Rani menghentikan mobilnya di bawah pohon. Jam dan hari kerja begini parkiran pantai cukup lengang sehingga bisa memilih tempat yang teduh. Sepanjang perjalanan Marinka nyaris tidak mengeluarkan suara, sibuk dengan ponselnya. " Mau teriak? “ Perempuan itu menggeleng, " Kenapa Narend mau menikahi gadis kecil itu?" " Karena hanya Naya yang membuatnya nyaman." " Aku bisa mendampinginya lebih baik. Secara umur, cara pandang, dan pemikiran." Rani menahan tawanya, " Dia tidak butuh yang seperti itu." " Gadis itu masih kecil, terlalu jauh dari Narend. " " Usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. Naya cukup dewasa untuk anak seusianya." Marinka masih memasang tampang tidak terima. " Bagi Narend dan keluarganya, rasa nyaman itu sangat penting. Mereka, terutama Narend sangat tidak mudah

