[1] Kontrak Menikah
“Alana, kamu yakin akan menerima persyaratan itu? Kamu tahu sendiri kan kalau Noah itu bukan pria yang baik. Selama kamu di luar negeri, dia bahkan bergonta-ganti pacar. Dia itu playboy, Alan.”
Alana yang mendengar hal itu pun tersenyum tipis. Dia menghentikan langkah. Sorot matanya menatap pintu di depannya lekat. Hingga perlahan, ingatannya kembali membawa pada kejadian sepuluh tahun yang lalu.
Flashback.
Alana membaca buku di dalam kelas. Saat itu suasana terasa begitu ramai karena memang tidak ada pelajaran. Mereka baru saja selesai ujian dan guru tidak memberikan pelajaran apapun. Alana sendiri memilih untuk membaca novel kesayangannya. Hingga seorang pria berdiri di sebelah Alana, membuat wanita itu tersentak kaget.
“Noah,” gumam Alana.
Noah Melviano, seorang murid yang begitu populer. Selain karena dia tampan, tetapi juga dia pandai. Alana yang melihat pria itu berdiri di sebelahnya langsung menggulum senyum. Jantungnya pun berdetak cukup keras.
“Datang ke taman setelah pulang sekolah. Aku menunggumu,” kata Noah. Setelah itu, dia pun melangkah pergi.
Alana yang sejak tadi hanya fokus dengan Noah langsung tersentak kaget. Berulang kali dia mengingat kalimat yang baru saja diucapkan Noah. Ada rasa tidak percaya karena pria itu mengajaknya bertemu.
“Ini benar pendengaranku atau memang aku yang sedang berhalu?” Alana benar-benar bingung. Dia takut kalau pendengarannya salah karena sejak tadi tidak memperhatikan Noah sama sekali.
“Ah, nanti saja. Aku akan coba ke taman. Apakah itu benar atau tidak,” putus Alana pada akhirnya.
***
Seperti yang dikatakan Noah saat berada di sekolah. Setelah pulang sekolah, Alana pun langsung melangkah pergi. Dia menuju ke taman yang dimaksud pria itu. Alana penasaran, apa yang akan diberikan Noah kali ini.
“Apakah dia akan mengutarakan isi hatinya? Apakah dia akan menyatakan cinta denganku?”
Alana yang membayangkan Noah memberikan pernyataan cinta pun langsung tersenyum lebar. Dengan semangat kakinya melangkah ke arah taman. Alana benar-benar sudah tidak sabar untuk sampai dan bertemu dengan Noah.
Namun, saat berada di taman, langkahnya terhenti. Manik matanya menatap ke arah Noah yang berdiri tepat di depannya. Wajah yang semula menunjukkan kebahagiaan, kini berubah menjadi sendu. Pasalnya, saat ini Noah tengah memeluk wanita lain. Hal yang membuat Alana menjadi patah hati.
“Kamu benar-benar tega, Noah. Seharusnya aku tidak menurut dan datang ke sini,” gumam Alana dengan air mata yang mulai mengalir.
Flashback selesai.
“Alan, kenapa diam saja?”
Alana yang sejak tadi melamun pun langsung tersentak kaget. Dia kembali mengalihkan fokusnya. Do seberang, sahabatnya masih terus mengomel.
“Kamu tenang saja, Gloria. Aku tahu apa yang aku lakukan. Lagi pula, hanya ini jalan satu-satunya supaya keluarga Melviano mau menyelamatkan perusahaan orang tuaku,” ucap Alana.
“Tap—”
“Sekarang aku tutup dulu. Aku harus bertemu seseorang,” sela Alana. Dia pun langsung menutup panggilan dan memasukkan ponsel ke dalam.
Alana kembali menatap pintu di depannya. Dia menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Berulang kali dia melakukan hal yang sama, mencoba menenangkan perasaannya. Hingga dia yang sudah merasa yakin pun kembali melangkah.
Sedangkan di dalam ruangan itu, Noah sedang duduk. Dia mengambil seputung rokok dan menyesapnya. Noah juga meneguk minuman beralkohol dengan tatapan kosong.
“Noah, kamu yakin akan menikah dengan Alana?” tanya Vincent—sahabat Noah.
Noah yang ditanya pun tersenyum sinis. Bibirnya sedikit terangkat. Manik matanya pun menatap ke arah gelas yang berada di tangan dan memainkan secara perlahan.
“Aku tidak akan pernah menikah dengannya,” jawab Noah dengan tegas.
“Tapi, bukannya dulu kamu sempat naksir sama dia?” Vincent kembali bertanya. Dia menatap lekat ke arah Noah berada. Masih tidak percaya dengan jawaban pria itu.
“Dia itu hanya gadis kecil yang tidak ada artinya. Lagi pula, aku tidak pernah benar-benar mencintainya. Sekarang pun, aku tidak akan pernah mau menikah dengannya. Aku tidak sedih menikah dengan wanita seperti dia.” Lagi-lagi Noah menjawab dengan tegas.
“Ternyata sebegitu besar cintamu dengan Jovita, Noah. Ya memang dia itu wanita yang cantik, baik dan juga pandai. Wajar kalau kamu masih menunggunya sampai saat ini.” Kali ini Owen yang berkata.
“Ah, iya. Aku masih cukup ingat kalau Jovita adalah gadis tercantik di sekolah kita dulu. Aku juga dengar kalau dia sudah kembali ke tanah air. Aku benar-benar salut denganmu, Noah. Meskipun kamu terus bergonta-ganti kekasih, tetapi hatimu masih tetap miliknya,” ucap Vincent menimpali.
Noah tidak mengatakan apapun. Dia masih tetap sibuk dengan pikirannya sendiri. Selama ini dia memang menutup hati untuk siapapun. Hal itu karena dia memiliki wanita yang begitu dicintainya. Meskipun rumor di luaran sana mengatakan dirinya seorang playboy, tetapi Noah tidak peduli sama sekali.
Alana yang sejak tadi berdiri di depan pintu dan siap membukanya pun memilih berhenti dan mendengarkan percakapan di dalam. Ada perasaan sakit ketika mendengar jawaban Noah yang begitu merendahkannya. Air mata pun hampir menetes, tetapi dengan cepat disingkirkan.
“Buat anak itu mau menikah denganmu dan aku akan langsung berinvestasi di perusahaan orang tuamu.”
Alana yang kembali mengingat kalimat itu pun langsung menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Dia melakukan hal yang sama berulang. Hingga dia yang merasa sudah yakin pun langsung membuka pintu, membuat semua yang berada di dalam langsung menatap ke arahnya.
“Alana,” gumam Owen dan Vincent secara bersamaan.
Alana tahu jika kedatangannya membuat semua ruangan terkejut, tetapi dia tidak memperdulikannya. Alana memilih melangkahkan kaki dan berhenti tepat dihadapan Noah. Dia mengulurkan tangan dan menyapa, “Lama tidak bertemu, Noah.”
Noah yang mendapat sapaan itu pun menatap ke arah Alana. Tepat saat itu, manik mata keduanya bertemu. Noah seperti terhipnotis, hanya diam dan memperhatikan dalam-dalam menik mata yang sudah lama tidak dilihatnya. Hingga Alana yang tidak juga mendapat respon kembali menarik tangannya.
“Aku ingin kalian semua pergi. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Noah,” kata Alana.
Vincent dan Owen melihat keseriusan dari wajah Alana. Keduanya pun langsung bangkit dan memberikan isyarat kepada yang lain supaya keluar. Alana cukup berterima kasih dengan pengertian keduanya. Hingga tersisa dirinya dan juga Noah.
“Aku datang untuk membicarakan mengenai pernikahan kita, Noah,” ucap Alana tanpa basa-basi.
“Aku menolak pernikahan ini, Alana. Aku tidak ingin menikah denganmu,” sahut Noah.
“Apa ini karena Jovita?” tanya Alana. Dia menahan rasa sakit hatinya dalam-dalam.
“Ada atau tidak hubungannya dengan Jovita, itu bukan urusanmu. Yang penting aku sudah mengatakan dengan jelas kalau aku menolak pernikahan ini,” jawab Noah dengan tegas. Dia pun bangkit dan siap pergi.
Kalau mendapat penolakan, itu artinya keluarga Alana tidak akan mendapat investasi. Kalau sampai investasi itu gagal, keluarganya bisa dipastikan bangkrut. Semua aset pasti akan ditarik. Hal yang membuat Alana menjadi cemas. Dia pun dengan cepat membalikkan tubuh dan menatap punggung Noah.
“Kamu tenang saja, aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Jovita. Kita lakukan pernikahan kontrak. Kita akan bercerai setelah dua tahun menikah. Aku juga tidak akan mengadakan resepsi apapun dan menyembunyikan mengenai status pernikahan kita. Jadi, hubunganmu dan Jovita akan tetap aman,” ucap Alana.
Noah yang hendak membuka pintu pun langsung berhenti. Dia menatap ke arah Alana dan tersenyum sinis. Sebelah bibirnya terangkat ketika melihat wajah serius Alana.
“Kamu benar-benar menganggapku berpacaran dengan Jovita?” tanya Noah dengan tatapan tajam.
“Semua orang tahu mengenai hal itu. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian,” jawab Alana sembari menahan air mata yang siap jatuh.
Sedangkan Noah menganggukan kepala beberapa kali. Dia kembali melangkah mendekat ke arah Alana dan meraih berkas di tangan wanita itu. Tanpa pikir panjang, Noah menandatangani kertas tersebut dan melempar kasar.
“Aku terima dan aku akan menceraikanmu setelah dua tahun menikah.”