Sebelas

1573 Kata
Perpaduan antara bunyi mata pisau dan juga talenan, menjadi suara paling berisik seperti orang yang tengah berkejaran di area dapur bersih di dalam rumah mewahnya. Tangan itu begitu lihai memotong beberapa sayuran dengan gerakan cepat tanpa takut teriris dan terluka. Potongan ayam yang kecil-kecil berbentuk dadu, beserta sayur-sayuran yang telah dipersiapkan tadi sudah masuk ke dalam panci yang terlihat mengepulkan asap putihnya. Disusul dengan bawang-bawangan, juga jahe beserta bumbu penyedapnya. Ketika semua dirasa telah matang dan empuk, dia mengambil sedikit kuahnya untuk dicicipi sebagai akhir masakannya siap di hidangkan. "Perfect, dengan tingkat kematangan yang sempurna" gumamnya dengan senyum yang mengembang. Lelaki berkaus biru langit, dibalut apron berwarna hitam dengan bawahan celana training panjang itu, lekas menghidangkan masakannya di atas meja makan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara melengking dari seorang gadis memanggilnya dari atas sana. Tapi sama sekali tak dihiraukan olehnya. Dia sibuk menikmati semangkuk sup ayam buatannya. "Abang!!" panggil Rachel yang baru saja masuk ke dalam area dapur. "Abang lagi apa?" tanyanya menghampiri dan langsung duduk di hadapan Arka. Masih disekitar area dapur terdapat meja marmer berukuran besar. "Abang lagi main bola," celetuk Arka sama sekali tak menoleh pada gadis dihadapannya itu. Dia masih sibuk menyeruput kuah sup buatannya. "Ih aku tanya juga!" "Menurutmu? aku lagi apa?" "Duduk, waah... ini abang buat sendiri?" "Hemm!!" "Waaw!! Amazing boleh aku cicip,-" belum sempat Rachel menyelesaikan ucapannya. Arka langsung memasukkan sup ayam buatannya itu ke dalam mulut gadis di hadapannya itu. Mata Rachel langsung terbuka lebar saat menyesapi kuah tersebut. "Delicious" lanjutnya dengan senyum yang mengembang, sembari memberikan simbol oke dengan menempelkan ujung telunjuk dengan ujung jempol di depan bibirnya. "Enak?" Rachel mengangguk, mengambil mangkuk lalu menuangkan sup tersebut untuk di makannya. "Aku nggak mau kerja di kantor lagi lah, Bang!" ucap Rachel di sela-sela kunyahannya. "Kenapa?" "Aku malas, dan aku ingin fokus di Cafe." "Ya sana bilang sendiri. Kamu tuh, jangan aneh-aneh. Perusahaan itu milik kamu. Abang hanya membantu sebisa abang. Papi hanya punya kamu, jadi menurut lah apa yang di mau, Papih." "Mana bisa begitu, Abang kan anak papi juga. Malah, sebentar lagi abang akan menjadi menantunya. Eh!!" ucap Rachel keceplosan di akhir kalimatnya dia menutus mulutnya menggunakan ke dua tangn nya malu. Arka menampilkan senyum masam nya, saat melihat rona merah di pipi Rachel. "Jadi ceritanya udah siap nih," ledeknya menjawil hidung lancip milik gadis cantik dihadapannya itu. "Habis ini kamu mau kemana?" "Aku?" tunjuk Rachel dirinya sendiri, "kenapa? tumben tanya!" "Jalan yuk. Abang bosen di rumah. Udah ganteng juga ini wajah, sayang kalau nggak di pamerin ke orang-orang di luaran sana" "Dih, modus aja mau ajak jalan aku kan!" "Mana ada, ayo bersiap," ucap Arka mengacak-acak rambut Rachel yang sudah tertata rapih. Dia beranjak berdiri berjalan meninggalkan Rachel yang tengah memberenggut kesal, karena tatanan rambutnya sukses di buat berantakan oleh Arka. Akhirnya mereka memutuskan keluar Jakarta menuju daerah Jawa Barat. Sudah pasti Arka yang memilih tempat tersebut. Kata lelaki itu, dia akan mengajak Rachel ke suatu tempat. Di mana tempat itu adalah rumah ke dua Arka dan tempat favorit nya di kala lelaki itu sedang merasa suntuk. Padahal di awal sebelum mereka berangkat. Arka bilang, mau memamerkan wajah tampan nya kepada orang-orang di luar