit perdebatan dengan Arka." Jawab Resti sambil melangkah menuruni anak tangga. "Soal pernikahan?" "Apa lagi," "Aku hanya bisa menyarankan untuk kalian. Baiknya pernikahan mereka usahakan jangan memaksa, kita pernah merasakannya." kata Adinda mengingatkan bagaimana pernikahan mereka terdahulu. "Aku maunya seperti itu, tapi Mas Richard." "Aku doa kan yang terbaik" Resti mengantarkan sahabatnya sampai ke depan pintu rumahnya. Hingga Adinda masuk ke dalam mobil, berlalu pergi meninggalkan pekarangan rumahnya. Setelah pertunangan Adrian dengan Resti gagal. Akhinya, Adrian dijodohkan oleh sang Bunda. Dengan sangat terpaksa dia menerima perjodohan itu saat dirinya tengah patah hati. Dan Adinda adalah sebagai pelarian lelaki itu. Setelah pernikahan Adrian dan Adinda menginjak usia dua bulan. Barulah mereka pindah ke Jakarta. Selama tinggal di Jakarta, diam-diam Adinda sering bertemu dengan Resti. Asal mula mereka bertemu secara tidak sengaja, karena seringnya bertemu dan banyak bercerita. Lama kelamaan hubungan keduanya nyaman dan akhirnya mereka kini menjadi bersahabat. Dan berkat kesabaran dan rasa cintanya terhadap Adrian, akhirnya Cinta Adinda terbalaskan. Begitu juga dengan Adrian dan Richard. Karena seringnya mereka berjumpa saat menjemput sang Istri. Lama kelamaan mereka jadi berteman. Akhirnya Richard bisa mengutarakan isi hatinya. Bahwa dia merasa sangat berhutang budi kepada Adrian yang mau merawat dan menyanyangi anak dan istrinya. Bahkan Rachel memanggil Adrian dengan sebutan Papa, karena memang sedari kecil dia sudah terbiasa memanggil itu. Dan Richard pun tidak keberatan sama sekali. Kini Adrian memegang penuh kepercayaan dan tanggung jawab Rumah Sakit milik mendiang ayah kandungnya Richard. Adrian dan Adinda dikaruniai dua anak kembar sekaligus. Kedua anak mereka masih berstatus mahasiswa kedokteran di salah satu fakultas kedokteran dalam negeri mengikuti jejak kedua orang tuanya. Di dalam kamar. "Gimana keadaan kamu?" "Papi merasa menyesal, udah buat wajah aku jelek kayak gini?" "Ngapain juga papi menyesal!" celetuknya dengan memutar bola mata malas "Ya sudah nggak perlu basa basi lagi tanya keadaan aku" "Dasar anak kurang ajar, Cih"gerutu Richard dengan dengusan pelan. "Mana ada muka udah bonyok gini baik-baik aja. Apa papi juga mau aku bikin bonyok mukanya? biar papi bisa ngerasain malunya aku kayak gimana," kesal Arka bukan lagi tentang rasa sakit, tapi lebih ke rasa malu mempunyai muka bonyok "Enak aja. Wajah tampan itu di rawat, biar makin di sayang bunda... lagian itu ulah Rendi! kenapa kamu jadi menyalahkan, Papih." Sahut Richard tak mau disalahkan. "Cih!" terdengar dengusan kasar dari bibir Arka sembari tersenyum tipis Saat-saat Moment seperti ini yang selalu Arka rindukan berdua dengan papi kesayangannya itu. Perhatian dan candaannya walaupun terdengar kaku. "Itu, pipi kamu yang sebelah kiri masih terlihat sedikit lukanya, mau papi tambahin lagi? biar kelihatan totalitas," kelakar Richard dengan gelak tawanya. Sudah lama sekali dia tidak seperti ini, berdua dengan anak lelaki satu-satunya. Saling meledek dan melempar candaan dengan gelak tawa bersama. "Sssshhh!!" desis Arka pelan, saat dirinya terasa sedikit nyeri pada perutnya. Dia merasa kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Kepalanya terasa mau pecah, banyak yang dia pikirkan oleh lelaki itu. Sudah beberapa hari ini makan nya juga tidak teratur. Jam tidur nya pun menjadi berantakan. Yang dia butuhkan saat ini hanya mengistirahatkan tubuhnya. Waktu Arka di pukuli oleh Richard, dia sengaja sama sekali tidak memberikan perlawanan. Membiarkan papinya terus memukulnya. Hanya saja, saat dia menepis lengan Richard, dia tidak sengaja menyikut papinya. Jadi, sedikit memberikan goresan pada ujung bibir Richard. Dan luka atas pukulan Richard sudah memudar. Saat bertengkar dan saling adu jotos dengan Rendi. Dia sama sekali tidak banyak memberikan perlawanan juga, hanya sesekali dia memukul Rendi, pada saat dia melindungi sedikit wajahnya. Arka sangat menyayangi orang-orang disekelilingnya. Jadi, sebisa mungkin dia akan melindungi dan berkorban apapun itu. Walau dengan nyawa sekalipun. Kini luka lebab dan sedikit goresan bisa terlihat kembali diwajahnya. Mendadak kamar berukuran 3 x 3 Meter yang di d******i cat berwarna putih tersebut disergap dengan keheningan. Ayah dan anak itu sama-sama diam, tak ada satupun yang mau membuka percakapan lagi. "Pih!" panggil Arka memecah keheningan. Dia tidak jadi memejamkan kedua matanya. Menatap pada Richard, papinya yang sangat dia sayangi melebihi apapun di dunia ini. "Hemm!" sahut Richard dengan deheman Richard tetap pada posisinya, duduk di sofa, memperhatikan anak lelakinya yang tengah bersandar pada sandaran kasur. Sekeras apapun rasa kesal dan juga marah pada anaknya, dia tetap lah orang tua yang menyayangi dan mengkhawatirkan keadaan sang anak jika sakit. Walaupun berpuluh-puluh kali di luar sana orang-orang menyerukan serta membuktikan bahwa Arka bukanlah darah dagingnya. Dia akan berteriak dengan sangat kencang untuk memberitahukan kepada dunia bahwa sampai kapanpun Arka tetaplah darah dagingnya. Bahkan kini Arka menjadi pemilik dua perusahaan hasil rintisannya, setelah seluruh harta keluarganya berpindah alih kepada Richard. Arka sukses menjadi pebisnis nomor satu di usianya yang terbilang masih sangat muda. Oleh karena itu dia akan tetap memaksa agar Arka menikah dengan Rachel. Bukan karena ingin mempertahankan perusahaannya, malainkan menjaga dan manjauhkan Arka dari adik tiri ayah kandungnya yang bernama Jeffrey. Lelaki keturunan Perancis - Rusia itu selalu memberikan pengaruh buruk terhadap Arka. Richard benar-benar kecolongan saat Arka tinggal dan berkuliah di sana hingga masuk ke dalam dunia bisnis gelap lelaki itu. Richard sangat beruntung bisa memiliki Tito dan Ivan. Kedua ajudannya itu sangat bisa di andalkan dalam segala hal apapun. dengan sigap mereka bisa masuk dan menyamar ke dalam bisnis tersebut hingga bisa sedikit melindungi Arka tanpa sepengetahuan sang anak. Hanya sedikit lagi, Arka bisa terbebas dari tekanan yang diberikan oleh Jeff. "Aku akan menikah dengan Rachel." "Kalau papi sih terserah kalian, tapi adikmu menolaknya" "kenapa? bukankah dia yang menginginkannya?" "Kamu tanya saja nanti dengannya! Lalu, kenapa kamu bisa tiba-tiba menerima pernikahan itu?" kata Richard dengan acuh. "Sudah sekarang kamu istirahat saja, tak perlu memikirkan apapun itu. Dan satu lagi. Kamu gak perlu balik ke negara papa kamu. Karena papi melarangmu. Paham?" jelas Richard yang di respon dengan anggukan kepala oleh Arka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN