Pada malam itu. Arka sengaja datang sendiri, tanpa Rendi atau pun Bodyguard yang biasa selalu ada mendampinginya. Karena dia akan bertemu dengan Niken hanya sebentar saja. Seperti biasa, dia tidak menaruh kecurigaan apapun terhadap Niken. Arka datang dengan mengendarai mobilnya seorang diri.
Lewat sambungan teleponnya. Niken mengatakan ada hal penting yang mendesak untuk segera bertemu dengannya malam ini juga. Dan itu tidak bisa diundur lagi.
Tepat pukul 22.00 malam Arka sampai di VVIP Club malam. Dengan santainya Arka masuk ke dalam ruangan itu yang di sambut kecupan hangat dipipinya oleh Niken. Arka sempat menghindari kontak fisik dengan perempuan itu, namun tak membuat keduanya berdebat.
"Gue banyak urusan, kenapa nggak besok aja bicaranya?"
"Ngapain tunggu besok?"
Arka menoleh pada sumber suara yang sangat familiar di telinganya. Dia terkesiap saat Jeff ada di sana.
"Kenapa? lupa lo sama gue?" tanyanya tertawa menggelegar diruangan itu, yang membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya bergidig ngeri.
"Ken... b*****t lo!!!" makinya beranjak berdiri menatapa Niken.
Belum sempat arka melangkah pergi pukulan pada punggungnya membuat dia jatuh ke lantai oleh anak buah Jeff.
"Bawa mereka semua!" titah Jeff kepada anak buah nya.
Mereka semua pergi dari Club malam itu menuju pergudangan kosong dekat dermaga.
"Dasar anak haram. Bisa-bisanya lo lari dari gue, dan lo hindarin gue. Lo suruh jalang itu temuin gue. Sialan!!" hardiknya menuangkan air es dalam satu ember ke atas tubuh Arka.
Jeff yang marah langsung terbang ke Indonesia. Dia kesal saat permintaan nya tidak di penuhi Arka, dan malah mengirimkan Niken untuk bertemu dengannya. Padahal yang Jeff tunggu sejak satu tahun lalu adalah Arka. Dia menginginkan agar Arka bersedia memberikan semua harta yang di miliki kedua orang tuanya.
"Lo tau apa yang gua inginkan? Tapi kenapa lo suruh jalang itu yang buat temuin gue. Lo seharusnya tau diri, ini udah terlalu lama gue diam. Gue mau secepatnya lo serahin perusahaan itu. Dan gue mau semua aset beberapa Club malam itu jadi milik gue!"
"Perusahaan itu punya, Papah. Aku nggak akan kasih itu untuk Om. Karena itu hasil kerja keras Grandma. Aku sudah kasih tahu berulang-ulang kali mengenai Club malam, bukan urusanku lagi. Itu sudah menjadi kekuasaan, Niken."
"Arka!!" bentak Niken
"Kenapa? memang lo yang kelola dan lo juga yang menikmatinya. Gue udah nggak mau berurusan lagi dengan hal-hal semacam itu semenjak om menjebakku. Aku mau hidup normal dan punya keluarga."
Arka di buat maauk ke dalam klan mafia Cosa Nostra oleh Jeff. Namun, Jeff sendiri yang mengarang cerita bahwa Arka telah membocorkan rahasia bisnis kotor mereka ke pada pihak berwajib. Hingga beberapa bisnis klan tersebut gagal dan mendapatkan banyak kerugian dan mereka menuduh Arka telah berkhianat.
Arka masuk karena ingin mengambil alih peradilan di lingkungan kecil, dia tidak ingin ada pemerasan untuk rakyat kecil. Arka juga merupakan pecinta benda-benda seni dan kuno. Oleh karena itu, dia masuk ke dalam klan mafia Cosa Nostra, untuk melindungi pencurian siklus benda-benda seni.
Tapi, karena kelicikan Jeff. Arka malah di tuduh berkhianat hingga lelaki itu nyaris di bunuh oleh beberapa anak buat Klan mafia dari Cosa Nostra. Beruntung Kelompok mafia lainnya yaitu Camorra, diperkirakan yang beranggotakan 4.500 orang membantu dan melindunginya. Tanpa Arka sadari bahwa kelompok mafia dari Camorra pemimpinnya adalah sepupu dari Ivan asisten papinya.
Setelah Richard tahu bahwa Arka masuk ke dalam dunia per-mafia-an. Richard sendiri yang memerintahkan Ivan juga Tito masuk ke dalam dunia tersebut atas kepemimpinan sepupu Ivan untuk melindungi Arka.
Suara tawa Jeff menggelegar, dengan picingan mata tajamnya. "Apa lo bilang? mau punya keluarga dan hidup normal..." tawa Jeff lagi mengejek. "Jangan bermimpi punya kehidupan yang bahagia. Karena lo hanyalah sampah!"
"Lo yang sampah!! Selama hidup, apa yang bisa lo banggaian. Hidup lo cuma menumpang dengan papa tapi lo perkosa mama gue. Lo yang sampah karena udah bunuh Grandma demi agar lo di aku sebagai anak kandung Grandpa," maki Arka dengan emosi yang sudah tak bisa terkontrol.
"Sialan lo! udah berani rupanya"
Seutas tali menjerat leher Arka. "Aakh.." Dia tersentak saat lehernya terjerat dengan keras. Arka memberontak karena aliran napasnya yang semakin menipis. Dia mencoba melawan menendang memukul-mukul di udara pada jeratannya.
"Jangan... jangan... tolong lepasin! dia bisa mati!!" teriak Niken memberontak pada cekalan dua orang yang sedari awal sudah memegangi dirinya.
Niken menangis dengan lelehan air mata bagaimana dia melihat Arka yang sedang di siksa oleh ke empat orang dihadapannya.
Arka tidak dapat berkutik, kaki dan tangannya terikat oleh tali.
"Itu yang gua mau. Dia mati.." maki Jeff menendang perut Arka.
Jeff berjongkok hingga sejajar dengan tubuh Arka yang sudah tersungkur ke lantai gudang yang kotor. Dia menjambak Rambut Arka hingga wajahnya mendongak menatapnya. Jeff menepuk-nepuk pipi Arka dengan senyum devilnya.
"Rasanya gue mau matiin lo. Tapi, gue masih butuh lo"
"Om mau apa?"
"Lo pasti udah tau mau gue. Dan lo gak usah pura-pura bodoh. Ini... cepatan lo tanda tangani dengan ini lo udah kembalikan apa yang seharusnya jadi milik gue bertahun-tahun yang lalu." Jeff menunjukkan kertas yang berisikan pemindahan kepemilikan atas namanya.
Arka membaca dengan seksama isi surat tersebut, dia menggelengkan dengan cepat kepalanya.
"Nggak... nggak akan gue tanda tangani itu!"
"Owh... jadi lo memilih mati dari pada lo tanda tangani itu surat. Habisi dia!"
"Jangan!!"
"Bawa p*****r itu!"
Arka menjadi bulan-bulanan pada orang suruhan Jeff. Pukulan bertubi-tubi mendarat di sekitar tubuhnya. Mulai dari wajah, perut dan d**a. Pelipis Arka robek, rahang lelaki itu juga patah. Matanya bengkak tertutup hampir tak bisa melihat karena pukulan orang itu. Wajah Arka hancur berantakan. Belum lagi tubuh dengan beberapa tulang rusuk yang patah.
"Uhuk... uhuk..."
Darah segar meleleh dari mulut Arka. Dia hanya bisa pasrah menerima pukulan empat orang yang tiada henti menghantam tubuhnya. Dengan pejaman mata sempurna dia kehilangan kesadarannya.
Tidak akan ada yang tahu rencana Tuhan ke depan seperti apa?.
Seperti persiapan pernikahan Arka dan Rachel dari keluarga Richardo. Yang digadang-gadangkan akan di laksanakan dua bulan kedepan akhirnya mundur. Sampai keadaan Arka membaik dan itu belum ada yang tahu kapan kejelasan lelaki itu siuman dan bangun dari koma nya.
Rendi sebagai Asisten sekaligus sahabatnya pada malam itu dia tidak tahu apa yang terjadi. Namun ke curigaan mengarah kepada Jeff, adik tiri dari Bobby yang tak lain papa kandung Arka.
Berdasarkan informasi yang didapatkan, bahwa Jeff kini sedang berada di Indonesia. Dan itu di yakinin oleh Rendi. Beberapa hari yang lalu, Rendi sempat melakukan pengecekan diterminal bandar udara. Tercatat nama Jeff masuk daftar kedatangannya ke indonesia.
Namun bukti yang mereka miliki tak cukup kuat untuk menyeret Jeff ke dalam penjara. Karena, saat itu jeff kedapatan berada di tempat lain saat Arka diketemukan di pinggir ruas jalan tol. Untuk itu Arka dianggap sebagai kasus kecelakaan.
Untuk sementara, perusahaan di pegang kembali oleh Richard. Selama Arka menjalani perawatannya di rumah sakit. Dia tetap memantau kasus anak lelaki nya. Dia ingin semua pelaku yang terlibat membusuk di penjara.
"Apa sudah ada bukti, Van?"
"Belum bos, semua bersih!"
"Ah... sialan!"
"Sabar, gue akan berusaha terus," ucap Ivan yang di angguki oleh Richard.
Di rumah sakit.
Pasca operasi yang dilakukan sebanyak tiga kali. Arka di nyatakan koma, dan masih menunggu kelanjutan kondisi berikutnya. Terhitung sudah hampir tiga bulan lamanya Arka koma.
Rachel selalu menunggu dan tak pernah absen berada di sisi Arka. Gadis itu membawa seluruh barang pentingnya, dan meminta untuk menambah bed di sisi sebelah ranjang Arka.
Tentu saja semua disetujui, karena yang meminta adalah cucu satu-satunya mendiang pemilik rumah sakit itu.
"Bang bangun yuk! hari ini aku ada launcing pembukaan Coffee Shop aku yang baru loh! Dan itu, aku usung konsep nya sesuai dengan ide-ide kreatif, Abang!" Kata Rachel dengan terus menggenggam jemari Arka yang tidak di infus. Rachel terus berbicara sendiri sesekali gadis itu mengecupi genggaman tangan nya.
"Sudah kamu berangkat saja, biar abang sama bunda." Kata Resti mengelus bahu anak perempuannya.
Rachel menghela napasnya menoleh pada Resti. "Abang kapan bangunnya ya Bun. Aku kangen, rasanya malas sekali aku pergi,"
"Loh, kok malas. Nggak boleh gitu dong, nanti abang malah sedih liat kamu kayak gini. Sudah sana, kasihan Vika kalau kamu tinggalin. Dia mengurus semuanya sendiri," pinta Resti menyuruh anak gadisnya untuk berangkat.
"Ya sudah, aku titip abang ya bun. Kalau ada apa-apa hubungi aku segera"
"Iya, Sayang. Jangan pikirkan apapun tentang abang. Ada bunda di sini"
Rachel beranjak berdiri mengecup sekilas kedua pipi, Arka. "Aku pergi sebentar" bisiknya di telinga Arka.
Tanpa mereka sadari jari Arka bergerak merespon bisikan Rachel.
Rachel pergi meninggalkan rumah sakit menuju tempat pembukaan Coffee Shop nya.
"Akh.... akhirnya lo datang juga"
"Maaf,"
"It's okey!"
Vika memeluk sahabatnya. Dia mengerti bagaimana perasaan Rachel saat ini. Sebagai sahabat dia hanya bisa menyemangati untuk tetap kuat dan bersabar menunggu Arka siuman.
"Hai, Cel!" sapa Dani ke arah Rachel yang baru saja datang. Lelaki itu merangkul pundak Vika, kemudian mencium pipi gadis itu.
"Hah..." Rachel membuka matanya lebar menatap tak percaya sahabatnya itu dikecup pipi nya oleh Dani. "Kalian? berpacaran?" tanyanya sembari geleng-geleng kepala.
"Yes, Maaf yaa beib, gue belum sempat banyak cerita. Habis liat lo kayak gini, rasa nya tuh belum tepat aja"
"Nggak apa-apa gue bahagia. Akhirnya sahabat gue yang super cerewet ini punya pacar dalam wujud yang nyata,-"
"Achk... sialan lo!"
Mereka tertawa bersama mempersiapkan pembukaan cabang Coffee Shop milik Rachel yang ke enam. Rachel memilih kawasan perkantoran dengan tema Desaint nya yg elegan. Semua sesuai dengan coretan terakhir Arka pada malam sebelum kecelakaan.
Rachel menatap ruangan sekelilingnya dengan rasa puas dan bangga. Gadis itu juga membagikan satu botol berisikan Coffee kemasan yang dia racik sendiri sebagai ajang promosi untuk menarik pelanggan.
"Akhirnya selesai. Lo mau gue antar pulang sekalian ke rumah sakit, Cel?"
"Nggak. Kalian duluan aja, gue masih mau di sini"
"Ya sudah, gue balik duluan." Pamit Dani dan Vika meninggalkan Rachel sendirian.
Selepas kepergian Vika. Rachel duduk di pojokan yang dekat dengan jendela besar. Menikmati secangkir Coffee sebegai penenang jiwanya yang sedang bersedih.
Pergerakan di sisinya pun sama sekali tak mengusik dirinya untuk menoleh ke samping.
"Gimana keadaan Arka?"
Pertanyaan seseorang disebelahnya sama sekali tak di jawab oleh, Rachel. Rasanya terlalu muak jika melihat wajah tanpa dosa itu.
"Maaf."
Tanpa menunggu jawaban Rachel dia beranjak berdiri. Namun, sebelum dia meninggalkan Cofffee Shop itu. Niken menghela napas tanpa menoleh dan berkata pada Rachel.
"Sekeras apapun keluarga lo menentang hubungan gue dan menjauhkan gue darinya. Dia akan balik lagi ke gue dengan sendirinya. Jadi, lo harus terima gue."
Tangan Rachel yang berada di bawah meja terkepal kuat menahan amarahnya.