sana. Tapi apa? ini tidak ada siapapun, hanya ada pepohonan dan rumah-rumah yang letaknya berjauhan.. Dan di sini lah mereka sampai. Sebuah danau yang terbentang luas dihiasi berbagai pohon rindang yang mengelilingi danau tersebut. Ada sebuah jembatan di atas danau sebagai akses untuk seseorang sampai ketengah danau tersebut. Duduk santai di atas jembatannya sembari memandangi hamparan keindahan sekelilingnya. "Ayo," ajak Arka menarik lengan Rachel. Berjalan di atas jembatan, hingga mereka berdiri tepat ditengah danau tersebut "Welcome to my favorite place" seru Arka merentangkan ke dua tangan, menghirup udara yang sejuk dalam pejaman matanya. "Waaw... This place is so beautiful." "Let"s swim,_" "Serius...." "Hemm!!" "Aku takut," serunya menggeleng kuat kepalanya. "Eh, mau apa?" tanya Rachel saat melihat Arka membuka ikat pinggangnya. Arka tak menyahut lagi ucapan Rachel, dia malah membuka kaos dan celana jeans nya hingga menyisakan celana pendek selututnya. Dengan sigap dia melompat menceburkan dirinya ke dalam danau itu. "Come on, don't be afraid" serunya mengajak Rachel untuk turun yang di respon oleh gelengan kepala. "Kamu bisa pakai kaosku!" sarannya masih tetap membujuk. "Nggak!" Arka tak mengajak lagi Rachel untuk berenang. Dia masih terus menikmati air danau yang sejuk dan dingin yang menempel pada kulitnya. Dia menghampiri Rachel di bawah kaki jenjang gadis itu yang tengah duduk di atas sana. Menjulurkan kakinya bebas menentuh air danau tersebut. "Abang biasa ke sini?" tanya Rachel mesih menatap hamparan pepohonan di sekeliling air danau. "Jarang, kalau pas lagi suntuk!" "Sama siapa?" "Sendiri! dan hanya kamu yang abang ajak ke sini" jawab Arka naik kepermukaan duduk di sisi Rachel. "Jangan pernah tinggalin abang ya, Cel. Kalau pun seandainya nanti kamu tahu tentang kehidupan, Abang" lanjutnya beranjak berdiri memunguti pakaiannya kemudian memakainya. Rachel menoleh menatap dan mengikuti gerak gerik Arka. Dia mengerutkan keningnya tanda bingung, namun tak berani banyak bertanya. Dia ingin agar Arka yang bercerita kepadanya suatu saat nanti. **** "Sialan, lo main gila lagi sama p*****r-p*****r lo di luar sana!! Nyesel gue milih hidup sama lo,-" "Apa lo bilang, nyesel? sialan lo!" kata lelaki itu tengah meradang atas ucapan perempuan di hadapannya itu. Matanya sudah memancarkan amarah yang membuncah, seakan ingin menelan perempuan nya hidup-hidup. Bagimana dia tidak marah, jika istrinya mengatakan menyesel memilihnya. Lelaki itu menghantam tubuh perempuannya dengan pukulan yang sangat kuat, hingga terjatuh dan kepalanya membentur ujung nakas samping tempat tidur. Pukulan, tamparan, bahkan tendangan sudah tak terhitung mengenai tubuhnya. Hingga membentuk perempuan itu seperti terbiasa akan kekerasan. Lelaki itu menghampiri istrinya yang tengah terduduk dilantai sembari meringis kesakitan. Tanpa belas kasih dia menjambak rambut perempuannya hingga kepalanya mendongak menatap wajah lelaki itu. "Lo udah berubah, gue benci lo. Sekarang gue minta lo ceraikan gue," kata istrinya sambil meringis atas tarikan rambutnya, mungkin saja sebagian sudah ada yang rontok. "Gue belom puas nyiksa lo, jadi jangan harap lo bisa lepas dari gue. dasar perempuan t***l!!" dihempaskan tarikan atas rambut perempuan itu hingga kali ini keningnya menganai pinggiran ranjang. Dia menyentuh sudut kening yang terasa pening, sesuatu menempel pada lengannya berwarna merah. "Dasar Psikopat, laki-laki gila!!" "Beruntung lo gue pungut, kalau nggak, udah jadi gembel lo di jalanan" Dia berlalu meninggalkan istrinya, yang tengah terduduk di lantai kamar yang dingin. Menendang meja kecil di depan kamar dengan vas bunga diatasnya. Setelah itu, dia berlalu pergi meninggalkan rumahnya. Di ujung sana ada seorang anak kecil sedang bersembunyi di balik tembok dinding penyekat, dia ketakutan saat mendengar bagaimana siksaan yang diberikan oleh papa nya, terhadap mama yang telah melahirkannya. Beruntung saat dia akan melintas, papa nya keluar dari dalam kamar, jadi dia bergegas untuk bersembunyi. jika tadi dia berpapasan dengan sang papa, sudah dipastikan dia akan menjadi pelampiasan berikutnya. Tubuhnya bergetar, saat melihat bagaimana papa nya menendang meja kecil yang terdapat vas bunga dengan sangat kuat, hingga pecahannya berkeping-keping. Dia tidak berani keluar dari dalam persembunyiannya. Hingga datang seseorang memberikan uluran tangan kepadanya, untuk keluar dari tempat dia bersembunyi. "Sudah jangan takut, ada Om, sekarang kamu aman. Ayo masuk ke kamar. Sembunyi di sana, dari pada nanti papa mu melihat." Kata lelaki itu dengan seringai licik yang terbit dari bibirnya. Seorang laki-laki, yang mengklaim, bahwa dirinya pelindung untuk seorang anak kecil berumur 6 tahun yang di sebut, OM. Sejak hari itu, dia seperti sangat mempercayai adik tiri dari papa nya. Setiap dia berkesempatan menyambagi rumah orang tua kandungnya, hari-harinya selalu ditemani oleh lelaki itu. Mereka jadi sangat dekat kadang tidur dan bermalam bersama layaknya keponakan dan paman. Nahas nya pada malam kejadian itu rumah tampak sepi, karena kedua orang tuanya memang jarang sekali berada di dalam rumah. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing diluaran sana. Anak lelaki itu mengerjapkan matanya karena kerongkongannya terasa kering, dia memutuskan untuk turun ke bawah guna mengambil minum. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan itu tampak gelap sekali tidak ada pencahayaan apapun. "Mama... Mama!" anak kecil itu memanggil ketakutan. "Mau kemana?" tanya seorang lelaki memasuki kamar nya. "Om! aku haus, kenapa ini gelap sekali?" "Mati lampu mungkin!" "Oh!" "Nanti om ambilkan air ke bawah. Kamu tunggu sini, kalau kamu ikutan takutnya jatuh. Sebab gelap," jelasnya si om yang direspon dengan anggukan walau tak terlihat kepalanya mengangguk. Selang beberapa menit kemudian si Om kembali sedang segelar air minum. Si anak kecil itu meminumnya hingga tandas tak tersisa. "Ayo tidur lagi," ajak si Om tidur di sisinya "buka bajunya, kan, gerah" pinta si Om dengan senyum devil nya. "Nggak usah om, aku nggak gerah kok!" "Buka!!" bentak si Om yang mana membuat si anak lelaki itu berjingkat kaget karena mendengar suara bas dari lelaki di hadapannya "Cepetan, buka!!" bentak lagi dengan suara menggelegar di ruangan kamarnya. Plaaakkk!!! Tamparan pada wajahnya membuat anak kecil itu jatuh ke lantai. Hingga beberapa detik kemudian dia terkesiap karena tarikan pada tanyannya yang dicekal kebelakang tubuh kecil itu. "Membungkuk, cepetan sialan!" bentak si om dengan memukul b****g si anak lelaki itu yang mana membuat tubuhnya refleks membungkuk. Akhirnya dia pun merasakan sakit di sekujur tubuhnya saat sesuatu mulai dipaksakan masuk pada dirinya. Dia dipukul kembali agar tubuhnya lebih membungkuk lagi. Hingga dia merasakan benda itu menerobos dibelakangnya lagi. Anak kecil itu hanya bisa pasrah tanpa perlawanan. Dia menangis memanggil mama nya merasakan kesakitan yang luar biasa menyiksa. Hingga sesuatu yang basah dapat dia rasanya, dia pun sendiri tidak mengerti itu apa? namun lelaki itu berhenti dari aktifitasnya. "Dasar anak haram!! sana pergi. Awas sampai buka mulut. Gue bunuh lo!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN