Tiga Belas

1545 Kata
Seorang gadis tengah tertidur dengan sangat lelap, di atas kasur empuknya. Dia terus memeluk guling itu dengan sangat erat, seakan-akan takut benda itu diambil oleh orang lain. Mentari di luar sana sudah menampakkan sinarnya. Tapi, tak mampu mengusik gadis itu untuk bergegas bangun dari mimpi indahnya. Semalaman dia terjaga hingga dini hari, menunggu seseorang membalas pesannya atau menjawab panggilannya. Rachel memicingkan mata, saat sinar mentari menerobos masuk lewat celah jendela kamarnya. Menggeliat manja, sembari merenggangkan otot-ototnya. Sesekali mulut gadis itu menguap, karena rasa kantuk itu masih dia rasakan. Melihat sekeliling ruangan, bukan lagi berada di dalam kamarnya. Dia menghela napasnya, kala mengingat semalaman dia tidur di kamar Arka. Kayaknya abang nggak pulang! Rachel memeriksa ponselnya. Tapi, tak ada satu pun pesan yang terbalaskan dari Arka untuknya. Dia menurunkan kakinya ke lantai, menatap kosong ke depan, sembari menelisik kembali ruangan sekelilingnya. Kamar itu nampak sepi dan sunyi. Entah kenapa, perasaannya pagi ini agak sedikit berbeda. Ataukah itu hanya perasaannya saja, karena dia baru saja bangun dari tidurnya. Menggelengkan kepala Rachel beranjak berdiri, berlalu dari dalam kamar Arka menuju kamar nya di sebelah kamar lelaki itu. Setelah meletakkan berbagai perlengkapannya di atas meja, dia bergegegas masuk ke dalam kamar mandi bersiap untuk berangkat ke kantor pagi ini. Dirasa dirinya sudah cukup rapih, dia memutuskan turun untuk mengecek kamar tamu terlebih dahulu sebelum dirinya berangkat ke kantor. Siapa tahu Arka tidur di kamar itu, karena merasa tak enak membangunkan dirinya ketiduran di kamarnya. "Nggak ada abang" gumam Rachel saat membuka kamar tamu. Dia menutup kembali kamar itu, kemudian berjalan menuju ruang makan. Rachel mengedarkan pandangannya mencari sosok sang bunda. Biasanya setiap pagi perempuan paruh baya itu sudah repot dengan berbagai aktifitasnya di dapur. Rachel melihat pergelangan tangannya, ini masih terlalu pagi jika bundanya sudah berangkat keluar rumah, karena saat ini jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. "Tumben sepi banget? Bunda sama papi ke mana? oma juga gak ada?" gumam Rachel dengan berbagai pertanyaan kemudian dia duduk di meja makan "Non! sudah bangun?" tanya Minah "Bunda sama papi ke mana, Cus?" bukan lagi menjawab ucapan Minah, dia malah balik bertanya kepada pengasuh yang sudah lama mengasuhnya sejak dia batita. "Kata ibu sama bapa. Kalau non sudah bangun di suruh langsung bersiap. Nanti cus yang antar, Non!" jawab minah sembari menunduk tak berani menatap anak majikannya yang sudah dia anggap sebagai anak sendirinya. Rachel mengernyitkan keningnya. "Mau ke mana? Memangnya bunda sama papi ke mana?" "Maaf, Non!" "Cus, ini ada apa? ke mana semua orang-orang di rumah ini? kenapa sepi sekali? abang mana?" Rachel memberondong berbagai macam pertanyaan yang sama sekali tak di jawab oleh Minah. "Sebaiknya non habiskan sarapannya, saya tunggu non di depan." Sahut Minah berlalu meninggalkan Rachel, sembari menundukkan pandangan. Minah meneteskan air mata, buru-buru langsung dihapusnya. Rachel hanya bisa diam, duduk di meja makan tanpa melakukan aktifitas apapun. Tatapannya kosong dengan pandangan lurus ke depan. Beranjak berdiri bergegas berjalan keluar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobil. "Kita mau ke mana, Cus? Om Ivan tolong jawab pertanyaanku?" tanya Rachel mendesak dua orang di depannya itu. Baik Minah maupun Ivan, tak ada yang membuka suaranya. Bahkan, sekedar menjelaskan sedikit saja mereka tak ada yang berani. Mereka sama-sama diam, lalu kendaraan itu pun melaju meninggalkan halaman pekarangan rumah mewah milik keluarga, Richardo. Di sepanjang perjalanan, Rachel terus menghubungi semua anggota keluarganya. Sama sekali tak ada yang menjawabnya. Begitupun dengan pesannya, tak ada satupun pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, saat kendaraan yang dia tumpangi menuju halaman parkiran rumah sakit. "Siapa yang sakit, Cus?" tanyanya dengan suara yang tercekat menahan tangis. "Maaf non. Sebaiknya non segera masuk" jawab Minah saat mobil yang dikendarai Ivan berhenti tepat di loby rumah sakit. Rachel turun dari dalam mobil, Semua karyawan rumah sakit menunduk hormat kala gadis itu turun berjalan melewatinya. Karena mereka semua sudah mengenalnya. Gadis cantik yang Humble itu adalah cucu pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja. Gadis itu melangkah lurus ke depan tanpa mau menoleh ke arah manapun. Melewati koridor-koridor kamar rumah sakit menuju ruang ICU. Langkah kakinya terhenti, kala melihat beberapa anggota keluarganya berdiri di depan pintu kaca yang lebar. "Rachel!!" panggil Resti beranjak berdiri berlari menghampiri anak gadisnya. Di susul dibelakang ada Richard. "Bun!!" jawabnya lirih seiring air mata yang sudah menetes jatuh di kedua pipinya. Dia masih diam terpaku menelisik orang-orang yang tengah memandangnya. Hanya ada satu orang yang tak nampak terlihat olehnya. Abang!! Belum sempat bertanya apapun pada kedua orang tuanya. Kaki Rachel sudah lemas seperti jelly, merosot ke lantai dengan mata yang mulai terasa gelap. Persekian detik dia sudah tak sadarkan diri. "Rachel... bangun, Nak!!" teriak Resti histeris. Memeluk tubuh anak gadisnya dengan tangisannya. Richard mengangkat tubuh Rachel. Berlari masuk ke dalam ruangan. Membaringkannya di brangkar rumah sakit. "Rachel kenapa?" "Tolong anakku, Ad" "Pasti! Rachel anakku juga. Sekarang kalian tunggu diluar, aku akan segera memeriksanya," kata Adrian membawa Rachel untuk di periksa Resti tak henti-hentinya menangis dalam pelukan Richard. "Pih, anak kita!" "Iya, Sayang. Kamu yang sabar jangan menangis lagi" Kata Richard mencoba menguatkan istrinya. Padahal dia sendiri pun rasanya tak kuat saat melihat bagaimana kondisi Arka. Ditambah lagi dengan Rachel yang sepertinya syok dengan keadaan saat ini. Tangannya terus memeluk Resti, dan tangan yang satunya lagi dia gunakan mengelus bahu mama Elsa. Rachel mengerjapkan mata, kala dirinya terjaga dari pingsan. Dia meringis memegang kepalanya yang terasa sedikit nyeri. Tanpa memikirkan rasa sakitnya, dia mencabut selang infus yang menancap pada lengannya. "Eh, Nona belum boleh bangun!" Kata suster yang berjaga, dia terkesiap kala melihat Rachel tiba-tiba beranjak berdiri. Rachel tak menghiraukan suara suster yang melarang meninggalkan ruang perawatannya. Dia juga tak menghiraukan lagi dengan darah yang menetes ke lantai dari lengan kanannya. Berlalu pergi dari ruangan itu, berlari menuju ruang ICU. Di sana masih ada Oma, dan kedua orang tuanya, beserta Dokter Adrian. "Rachel?" panggil Resti melepas pelukan pada Richard, dia beralih memeluk anak gadisnya. "Duduk dulu sayang, kamu baru pulih" sambungnya mengajak Rachel untuk duduk. "Apa yang terjadi, Bun?" Menatap satu persatu keluarganya dengan lelehan air mata yang sudah basah mengenai kedua pipinya. "Sabar sayang. Kita berdoa untuk abang" jawab Richard mengelus bahu anak gadisnya. Rachel menatap Richard dengan terisak beralih menatap Adrian."A-apa ya-ng terjadi, Pah?" tanyanya dengan suara terbata karena tangisannya, "kenapa kalian tidak memberitahuku?" "Abang kecalakaan, Sayang. Kondisinya saat ini sedang kritis, kita tunggu tante Adinda,-" ucap Adrian menggantung kala melihat Adinda keluar dari pintu kaca ruangan ICU. "Din, bagaimana anakku?" tanya Richard dan Resti bersamaan. "Kalian harus bersabar. Aku usahakan yang terbaik untuk Arka. Saat ini kondisinya masih kritis, semoga Arka bisa melewatinya..." Jelas Adinda menatap satu persatu keluarga sahabatnya itu. Dia menghela napas pelan sebelum melanjutkan ucapanya. "Res, Mas Richard. Bisa kita bicara sebentar diruanganku." "Kamu tunggu di sini ya, Sayang. Bunda titip oma dan abang. Jika ada perkembangan dari abang, kabari bunda secepatnya. Bunda sama papi keruangan tante, Adinda." Terang Resti yang tak direspon apapun oleh Rachel. Mengecup sekilas kening anak gadisnya berlalu pergi mengikuti Adrian dan Adinda. Resti berjalan menangis dalam rangkulan Richard. Masuk ke dalam ruangan "Ayo. Silahkan!" persilahkan Adinda sabahat dan suaminya itu untuk duduk. Adinda membuka lemari pendingin mengambil 3 botol air mineral kemudian meletakkannya pada meja sofa yang berada di ruangan nya itu. Sesudahnya dia mengeluarkan map birisikan hasil visum Arka yang dia ambil tadi. "Begini. Aku curiga kalau luka-luka pada Arka bukan karena kecelakaan, melainkan penganiayaan," ucap Adinda. "Kamu serius, Sayang?" tanya Adrian "Maksudmu?" tanya Richard berbarengan dengan Adrian. "Hemm... aku yakin sekali." Adinda menganguk meyakinkan ucapannya. "Begini," dia meletakkan kaca mata yang dia kenakan di atas meja sebelum melanjutkan kembali ucapannya. "Ada jerat seperti tali pada leher Arka, dan ada luka bekas benda tumpul pada punggung, bahu juga kepala nya." "Kurang ajar!!" maki Richard mengepalkan tangannya di atas kedua pahanya. "Ya ampun tega sekali orang itu" ucap Resti tak bisa lagi membendung rasa sedihnya, dia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. "Sabar, aku yakin kalian kuat. Jangan perlihatkan kesedihan kalian di depan Rachel, aku tahu dia sama sedihnya seperti kalian." Kata Adinda menghela napasnya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Arka mengalami Pendarahan pada otaknya. Berdasarkan hasil pemeriksaanku, pukulan itu sengaja dibenturkan dalam jarak yang cukup dekat. Menggunakan benda tumpul." "To-long a-ku, Din. Selamatkan anakku!" ucap Resti terbata menangis terisak. "Pasti. Aku akan mengusahakan semaksimal mungkin, sesuai dengan kemampuanku untuk kesembuhan Arka," sahut Adinda memeluk Resti. "Sejak kecil anak itu tak pernah bahagia dan selalu mendapatkan perlakuan kejam oleh orang lain. Termasuk kedua orang tua kandungnya. Untuk itu aku sangat menyayanginya melebihi anak kandungku sendiri. Rasanya sakit saat melihat dia terbaring dengan banyak luka-luka disekujur tubuhnya. Tolong aku din! tolong, sembuhkan anakku!!" tangis Resti pecah dalam pelukan suaminya dia terisak tak bisa lagi membendungnya. Adinda tak bisa lagi membalas ucapan sahabatnya itu, dia pun menangis dalam pelukan suaminya. Melihat bagaimana sahabatnya itu sangat menyayangi anak angkatnya, dia pun tahu itu. Richard memeluk Resti dengan sangat erat sesekali dia mengecupi pucuk kepalanya. Setetes air mata tak bisa di cegahnya keluar dengan sendirinya buru-buru dia menghapusnya agar istrinya tak melihatnya. Dia harus bisa menguatkan hatinya di hadapan anak dan istrinya juga mama Elsa yang dia tahu mama Elsa sangat menyayangi Arka sedari lahir karena mama Elsa yang merawatnya. Di luar jendela kaca, Rachel menangis tanpa suara. Hanya ada air mata yang tak kunjung mereda menetes di kedua pipinya. Aku nggak tau apa yang terjadi. Tapi percayalah, aku akan terus menunggumu di sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN