Naya duduk disamping neneknya sambil mengusap lembut tangan yang sempat membengkak karena jarum infus. Tersenyum menatap wajah neneknya terlihat segar, tidak sepucat saat ia baru saja datang. “ Apa senyum senyum? “ “ Nay senang lihat nenek gak pucat lagi. Kalau nurut sama dokter Minto kan aman… “ “ Nenek sehat melihatmu senang Nay… . Walaupun mungkin kamu belum sepenuhnya siap. “ Naya cemberut, “ Sebenarnya akan lebih tenang Nay mempersiapkannya kalau nenek sudah selesai… “ Tangan nenek memukulnya pelan, “ Cerewet. Apa kamu takut konsepnya gak sesuai keinginanmu “ Naya menggeleng, “ Dari dulu kan nenek tahu Nay ingin menikah secara sederhana, hanya orang orang terdekat dan… dirumah tua kita. “ “ Kamu sudah berulangkali mengatakan nya, Nenek rasa Hendry dan Narend tahu apa yan

