Stressed Out

1015 Kata
"Huekk ...." Eren terjongkok di depan kloset duduknya. Tangannya bertumpu dengan lemah sampai-sampai ia takut tak bisa menahan bebannya sendiri dan berakhir memasukkan wajahnya di lubang kloset. "Papa!" Emer berlari mendekati ayahnya yang berada di toilet. Si kecil dengan khawatir membantu sang ayah dengan mengusapi punggungnya yang sedang muntah-muntah di pagi buta yang masih gelap gulita. Tangan mungil Emer berpindah memijat tengkuk sang ayah agar mengeluarkan semua cairannya. Ia selalu sedih jika melihat ayahnya sedang lemah seperti sekarang, ia takut terjadi apa-apa karena demi Tuhan, ia sudah tak memiliki siapa-siapa selain papanya. "Sebentar ya, Pa," kata Emer sambil berlari keluar kamar mandi. Sedangkan Eren sendiri masih saja mual, perutnya sudah tak ia isi beberapa hari—dua hari setelah pertemuannya dengan Kevin di rumah sakit—karena ia tak selera makan. Bahkan Emer yang memaksanya sampai menangis pun ia abaikan. "... Iya, Dad. Papa mual-mual." Sayup-sayup Eren mendengar percakapan sang anak. Ia langsung berdiri, ingin menghampiri anaknya yang mungkin sedang menelepon Kevin. Namun apa daya, dirinya justru kembali mengeluarkan isi perutnya di lantai kamar mandi dan terduduk lemas setelahnya. Ia merasa tenaganya telah terkuras habis. "E-Emer ...." Ayah Emer yang pucat pasi itu merasakan pandangannya mulai mengabur. Ia ingin memanggil anaknya untuk datang, tapi ia tak bisa. Hingga pada akhirnya semuanya menggelap, kesadarannya terenggut dalam sekejap. - Pria mungil itu menggeliat pelan, pun diikuti dengan matanya yang terbuka perlahan. Ia agak kaget saat merasakan bau obat-obatan menyengat yang khas. Ia ingat sebelum pingsan, dirinya berada di kamar mandi. Namun, mengapa sekarang ia bisa berada di rumah sakit? "Kau sudah sadar?" "Papa sudah sadar?" Dua lelaki yang Eren sayangi itu langsung menutupi pandangannya pada lampu rumah sakit yang menyilaukan, mereka berdua mengerubunginya dengan rasa lega yang luar biasa. "H-haus ...," lirih yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit, kerongkongannya terasa sangat kering. "Ini!" Lagi, dua prianya dengan bersamaan mengulurkan air putih di hadapannya yang setengah terduduk di ranjang. Yang kecil memberi minum dari botol bergambar Ironman-nya, sedangkan yang besar memberikannya segelas air dari nakas yang ada di sampingnya. Walaupun lemas, Eren masih bisa terkekeh menyadari tingkah konyol keduanya. Ia dengan adil mengambil kedua air putih itu untuk diminum, satu minuman dua teguk. "Emer, sudah waktunya sekolah," ujar Kevin sembari menatap satu-satunya anak kecil di ruangan ini. "Tapi Emer mau menemani papa!" rengeknya dengan suara cemprengnya. "Papa tak apa," ucap Eren tersenyum dengan bibirnya yang memutih kering. "Emer harus sekolah agar tak tinggal kelas." "Iya, pergilah dengan Pak Pierre," timpal yang paling tinggi. "Daddy juga ingin berbicara berdua dengan papa. Tak apa 'kan, Jagoan?" Meskipun cemberut dan mengiyakan setengah hati, si kecil tetap mengangguk walau lesu. "Baiklah, Emer mengerti. Kalau begitu Emer pergi dulu ya, Parents!" Dan dengan gontai bocah itu berjalan keluar kamar, menutup pintu dengan perlahan. "Maafkan aku," ungkap Kevin sembari menunduk, tak berani menatap kecintaannya itu. "Ini salahku." Eren mengembuskan napasnya berat. Sungguh, ia masih merasa sulit menerima hal ini. Semuanya terasa begitu cepat sampai menyabetnya dengan sangat telak. "Aku minta maaf karena menyakitimu, bertindak seperti b******n karena menginginkanmu, namun menghamili orang lain. Maafkan aku yang membuatmu jatuh sakit seperti sekarang. Ini salahku, tapi tolong maafkan aku." Si mungil masih tak menjawab. Kepalanya pusing, ia tak ingin mengingat hal itu lagi. Rasanya seperti hatinya dihujam pisau berkali-kali. Ia kesakitan. "Tolong jangan sakiti dirimu sendiri. Kau boleh menyakiti diriku, tapi tidak dengan dirimu, Eren," lanjut pria itu. Ia ingin memarahi Eren, tapi ia tak sampai hati mengingat seberapa banyak luka yang ia torehkan pada si mungil. "Kata dokter, asam lambungmu naik. Apalagi dengan dirimu yang meminum obat tanpa makanan penunjang sehingga obat itu menggerus ginjalmu. Itu tak baik, Eren." "Kevin," panggil Eren sambil menoleh, memusatkan pandangannya pada wajah bersalah Kevin. "Y-ya?" - "Lepaskan aku dan kembalilah pada istrimu yang tengah mengandung itu." Kevin mengacak surainya kasar. Ia emosi, ia merasa sangat kacau saat mendengar kalimat itu lolos begitu saja dari mulut kekasih yang ia cinta. Ia tak menduga kata-kata itu akan keluar dari kesayangannya. Ia sangat murka tadi sehingga tanpa membalas ucapan itu, ia langsung pergi dengan membanting pintu rumah sakit. Ia kecewa pada Eren yang meminta hal itu. Ia kecewa akan kehamilan Sharon meskipun dulu ia menantikan anak tersebut. Ia kecewa, sangat kecewa pada dirinya sendiri yang sangat berengsek dengan menyakiti kedua orang yang berhubungan erat dengannya. Istri dan kekasihnya. Oh, bahkan kata istri serta kekasih itu membuatnya terlihat semakin buruk saja. Betapa bajingannya dia. Dirinya tak ingin kehilangan Eren serta Emer, tapi dirinya juga tak bisa meninggalkan Sharon serta si jabang bayi yang ia buat secara tak sadar. Iya, tak sadar saat ia pulang-pulang mabuk bersama koleganya yang datang dari Prancis dan menyetubuhi istrinya malam itu juga. Benar-benar toleransi alkohol lemah. Sangat sialan. —Lebih sialan lagi dirinya yang menyakiti dua hati malaikat seperti Eren dan Sharon. Omong-omong tentang Sharon, wanita itu juga menyita separuh pikirannya selain ke Eren. Ia ingat pertengkarannya saat perempuan tiga puluh tahun itu telah memergoki dirinya bercinta dengan teman barunya itu. "Kau berselingkuh!" cecar Sharon dengan air mata yang mengucur deras. Tatapan terlukanya langsung mengetuk hati Kevin yang menatapnya iba. "Aku tahu kau tak mencintaiku, Kevin! Tapi tak begini caranya!" raungnya lagi. Ia begitu sakit hati akan perilaku suaminya ini. "Kau ... kau dan Eren—" "Maafkan aku," sesal Kevin. "Ia dulu mantanku. Dan sekarang ... kita kembali menjadi sepasang kekasih. Maafkan aku lagi, Sharon. Aku ingin kita bercerai." Akhirnya, kalimat itu lolos juga setelah sepuluh tahun Kevin pendam. Ia sudah ingin menceraikan Sharon dari dulu, namun ia tak ada alasan. Dulu calon lain ia tak punya, sedangkan ia membutuhkan wanita yang bisa mengandung anak untuknya. Tapi ia rasa, ia tak perlu lagi begini. Ia sudah menemukan cintanya, ia juga bisa menjadikan Emer penerusnya. Ah, sial. Memikirkan hal itu saja sudah menaikkan mood-nya. Wanita itu terkekeh dengan air mata yang masih mengucur pilu. "Cerai katamu?" Wanita itu mendecih, berperilaku tak sopan untuk pertama kali pada sang suami. "KATAKAN HAL ITU LAGI PADA ANAKMU DI DALAM PERUTKU INI, KEVIN!" "AH! SIALAN!" umpat Kevin saat ingatan itu tiba-tiba terlintas di pikirannya. Ia ingat teriakan Sharon yang terus menyalahkannya, berbanding terbalik dengan Eren yang dengan lapang d**a memaafkannya—dan lelaki itu juga langsung menyuruhnya untuk menjauh. Lelaki itu menelungkupkan kepalanya. Dapat dilihat bahu itu bergetar di ruang kerjanya, meruntuhkan kesan dominan keras pada dirinya. Ia menangis, meratapi kebodohannya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN