Arka tidak akan pernah menduga, apa yang terjadi dengan perasaannya sendiri. Sejak dulu Arka menyimpan rasa yang sulit dia jabarkan.
Sakit dan terluka bisa Arka rasakan, saat dia berkali-kali mematahkan hati seorang gadis yang sangat dia sayangi menangisinya. Bahkan untuk bernapas pun rasanya dia tak mampu lagi, terasa sangat sesak menghimpit dadanya, kala melihat mata itu selalu memancarkan kesedihan di saat mendapatkan penolakan darinya.
Sudah cukup, Arka tak sanggup lagi, membohongi atau menampik akan perasaannya. Dia akan berusaha untuk memantaskan dirinya agar bisa berdampingan dengan gadis baik seperti Rachel. Dia juga akan berusaha sembuh dan bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Bahkan dia berusaha untuk belajar menjadi lelaki yang sempurna di mata Rachel.
Arka bisa sedikit melupakan bayang-banyang dimasa lalunya. Gadis kecil yang dulu dia panggil adik kini telah dewasa. Bahkan sebentar lagi akan berubah statusnya menjadi istri.
Kali ini dia akan sedikit egosi untuk tidak bisa lagi melepaskannya. Rachel telah banyak merubah persepsinya akan cinta yang dianggap omong kosong baginya, menjadi makna cinta yang sesungguhnya. kasih sayang dan ketulusan hati gadis itu bisa Arka rasakan sendiri.
Seperti orang yang tengah kerasukan. Saat ini Arka tengah berguling-guling dikasurnya kala mengingat senyum manis Rachel, sembari menatap langit-langit kamar. Dia menghentak-hentakkan kedua kaki dan tangannya di atas kasur sembari bergumam tak jelas.
"Aaah sial! Gue udah gila kayak nya," gumam Arka mengambil bantal kemudian menggigitnya, masih sembari terus tersenyum.
Arka menoleh kala terdengar suara khas yang mendayu-dayu di telinganya. Padahal panggilan itu biasa Rachel serukan. Hanya saja. Saat ini, dia sedang jatuh cinta. Jadi, seolah-oleh gadis itu tengah bermanja-manja memanggilnya.
Arka kembali memasang wajah Cool nya seperti biasa saat melihat Rachel menyembul masuk ke dalam kamar miliknya.
"Abang!!" Panggil gadis berpiyama lengan panjang dan celana panjang bercorak pororo itu masuk ke dalam kamar milik Arka.
"Ketuk pintu dulu kalau masuk kamar orang... bisa kan? Ayo sekarang berbalik!" Kata Arka menunjuk pintu, lalu memutar telunjuknya agar Rachel kembali keluar dari kamar nya.
"Hah!" Rachel terdiam atas ucapan ketus Arka. Namun, dia tetap menurut dan berbalik badan kemudian mengetuk pintu.
Tok... tok... tok...
"Masuk! Nah begitu, ingat ya. Ketuk pintu! Mau kamu, kalau pas masuk aku lagi nggak pakai baju, hemm!"
"Ih mesum... iya!" Rachel menghempaskan bokongnya di atas kasur saling berhadapan dengan Arka. Gadis itu duduk bersila sembari membuka laptopnya. "Coba liat deh, Bang. Menurut abang Desaint logo Cofee kemasan yang baru aku buat ini, kalau aku ganti seperti ini bagus gak?" tanyanya tanpa direspon oleh Arka, dia masih terus menjelaskan secara detail tentang Desaint Cofee kemasan yang akan dia bagi-bagikan secara gratis untuk promosi Launcing produk barunya.
Arka masih terus memandangi wajah cantik Rachel. Dia sama sekali tak berminat menoleh ke arah manapun. Jantungnya kian berdebar saat bibir tipis ranum milik gadis dihadapannya itu terus bergerak saat berbicara. Lelaki itu terus saja mengembangkan senyum tipis dengan binar cinta.
"Bang!!" panggil Rachel, menggoyangkan kan telapak tangannya ke kiri dan kanan di depan wajah Arka yang tengah senyum-senyum sendiri tak jelas. "Jadi dari tadi aku ngomong abang gak mendengarkan," lanjutnya memberenggut kesal, dia melipat tangan di depan d**a sembari memalingkan wajahnya
"Jangan ngambek dong! Nanti cantiknya hilang" gombalnya mencubit gemas pipi Rachel
"Aku lagi minta saran, Abang loh."
Arka tak menggubris ucapan Rachel lagi, dia menutup laptop milik gadis cantik dihadapannya itu. Sedikit merubah posisi duduknya hingga maju saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
Dia menangkup pipi Rachel dengan terus menatap manik hitam dengan bulu mata yang lentik. Betapa sempurnanya wajah gadis dihadapannya itu, memiliki garis alis yang natural. Dengan hidung kecil nan lancip, bibir tipis yang kini menjadi candu untuknya.
"Kamu tau?" tanya Arka yang ditanggapi Rachel dengan gelengan kepala. "Semenjak ada kamu di sini" dia melepas tangannya kemudian beralih menepuk dadanya dengan masih menggenggam jemari gadis itu. "Abang bisa melupakan semua bayang-bayang masa lalu abang..." dia menjeda ucapannya kemudian melepas jemari dan beralih mengambil telapak tangan itu untuk di taruh di depan dadanya. "Kamu bisa merasakannya, Di sini. Ada cinta yang nggak bisa aku bohongi sekaras apapun aku menolaknya..." menghela napasnya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya "Maaf kalau abang pernah menyakitimu. Tapi percayalah, di sini ada cinta yang teramat besar untuk susah abang ungkapkan secara gamblang. Namun, bisa kamu rasakan."
Rachel sama sekali tak bisa membalas apapun ungkapan perasaan lelaki di hadapannya itu. Hanya air mata yang kini menetes di kedia pipinya. Betapa bahagia ternyata Arka juga menyimpan perasaannya sama seperti dirinya. Dan bisa dia rasakan detak jantung lelaki itu.
"Jangan menangis lagi. Abang hanya ingin melihat senyum manis ini setiap harinya." Arka menghapus air mata Rachel dengan buku jarinya mengecup dahi gadis itu, memeluknya erat seakan-akan tak mampu lagi melepasnya.
Akhirnya mereka berdiskusi setelah drama ungkapan perasaan masing-masing. Arka yang tengah fokus memberikan ide kreatifnya untuk pembukaan cabang Coffe Shop baru milik Rachel. Ponselnya yang berada di atas nakas tiba-tiba saja berdering. Namun, sama sekali tak memebuat pemilik ponsel tersebut bergeming. Arka tak mengharaukannya, dia masih terus sibuk di depan layar laptop milik Rachel.
"Bang! itu ponselnya berbunyi. Diangkat dulu, siapa tau penting,"
"Coba kamu lihat, siapa yang hubungi aku malam-malam begini?"
Rachel mengambil ponsel milik Arka dan memberikan nya pada lelaki itu. Dia mengintip sekilas tertera nama Niken di sana.
Arka beranjak berdiri menjauh dari Rachel saat dia menerima panggilan teleponnya.
Rachel berusaha mengalihkan pikirannya pada pekerjaan. Sesekali dia melirik ke arah lelaki itu yang tengah berdebat serius dengan orang disebrang sana. Entahlah dia hanya mencoba berpikiran positif, dia mencoba mengalihkan kembali dengan berkirim pesan kepada ,Vika. Yang mana sahabatnya itu tengah cuti pergi berlibur dengan kekasih barunya.
Arka kembali menghampiri Rachel. Mengelus pucuk kepala gadis itu, kemudian menaruh ponsel nya kembali ke tempat semula saat Rachel mengambilnya tadi. Dia berlalu masuk ke dalam Walk In Closet mengambil beberapa potong pakaian, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa menit berlalu, dia keluar dengan berpakaian lengkap. Arka menggunakan kaos lengan berwarna putih dipadukan dengan celana jeans.
"Aku tinggal sebentar!"
"Mau ke mana?"
"Ada urusan" jawab Arka mengecup kening Rachel.
Rachel mendongakkan kepala saat Arka mengecup keningnya. Gadis itu mencekal pergelangan tangan Arka dengan sedikit meenarinya, hingga dia dapat mengecup sekilas bibir lelaki itu.
"Hati-hati," kata Rachel yang di respon anggukan kepala oleh Arka.
Lelaki itu mengambil kunci mobil dan ponselnya, kemudian dia berlalu meninggalkan Rachel sendirian di dalam kamar miliknya.
****
"Gimana?" tanya Arka, yang baru saja melesatkan bokongnya pada sofa ruang VVIP pada Club malam. Di dalam sana ada Niken dan juga beberapa orang temannya. Sepertinya mereka sudah paham. Jika ada Arka, mereka semua pergi satu persatu menyisakan Niken dan lelaki itu.
"Aku kangen!" Kata Niken bergelayut manja, ingin mencium bibir Arka. Namun lelaki itu menolaknya dengan memalingkan wajahnya ke arah lain. Niken mengernyitkan keningnya "Kenapa?" tanyanya bingung. Tidak biasanya lelaki itu menolak dirinya. Biasanya.
"Nggak apa-apa gue lagi nggak mau aja, kenapa nggak tunggu besok,-"
"Kenapa harus nunggu besok?"
Arka menoleh pada sumber suara yang sangat familair di telinganya.
"Kenapa? lupa lo sama gue," ucapnya tertawa menggelegar diruangan itu yang membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya bergidig ngeri.
"Ken... b*****t lo!!!" makinya beranjak berdiri, belum sempat arka melangkah sebuah tali menjerat lehar Arka hingga membuat dia terjatuh ke lantai
"Dasar anak haram. Bisa-bisa lo lari dari gue, dan lo suruh jalang itu temuin gue. Sialan!!" hardiknya memukul Arka dengan sangat kuat bertubi-tubi mengenai perutnya.