Sepuluh

1464 Kata
Pembicaraan antara ayah dengan anak lelakinya terhenti, saat Rachel masuk ke dalam kamar. Gadis itu membawa nampan berisikan satu mangkok bubur yang masih mengepulkan asap putihnya, dengan toping lengkap di atasnya dan segelas air putih. Dengan Resti yang berjalan mengekori langkah kaki Rachel dibelakangnya. Kedua tangannya membawakan nampan berisikan beberapa potongan buah segar untuk dinikmati anak lelakinya. "Abang makan dulu, minum obat, setelahnya istirahat." Kata Rachel meletakkan nampan yang dia bawa di atas nakas sebelah ranjang. Kemudian dia membantu Arka mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Setelahnya, dia meletakkan nampan tersebut pada pangkuan Arka. Terlihat Rachel seperti perawat pribadi untuk Arka. Richard mencebikkan bibirnya, saat Arka memberikan senyum tipis ke arahnya, sembari mengangkat sebelah alis seperti meledek. Bukti nyata dihadapannya saat itu, kalau Rachel benar mencintai Arka bukan sebagai adik terhadap kakaknya. Melainkan sebagai pasangan lawan jenis. Dia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak lelakinya itu. Manja sekali pikirnya. "Bunda bawakan buah, kalau kamu nggak mau makan buburnya.... obatnya jangan lupa di minum ya, Sayang,-" "Bun!" panggil Richard menepuk sofa disebelahnya saat Resti telah menyimpan nampan berisikan buah untuk anak lelakinya. "Apa?" sahut Resti menoleh pada Richard sembari mengernyitkan keningnya. Dia menggelengkan kepala kemudian beralih kembali memperhatikan anak lelakinya yang tengah di suapi oleh, Rachel. "Pastikan abang minum obatnya ya, Dek!" sambungnya mengelus bahu anak perempuannya yang direspon anggukan oleh Rachel. Richard melengos melihat reaksi Resti dan itu sukses mendapat ejekan dari anak lelakinya lewat mata dan senyum meledeknya. Dia kembali fokus pada layar ponselnya tak perduli lagi dengan kelakuan anak lelakinya itu. Resti tau kalau suaminya tengah merajuk minta diperhatikan, tapi apa tidak malu di depan kedua anaknya itu. Namun dia tetap menghampiri suaminya dan duduk disebelah Richard. "Kenapa, Pih?" tanya Resti yang tidak direspon oleh Richard "papi mau buah?" tawarnya kemudian. "Mau lah.... dari tadi papi belum makan, tau." "Loh kenapa belum makan?" "Malas, Bunda ribet sama si semprul." "Iissh... itu anakmu loh. Dia lagi sakit. Gimana aku nggak panik. Maaf'in bunda ya, Pih." "Siapa yang bilang dia bukan anakku.... Mau dimaaf'in gak?" tanya Richard berbisik, yang ditanggapi dengan anggukan oleh Resti. "kita ke kamar yuk!" ajaknya menaik turunkan kedia alisnya. "Apa'an sih!! tepuk lengan Suaminya oleh Resti."Ya sudah ayo. Bunda siapkan makanan dan buah untuk, Papih." Ajaknya beranjak berdiri di ikuti oleh Richard. Lelaki itu merangkul bahu istrinya kemudian mengecupi seluruh wajah, Resti. Berlalu dari dalam kamar Arka meninggalkan kedua anaknya. Rachel hanya meliriknya sekilas, apa yang dilakukan oleh papinya yang terlihat bucin kepada sang bunda. Semoga suatu saat nanti aku bisa di cintai sebesar cinta papi kepada bunda. Rachel tidak mengetahui saja bagaimana perjalanan Resti selama menjalani biduk rumah tangga bersama Richard. Yang dia tahu saat ini mereka terlihat selalu romantis setiap saat. "Pih!" Panggil Arka saat melihat kedua orang tuanya akan pergi keluar dari dalam kamarnya. "Ucapan aku tadi itu serius!" lanjut tersenyum ke arah kedua orang tuanya. Resti dan Richard saling tatap, kemudian dia beralih kembali memperhatikan kedua anaknya. "Kamu bicarakan dengan Rachel setelah ini" kata Richard kembali merangkul sang istri melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan kedua anaknya. Rachel mengernyitkan alisnya tanda bingung, apa yang harus dibicarakan dengannya? tapi dia tak menghiraukannya dan masih terus melanjutkan kegiatan menyaupi Arka hingga habis tak tersisa. Setelahnya dia memberikan obat dan air putih untuk segera di minum oleh, Arka. Kemudian dia mengupasi kulit buah untuk ditaruh dia tas piring agar Arka segera memakannya. Rachel sedang mencerna apa yang dia dengar dari mulut Arka sebelum lelaki itu dibawa pulang kerumah. Dia diam sibuk dengan pemikirannya sendiri. Hingga lamunannya buyar saat panggilan dari orang yang ada dihadapannya itu terdengar ditelinganya. "Dek..." panggil Arka menjeda ucapannya, kemudian dia menghela napasnya pelan sebelum melanjutkan ucapannya. "Kapan kamu siap menikah dengan, Abang?" tanyanya dengan gugup. "Hah!" Rachel terkejut atas pertanyaan Arka. Dia diam tanpa merespon pertanyaan lelaki dihadapannya itu. "Cel!" panggil Arka kembali "kita nikah yuk!" tanyanya lagi karena pertanyaan sebelumnya tidak mendapat jawaban dari Rachel. Dia genggam tangan Rachel menunggu jawaban dari gadis dihadapannya itu. Gadis itu mengerjapkan matanya masih menatap bola mata abu-abu milik lelaki dihadapannya itu. Apa dia tidak salah dengar? apa iya lelaki di hadapannya itu tengah melamarnya? tapi ini Moment nya nggak banget. Di dalam kamar berdua terus dengan wajah si lelaki yang tengah babak belur. "Ih, Abang. Kenapa melamar aku kayak gini sih! nggak romantis banget" kesal Rachel mencebikkan bibirnya. "Lah terus abang harus gimana?" tanya arka menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Tau, ah!" melipat kedua tangannya di d**a membuang mukanya ke arah lain. "Minimal makan malam romanti, terus abang kasih aku bunga dan cincin. Tuh kan, aku jadi kasih bocorannya deh!" ucap Rachel memukul pelan d**a Arka. "Aduuuh!!" keluh Arka berpura-pura, padahal pukulan itu sama sekali tak membuat dia sakit. "Aduh, maaf!" "Nanti kita beli cincin sesuai keinginan kamu, tapi tunggu abang sembuh. Abang malu, wajah abang jadi jelek gini." tuturnya kesal "Lagian aku bingung sama abang. Kok, Abang bisa berkelahi dengan kak Rendi?" Arka tak menyahut pertanyaan Rachel. Dia hanya diam sembari terus menatap wajah cantik Rachel. "Ya sudah abang istirahat. Nanti aku bangunkan saat makan malam" titah Rachel membantu arka untuk berbaring lalu menyelimutinya Cup! satu kecupan mendarat di bibir Rachel saat jarak keduanya sudah sangat dekat. "Iiih, Abang!!" kesal Rachel, lagi-lagi Arka selalu mencuri kecupan di bibirnya hingga membuat pipinya merah merona seperti kepiting rebus. Rachel keluar dari dalam kamar jantungnya kini sudah berdetak tak karuan. Walaupun terkadang sifat Arka sering berubah-ubah, dia yakin bahwa perasaannya sama dengan perasaan lelaki itu terhadapnya. Gadis itu tersenyum lebar berlalu turun ke bawah ingin menghampiri sang bunda. **** Cukup bagi seorang Arkana Revano mengistirahatkan tubuhnya selama tiga hari. Walaupun semua keluarganya melarang dia kembali bekerja. Nyatanya, lelaki itu tetap datang ke kantor. Arka memutuskan tetap berada di Indonesia. Dia tidak jadi pulang ke nagara asal papa nya, atas keinginan Richard. Semua bisnisnya yang berada di sana dia percayakan kepada, Niken. Mungkin nanti setelah urusan dia di sini selesai, sesekali dia pun mengeceknya. Hubungan Arka dengan Rendi sudah membaik setelah kejadian tempo hari. Sepertinya mereka sudah melupakan, nampak seperti tak pernah terjadi apa-apa. Luka dibeberapa suduh wajah Arka sudah tidak ada. Hanya tertinggal setitik saja lebamnya. Namun itu semua tak dapat mengurangi kadar ketempanannya. Tak ada lagi pembahasan mengenai kelanjutan pernikahan Arka dengan Rachel. Karena Arka sedang mempersiapkan Moment lamaran yang diinginkan oleh Rachel. Rendi menjadi orang pertama yang sedikit khawatir jika sampai Arka benar menikah dengan Rachel. Bukan karena cinta nya, melainkan ke khawatiran akan penyakit yang di derita sahabatnya. Rendi sedikit memaksa agar Arka rutin menemui sepupunya untuk jadwal terapinya. Dia berinisitif membuat jadwal rutin mulai minggu depan. "Gue gak mau kalau jadwal nya dipercepat. Sesuai kesepakatan kita, di awal bulan depan. Mulai rutin, kalau seminggu sekali, oke lah gue mau. Sekarang kerjaan gue lagi banyak-banyaknya." "Alasan. Terserah, lo mau ikutin apa kata gue, atau lo gak boleh nikahin Rachel. Gue gak ikhlas Rachel mati di tangan lo!" "Cih!" terdengar dengusan kasar dari bibir Arka. Dia memutar bola mata jengah, sembari menampilkan senyum mengejek. "kenapa lo senyum kayak gitu?" "Gue bukan manusia t***l! yang mau celakain adek kesayangan gue" "Adek kesayangan tapi mau ko kawinin, TAI!!" "Sialan!!" Lempar arka bolpoint yang tengah dia pegang ke arah Rendi yang langsung direspon dengan tangkapan kedua tangannya tepat. "Nih map nya lo baca baik-baik. Di situ ada sebagian data bisnis lo yang dipegang Niken.Lo tuh, sadar nggak sih, kalau dia itu jalang yang udah bermain curang. Dan manfaatin kelemahan juga kebaikan lo." Kata Rendi kesal menggelengkan kepala karena sifat Arka yang sudah sayang pada Niken karena gadis itu adik dari sahabatnya. "Ayo lah ka, perjanjian lo itu cuma masa lalu. Gue yakin Sahril bakalan ngerti posisi lo saat ini. Dah gue rasa dia bisa hidup tanpa lo...." sambung Rendi menjeda ucapannya, dia menimbang-nimbang perkataan yang akan dia ucapkan. Karena Arka terlalu sayang dengan Niken. Tapi caranya salah dengan membiarkan gadis itu masuk ke dalam kehidupan pribadi nya "Dan lo. Gue yakin banget lo bisa sembuh. Itu pun kalau lo ikutin semua saran sepupu gue. Aah, udah lah! gue capek kasih tau lo" Rendi berlalu meninggalkan Arka yang tengah membaca lembar kertas satu persatu dengan teliti. "Bukan Niken yang bisa hidup tanpa gue, Ren. Tapi gue yang gak sanggup hidup tanpa, Niken." gumam Arka. "Ril, maaf gue udah rusak adek lo! tapi gue akan memperbaiki semuanya. Gue mau Niken berenti ngelakuin semua yang salah." lanjutnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mengingat bagaimana Sahril membantu dia yang tengah di hajar habis-habisan oleh adik dari ayah kandungnya. Untuk itu dia merasa sangat berhutang budi padanya. Karena, jika saja Sahril tidak menolongnya, mungkin saja dia akan tergeletak di aspal pinggiran sungai tanpa ada yang menemukannya. Di depan jasad sahabatnya dia sudah berjanji akan menjaga dan membawa Niken ke mana pun dia melangkah. Maaf, Ril. Gue gak bisa nikahin Niken. Karena hati gue udah terpaut satu nama yang nggak akan bisa tergantikan dengan perempuan manapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN