Sharon tersenyum ketika di Minggu pagi yang cerah ini, suaminya masih terlelap di sampingnya. Tak seperti beberapa minggu ke belakang, yang mana kepala keluarganya itu beralasan pergi mengurus sesuatu di kantor atau beralasan mau mengambil sesuatu yang tertinggal, atau pergi alasan ingin mencari angin segar—untuk pada akhirnya kembali sangat larut atau tak pulang sama sekali.
Padahal laki-laki itu menemui laki-laki lainnya.
Wanita itu merasakan senyumannya meluntur ketika pikiran itu menyahut pikirannya yang lain.
Sebenarnya ia sudah curiga, hampir dua bulan ini seolah tak ada libur bagi Kevin. Kalaupun libur, pria itu selalu mencari-cari alasan ingin pergi ke mana dengan tujuan yang berbeda-beda, padahal kemungkinan tujuan sebenarnya adalah ke lelaki simpanannya.
Sial, kata lelaki simpanan membuatnya malu akan dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia kalah dari seorang lelaki, bahkan lelaki itu bisa menjerat suaminya dalam hitungan minggu atau hari—sedangkan dirinya? Sepuluh tahun pun masih tak kuasa dirinya mendapatkan cinta dari sang suami.
Sharon menghela napasnya pelan seraya menatap punggung kokoh suaminya. Ia tak menyangka bahwasanya sang kepala rumah tangga justru mencintai Eren bahkan sampai berani melakukan seks di kantor—yang dirinya bahkan tak pernah diberi kesempatan itu—sebenarnya, dirinya lebih tak menyangka dengan Eren yang belagak seperti teman sekaligus kakaknya, padahal lelaki itu tak lebih dari kekasih suaminya.
Ia ingin membenci Eren, tapi tak bisa. Pria itu sangat baik padanya meskipun ia diam-diam menjalin hubungan terlarang dengan Kevin. Tapi, Sharon sudah menganggap Eren kakaknya sendiri. Tak mudah membenci saudara sendiri, omong-omong.
Ia mau membenci Kevin pula, tapi tak bisa. Mau bagaimanapun Kevin adalah suaminya, ayah dari anak yang dikandungnya.
Dikandungnya ....
Ah, Sharon jadi tersenyum tipis sembari mengelus permukaan perutnya yang masih rata. Ia mengintip perutnya dari balik selimut dan piyama yang ia pakai seraya berbisik pelan, "Terima kasih sudah hadir di antara hubungan yang runyam ini, Anakku. Semoga dirimu bisa memperbaiki kehancuran ini."
Diam-diam Kevin yang telah terbangun mendengarkan hal itu, ia hanya terus mendengarkan omongan istrinya pada jabang bayinya dengan memunggungi mereka. Ia hanya bisa mengembuskan napasnya pelan saat mendengar isakan Sharon yang muncul perlahan, tanpa mau repot-repot berbalik guna menenangkan.
Ia b******n, sudah ribuan kali ia mengecap dirinya seperti itu. Tapi ... jika ia dihadapkan pada sesuatu yang memintanya memilih satu di antara mereka, Kevin lebih baik mati saja.
"Maafkan aku, Tuhan. Aku mencintai Eren, tapi menorehkan luka pada istriku sendiri," lirihnya terlampau pelan, berharap tak ada yang bisa mendengar selain Sang Pencipta.
Tanpa ia ketahui bahwa sang istri mendengar di tengah kesunyian kamar.
-
"Emer, makanlah yang benar! Jangan mengaduk-aduk makanan seperti itu, nanti kau sendiri yang jijik memakannya," omel Eren pada Emer yang tengah memainkan makanannya tak selera. Bukan tak enak, masakan Eren selalu enak, tahu! Hanya saja ... entahlah, bocah itu merasa ada yang kurang sehingga nafsu makannya juga ikut berkurang.
Dengan ogah-ogahan, akhirnya Emer memasukkan sup serta lauk itu pada mulutnya. Ia makan sambil berpikir bagian apa yang kurang sehingga dia jadi sebegininya.
"Jangan bertopang dagu saat makan, Emer. Dan—"
"Uhuk!"
"—Astaga! Kau ini kenapa?" Dengan panik, Eren berpindah ke samping anaknya. Ia pun menepuk tengkuk Emer pelan hingga tulang ayam sebesar kelingking anak kecil itu termuntahkan dari kerongkongan.
Dengan sigap pula lelaki tiga puluh dua tahun itu memberikan air putih pada bocah kesayangannya seraya mengelus punggungnya lembut. "Ada apa denganmu, Emer?"
Setelah merasa tenggorokannya lebih baik, dengan kepala yang tertunduk Emer yang sangsi melirik papanya takut-takut, "Maafkan, Emer."
"Uh-hm," respons papa Emer. "Kalau Emer ada sesuatu yang ingin disampaikan, bilang saja. Papa tak akan marah, kok."
"S-sebenarnya ... ke mana daddy? Sudah beberapa minggu ini daddy tak mengunjungi kita," ungkap Emer dengan mata polosnya yang meminta penjelasan. Sedikit banyak, walaupun dengan waktu yang tergolong singkat, Kevin dapat memenangkan hati anak itu. Namanya juga anak-anak, dibaiki sedikit pun langsung mendekat.
Eren melayangkan pikirannya. Ia merasa sedikit iba pada Emer yang menginginkan ayah dalam bentuk yang lain. Kalian tahu? Eren sering mengomel seperti ibu-ibu, sehingga saat pria dewasa lain memberikan apa yang ia inginkan tanpa perlu diomeli rasanya menjadi menyenangkan. Eren juga sadar waktunya tersita untuk bekerja dan saat ia sebelum berangkat atau sepulang kerja, dirinya hanya mengurusi Emer tanpa memberikan anak itu perhatian sekunder yang lain-seperti menonton TV bersama, bermain bersama, membacakan dongeng ... oh, kapan terakhir kali ia melakukan semua hal itu?
Ia menyayangi Emer, sangat. Tapi belum tentu kasih sayang itu sesuai dengan porsi yang Emer inginkan.
Dan untuk melengkapi porsi yang Emer inginkan, Kevin menawarkan kasih sayang yang lebih-lebih secara cuma-cuma.
Biasanya saat Eren memasak, Kevin menemani Emer menonton. Atau biasanya kalau Eren sedang mencuci baju, daddy-nya Emer itu akan menemani Emer entah bermain atau membaca buku. Setidaknya perhatian kecil itulah yang seorang anak sangat inginkan selain diurusi makan, diantar jemput sekolah, dimandikan, dan lain sebagainya.
Lalu, semenjak semua masalah itu datang, Emer langsung memisahkan keduanya tanpa perasaan. Terdengar jahat, dirinya hanya tak ingin saat pria itu mengunjungi Emer—itu sama halnya dengan menemuinya juga, otomatis—dirinya ikut membawa perasaannya. Ia egois, memang. Tapi semuanya ia lakukan demi kebaikannya, kebaikan Kevin, kebaikan Sharon, demi kebaikan banyak orang.
"Papa?"
"Eh?" Eren menatap anaknya linglung pasca lamunannya terputus oleh panggilan Emer. "Um ... d-daddy sedang bersama keluarganya, Sayang. Emer harus mengerti, oke?"
"Lho?" Emer mengernyitkan dahinya bingung, "Bukankah kita keluarganya?"
Yang lebih tua langsung menggelengkan kepalanya seraya tersenyum sendu. "Bukan, Emer. Daddy memiliki keluarga lain. T-Tante Sharon adalah istrinya, dan ... Tante Sharon akan memiliki anak bersama ... Paman Kevin."
Emer merasakan air matanya keluar tanpa ia sadari, lelaki muda itu mengepalkan tangannya sedikit emosi. Entahlah, pria kecil itu merasa kasih sayang Kevin terbagi pada keluarganya yang lain. Rasanya daddy-nya terdengar seperti mencampakkannya dan papa, melupakan mereka.
"Jadi, dad—eung ... P-Paman Kevin akan meninggalkan kita, Pa? Paman Kevin akan bersama keluarga barunya?"
Bukan keluarga barunya, kitalah yang menjadi keluarga lain bagi keluarga mereka! jerit Eren dalam hati. Ia menjadi ikut menangis saat melihat anak semata wayangnya ini menangisi orang yang membuat dirinya sedih juga.
Eren mengangguk. "Lalu, biarkan mereka bahagia, Emer. Kita bisa hidup berdua seperti dulu, tak perlu ada ayah lain selain Papa. Emer bisa mengerti, 'kan?"
Emer mengangguk mantap sembari mengulum kedua bibirnya. "Emer mengerti, Papa."
"Dan jangan mau diajak Paman Kevin ke mana pun, karena Paman Kevin akan segera memiliki anak. Oleh karena itu, kita tak boleh mengganggunya, ya?"
"Baik, Papa." Anak tujuh tahun itu langsung merengkuh tubuh papanya yang lebih besar darinya, menggusahkan pipinya di d**a yang lebih tua dengan nyaman. Menenggelamkan dirinya sendiri dalam peluk hangat sang ayah.