"Rumah kamu masih jauh?" tanya Axel setelah keduanya menempuh perjalanan beberapa menit dari hotel.
"Masih sekitar lima belas menit lagi, Om."
"Oh, ya udah." Axel kembali fokus menyetir.
"Om ini baik sekali. Om tidak seperti kebanyakan lelaki hidung belang yang datang ke rumah bordil. Memangnya sudah seberapa sering Om datang ke tempat seperti itu?"
"Aku juga baru sekali itu datang ke sana karena aku putus asa mencari orang yang akan aku jadikan istri pura-pura. Sebenarnya ada sepupu dari jalur mama tiriku yang sejak dulu ngejar-ngejar aku. Tapi aku nggak percaya sama dia. Aku tahu dia tamak dan mengharapkan lebih dari sekadar istri pura-pura."
"Lalu kalau sama aku, Om percaya?" tanya Zea.
"Semoga saja kamu bisa aku percaya. Sejak pertama melihat kamu di rumah bordil, aku langsung yakin memilih kamu. Sepertinya kamu masih lugu, beda dengan yang lain. Mereka semua dandannya norak. Memangnya sudah berapa lama kamu kerja di sana?" Pertanyaan Axel membuat Zea terdiam.
"Apakah aku harus jujur kepada Om Axel kalau sebenarnya malam itu adalah pertama kali aku bekerja di rumah bordil dan dia adalah pelanggan pertamaku?" batin Zea bimbang.
"Sudah berapa lama kamu kerja di sana?" Pertanyaan Axel membuat Zea gugup.
"Nggak tahu, Om. Aku sudah lupa," jawab Zea asal.
"Sudah berapa banyak lelaki yang tidur sama kamu?"
"Aku nggak tau, nggak pernah ngitung. Kenapa, sih, Om tanya-tanya seperti itu?"
"Aku hanya miris saja melihat gadis secantik kamu, masih sangat muda harus bekerja jual diri seperti itu."
"Jadi menurut Om, aku cantik?"
"Iya kamu cantik, seksi dan menarik. Tapi sayangnya, kamu bukan tipe aku." Mendengar jawaban Axel, Zea mendengkus kesal.
"Dasar cowok aneh," batinnya sembari membuang pandangan dari Axel.
"Memangnya kamu nggak bisa cari kerjaan lain? Masih banyak kerjaan yang bisa kamu lakukan tanpa harus menjual harga dirimu."
"Udah deh, Om. Jangan ceramah terus. Aku tahu Om akan bayar aku, tapi Om nggak berhak ceramahin aku. Om bukan papaku. Aku hanya orang yang akan jadi istri pura-pura Om. Jadi jangan kebanyakan ceramah."
"Oke, baiklah. Maafkan aku. Tapi sebelum aku ketemu mama kamu, aku perlu tahu latar belakang kehidupan kamu. Supaya nanti mama kamu percaya kalau kita sudah kenal lama. Selain itu juga kalau Papaku tanya, aku bisa cerita tentang calon istri aku."
"Apa yang mau Om tahu dari aku?"
"Kamu masih kuliah?"
"Nggak! Aku hanya lulus SMA. Saat wisuda kelulusan, Papa dan Mama nggak datang. Ternyata saat itu Papa ditangkap KPK karena ketahuan korupsi. Rumah, mobil dan seluruh aset yang dimiliki Papa termasuk deposito dan tabungan semua disita oleh KPK.
Entah Papa benar-benar bersalah atau tidak, yang jelas sekarang Papa ditahan. Aku dan Mama bingung mau tinggal di mana. Akhirnya kami pulang ke Surabaya. Ada rumah orang tua Mama yang sudah lama tidak dihuni karena kakek dan nenek sudah meninggal.
Mama bekerja di tempat laundry dan gajinya sangat minim, hanya cukup untuk makan saja. Aku nggak bisa hidup seperti itu, Om. Sejak kecil aku selalu hidup dalam kemewahan. Aku punya banyak teman dari kalangan elit. Namun, kini saat aku terpuruk, nggak ada satupun dari mereka yang mau deket sama aku. Termasuk teman-temanku yang paling akrab sekalipun.
Mereka semua kompak menjauhi aku. Mereka bilang aku anak koruptor. Aku cuma mau tunjukin sama mereka kalau aku juga bisa hidup mewah tanpa uang hasil korupsi Papa. Tapi aku nggak tahu harus kerja apa. Sampai akhirnya ada yang mengajakku untuk kerja seperti ini. Mami mengganti namaku menjadi Cherry kalau sedang bekerja."
"Astagfirullah. Kenapa kamu melakukan ini? Apa Mama kamu tahu kalau kamu bekerja menjual diri?"
"Nggak! Mama nggak tahu dan nggak boleh tahu karena Mama pasti akan melarangnya."
"Sudah aku duga. Orang tua mana yang rela anak gadisnya jual diri. Nanti kalau tugas kamu selesai jadi istri pura-puraku, kamu boleh kerja di kantorku. Jangan kembali lagi menjadi kupu-kupu malam."
"Kenapa Om peduli pada nasibku?"
"Karena ... karena aku--"
"Om nggak rela, ya, tubuh aku dijamah para laki-laki hidung belang?" tanya Zea percaya diri.
"Kamu jangan ngaco! Aku hanya kasihan saja sama mama kamu. Harapannya melahirkan anak gadis seperti kamu pastilah untuk menjadi wanita baik-baik bukan menjadi wanita penjual diri." Jawaban Axel membuat Zea semakin kesal. Ternyata lelaki ini benar-benar menyebalkan.
Tanpa terasa mobil Ferrari merah yang dikendarai Axel sudah memasuki kawasan Perumahan Griya Nirwana lelaki tampan itu membelokkan mobilnya sesuai panduan Zea hingga berhenti di sebuah rumah bernomor dinding B36.
Seorang wanita paruh baya bersama seorang lelaki muda sudah berdiri di depan pintu rumah saat Zea dan Axel turun dari mobil. Keduanya tampak cemas dan khawatir.
"Zea kamu ke mana saja? Kenapa malam sekali pulangnya?" tanya wanita paruh baya itu saat Zea sudah mendekat sembari langsung memeluk Zea. Sementara lelaki muda yang bersamanya menatap sinis ke arah Axel.
"Zea baik-baik saja, Ma. Maaf kalau Zea pulangnya kemalaman, soalnya tadi kami keasikan jalan-jalan. Oh, ya. Kenalkan ini Axel, Ma. Pacar Zea." Zea memperkenalkan Axel kepada wanita paruh baya yang tidak lain adalah mamanya.
"Pacar?" tanya wanita paruh baya dan lelaki muda itu hampir bersamaan. Wanita paruh baya yang tidak lain adalah Leni, Mama Zea sontak menatap Axel dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sementara lelaki muda yang ada di sampingnya mendengkus kesal saat tahu Zea memperkenalkan lelaki tampan itu sebagai pacarnya.
"Sejak kapan lo pacaran, Ze? Gue sama sekali nggak percaya kalau cowok ini pacar lo," ucap lelaki muda yang tidak lain adalah Reno, sepupu Zea.
"Terserah lo mau percaya atau enggak. Tapi yang jelas, gue sama Axel udah pacaran lama," ucap Zea meyakinkan sandiwaranya.
"Mana mungkin kalian sudah pacaran lama, sedangkan lo saja baru satu bulan yang lalu pindah ke Surabaya," protes Reno.
"Kami kenal lewat online dan kami berhubungan lewat internet. Baru beberapa hari kemarin kami ketemuan," bohong Axel untuk menyempurnakan sandiwara mereka. Mendengar ucapan Axel Reno langsung terdiam.
"Sudah, sudah! Tidak perlu berdebat. Tante ngucapin terima kasih sama kamu, Axel karena sudah mengantar Zea," ucap Leni memecah ketegangan.
"Sama-sama, Tante. Boleh saya masuk? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Tante," ucap ucapan Axel membuat Leni dan Reno saling memandang. Namun, beberapa saat kemudian wanita paruh baya itu mempersilahkan Axel masuk.
"Maafkan saya kalau baru bisa berkunjung ke sini, Tante. Sebenarnya saya sudah mengenal Zea cukup lama dan tujuan saya datang ke sini adalah untuk melamar Zea menjadi istri sayal Apa kira-kira Tante mengizinkan?" Pertanyaan Axel sontak membuat Leni syok. Terlebih lagi Reno yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
Reno yang sudah lama menaruh hati pada Zea, pernah berharap akan menjadi pelindung gadis itu sekaligus teman hidup di masa depan. Namun, sepertinya dia kalah start dengan Axel.
"Kalau Tante mengizinkan, secepatnya saya akan bawa keluarga saya untuk melamar secara resmi karena Papa saya sedang sakit dan menginginkan saya segera menikah." Kembali pernyataan Axel membuat Leni dan juga Reno terkejut.