"Kejarlah dia, Kevin!" pinta Eren panik. "Cepat!"
Pandangan Kevin masih terpaku di pintu ruangannya, terlalu terkejut ketika melihat Sharon berada di sana tadi. Menciduk suami dan teman barunya yang tengah bermain dengan mata kepalanya sendiri
"Kevin, cepat!" titah Eren lagi. Sedikitnya ia kesal dengan loading lamanya otak Kevin yang tak fokus menangkap semua hal yang baru saja terjadi, pun dengan perintahnya.
"L-lalu kau?" Mata Kevin menatap Eren dengan pandangan bersalahnya.
Sejujurnya dirinya tak ingin meninggalkan Eren yang baru saja digempur oleh penisnya, sudah pasti lelaki itu akan kesulitan berjalan nanti. Ia ingin membantunya. Namun, mengingat istri sahnya memergokinya, ia merasa harus berkata jujur dan memberi penjelasan sebagai bentuk hormatnya pada wanita tersebut.
Manik Eren berubah sendu, perasaan takut seketika melingkup. "Aku ... tak apa," cicitnya sangat pelan sampai Kevin nyaris tak bisa mendengarnya.
"Tidak," Kevin menggeleng, "aku tidak bisa meninggalkanmu!"
"Kejar istrimu, Kevin!"
"Kau kesakitan dan kau membutuhkanku!" Kevin si keras kepala dalam menjadi b***k cinta kembali berulah, membuat yang diberikan perhatian berlebih justru merasa murka.
"Dia lebih kesakitan, Kev! Jangan pedulikan aku. Aku tak apa!" Si mungil menjawab sembari menjambak rambutnya gemas. Ia merasa Kevin terlalu lamban.
"T-tapi—"
Senyum Eren terbentuk dengan tipis, mengatakan tak apa dalam sebuah sirat. Meskipun itu berkata demikian, ia merasakan denyutan nyeri, ketakutan akan kehilangan. Setidaknya itu di pikirannya, namun ia tak boleh egois. Ada yang lebih boleh mendapatkan perhatian Kevin—dan tentu saja itu bukan dirinya, memang dia siapa?
"Pergilah, aku tak apa. Sungguh."
Dan Kevin langsung menarik celananya, pun sedikit merapikan penampilannya yang tadinya acak-acakan. Ia tak ingin pegawai-pegawainya curiga akan keberantakannya.
Si dominan tak kalah perhatian. Ia mengambil sesuatu di nakasnya, membuka dan mengeluarkan isinya yang berbentuk seperti lem bening. Ia dengan cekatan mengolesi lubang Eren banyak-banyak dengan salep itu, membuat submisifnya merintih antara perih dan geli, apalagi dengan rasa dingin dari salep itu sendiri.
"Maaf, aku tak bisa mengantarmu pulang hari ini. Juga, sampaikan maafku pada Emer yang tidak bisa mengajaknya jalan-jalan hari ini sesuai janjiku. Besok aku akan menjemputmu, Eren," katanya.
Sedikitnya Eren heran. Pria di hadapannya ini sempat-sempatnya mengurusinya sembari memberikan omongan sepanjang itu alih-alih mengejar istrinya yang mungkin sudah berada di perjalanan. Mungkin jika Kevin langsung mengejar Sharon, pasti pasangan suami-istri itu akan sempat untuk bertengkar di jalan, pulang bersama.
Kevin memakaikan celana dalam serta celana bahannya dengan perlahan. Hal kecil yang luar biasa membuatnya terenyuh akan betapa gentle-nya kekasihnya itu.
"Aku pergi dulu, ya?" pamitnya. "Kalau tak kuat, kau boleh pulang. Nanti akan akan kusuruh sopirku untuk menjemputmu. Oke?"
Si mungil langsung terkekeh pelan, entah ke mana emosi yang sempat ia rasakan menguar begitu saja. "Iya, iya. Sudah cepat, pulanglah."
Pria menjulang itu menyempatkan diri untuk mengelus surai si pendek dan mulai, "Aku pergi."
"Kevin," Baru saja Kevin menarik knop pintu, Eren sudah memanggil namanya, "kabari aku dan hati-hati di jalan."
Kevin mengangguk sembari menampilkan senyum lebarnya. "Terima kasih, Sayang."
-
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu—dan sialnya Kevin tak menepati janji untuk menemuinya—Eren merasakan dirinya tak enak badan. Ia merasa mual-mual, pun tak nafsu makan. Emer sampai harus menangis dulu untuk memaksa papanya makan.
Di tempat kerja, ia mual. Mau makan, ia mual. Mencium bau yang terlalu menyengat, entah bau tak sedap atau bau harum menyengat, ia mual. Semuanya terasa memusingkan baginya.
"Steve, aku izin pulang lebih cepat hari ini, boleh?" minta Eren di depan CEO penggantinya karena entah mengapa si sialan Kevin itu telah menghilang tanpa kabar. "Aku merasa tak enak badan."
Steven Oackley, adalah sepupu dari Kevin, sekaligus orang kepercayaannya tentu saja. Sedikitnya pria itu tahu mengenai siapa Eren di masa lalu maupun hubungan mereka sekarang. Dan syukurlah ia tak begitu ingin ikut campur dan bersikap biasa saja seolah tak terjadi ada apa-apa.
"Hm ... ya, wajahmu terlihat pucat," kata Steven sambil menyelisik muka Eren. "Periksakanlah dirimu ke dokter. Jangan makan atau minum obat sembarangan, oke?"
Eren mengangguk, mulutnya terlalu lemas untuk menjawab.
"Sebentar, kuteleponkan Pak Pierre." Lalu, tanpa persetujuan Eren, Steven langsung menelepon sopir pribadi yang ditugaskan oleh Kevin untuk menjaga kekasih mungilnya ke mana pun selama dirinya tak ada.
"Pak Pierre akan mengantarmu ke rumah sakit, tunggulah di lobi. Besok kau tidak perlu masuk. Sembuhkanlah dirimu dulu, ya? Istirahatlah yang banyak, Eren."
-
"Eren?" panggil seseorang yang terdengar familier di telinga Eren tatkala ia baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. "Mengapa kau di sini?"
"Kevin? Mengapa pula kau di sini?"
Bukannya menjawab satu sama lain, Kevin justru merasakan pandangannya memburam. Ia langsung menghamburkan dirinya pada pelukan Eren. Tersedu sedan di bahu kecil si mungil sembari mengucapkan kata maaf berkali-kali. Ia tak peduli walaupun beberapa orang yang yang berjalan di lorong rumah sakit ini memandangi keduanya dengan tatapan ingin tahu mereka.
"Hey, Kevin. Kau ini kenapa?"
"Maaf, maaf, maaf, maaf—maafkan aku," isaknya dengan air mata yang membasahi kemeja biru yang Eren gunakan.
Agaknya Eren belum memahami ini. Sudah empat hari lamanya tak bertemu, laki-laki ini justru meminta maaf padanya entah untuk apa.
"Iya, apa pun kesalahanmu sudah kumaafkan. Jangan menangis lagi," bisik Eren seraya mengusap kepala Kevin sayang. Terlihat seperti ibu yang tengah menenangkan anaknya yang sedang histeris menangis.
Tak lama tangisan Kevin mereda, mengikutsertakan pelukannya yang turut melonggar. Kevin yang masih berlinangan air mata langsung menatap netra kebiruan yang selalu menjadi favoritnya dengan pandangan menyesal yang kentara. "Aku minta maaf."
"Untuk apa, hm?" tanya Eren sambil tersenyum menatap kekasihnya.
"Tolong jangan menjauhiku setelah ini. Dan berjanjilah, apa pun yang terjadi tetaplah bersamaku."
Eren merasakan perasaannya tak enak, ia merasa sedikit pening akan Kevin yang jadi bertele-tele seperti sekarang. "Bicara saja."
Pria bongsor itu mengunci mata Eren, ingin berbicara dengan bertatapan agar lelaki mungilnya itu dapat menangkap keseriusan dalam matanya yang sesungguhnya. "Aku ... Sharon ... aku me—"
"Bicaralah yang jelas, Kevin."
Kevin menyerah. Ia tak akan bisa mengatakan sembari menatap mata itu. Ia tak akan tega melihat sesuatu yang lain pada mata Eren ketika sudah membicarakan maksudnya. Maka dari itu ia menundukkan pandangannya, ia terlalu takut, juga gugup untuk mengatakan hal ini.
"Sharon hamil."
Untuk sesaat jantung Eren serasa berhenti berdetak. Rasa mual dan pening seketika menghantamnya, begitu pula dirinya yang diberikan shock attack oleh Kevin barusan. Ia juga merasakan perutnya yang melilit bagai diremas kuat hingga dirinya jatuh bersimpuh di lantai rumah sakit yang dingin.
"E-Eren kau tak apa?"
"Aku tak apa," balasnya cepat. "Aku mau pulang."
"Biar kuantar."
"Tidak perlu, Kevin. Aku bisa sendiri," tolak Eren dengan wajahnya yang pucat.
"Aku akan mengantarmu!"
"Kau ... bisakah kau memberiku sementara waktu untuk sendiri? Aku ... ingin kita menjauh dulu."